08 October 2017

Teori Lingkaran Perubahan (Siklus) Arnold Joseph Toynbee


Pemikiran Filsafat Sejarah Arnold Joseph Toynbee
(14 April 1889  22 Oktober 1975)



 Muhammad Nasir

I.                   Pengantar
Foto: AZ Quotes
Arnold Joseph Toynbee adalah salah satu filosof  periode modern yang berkonsentrasi pada sejarah tumbuh dan runtuhnya peradaban bangsa-bangsa. Oleh sebab itu, sejarawan dan siapa saja yang bermaksud mendalami persoalan yang berkaitan dengan peradaban suatu bangsa merasa perlu untuk mengutip pendapatnya.
Yang menarik dari pemikirannya adalah bahwa peradaban yang ada sekarang ini tidak lepas dari peradaban lama. Misalnya, peradaban barat modern yang berkembang sekarang ini memiliki interrelasi dengan peradaban Hellenis kuno (Yunani). Hal ini tentu tidak lepas dari teori yang ia bangun tentang sejarah yang bergerak siklus.[1]
Tulisan singkat ini bertujuan untuk mengenal Toynbee dan pemikiran/filsafat sejarahnya. Dalam tulisan ini tercakup empat pokok pikiran untuk memetakan pikiran sejarawan kelahiran Inggris tersebut. Di antaranya, konsepsi tentang manusia, pola gerak sejarah, kekuatan penggerak, serta tujuan dan makna sejarah. Dengan sedikit ulasan tentang biografi, keempat topik ini  dibahas secara berimbang dan proporsional sesuai pemahaman dan literatur yang didapatkan.


II.                Biografi Singkat
Arnold Joseph Toynbee (14 April 1889 – 22 Oktober 1975) adalah sejarawan Inggris terkemuka yang terkenal dengan 12 jilid bukunya A Study of History. Buku yang ia tulis dalam waktu antara 1934-1961 itu bercerita tentang kelahiran dan keruntuhan peradaban
Foto: Wikipedia
Sejarawan kelahiran London ini melewatkan masa pendidikannya di Winchester College and Balliol College, Oxford. Toynbee menjadi Professor  Sejarah Yunani Modern dan Byzantium di King's College, London (1919-1924) dan Research Professor pada  the Royal Institute of International Affairs (1925-1955).
Penulis menduga pemikiran dan perhatiannya terhadap peradaban dipengaruhi oleh situasi pada masa hidupnya dan pekerjaan yang banyak bersentuhan dengan "nasib" bangsa-bangsa yang tengah dilanda perang. Riwayat pekerjaannya sebagaimana ditulis dalam Wikipedia :
"He worked for the Intelligence department of the British Foreign Office during World War I and served as a delegate to the Paris Peace Conference in 1919. With his research assistant, Veronica M. Boulter, who was to become his second wife, he was co-editor of the RIIA's annual Survey of International Affairs. During World War II, he again worked for the Foreign Office and attended the postwar peace talks[2]
Selama Perang Dunia I, ia bekerja pada kantor urusan luar negeri Inggris. Pada saat itu ia pernah menjadi delagasi Konferensi Damai di Paris. Berikutnya, tak cukup mengurus persoalan perdamaian dan urusan luar negeri, ia juga meneliti ke berbagai tempat. Berbekal pengalaman tersebut, tak heran ia dipercayai sebagai juru runding damai pascaperang dunia II. Maka pengalamannya ini menurut hemat penulis sangat berpengaruh dalam tulisan-tulisannya.
Disamping A Study of History yang terkenal itu ia juga menulis Greek Historical Thought (1924), History of the World (12 volumes, 1925-1961), War and Civilization (1951), War and Civilization (1951), Hellenism: The History of a Civilization (1959) dan Hannibal's Legacy (1965). Arnold Joseph Toynbee Meninggal  tahun 1975 dalam usia 86 tahun.
Bukunya yang terkenal  A Study of History terdiri dari 12 Volume memuat topik-topik sebagai berikut:
Vol I          :   Introduction; The Geneses of Civilizations (Oxford University Press 1934)
Vol II        :   The Geneses of Civilizations (Oxford University Press 1934)
Vol III       :   The Growths of Civilizations (Oxford University Press 1934)
Vol IV       :   The Breakdowns of Civilizations (Oxford University Press 1939)
Vol V        :   The Disintegrations of Civilizations (Oxford University Press 1939)
Vol VI       :   The Disintegrations of Civilizations (Oxford University Press 1939)
Vol VII     :   Universal States; Universal Churches (Oxford University Press 1954)
Vol VIII    :   Heroic Ages; Contacts between Civilizations in Space (Oxford University Press 1954)
Vol IX       :   Contacts between Civilizations in Time; Law and Freedom in History; The Prospects of the Western Civilization (Oxford University Press 1954)
Vol X        :   The Inspirations of Historians; A Note on Chronology (Oxford University Press 1954)
Vol XI       :   Historical Atlas and Gazetteer (Oxford University Press 1959)
Vol XII     :   Reconsiderations (Oxford University Press 1961)[3]
H. Holborn menilai karya Toynbee bukanlah falsafah sejarah karena unsur spekulatifnya, khayalan dan pemaksaan idenya.[4]
III.             Pemikiran Filsafat Toynbee
1.      Konsepsi tentang Manusia
Manusia adalah individu yang kreatif. Menurutnya individu kreatif itulah yang akan menjadi juru selamat masyarakat.[5] Sejarah hidup manusia akan selalu diwarnai oleh pasang surut kebudayaan tertentu. Agama (baca: tuhan) juga dianggap memberi pengaruh besar terhadap manusia. Toyn-bee menyatakan, ada "penjelmaan Tuhan di dalam diri manusia"[6] Sepertinya  pernyataan ini mirip dengan pendapat Hegel yang menyatakan ruh atau idea yang ia sebut: “tuhan menjelma pada alam sadar manusia.”[7] Dalam hal ini mungkin saja pemikiran Toynbee dipengaruhi alur pikir Hegel.
Penjelmaan ini menurut Toynbee hanya ada pada diri juru selamat yang mencerminkan dirinya sendiri sebagai Tuhan yang menawarkan harapan, atau tepatnya hanya Isa Almasih yang dapat membebaskan manusia dari kehancuran. Karena argumen inilah Toynbee telah dituduh menguburkan sejarah di pekarangan gereja Anglikan.
Menurut Toynbee, perbuatan manusia tidak semata-mata hasil usaha manusia itu sendiri. Tetapi lebih jauh ada kendali dari tuhan. Konsepsi ini barangkali mirip pandangan kaum Sunni [8] dalam Islam tentang usaha manusia (kasb) dan kebebasan dalam berbuat (free will). Konsep kasb ini menyatakan perbuatan manusia diciptakan oleh tuhan, namun manusia harus berupaya sendiri (ikhtiyar) dengan kemampuannya (kasb).
Hugiono dan P.K. Purwantana[9] menggolongkan filsafat Toynbee ke dalam filsafat monistis, karena ia berpendapat akal manusia tanpa diikuti iman akan membawa kepada kehancuran hidup/peradaban.
2.      Pola Gerak Sejarah
Toynbee dikenal sebagai penganut teori siklus. Teori Siklus merupakan merupaskan teori gerak sejarah yang tertua dan paling populer hingga saat ini. Menurut Toynbee sejarah bergerak dalam satu siklus (lingkar) yang selalu berulang. Tetapi pengulangan itu akan menemukan wujud yang berbeda, yaitu berulang dalam bentuk yang lebih halus dan sempurna. Inilah yang membedakannya dari teori siklus klasik (kuno). Dalam hal ini, mungkin saja Toynbee memodifikasi teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) sekaligus terpengaruh dengan pemikiran Darwin yang mengatakan setiap makhluk hidup berubah secara alami dari tingkat yang lebih rendah kepada tingkat yang lebih sempurna.
Dalam perspektif perubahan sosial, teori siklus sebagai bagian dari teori sosiohistoris juga dianut oleh Ibnu Khaldun (1332-1406) dengan tema manusia nomaden (al badawiyah)  dan manusia menetap (muqim),[10] dan Pitirim A. Sorokin (1889-1968) dengan tema pola perubahan sosiokultural dalam bukunya Social and Cultural Dinamycs, 4 jilid (1937-1941)[11]
Peradaban menurut tesis Toynbee, adalah setiap kebudayaan yang dewasa memiliki empat tahap hidup: lahir, tumbuh, runtuh, dan silam, sebagaimana berikut:

1.      Genesis of civilization
2.      Growth of civilization
3.      Decline of civilization:
                     >> Breakdown of civilization
                     >>Disintegration of civilization
4.      Dissolution of civilization.
Siklus inilah yang terus berulang dalam bentuk yang berbeda dan lebih halus.
Gambaran sejarah manusia yang dikemukakan Toynbee kepada kita adalah suatu lingkaran perubahan berkepan-jangan dari peradaban: lahir, tumbuh, pecah, dan hancur. Kese-luruhan proses ini berkaitan erat dengan pelaksanaan fungsi elit dan antar hubungan elit dengan massa rakyat, baik dengan prole-tariat internal maupun eksternal.
Toynbee presented history as the rise and fall of civilizations, rather than the history of nation-states or of ethnic groups. He identified his civilizations according to cultural rather than national criteria[12] (Toynbee menampilkan sejarah sebagai kebangkitan dan kejatuhan sebuah peradaban, lebih dari sekedar sejarah sebuah negara bangsa [nation-states] atau kelompok etnis [ethnic groups]-pen).
Lebih dari itu, sejarah hidup manusia akan selalu diwarnai oleh pasang surut kebudayaan tertentu.
Toynbee (1889-1975) melihat proses kelahiran, pertumbuhan, kemandek-an, dan kehancuran di dalam kehidupan sosial. Ia lebih menekankan pada masyarakat atau peradaban sebagai unit studinya ketimbang bangsa atau periode waktu. Studi mengenai satu bang-sa tertentu tak dapat dipahami sebagai "sesuatu di dalam dirinya sendiri"; bangsa tertentu harus dilihat sebagai bagian dari suatu proses yang lebih besar.[13]
3.      Kekuatan Penggerak
Arnold J Toynbee dalam magnum opus-nya A Study of History (London, 1961), menyatakan sejarah hidup manusia akan selalu diwarnai oleh pasang surut kebudayaan tertentu. Gelombang kerusakan ruang publik di tengah masa sulit itulah yang akan selalu memunculkan entah pribadi maupun kelompok yang disebut minoritas kreatif (creative minority).
Dalam bahaya kehancuran dan kerusakan, sejarah manusia justru diselamatkan dari kehancuran total oleh suatu kelompok yang disebut minoritas kreatif (creative minority)[14] Dengan demikian minoritas kreatif (creative minority) merupakan suatu konsepsi terpenting Toynbee terhadap manusia dan golongan pembuat sejarah.
Minoritas kreatif ini dapat mengalami degenerasi yang disebabkan ketidak mampuan elit ini atau pemilihan calon elit yang tidak cocok[15] Minoritas kreatif ini ia ungkapkan dalam pemikiran utama filasafat sejarahnya yang dibungkus dalam tema Challenge and Respose. Individu yang kreatif tersebut terbentuk melalui tantangan.[16] Toynbee menggunakan analogi Challenge and Response ini sebagai prinsip utama dalam mensintesa kesimpulan tentang kemunculan hingga keruntuhan sebuah peradaban. Challenge and Response dalam konteks peradaban berarti; jika peradaban berkembang berarti tantangan yang dihadapinya tidak terlalu keras. Sebaliknya, jika jika peradaban itu mandeg atau hancur berarti  tantangan yang dihadapinya cukup atau terlalu keras.[17]
4.      Tujuan/ Makna Sejarah
Toynbee menyebutnya sebagai proses "penghalusan", yakni pergeseran penekanan dari alam kemanusiaan atau perilaku yang lebih rendah ke taraf yang lebih tinggi.[18]
Lebih lanjut, manusia bernaluri jahat disitir sebagai biang kehancuran peradaban. Misalnya pernyataan bahwa peradaban manusia global manusia bisa hancur di tangan naluri jahat manusia plus teknologi modern
Dalam konteks ini, para pelaku sejarah dan individu yang terkait dengan suatu peristiwa merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap bangsa dan peradaban mana saja yang sedang berada dalam masalah.
Meskipun demikian, ia tetap berkeyakinan tidak ada peradaban yang tumbuh tanpa batas. Artinya daur (siklus) - lahir, tumbuh, runtuh, dan silam- inilah yang terus berulang, hanya saja dalam bentuk yang berbeda dan lebih halus.
IV.             Penutup
Demikian yang dapat ditulis sebagai penghantar untuk memahami lebih jauh tentang pemikiran Filsafat Sejarah Toynbee.
                                                   ------------------------------------------


Bahan Bacaan

A.J. Toynbee, A Study of History Vol XII: Reconsiderations ,Oxford University Press, 1961
Aloys Budi Purnomo, Kompas, Sabtu, 21 Januari 2006
Hugiono dan P.K. Purwantana, Jakarta: Rineka Cipta,1992
Ibnu Khaldun, Muqaddimah, penerjemah Ahmadie Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000, cet. VI
Mohd. Yusof Ibrahim, Aspek Perkembangan Falsafah Dunia Barat, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia,1991
Robert H. Lauer, Perspektif tentang Perubahan Sosial, diterjemahkan dari judul asli Perspectives on Social Change oleh Alimandan SU Jakarta: Bina Aksara,1989
Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern, Yogyakarta: Arruz, 2005
Suzanne Keller, Penguasa dan Kelompok Elit, Jakarta: CV. Rajawali,1984
Zainab Mahmud al Khudhairy, Falsafah Tarikh ‘inda Ibn Khaldun,(Bayrut-Lubnan: Dar al Tanwyr, 1985)

Notes:

[1]  Teori Siklus merupakan merupaskan teori gerak sejarah yang tertua dan paling populer hingga saat ini. Kalangan masyarakat awam juga sering menyebut teori dengan ungkapan sejarah pasti berulang
[3] Ibid
[4] Mohd. Yusof Ibrahim, Aspek Perkembangan Falsafah Dunia Barat, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia,1991) h.163
[5] Lihat Robert H. Lauer, Perspektif tentang perubahan Sosial,diterjemahkan dari judul asli Perspectives on Social Change oleh Alimandan SU (Jakarta:Bina Aksara,1989) H. 54
[6]  Ibid.
[7] Menurut Georg Wilhem Hegel (1770-1831) yang terkenal dengan filsafat dialektikanya (tesis antitesis sintesis tesis baru dst..) dalam sejarah kemanusiaan, ruh sadar akan dirinya, dan kemanusiaan merupakan bagian dari idea yang mutlak yaitu tuhan. Pemikiran ini ia ungkapkan ketika membahas manakah yang mutlak, apakh idea atau materia.. Lihat Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern, (Yogyakarta: Arruz,2005),h.57
[8] Sunni adalah sebutan untuk penganut aliran telogi Ahl al Sunnah wa al jamaah yang dibangun oleh  abu Hasan al Asyary bada sekitar tahun 300 H.
[9]  Hugiono dan P.K. Purwantana,(Jakarta:Rineka Cipta,1992), h.85
[10] Ibnu Khaldun, Muqaddimah, penerjemah Ahmadie Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000) cet. VI h.211. Lihat juga Zainab Mahmud al Khudhairy, Falsafah Tarikh inda Ibn Khaldun,(Bayrut-Lubnan: Dar al Tanwyr, 1985) h. 159-167
[11] Robert H. Lauer. op.cit., h. 57-68
[13] Robert H. Lauer. op.cit., h. 49-50
[14]  Aloys Budi Purnomo, Kompas,Sabtu, 21 Januari 2006
[15]  Suzanne Keller, Penguasa dan Kelompok Elit,(Jakarta: CV. Rajawali,1984) h.362
[16] Aksi kreatif itulah sebagai upaya survive bagi manusia, masyarakat dan peradabannya. Konsep ini mengingatkan kita pada kosep struggle for life-nya Charles Darwin. Yang sanggup berjuang dan bertahan melawan tantangan, akan hidup dan memelihara kelangsungan keturunannya-pen
[17] A.J. Toynbee, A Study of History Vol XII: Reconsiderations (Oxford University Press 1961) h.256
[18] Robert H. Lauer. op.cit

No comments: