Cerpen Muhammad Nasir
"Selain dikenal sebagai aktivis, ia juga dikenal sebagai seorang rakus. Tapi, saya melihat aktivismenya itu karena kerakusan, seperti aktifnya hewan nocturnal di malam hari," ujarnya.
Kalimat itu diucapkan lelaki pemilik lapau kopi di pinggiran Banjir Kanal. Senja mulai turun dan aroma kopi hitamnya mengalahkan bau anyir sungai. Sore itu, seperti sore-sore lainnya di kota ini, terasa berat dan lengang. Udara terasa diam, seperti menyimpan perasaannya sendiri.
Aku datang ke tempat itu bukan karena ingin bertemu siapa pun. Justru sebaliknya, aku sedang ingin lari. Dari seseorang, dari kenyataan, dan dari diriku sendiri yang sedang limbung antara idealisme dan hidup yang tak kunjung menentu.
Gaji sebagai jurnalis media online lokal tidak cukup untuk membiayai rencana kuliah S2 yang sudah lama kupendam. Aku sudah mencoba mengatur, menabung, bahkan mencari-cari beasiswa yang tak kunjung berpihak. Di tengah kegundahan itu, aku teringat pada seseorang. Dulu, dia pernah berkata dengan nada nyinyir, tapi cukup untuk kutangkap maknanya:
“Kalau kau jadi S2, temui aku.”
Itu kalimat yang belakangan terngiang di alam pikiranku. Bagiku, kalimat itu tak hanya berarti sebuah sapaan masa depan. Tapi juga janji diam-diam, semacam kode bahwa jika aku berhasil mencapai titik itu, maka ia akan ada di sana untuk menolong. Mungkin membantu biaya kuliah, mungkin mendampingi langkah.