29 Desember 2016

The Lost Symbol

Judul : The Lost Symbol
Penulis : Dan Brown
Alih Bahasa : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : Bentang Yogyakarta
Cetakan : Cet. Pertama 2010
Tebal :712 halaman
Resensiator : Muhammad Nasir


Informasi penting bagi yang pernah membaca karya Dan Brown sebelumnya - Deception Point, Digital Fortress, The Da Vinci Code, dan Angels and Demons-, bahwa The Lost Symbol masih berkutat seputar organisasi-organisasi rahasia yang berpengaruh kuat dalam membentuk sejarah dunia.

Tokoh utama dalam novel ini masih Robert Langdon, Simbolog Agama dari Harvard University, sebagaimana The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Petualangan ini bertajuk menyelamatkan seseorang atau sesuatu dari sosok misterius yang dan berhubungan dengan organisasi penuh rahasia dan interpretasi simbol. Hebatnya simbol-simbol yang diungkapkan itu ada di komputer anda. Saat membaca novel ini usahakan komputer anda menyala pada posisi Microsoft word terbuka, dari toolbar klik insert dan tekan symbol!

Kali ini, organisasi yang dikuak misterinya adalah Freemasonry. Dalam novelnya terdahulu, misalnya The Da Vinci Code berupaya menguak misteri dan kontroversi Prelatur Vatikan yang dikenal sebagai Opus Dei dan Biarawan Sion. Begitu juga dalam Angels and Demons yang menceritakan persaudaraan Illuminati yang menentang gereja, yang di antara mereka ada ilmuwan terkemuka seperti Gallileo Gallilei, Sir Issac Newton, Johannes Kepler dan Copernicus.

Langdon (atau mungkin Dan Brown sendiri) seolah memberi penegasan bahwa Washington adalah sarang organisasi Freemasonry. Semesta symbol ciptaan persaudaraan [moral] ini bertebaran di seluruh penjuru kota. Lihat juga bagaimana ia menyebutkan sejumlah presiden Amerika seperti Benjamin Franklin, Teddy Roosevelt, Harry Truman, dan Gerald Ford--memang benar anggota Freemasonry. Latar belakang ini membuat bangunan di Washington banyak diwarnai kepercayaan Freemasonry.

Soal Freemasonry dan segenap lika-likunya sebaiknya anda baca saja sendiri. Saya justru menemukan keasyikan tersendiri ketika menemukan kata kunci (keyword) menarik untuk saya sendiri yaitu Noetic Science. Apa pula itu?


Noetic Science : menjemput yang silam

Novel ini bercerita tentang pencarian portal kuno berdasarkan sejumlah petunjuk, simbol-simbol, dan cerita yang menakjubkan. Hampir semuanya menyangkut teknologi canggih hingga ilmu ketuhanan. Tetapi yang menarik selain simbol dan freemasonry adalah ilmu baru bernama Noetic Science yang diperkenalkan oleh Dan Brown melalui Katherine Solomon tokoh perempuan novel ini yang tak lain --sang ilmuwan Noetic Science-- itu sendiri.

Katherine Solomon menyebut noetic science sebagai "ilmu yang mungkin baru, tapi sesungguhnya ilmu pengetahuan tertua di dunia, yaitu studi mengenai pikiran manusia". Dalam cerita disebutkan bidang ilmu noetic berpengaruh terhadap semua bidang ilmu mulai dari fisika, sejarah, filsafat dan agama (hal. 64). "Nenek moyang kita (orang-orang kuno) sesungguhnya memahami pikiran secara lebih mendalam daripada kita saat ini. Pikiran manusia adalah satu-satunya teknologi yang dimiliki orang-orang kuno.

Selama berabad-abad “orang terpandai” di dunia mengabaikan ilmu pengetahuan kuno, mengolok-oloknya sebagai tahayul yang bodoh dan mempersenjatai diri dengan skeptisisime angkuh; “terobosan-terobosan baru setiap generasi terbukti keliru menurut teknologi generasi berikutnya (hal.89-90).

Sesuatu yang dapat dipahami dari Noetic Science ini adalah kekuatan berpikir positif yang dapat mengontrol sesuatu menuju yang diinginkan. Postulatnya kira-kira : "sesuatu itu kalau dipikirkan tidak baik akan tidak baik juga hasilnya. Sebaliknya, jika seseorang percaya semuanya akan baik-baik saja, maka semua akan baik-baik saja. Tinggal mengatakan “sebentar lagi semuanya akan berubah” (hal. 64). Tiba-tiba ingat orang yang menyebut dirinya Mentalist atau Master Mind; Deddy Corbuzier.

Ilmu noetic pernah membuat lompatan kuantum pasca peristiwa terror WTC 2001, ketika dunia yang ketakutan bersatu memfokuskan diri pada kedukaan bersama dan kesatuan pengalaman maka lahirlah keteraturan dalam kekacauan (hal. 92). Tetapi apakah keteraturan itu bernama perang global melawan terror (war against global terrorism)? Wallahu a’lam. Untuk menguji postulat itu, terutama di tengah karut-marut politik bangsa Indonesia terkini, dapatkah gaya berpikir noetic ini bisa memberi solusi?

Terpaksa banyak membaca

Novel ini memang sarat pengetahuan dan dalam taraf tertentu sangat melelahkan. Saya terpaksa harus berjibaku membentangkan banyak buku yang lain terutama tentang beberapa istilah dan peristiwa tertentu, sebagai pendalaman pengetahuan agar "nyambung" dengan yang diceritakan Dan Brown. Misalnya kata "noetic" yang tak bersua di kamus.

Bagi peminat sejarah, menelusuri terma yang lazim ditemukan dalam kitab sejarah yang terbujur-terbelintang dalam novel ini menjadi sensasi tersendiri. Kekuatan fiksi dalam karyanya nyaris “remuk redam” dan seolah-olah menjadi kenyataan sejarah yang sulit terbantahkan.

Selain itu keahlian Dan Brown sungguh menakjubkan terutama dalam memanfaatkan fakta-fakta sejarah berdirinya Amerika Serikat dan keberaniannya mengangkat sejarah kontroversial, hidden history dalam sejarah Amerika Serikat bahkan sejarah Kristiani.

Asyiknya, metode penyajiannya yang seperti membuka “kotak pandora” justru membawa pembaca pada tamasya yang mengesankan ke beberapa peristiwa sejarah pada kurun waktu tertentu. Oleh karenanya, tak ada salahnya membaca The Last Symbol ini sebagai penyegaran setelah disibukkan dengan riset konvensional dalam disiplin ilmu sejarah. Selamat bertualang!

Resensiator:
Muhammad Nasir, Pembaca buku dan peminat sejarah.
Aktif di Magistra Indonesia, Padang

dimuat di harian Padang ekspres, Minggu, 28 Februari 2010

Duri-duri Toleransi

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
"Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan (Kaidah
Fikhiyah)
~~~~~~~~~~

Toleransi (تسامح) adalah syarat mutlak untuk menegakkan kebhinekaan Indonesia. Tanpa toleransi, Indonesia sebagai bangsa baru yang majemuk dalam banyak hal diyakini bubar sejak awal.

Praktik toleransi di Indonesia sudah bagus. Namun entah apa sebabnya praktik toleransi ini seolah belum terjadi. Contoh kasus yang terus berulang; tentang kontroversi ucapan selamat natal kepada non muslim, serta kontoversi penggunaan atribut natal oleh muslim. Hampir setiap tahun umat Islam disibukkan dengan kontroversi ini. Inilah duri-duri yang menusuk toleransi.

Dugaan sementara, penyebabnya adalah kegagalan dalam mengenali perbedaan (bukan gagal menerima perbedaan) akibat kurangnya ilmu dan wawasan, kepentingan konyol, keganjenan/kegenitan berpikir, serta upaya-upaya jahat merusak kebhinekaan. Hal ini mungkin saja berasal dari umat islam sendiri, dari umat nasrani atau bahkan dari pihak yang punya kepentingan buruk merusak kebhinekaan.


Gagal memahami perbedaan

Perbedaan adalah kemestian. Menerima perbedaan adalah kedewasaan. Namun mengenali perbedaan butuh ilmu dan pengetahuan. Dalam kontroversi hal ihwal natal ini jelas dan nyata perbedaan pendapat tentang hukum mengucapkan selamat natal dari orang/lembaga muslim kepada kaum nasrani, merayakan natal bersama, menggunakan atribut natal. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Inilah fakta di kalangan Islam.


Sementara bolehlah disebut bahwa ada juga di kalangan umat nasrani yang gagal memahami perbedaan pendapat yang terjadi di internal umat Islam. Bahkan yang lebih naif, ada juga umat nasrani yang menilai pihak yang melarang/keberatan dengan selamat natal, natal bersama dan menggunakan atribut natal sebagai kelompok intoleran dan picik dalam beragama dan berbangsa.  Mestinya, sikap umat islam yang menolak/melarang ini harus dihormati sebagai wujud nyata praktik toleransi.

Akhirnya bisa dilihat betapa debat konyol di media sosial antara sesama warga bangsa yang berbeda pendapat dan berbeda agama menjadi kerancuan berpikir (logical fallacies) yang melebar ke isu-isu yang tidak perlu. Di sinilah perlunya ilmu pengetahuan (di antaranya ilmu agama.

Saran yang relevan untuk kondisi ini adalah, agar semua agama kembali mendalami ajaran agamanya dengan baik serta mengenali agama saudara sebangsanya yang berbeda agar terhindar dari kesalahan semisal off side di sepakbola.

Sebagai a concluding remarks, bahwa memahami itu adalah mengerti suatu maksud, dan mengerti suatu maksud mempunyai atribute pengetahuan, dan pengetahuan dibangun dari pengalaman. Orang yang memahami perbedaan pastilah mengerti arti kata "harap maklum"

Kepentingan konyol

Kepentingan konyol sejauh ini muncul dari dunia usaha/bisnis dan hiburan (entertainment), terutama soal penggunaan atribut natal bagi karyawan muslim. Hampir tiap tahun selalu bermasalah. Alih-alih memanfaat momentum dan mengambil tema hari besar agama, dunia bisnis dan entertainment justru secara konyol melewati batas wilayah berbahaya bagi kebhinekaan. Dapat dipastikan, kekonyolan ini juga disebabkan kegagalan memahami perbedaan akibat kurangnya ilmu dan wawasan.

Keganjenan/kegenitan berpikir
Sekadar berpikir, bersikap dan bertindak sesuai keyakinan dan ilmu adalah legal dan dijamin undang-undang. Namun ada pula yang berpikir dan bertindak ganjen, genit, banyak gaya dan cari perhatian inilah yang mengkhawatirkan. Istilah Bang Haji Rhoma Irama; "terlalu!"  Bisa jadi ini dari politisi, tokoh masyarakat atau entah siapalah. Ciri-cirinya; bangga berlebihan dengan tindakannya sendiri, membela diri dan pendapatnya sencara ngotot atas nama toleransi,  merendahkan pendapat orang lain. Tujuan tindakan ini tidak lebih sekadar menggoda dan menohok secara satire bahkan pejoratif terhadap pihak yang tidak sependapat. Ada kalanya sekadar menjilat carimuka atasan, kolega atau sekadar cari sensasi ibarat pepatah Arab "Bul 'alaa zamzam fatu'raf!"
 Akibatnya muncullah ketegangan dan ejekan yang berbalas-balasan, bahkan tindakan intoleran dari orang-orang yang kurang sabar.

Upaya-upaya jahat merusak kebhinekaan
Mungkin  ini mirip teori konspirasi. Meski sulit dibuktikan namun dapat dirasakan. Dalam sejarah selalu ada pihak-pihak yang menangguk di air keruh. Memperkeruh air sebagai tindakan prakondisi, air keruh sebagai kondisi ideal menangguk ikan. Yang jelas ini upaya dari pihak ketiga yang ingin kebhinekaan rusak. Itu saja.
~~~~~~~~~~

Kembali ke kaidah fikih yang ditulis di awal, bahwa soal kontroversi hal ihwal natal yang sudah dan masih terus terjadi sebaiknya menjadi pengetahuan yang sebatas dimaklumi. Debat kontoversial ini lebih banyak kerusakannya dibanding maslahatnya. Karena itu, menghindari kerusakan (preventif) lebih didahulukan dari mengambil maslahat. Inilah upaya bersama merawat kebhinekaan. Bagi umat Islam, menurut saya, ayat : لكم دينكم و لي دين harusnya menjadi dalil dasar untuk mengokohkan kebhinekaan. Walláhu a'lam bi al shawáb.

(Muhammad Nasir/Kari Bagindo Sati/26-12-2016)

04 Februari 2016

ZAMAN JAHILIYAH

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-NYA kepada kita. Selanjutnya, Shalawat beriring salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam JAHILIYAH kepada alam yang penuh dengan ILMU PENGETAHUAN sebagaimana adanya sekarang ini…




Kalimat di atas sering terdengar bila seseorang akan memulai pidato atau membawakan acara. Kalimat tersebut memang berbentuk pembuka (muqaddimah) sebuah pidato (khatabah) atau  sebuah tulisan. Persoalannya bukan terletak pada statusnya sebagai kalimat pembuka. Namun jika dicermati kata yang bergaris tebal (bold) di atas, maka akan terlihat dua keadaan kontras yang menunjukkan upaya perubahan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Frasa Jahiliyah dalam terjemahan bebas berarti bodoh atah kebodohan. Apakah frasa ini mengandung kebenaran bila dikonfirmasi dengan beberapa pencapaian kemajuan bidang ilmu pengetahuan bangsa Arab ketika itu atau dengan beberapa aspek intelektualitas lainnya.

Frasa ilmu pengetahuan menunjukkan keadaan yang tercerahkan dengan ilmu dan pengetahuan. Jika pembaca muqaddimah ini tidak cermat dan hati-hati, bisa saja terjadi kesalahan dalam pemahaman serta kesalahan dalam memotret sejarah masyarakat sebelum kedatangan Agama Islam.

Oleh sebab itu, bagi pembelajar sejarah harus dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata jahiliyah dalam konteks sejarah dan peradaban Islam.

Beberapa pengertian Jahiliyyah

Zaman Penuh Pelanggaran Sosial dan Kenistaan
Menurut Syed Mahmudunnasir, zaman jahiliyah merujuk pada keadaan masyarakat Arab yang terjurumus dalam kenistaan dan pelanggaran sosial.[Syed Mahmudunnasir, ISLAM: Konsepsi dan Sejarahnya (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1998), h. 102] Dari segi keyakinan agama, masyarakat Arab melakukan penyembahan berhala dan praktik penyembahan banyak tuhan (politeisme). Masing-masing penganut agama saling cela dan menghina ajaran dan keyakinan mereka.

Dari segi sosial, kaum wanita adalah kaum yang paling rendah derajatnya dalam masyarakat. Kaum wanita tidak mendapat hak hukum. Begitu juga dengan budak, tidak dianggap sebagai manusia yang mempunyai hak sosial dan hukum. Selain itu praktik rasialisme dalam bentuk pembedaan derajat manusia berdasarkan warna kulit dan keturunan terjadi secara massif dan dijadikan sebagai alat untuk menjustikasi kekerasan dan penghinaan terhadap seseorang.

Moralitas masyarakat jatuh ke titik nadir. Bayi-bayi perempuan dibunuh karena dianggap sebagai pembuat malu keluarga dan biang kehinaan. Praktek mabuk-mabukan (khamar), judi (maysir), berkurban untuk berhala dan meramal dengan anak panah menjadi tradisi dan kelaziman serta tidak dianggap sebagai sebuah masalah sosial.

Zaman Anarkis dan Kekacauan
Menurut Akbar S. Ahmed, seorang kritikus sejarah dan antropolog muslim terkemuka, menyebutkan zaman jahiliyah sebagai zaman di ambang anarkis dan kekacauan. [Akbar S. Ahmed, Rekonstruksi Sejarah Islam, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003), h. 22]  Zaman ini merujuk pada prilaku bangsa arab yang gemar berperang antar suku, perkelahian dan penyiksaan terhadap budak, pembunuhan bayi perumpuan yang baru lahir. Kekacauan itu disebabkan oleh tidak berlakuknya norma agama dan hukum masyarakat.
 
Zaman Kebiadaban Penguasa
Beberapa penyebutan tentang karakteristik Jahiliyah  di atas dapat disimpulkan lagi bahwa Zaman Jahiliyah adalah zaman kebiadaban penguasa, di mana praktek anarkisme, amoral dan asusila serta pelanggaran Hak Asasi Manusia tidak terlepas dari control dan pembiaran (permisivisme) penguasa terhadap keadaan yang tidak baik tersebut.

Yang jelas, ada banyak pengertian yang dapat diambil saat mendefinisikan zaman jahiliyah dengan merujuk aspek keagamaan, hukum, sosial masyarakat Arab pada masa itu dan merumuskan sendiri karakteristik jahiliyah dengan alat ukur yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kritikan terhadap istilah Jahiliyyah

Justifikasi Jahiliyyah kepada masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat Arab modern. Nurcholis Madjid, salah seorang intelektual muslim terkemuka Indonesia mencatat beberapa protes terkait pencitraan Jahiliyah terhadap bangsa Arab pra Islam.[Lebih lanjut baca pengantar Nurcholis Madjid untuk terjemahan buku Bernard Lewis, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1988), h.vii-x]

Di antaranya:  
Abd. Rahman Al Bazaz
Menurutnya, Jahiliyyah adalah julukan yang dibuat oleh orang sekarang dan para penulis dan sejarawan harus bertanggung jawab dalam memunculkan segala gambaran negatif terhadap bangsa Arab. Tujuan penggambaran yang buruk itu menurut al Bazzaz adalah untuk menangkal gerakan Arabisasi. Selain itu, penggambaran yang buruk itu juga didorong oleh semangat golongan dan nasionalisme (syu’ubiyyah) dari orang muslim non-Arab, khususnya Persia.

Menurut Nurcholis Madjid, pandangan al Bazzaz itu juga tidak lepas dari semangat nasionalisme yang bertujuan menegakkan kembali supremasi Arab
  
Muhibb al-Din al Khatib
 Menurutnya, Bangsa Arab adalah bangsa yang terakhir mempraktikkan penyembahan berhala dan bangsa paling awal mengakhirinya. Selain itu, dengan mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, al Khatib berargumen bahwa “mereka yang terbaik pada masa jahiliyah adal mereka yang terbaik pula pada masa Islam.” Mereka yang menjadi tokoh pada zaman jahiliyyah, menjadi tokoh pula pada masa Islam.

Para orientalis juga sering menggunakan peristilahan yang bermakna nyaris sama, di antaranya bangsa pritimitif, bar-bar, bangsa gurun dan tak berperadaban. Hal ini menguatkan anggapan orientalis bahwa agama Islam dikembangkan oleh bangsa primitif Arab gurun. Meskipun dari segi perilaku ada beberapa karakteristik masyarakat yang dapat dogolongkan primitif, namun jika dilihat dari segi kemajuan yang dicapai oleh bangsa dan masyarakat Arab ketika itu, tuduhan itu tidak dapat dibenarkan.

Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang patut dicatat. Yaitu:
Zaman Jahiliyyah dalam konteks sejarah adalah zaman referensial, zaman untuk menunjuk kondisi buruk yang dialami masyarakat sebelum kedatangan Islam, terutama jika ditinjau dari perspektif Islam

Zaman Jahiliyyah memang dialami oleh masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam dengan merujuk beberapa perilaku buruk yang dipraktikkan pada masa itu, terutama jika ditinjau dari aspek agama, moral (akhlak) dan sosial

Mempertimbangkan beberapa kritikan terhadap penamaan Jahiliyyah kepada bangsa Arab, maka perlu perluasan makna. Zaman Jahiliyah tidak hanya melingkupi masyarakat Arab, tetapi juga menyelimuti masyarakat dunia pada umumnya. Hal ini sesuai dengan sebutan dan tujuan Agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin.

Sebutan Jahiliyyah untuk bangsa dan masyarakat Arab bukan berarti menenggelamkan bangsa dan masyarakat Arab dalam sejarah bangsa yang berperadaban. Sebab, Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam dalam sejarahnya juga mempunyai keunggulan dan prestasi  yang menunjukkan mereka sebagai bangsa yang beradab.

Sebutan Jahiliyyah relevan dengan tugas Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna moral-akhlak manusia. Innama bu’itstu liutammima makarima al akhlaq.

.......................


Bacaan dan rujukan lebih lanjut :
Abbas Mahmoud Al Akkad, Bilal dan Rasialisme, Solo: Pustaka Mantiq,1989
Akbar S. Ahmed, Rekonstruksi Sejarah Islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Bernard Lewis, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1988
Karen Armstrong, Islam A 'Short History, Surabaya: Ikon Teralitera, 2004
Maidir Harun, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN IB Press, 2001
Syed Mahmudunnasir, ISLAM: Konsepsi dan Sejarahnya,Bandung, Remaja Rosdakarya, 1998
Sumber lain yang relevan

28 Agustus 2015

Amnesia di Negeri Sinetron

Oleh: Muhammad Nasir

Sepertinya saat ini sebagian orang Indonesia harus berpandai-pandai bicara dengan pemimpinnya. Agaknya, kesibukan pemimpin kita saat ini adalah mengatasi masalah dalam diri mereka sendiri. Selain itu, agaknya apa yang dimaksud dengan masalah nasional adalah masalah-masalah yang terkait dengan sengketa politik di antara pemimpin.

Sebut saja masalah koalisi, pembagian kekuasaan, saling lempar kesalahan dan tanggung jawab dan terakhir ini masalah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Semua nyaris menyita masalah nasional yang lain, misalnya mahalnya harga sembako, bencana alam, sulitnya memperoleh Kartu Tanda Penduduk dan sekambut masalah lainnya.

Dari semua masalah itu sesuatu yang dapat dikatakan adalah; pemimpin kita itu sedang mengidap amnesia. Amnesia membuat mereka lupa akan tujuan semula, yaitu mengurus rakyat dan membuat pekerjaan yang bermuara pada kesejahteraan rakyat. Fasal Amnesia Apakah tepat disebut amnesia, wallahu a’lam. Tetapi melihat gejala dan prilaku pemimpin saat ini dapat dikiaskan serupa itu.

Amnesia adalah kondisi seseorang yang terganggu daya ingatnya. Akibatnya adalah ketidakmampuan mengingat masa lalu dan ketidakmampuan membayangkan masa depan. Kata Wikipedia, bila seorang yang normal membayangkan masa depan, mereka menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengkonstruksi skenario yang mungkin dihadapi.

Sebagai contoh, seseorang yang mencoba membayangkan apa yang akan terjadi dalam pesta yang hendak didatanginya akan menggunakan pengalaman pesta sebelumnya untuk membantu mengkonstruksi kejadian di masa depan. Lain halnya dengan pengidap amnesia, ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini walaupun baru berlalu sesaat. Kampanye politik saat pemilu legislatif dan eksekutif baru saja berlalu, mereka sudah melupakannya.

Yang lebih parah, ia sama sekali tidak punya gambaran masa depan seperti apa yang sedang ia bangun. Dalam garah kucindan harian sering didengar, pengidap amnesia disinyalir karena acap terbentur kepalanya. Orang yang kepalanya pernah terbentur dengan keras bisa jadi lupa segala-galanya.Bisa jadi begitu. Akibat benturan keras antar relit politik itu barangkali menyebabkan mereka lupa diri. Kalaupun ada ingatan yang tersisa terbatas pada apa yang sedang mereka hadapi saat ini, yaitu politik yang terdiri dari kawan politik dan lawan politik.

Negeri Sinetron

Cerita tentang Indonesia makin lama makin seru seperti sinteron kejar tayang yang tak jelas kapan sudahnya. Ceritanya menyebar ke mana-mana mengikuti nasib aktor pelakunya dan besarnya rating sinetronnya. Kata sebagian orang, menonton sinetron membuat orang jadi bodoh, pikiran dan logika bisa tak berfungsi.

Kekuatan sinetron yang terletak pada konflik dan kejutan-kejutan yang tak masuk akal membuat orang lupa jalan cerita sesungguhnya. Sejuta kejengkelan, kesedihan dan perasaan lainnya berkecamuk dalam sebuah sinetron.

Hanya saja nasib negeri ini tak bisa diserupakan dengan sinetron. Tidak semua masalah selesai begitu saja dengan kejutan yang tiba-tiba. Artinya negeri sinetron ini harus dibawa segera ke alam nyata.

Tidak bisa dielakkan, segala masalah politik di negeri ini selalu terkait dengan uang. Misalnya masalah Bank Century, mafia pajak, cukai container illegal, suap-menyuap dan sebagainya. Bahasa lainnya korupsi. Maka kiranya dapat disimpulkan bahwa pelaku politik negeri ini tak lebih dari pialang dan petualang politik. Bukan pejuang seperti jaman dulu. [pdg.31 Des 2011]

Muhammad Nasir Magistra Indonesia Padang

Pembubaran Ormas Anarkis : Tidak Perlu

Oleh Muhammad Nasir

Menguatnya peran organisasi massa (ormas) Islam radikal dan cendrung anarkis merupakan sebuah fenomena yang tak terhindarkan pasca Orde Baru. Perilaku sejumlah ormas Islam yang suka berbuat anarkis memicu rencana pemerintah untuk menindak bahkan membubarkannya. Di samping rentan terhadap tindakan terorisme, ormas radikal juga dikhawatirkan menimbulkan masalah keamanan nasional.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada puncak Hari Pers Nasional di Kupang Rabu (9/2) mengarahkan aparat penegak hukum untuk menindak tegas ormas yang melanggar hukum dengan jalan yang sah dan legal. SBY juga mengisyaratkan pembubaran kelompok-kelompok yang terbukti melanggar hukum, melakukan kekerasan dan meresahkan masyarakat.

Secara tekstual, pernyataan presiden SBY itu tidak tertuju pada ormas tertentu, apalagi ormas Islam. Tetapi pernyataan itu dapat dipahami sebagai titah kepada aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas dengan jalan yang sah dan legal.

Pada tahun 2006, wacana pembubaran ormas anarkis-radikal ini juga sempat menguat. Waktu itu, Wapres Jusuf Kalla menegaskan ancaman pemerintah yang akan menindak tegas ormas radikal. Penindakan itu ditujukan pada tindakannya, bukan pada pemikiran orang-orang yang radikal.

Maftuh Basyuni, Menteri Agama kala itu, juga mempertanyakan ormas Islam yang anarkis. Ia mengatakan pelaku anarkisme pada ormas Islam itu jelas orang yang tidak mengerti Islam. Karena semangat Islam bukan semangat premanisme.(Indopos,16/06/06)

Namun upaya menindak tegas ormas-ormas yang terbukti melawan hukum merupakan masalah yang tidak mudah. Kesulitan terletak pada berbagai level, baik dari konseptual maupun dari level konstitusional.

Pada level konseptual misalnya berangkat dari sebuah tesis bahwa ormas Islam yang cendrung anarkis berasal dari pemaknaan mereka terhadap ideologi radikal, apalagi terkait dengan radikalisme agama.

Apabila pembubaran didasarkan pada pemahaman bahwa ormas anarkis berangkat dari radikalisme agama, kemungkinan dapat menimbulkan kerancuan dan kesalahpahaman dalam memahami konsep radikal. Sejauh mana kemampuan aparat penegak hukum memahami konsep radikalisme agama? Bagaimana pula cara menghukum radikalisme sebagai sebuah pemikiran?

Secara konstitusional tindakan pembubaran juga dianggap melanggar Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yaitu “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diatur undang-undang.” Jika hal ini dilakukan, tentu merupakan kemunduran demokrasi.

Selain itu pembubaran ormas belum tentu menjadi solusi yang tepat untuk mencegah anarkisme. Pembubaran ormas juga dapat disebut sebagai kegagalan pemerintah dalam menghargai perbedaan pendapat. Hal itu dapat saja menjadi sumber ketegangan baru antara pemerintah dan rakyat.    

Peran Negara dan Tokoh Agama

Ormas Islam yang anarkis di Indonesia tidaklah banyak. Mereka hanyalah kelompok minoritas yang mendapat tempat spesial di laman pemberitaan media massa. Selain itu agresifitas dan frekwensi kekerasan yang mereka lakukan seolah mewakili citra ormas Islam secara keseluruhan.

Tugas penegak hukum adalah melindungi warga negara dari ancaman kekerasan dari orang tertentu atau ormas tertentu. Selain itu pelaku anarkisme apalagi kriminal harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Kelambanan aparat dalam mengantisipasi tindakan anarkisme itulah yang membuat beberapa ormas Islam berkembang menjadi tirani minoritas. Mereka menjadi tirani bagi ormas Islam yang mayoritas seperti NU dan Muhammadiyah, sekaligus menjadi tirani bagi kelompok minoritas Islam atau non muslim lainnya.

Anarkisme Ormas Islam pada sisi lain dapat disebut sebagai kegagalan komunikasi tokoh agama lintas ormas dalam mengambil keputusan strategis terkait persoalan sosial keagamaan. Contoh mutakhir adalah sengkarut masalah Ahmadiyah di Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada perbedaan pendapat tokoh agama Islam tentang perlakuan dan tindakan yang harus diambil terhadap Jamaah Ahmadiyah di Indonesia. Kelompok radikal cendrung menuntut pembubaran Ahmadiyah dan menyatakan diri keluar dari agama Islam. Sikap ini didasarkan pada konteks ke-Islaman-an yaitu upaya penjagaan terhadap “kemurnian” ajaran Islam dari penyelewengan penafsiran.

Sementara kelompok nasionalis liberal cendrung memberi tempat kepada Ahmadiyah untuk beribadah sesuai keyakinannya di negara Indonesia. Sikap ini didasarkan kepada penjagaan terhadap hak hidup dan berkeyakinan warga negara Indonesia dalam konteks ke-Indonesia-an.

Perbedaan pendapat adalah sah dan sangat mungkin terjadi dalam menyelesaikan persoalan Ahmadiyah. Namun dari segi tindakan, mestinya ada hal penting yang perlu disepakati bersama oleh tokoh Islam lintas ormas, yaitu larangan kepada pengikutnya agar tidak bertindak anarkis dalam menyelesaikan persoalan. Seandainya ada juga tindakan anarkis dilakukan oleh pengikut salah satu ormas, selayaknya tokoh ormas itu bertanggung jawab atas kegagalan mengendalikan pengikutnya.

Muhammad Nasir
Peneliti di Magistra Indonesia-Padang