26 Januari 2017

Islam Indonesia Sebelum Peristiwa 11 September 2001

Muhammad Nasir


Kilas Balik Islam di Indonesia

Islam di Indonesia sudah berlangsung lama. Ada 4 (empat) teori yang dapat dikemukakan terkait upaya pengukuran usiaagama Islam (Islamisasi) di Indonesia, yaitu teori India, teori Arab, teori Persia dan teori China. Semua teori tersebut di samping mendasarkan teori-teorinya pada waktu kedatangan dan penyebaran Islam di Nusantara, juga memberi petunjuk akan keragaman asal-usul dan unsur pembentuk karakter Islam di Indonesia.

Jika dihitung dari segi waktu, semua teori tersebut mengemukakan argumen waktu kedatangan Islam bermula dari abad ke-7 M hingga abad ke-13 M. dengan demikan Islam di Indonesia sudah berumur sekitar 14 abad atau setidak-tidaknya 8 abad.

Selain itu yang patut diapresiasi berkaitan dengan proses pembentukan bangsa Indonesia adalah pendapat yang menyatakan bahwa kehadiran Islam di Nusantara menjadi suatu tanda bagi permulaan sejarah Indonesia modern. Setidaknya itu dapat dibaca dari buku karya M.C Ricklefs yang meletakkan kedatangan Islam sebagai awal modernisasi Indonesia. [1]

Tetapi yang lebih penting dari wacana  berapa lama Islam memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat Indonesia, ada suatu kesepakatan akademis dari para sejarawan, bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui jalur damai. Islam masuk ke Indonesia tidak melalui jalur penaklukan atau melalui jalan kekerasan bersenjata.

Islam di Indonesia sejak kehadirannya telah melewati beberapa fase sejarah yang menarik untuk disimak. Melalui pengematan yang cermat terhadap karakter khusus yang melekat pada setiap fase, akan dapat dilihat perubahan-perubahan dan kesinambungan (changes and continuity) yang berlaku umum dalam sejarah sosial Islam di Indonesia.

Beberapa fase yang pernah dilewati antara lain fase di mana Islam disebarkan oleh para pedagang Muslim dan diterima sebagai agama baru masyarakat Nusantara (cikal bakal Indonesia), fase terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam Nusantara dan fase pelembagaan Islam. [2]

Fase kedatangan dan perkembangan Islam tersebut pada sisi yang lain telah membentuk suatu komunitas berbasis agama baru di Indonesia yaitu komunitas Islam atau sering juga disebut masyarakat Islam atau umat Islam. Hal ini jarang tersebut sebelumnya untuk mengidentifikasi komunitas berbasis agama lainnya seperti komunitas Buddha atau Komunitas Hindu.

Sementara pada fase kerajaan-kerajaan Islam diwarnai oleh konflik politik yang khas. Konflik politik tersebut dapat dilihat dari kontestasi dagang hingga peperangan melawan dominasi Eropa (Inggris, Spanyol, Belanda dan Potugis). Selain itu konflik juga berlangsung antara sesama kerajaan Islam terutama dalam hal perebutan pengaruh politik dan dominasi ekonomi. Tidak jarang kepentingan politik ekonomi mengalahkan kepentingan agama. Dalam hal ini tidak jarang terjadi persekutuan antara kerajaan Islam dengan kekuatan-kekuatan bangsa Eropa. [3] Pada fase ini pula penjajahan menjadi masalah yang hampir merata di seluruh Nusantara. Bahkan di sekitar abad ke-19 dan 20 dunia Islam pada umumnya berada dalam kungkungan kolonialisme.

Fase yang lain, yaitu fase Pelembagaan Islam dapat dilihat dari pembentukan institusi sosial Islam. Fase ini merupakan awal kesadaran berbangsa dan bernegara, saat kekuatan senjata sebagai strategi utama dalam menghadapi penjajahan mengalami kebuntuan. Pilihan yang mungkin saat itu antara lain memperkuat masyarakat Islam dalam naungan berbagai organisasi massa Islam yang marak didirikan. Persamaan nasib berbagai suku bangsa di Nusantara diyakini mendorong persatuan yang kelak berubah menjadi gerakan nasionalisme. Islam dalam hal ini memiliki peranan yang besar mengingat hanya agama Islamlah yang memiliki pemeluk yang hampir merata di seluruh nusantara. Komunikasi atas nama seagama diyakini sebagai perekat nasionalisme yang ampuh.

  Fase pembentukan kelembagaan Islam ini tidak dapat dihindarkan dari pengeruh gerakan pembaharuan Islam di Timur Tengah pada abad ke 19 hingga puncaknya di awal abad ke 20. Berbagai organisasi sosial Islam mulai dari Jamiat Khair, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Al-Irsyad (organisasi kaum keturunan Arab),  Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dan sebagainya mulai bermunculan. Menjelang kemerdekaan, organisasi-organisasi ini memainkan peranan yang penting dalam mendorong perubahan.

Selain beberapa fase di atas, menjelang kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 berbagai perdebatan muncul dalam rangka menyambut kemerdekaan. Tema perdebatan penting di antaranya mengenai dasar negara Indonesia yang kelak diproklamasikan. Perdebatan tersebut berlangsung antara kelompok pejuang berhaluan nasionalis dengan kelompok pejuang Islam. Akhirnya perdebatan itu sementara dapat diselesaikan dengan baik dalam semangat kompromi untuk keutuhan Indonesia sebagai negara baru. Tetapi kompromi politik tersebut tidak serta merta menyelesaikan akar masalah perdebatan tersebut, yaitu masalah ideologi dan keadilan bagi umat Islam.

Pascakemerdekaan, terutama masa pemerintahan Presiden Soekarno yang dikenal dengan masa Orde Lama, umat Islam mulai mengahadapi tantangan sebagai bagian dari bangsa dan negara yang merdeka. Tantangan terbesar antara lain masalah ideologi dan peran politik umat Islam dalam dinamika ketatanegaraan. Pada masa ini umat Islam seringkali bersentuhan dengan masalah politik, kekuasaan, pemerintahan dan negara. [4] Masalah ideologi yang tak terseselesaikan itu muncul dalam bentuk peristiwa Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo di Jawa Barat yang mengusung ide pembentukan Negara Islam Indonesia, [5] yang berlangsung antara tahun 1948-1962. [6] Diikuti oleh gerakan serupa di Aceh pimpinan Daud Beureueh dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Selain  itu umat Islam juga dihadapkan pada keharusan menerima koalisi ideologis yang terdiri dari ideologi Nasionalisme, Agama dan Komunisme (Nasakom). Tetapi dalam perkembangannya, koalisi ideologis ini gagal diterapkan karena faktor ketidakseimbangan dan ketidakadilan Soekarno (Nasionalis) yang ternyata lebih dekat kepada kepentingan ideology Komunisme yang diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menjelang kejatuhan Presiden Soekarno, kekuatan umat Islam dengan segala plus minusnya berhadapan dengan situasi sejarah yang penuh misteri, membingungkan, penuh huru hara dan chaos. Kekuatan Islam yang diboncengi tentara terlibat pembantaian pengikut PKI.

Ironisnya, umat Islam yang berjasa menumbangkan ideologi komunisme dan berhasil meruntuhkan rezim Orde Lama dan menjadi kekuatan utama mendukung Orde Baru justru mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari pemerintahan Presiden Soeharto. Rezim Orde Baru yang totaliter dan paranoid menganggap kekuatan politik umat Islam sebagai hal yang membahayakan kekuasaan.

Rezim kekuasaan seringkali pragmatis terhadap umat Islam. Sikap ini berangkat dari keinginan untuk mempertahankan kekuasaannya. Untuk itu, rezim kekuasaan sering melakukan manuver apa saja, adakalanya merangkul adakalanya memberangus kekuatan Islam.

Dari situlah rezim Soeharto mengidap ketakutan terhadap kekuatan Islam politik (Islamophobia) sehingga melakukan langkah-langkah represif dengan cara mendepolitisasi Islam,  minimal meminggirkan Islam terutama pada sepuluh tahun pertama Orde Baru. Puncaknya adalah terjadi pengasastunggalan ideologi yaitu Ideologi Pancasila. [7]

 Menjelang kejatuhannya, tepatnya awal tahun 1990 Soeharto mencoba meraih simpati umat Islam dengan cara mengendorkan tekanan terhadap umat Islam. Bahkan sebisa mungkin Soeharto ingin merangkul umat Islam. Hal tersebut dapat dilihat dalam maneuver politik Soeharto dengan mendukung sepenuhnya berdirinya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 5 Desember 1990. Soeharto melaui ICMI telah membawa Islam dan kaum Muslimin ke "tengah" (moderat), dan tidak lagi berada di pinggiran seperti sebelumnya.

Menurut Azyumardi Azra, ICMI juga telah menjadi katalisator bagi kemunculan lembaga-lembaga baru Islam, seperti Bank Muamalat Indonesia, MAN Insan Cendekia. Selanjutnya ICMI juga telah mendorong terjadinya proliferasi berbagai institusi baru seperti Takaful, Dompet Dhuafa, serta unit-unit pemberdayaan ekonomi rakyat lainnya. [8] Kemesraan umat Islam dengan pemerintah Orde Baru tidak berlangsung lama. Gerakan reformasi yang didukung aktivis prodemokrasi pada tahun 1998 segera merubah pola hubungan umat Islam dengan pemerintah.

 Bacaan
[1] Baca MC Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern,terj. Dharmono Hardjowidjono (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1993)
[2] Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis  Islam Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1988), h. 55-58
[3] Nor Huda, Islam Nusantara, Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ar Ruz Media, 2007) , h. 79
[4] Marzuki Wahid (editor), Jejak-jejak Islam Politik, Sinopsis Sejumlah Studi Islam di Indonesia, (Jakarta: Ditpertais, 2004), h. 247
[5] Ibid.,  h. 151
[6] DI/TII pimpinan Kartosuwiryo praktis selesai setelah ia dieksekusi pada 5 September 1962. Tetapi studi terakhir mengemukakan bahwa ideology dan tujuan yang diusung DI/TII tidak berhenti hingga di situ. Beberapa kajian menempatkan organisasi Islam kontemporer yang dituduh melakukan tindakan makar dan aksi terror mulai dari Komando Jihad hingga Jamaah Islamiyah merupakan metamorphosis dari DI/TII.
[7] Hal ini dapat dibaca dalam kajian M Rusli Karim, Negara dan Peminggiran Islam Politik, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999)
[8]ICMI Mantapkan Peran Pemberdayaan Masyarakat, Suara Karya (Jakarta), Sabtu, 17 April 2010




29 Desember 2016

The Lost Symbol

Judul : The Lost Symbol
Penulis : Dan Brown
Alih Bahasa : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : Bentang Yogyakarta
Cetakan : Cet. Pertama 2010
Tebal :712 halaman
Resensiator : Muhammad Nasir


Informasi penting bagi yang pernah membaca karya Dan Brown sebelumnya - Deception Point, Digital Fortress, The Da Vinci Code, dan Angels and Demons-, bahwa The Lost Symbol masih berkutat seputar organisasi-organisasi rahasia yang berpengaruh kuat dalam membentuk sejarah dunia.

Tokoh utama dalam novel ini masih Robert Langdon, Simbolog Agama dari Harvard University, sebagaimana The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Petualangan ini bertajuk menyelamatkan seseorang atau sesuatu dari sosok misterius yang dan berhubungan dengan organisasi penuh rahasia dan interpretasi simbol. Hebatnya simbol-simbol yang diungkapkan itu ada di komputer anda. Saat membaca novel ini usahakan komputer anda menyala pada posisi Microsoft word terbuka, dari toolbar klik insert dan tekan symbol!

Kali ini, organisasi yang dikuak misterinya adalah Freemasonry. Dalam novelnya terdahulu, misalnya The Da Vinci Code berupaya menguak misteri dan kontroversi Prelatur Vatikan yang dikenal sebagai Opus Dei dan Biarawan Sion. Begitu juga dalam Angels and Demons yang menceritakan persaudaraan Illuminati yang menentang gereja, yang di antara mereka ada ilmuwan terkemuka seperti Gallileo Gallilei, Sir Issac Newton, Johannes Kepler dan Copernicus.

Langdon (atau mungkin Dan Brown sendiri) seolah memberi penegasan bahwa Washington adalah sarang organisasi Freemasonry. Semesta symbol ciptaan persaudaraan [moral] ini bertebaran di seluruh penjuru kota. Lihat juga bagaimana ia menyebutkan sejumlah presiden Amerika seperti Benjamin Franklin, Teddy Roosevelt, Harry Truman, dan Gerald Ford--memang benar anggota Freemasonry. Latar belakang ini membuat bangunan di Washington banyak diwarnai kepercayaan Freemasonry.

Soal Freemasonry dan segenap lika-likunya sebaiknya anda baca saja sendiri. Saya justru menemukan keasyikan tersendiri ketika menemukan kata kunci (keyword) menarik untuk saya sendiri yaitu Noetic Science. Apa pula itu?


Noetic Science : menjemput yang silam

Novel ini bercerita tentang pencarian portal kuno berdasarkan sejumlah petunjuk, simbol-simbol, dan cerita yang menakjubkan. Hampir semuanya menyangkut teknologi canggih hingga ilmu ketuhanan. Tetapi yang menarik selain simbol dan freemasonry adalah ilmu baru bernama Noetic Science yang diperkenalkan oleh Dan Brown melalui Katherine Solomon tokoh perempuan novel ini yang tak lain --sang ilmuwan Noetic Science-- itu sendiri.

Katherine Solomon menyebut noetic science sebagai "ilmu yang mungkin baru, tapi sesungguhnya ilmu pengetahuan tertua di dunia, yaitu studi mengenai pikiran manusia". Dalam cerita disebutkan bidang ilmu noetic berpengaruh terhadap semua bidang ilmu mulai dari fisika, sejarah, filsafat dan agama (hal. 64). "Nenek moyang kita (orang-orang kuno) sesungguhnya memahami pikiran secara lebih mendalam daripada kita saat ini. Pikiran manusia adalah satu-satunya teknologi yang dimiliki orang-orang kuno.

Selama berabad-abad “orang terpandai” di dunia mengabaikan ilmu pengetahuan kuno, mengolok-oloknya sebagai tahayul yang bodoh dan mempersenjatai diri dengan skeptisisime angkuh; “terobosan-terobosan baru setiap generasi terbukti keliru menurut teknologi generasi berikutnya (hal.89-90).

Sesuatu yang dapat dipahami dari Noetic Science ini adalah kekuatan berpikir positif yang dapat mengontrol sesuatu menuju yang diinginkan. Postulatnya kira-kira : "sesuatu itu kalau dipikirkan tidak baik akan tidak baik juga hasilnya. Sebaliknya, jika seseorang percaya semuanya akan baik-baik saja, maka semua akan baik-baik saja. Tinggal mengatakan “sebentar lagi semuanya akan berubah” (hal. 64). Tiba-tiba ingat orang yang menyebut dirinya Mentalist atau Master Mind; Deddy Corbuzier.

Ilmu noetic pernah membuat lompatan kuantum pasca peristiwa terror WTC 2001, ketika dunia yang ketakutan bersatu memfokuskan diri pada kedukaan bersama dan kesatuan pengalaman maka lahirlah keteraturan dalam kekacauan (hal. 92). Tetapi apakah keteraturan itu bernama perang global melawan terror (war against global terrorism)? Wallahu a’lam. Untuk menguji postulat itu, terutama di tengah karut-marut politik bangsa Indonesia terkini, dapatkah gaya berpikir noetic ini bisa memberi solusi?

Terpaksa banyak membaca

Novel ini memang sarat pengetahuan dan dalam taraf tertentu sangat melelahkan. Saya terpaksa harus berjibaku membentangkan banyak buku yang lain terutama tentang beberapa istilah dan peristiwa tertentu, sebagai pendalaman pengetahuan agar "nyambung" dengan yang diceritakan Dan Brown. Misalnya kata "noetic" yang tak bersua di kamus.

Bagi peminat sejarah, menelusuri terma yang lazim ditemukan dalam kitab sejarah yang terbujur-terbelintang dalam novel ini menjadi sensasi tersendiri. Kekuatan fiksi dalam karyanya nyaris “remuk redam” dan seolah-olah menjadi kenyataan sejarah yang sulit terbantahkan.

Selain itu keahlian Dan Brown sungguh menakjubkan terutama dalam memanfaatkan fakta-fakta sejarah berdirinya Amerika Serikat dan keberaniannya mengangkat sejarah kontroversial, hidden history dalam sejarah Amerika Serikat bahkan sejarah Kristiani.

Asyiknya, metode penyajiannya yang seperti membuka “kotak pandora” justru membawa pembaca pada tamasya yang mengesankan ke beberapa peristiwa sejarah pada kurun waktu tertentu. Oleh karenanya, tak ada salahnya membaca The Last Symbol ini sebagai penyegaran setelah disibukkan dengan riset konvensional dalam disiplin ilmu sejarah. Selamat bertualang!

Resensiator:
Muhammad Nasir, Pembaca buku dan peminat sejarah.
Aktif di Magistra Indonesia, Padang

dimuat di harian Padang ekspres, Minggu, 28 Februari 2010

Duri-duri Toleransi

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
"Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan (Kaidah
Fikhiyah)
~~~~~~~~~~

Toleransi (تسامح) adalah syarat mutlak untuk menegakkan kebhinekaan Indonesia. Tanpa toleransi, Indonesia sebagai bangsa baru yang majemuk dalam banyak hal diyakini bubar sejak awal.

Praktik toleransi di Indonesia sudah bagus. Namun entah apa sebabnya praktik toleransi ini seolah belum terjadi. Contoh kasus yang terus berulang; tentang kontroversi ucapan selamat natal kepada non muslim, serta kontoversi penggunaan atribut natal oleh muslim. Hampir setiap tahun umat Islam disibukkan dengan kontroversi ini. Inilah duri-duri yang menusuk toleransi.

Dugaan sementara, penyebabnya adalah kegagalan dalam mengenali perbedaan (bukan gagal menerima perbedaan) akibat kurangnya ilmu dan wawasan, kepentingan konyol, keganjenan/kegenitan berpikir, serta upaya-upaya jahat merusak kebhinekaan. Hal ini mungkin saja berasal dari umat islam sendiri, dari umat nasrani atau bahkan dari pihak yang punya kepentingan buruk merusak kebhinekaan.


Gagal memahami perbedaan

Perbedaan adalah kemestian. Menerima perbedaan adalah kedewasaan. Namun mengenali perbedaan butuh ilmu dan pengetahuan. Dalam kontroversi hal ihwal natal ini jelas dan nyata perbedaan pendapat tentang hukum mengucapkan selamat natal dari orang/lembaga muslim kepada kaum nasrani, merayakan natal bersama, menggunakan atribut natal. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Inilah fakta di kalangan Islam.


Sementara bolehlah disebut bahwa ada juga di kalangan umat nasrani yang gagal memahami perbedaan pendapat yang terjadi di internal umat Islam. Bahkan yang lebih naif, ada juga umat nasrani yang menilai pihak yang melarang/keberatan dengan selamat natal, natal bersama dan menggunakan atribut natal sebagai kelompok intoleran dan picik dalam beragama dan berbangsa.  Mestinya, sikap umat islam yang menolak/melarang ini harus dihormati sebagai wujud nyata praktik toleransi.

Akhirnya bisa dilihat betapa debat konyol di media sosial antara sesama warga bangsa yang berbeda pendapat dan berbeda agama menjadi kerancuan berpikir (logical fallacies) yang melebar ke isu-isu yang tidak perlu. Di sinilah perlunya ilmu pengetahuan (di antaranya ilmu agama.

Saran yang relevan untuk kondisi ini adalah, agar semua agama kembali mendalami ajaran agamanya dengan baik serta mengenali agama saudara sebangsanya yang berbeda agar terhindar dari kesalahan semisal off side di sepakbola.

Sebagai a concluding remarks, bahwa memahami itu adalah mengerti suatu maksud, dan mengerti suatu maksud mempunyai atribute pengetahuan, dan pengetahuan dibangun dari pengalaman. Orang yang memahami perbedaan pastilah mengerti arti kata "harap maklum"

Kepentingan konyol

Kepentingan konyol sejauh ini muncul dari dunia usaha/bisnis dan hiburan (entertainment), terutama soal penggunaan atribut natal bagi karyawan muslim. Hampir tiap tahun selalu bermasalah. Alih-alih memanfaat momentum dan mengambil tema hari besar agama, dunia bisnis dan entertainment justru secara konyol melewati batas wilayah berbahaya bagi kebhinekaan. Dapat dipastikan, kekonyolan ini juga disebabkan kegagalan memahami perbedaan akibat kurangnya ilmu dan wawasan.

Keganjenan/kegenitan berpikir
Sekadar berpikir, bersikap dan bertindak sesuai keyakinan dan ilmu adalah legal dan dijamin undang-undang. Namun ada pula yang berpikir dan bertindak ganjen, genit, banyak gaya dan cari perhatian inilah yang mengkhawatirkan. Istilah Bang Haji Rhoma Irama; "terlalu!"  Bisa jadi ini dari politisi, tokoh masyarakat atau entah siapalah. Ciri-cirinya; bangga berlebihan dengan tindakannya sendiri, membela diri dan pendapatnya sencara ngotot atas nama toleransi,  merendahkan pendapat orang lain. Tujuan tindakan ini tidak lebih sekadar menggoda dan menohok secara satire bahkan pejoratif terhadap pihak yang tidak sependapat. Ada kalanya sekadar menjilat carimuka atasan, kolega atau sekadar cari sensasi ibarat pepatah Arab "Bul 'alaa zamzam fatu'raf!"
 Akibatnya muncullah ketegangan dan ejekan yang berbalas-balasan, bahkan tindakan intoleran dari orang-orang yang kurang sabar.

Upaya-upaya jahat merusak kebhinekaan
Mungkin  ini mirip teori konspirasi. Meski sulit dibuktikan namun dapat dirasakan. Dalam sejarah selalu ada pihak-pihak yang menangguk di air keruh. Memperkeruh air sebagai tindakan prakondisi, air keruh sebagai kondisi ideal menangguk ikan. Yang jelas ini upaya dari pihak ketiga yang ingin kebhinekaan rusak. Itu saja.
~~~~~~~~~~

Kembali ke kaidah fikih yang ditulis di awal, bahwa soal kontroversi hal ihwal natal yang sudah dan masih terus terjadi sebaiknya menjadi pengetahuan yang sebatas dimaklumi. Debat kontoversial ini lebih banyak kerusakannya dibanding maslahatnya. Karena itu, menghindari kerusakan (preventif) lebih didahulukan dari mengambil maslahat. Inilah upaya bersama merawat kebhinekaan. Bagi umat Islam, menurut saya, ayat : لكم دينكم و لي دين harusnya menjadi dalil dasar untuk mengokohkan kebhinekaan. Walláhu a'lam bi al shawáb.

(Muhammad Nasir/Kari Bagindo Sati/26-12-2016)