30 December 2019

Manusia Tahan Kieh Binatang Tahan Palu

Muhammad Nasir


bakaba.co 28 Dsember 2019

Kok anok kalian, bara den tabayia? Kata bapak di sudut lapau dengan suaranya yang berat. Dari tadi, orang tua itu diam saja. Matanya terpicing-picing tanggung.  Arti kalimat bapak itu tak lebih ”jika kalian bisa diam, berapa uang yang harus saya bayarkan? Ajiib. Untuk diam pun harus dibayar.

Jangan gembira dulu! Maksud sebenarnya dari kalimat bapak itu versi Betawi-nya adalah, “lu pade bisa diem nggak?” gitu choy!

Tapi, jujur saja, penggalan situasi di atas sudah cukup langka. Peristiwa dramatik itu hanya terjadi di masyarakat kebudayaan yang homogen dan tingkat keintiman sosial yang amat rapat. Kebetulan, kalimat bapak tua tadi berasal dari masyarakat kebudayaan Minangkabau.

Sedikit saya beri ulasan, peristiwa di atas adalah teguran yang diberikan kepada sekumpulan pelapau yang terlalu larut dalam percakapan yang bising dan tak berkesudahan. Tak berujung pangkal bak ketiak ular. Ungkapan itu adalah kiasan, beliaupun tak benar-benar ingin membayar segala pihak yang terlibat dalam pembicaraan yang bising itu. Sebenarnyalah, iya sedang tidak nyaman dengan perkembangan percapakan itu dan mulai agak marah.

Namun, kalimat yang sama bisa memiliki arti yang berbeda. Misalnya, saat sekelompok mahasiswa terlibat dalam pembicaraan yang hangat dan santai. Salah satu di antara mereka sedang dijadikan banca’an, dijadikan bahan kelakar dan gurauan. Lalu yang djadikan bahan kelakar itu berucap, “Kok anok kalian, bara den tabayia?”  Nah, tebaklah apa maknanya. Biasanya kalimat itu diungkapkan dengan bahagia. Intinya, bicaralah terus tentang diriku. Aku amat menikmatinya.

Itulah sepenggal fragmen sebagai ilustrasi pembuka jalan tulisan ini.

Menyampaikan sesuatu dengan terang-terangan, bukak kulik tampak isi bukanlah kebiasaan dan karakter masyarakat Minangkabau. Jika ingin menyampaikan nasehat atau teguran biasanya dalam berbagai bentuk kiasan (kieh), metafora atau sindiran. Itulah sisa-sisa kearifan yang dimiliki masyarakat Minangkabau yang diharapkan terus terjaga sepanjang masa.

Bagi orang Minangkabau yang tak pandai berkias memilih kata, maka berhentilah jadi orang Minangkabau, atau sekalian berhenti juga jadi manusia. Termasuk jika ia sama sekali tidak faham dan tidak mempan dengan berbagai kiasan dan sindiran. Maka jadi kepuyuk sajalah. Sebab, kata pepatah manusia tahan kias, binatang tahan palu.

Jadi, Kok anok kalian, bara den tabayia? adalah ungkapan kiasan (kieh) yang menuntut kearifan dan ketajaman rasa untuk memahaminya. Apalagi kalau anda masih mau mengaku orang Minangkabau.  tak paham jua, sudah patut pula anda digado dengan palu.


Kieh sebagai maxim kesantunan berbahasa

Kieh dalam konteks keahlian berbahasa adalah bentuk kesantunan berbahasa orang Minangkabau,  kata Profesor Oktavianus (2013) ahli bahasa dari Universitas Andalas Padang. Geoffrey Leech (1983) mendefinisikan kesantunan sebagai strategi untuk menghindari konflik yang dapat diukur hasrat berkata-kata yang berpotensi menghadirkan situasi konflik.

Kemampuan berkias juga menunjukkan kemampuan menjaga harga diri masing-masing pihak agar terhindar dari konflik. Sudah lazim, bilamana konflik sering berawal dari kesalahpahaman dalam pemakaian bahasa.

Simaklah, makna terdalam dari petuah Minang ini, kok mangecek maagak-agak (jika berbicara dengan diksi seperlunya), pikia dulu kalau bakato (berpikir dulu sebelum bicara), tapi usah katokan nan tapikia (tak semua yang terpikirkan harus dikatakan), sabab luko di pisau tampak darah (sebab, lukaterkena pisau tampak darahnya), duo tigo taweh panawa (hanya butuh dua tiga tawas penawar luka), tapi luko di lidah sulik ubeknyo (tapi luka karena ucapan lidak sulit diobati)

Oleh karena itu masyarakat Minangkabau dalam  berkomunikasi sangat dianjurkan untuk berhati-hati seperti ungkapan bakato siang caliak-caliak, bakato malam danga-dangaan. Artinya, lihat situasi dulu sebelum berbicara.

Nah, ini kan ndak! Akhirnya, lama-lama habis jua keahlian berkias di Minangkabau ini. Beberapa waktu belakangan beberapa politisi [asal] Minangkabau mulai tak pandai berkias-berkata-kata. Main sembur terlongsong kata. Ketek-gadang sama saja. Datar saja negeri ini di matanya.

Mungkin ia belum membaca Kaba Cinduamato. Meski itu fiksi, namun tak ada salahnya memakai sifat rajo (orang besar) dalam berkata-kata, yaitu cadiak candokio (cerdik cendikia), arif budiman, tahu di ujuang [kieh] kato sampai (tahu kata kiasan), himaik bicaro (hemat berbicara), barani karano bana (berani berkata atas nama kebenaran), lapang dado (lapang dada, tak mudah emosi, tak asal ngegas kata anak milenial). 

Sebagai “orang gadang” Minangkabau tak patutlah para politisi itu bicara seperti sarok balai, kotor dan berserakan. Apalagi bila ia bicara dan disebar di media publik. Isi bicara dan cara menyampaikan akan dinilai oleh publik. Salah bicara di tengah balai, bisa-bisa ditegur bapak yang saya ceritakan di atas tadi. Kok anok kalian, bara den tabayia? Jika tak paham juga, kemungkinan lainnya orang gadang semacam itu bisa kena tubo. [*]




26 December 2019

Ilmu Basi

Oleh: Muhammad Nasir


Jelang siang di simpang empat lampu merah Lubuk Bagaluang. Suasana tak terlalu ramai saat lampu merah menyala. Kendaraan yang mengarah ke Taluak Bayua atau ke kanan ke arah kampus UPI berhenti. Saya berada di sana, dalam susunan yg tak teratur.

Ruas jalan itu sejatinya dapat diisi oleh tiga mobil atau empat banjar dengan kendaran roda dua. Tentu saja bila pengendara dapat membagi jalan dengan sempurna. Tapi tidak untuk siang siang itu [sebenarnya juga pada waktu-waktu yang lain). Crowded.

Satu lajur kiri mestinya dikosongkan untuk pengendara yang belok kiri menuju Indaruang. Namun entah apa yang merasukinya, satu kendaraan berhenti sempurna di lajur kiri itu. Sepertinya ia akan menuju ke arah Taluak Bayua. Alhasil beberapa kendaraan tertahan di belakang mobil yang gagah ganteng itu.

Sumber: graphicmama.com
Tingkah bertingkah bunyi klakson mengingatkan pengendara nakal tersebut. Dari atas motor Mio J biru keluaran 2013, saya lihat pengendara mobil tersebut diam saja seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan meski truk besar dengan kesal sudah telolet-telolet di belakangnya, namun ia acuh-acuh jua. Ee...tak tuntuang, jeh!.

Tak dapat lagi bersabar, pada akhirnya sopir truk besar yang mentelolet tadi menjulurkan kepalanya ke luar mobilnya (lewat pintu mobil sebelah kanan ya). Ia lalu berteriak: "Oi...baruak! Di maa ang tagak ko?"

Ajaib, baruak itu- maksudnya sopir mobil yang menghalangi jalan tadi langsung bergerak. Ia melaju ke kesalahan ke-2, menerabas lampu merah. Dalam khazanah Minangkabau, sopir yang diper-baruk itu sedang menerapkan Ilmu Basi.

13 December 2019

Penulisan Tambo Nagari

Oleh: Muhammad Nasir
Tulisan ini sudah dimuat di bakaba.co

Kongres Sejarah Minangkabau yang diselenggarakan di Bukittinggi tanggal 16 - 18 Desember 2018 tahun lalu telah melahirkan resolusi, tentang pengkajian dan penulisan kembali sejarah Minangkabau secara total dan komprehensif dengan periodesasi yang lengkap dari perspektif orang Minangkabau sebagai tokoh.
 
Foto hadiah dari Kawanku Maizal Chaniago
Silakan cigap akun IG beliau di
https://www.instagram.com/maizalchaniago/
Tujuannya ada beberapa, yaitu pertama, untuk penguatan identitas Minangkabau sebagai salah satu identitas bangsa. Kedua, mengangkat kembali tambo sebagai sumber sejarah Minangkabau yang bermartabat sekaligus mengungkapkan aksara Minangkabau tua sebagai aksara penulisan tambo. Ketiga, penulisan sejarah nagari dilakukan oleh anak nagari dengan metode ilmiah. 

Konsekwensinya, perlu dilakukan bimbingan teknis penulisan sejarah nagari untuk anak nagari di seluruh Sumatera Barat. Keempat, memperkuat pembelajaran sejarah Minangkabau sebagai sarana pewarisan nilai-nilai kesejarahan untuk semua lapisan masyarakat.

Bisiak lah kalampauan, imbau lah kadangaran. Usai kongres, belum lagi peserta keluar dari pintu hotel Royal Denai Bukittinggi, tempat acara itu dilaksanakan, muncul lagi diskusi ringan khas orang Minangkabau, yaitu tentang kekuatan Tambo sebagai sumber sejarah Minangkabau, dan apakah ada akasara Minangkabau.

Tapi sudahlah, sementara abaikan saja bagian ini.  Di tengah pro-kontra alih media tambo dari langgam lisan ke bentuk tulisan lebih menarik untuk didiskusikan. Karena di balik niat menuliskan tambo itu ada tujuan mulia, yaitu mewariskan adat dan kebudayaan.