08 October 2017

AFRIKA UTARA PADA ABAD SEMBILAN BELAS DAN ABAD DUAPULUH




Sumber: Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Bagian Ketiga, Ghufron A. Mas’adi (terj). (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999, h. 201-259

           
Pengantar:
Dalam pembabakan sejarah, abad ke-19 dan ke-20 merupakan periode modern. Pada abad ke-19 ini penduduk Afrika Utara mayoritas Muslim. Sufisme (muslim) mempunyai peranan penting dalam mengkoordinir komunitas pedalaman, melebihi term patrimonial, kosmopolian, atau etnis. Penduduk perkotaan menggunakan bahasa Arab, sementara penduduk pedalaman menggunakan bahasa Berber.
Secara umum, pada abad ke-19 dan 20, Afrika berada posisi lemah hingga pada akhirnya dikuasai oleh bangsa Eropa. Kondisi yang lemah ini diperparah dengan pertentangan internal antara negara, suku dan komunitas yang dipimpin oleh Sufi. Namun penjajahan Eropa memunculkan semangat baru terutama di kalangan umat Islam. Hampir semua perlawanan melibatkan umat Islam sebagai sentra perjuangan. Di samping itu, kondisi tersebut juga menjadi pertanda bagi lahirnya negara-negara nasional yang merdeka. Beberapa negara yang diulas pada Bab V ini meliputi Aljazair, Tunisia, Maroko dan Libya, dengan kekhasan Islam dan model perjuangannya masing-masing.[Muhammad Nasir]
ALJAZAIR.
Aljazair menjelang diperintah Perancis diperintah oleh kolaborasi antara kepala suku lokal dan kalangan Sufi yang menggalang dukungan berdasarkan loyalitas agama. Pada awal abad ke-19 Aljazair sedang mengalami kemunduran dan beberapa tarekat Sufi memberontak akibat beban fiskal yang terlalu berat yang diterapkan pemerintah pusat.
Pada tahun 1830 Perancis di bawah pimpinan Charles X menyerang Aljazair dan berhasil menguasainya serta beberapa kota pesisir. Di luar keguncangan itu, Abdul Qadir, salah seorang pemimpin tarekat Qadiriyah mendirikan negara muslim di Aljazair Barat. Ia memproklamirkan dirinya sebagai Amir al Mukminin dan Sultan Bangsa Arab. Ia mengklaim bertanggung jawab atas penerapan Syari’at Islam di wilayah kekuasaannya. Dengan prestise keagamaan yang dimilikinya, ia berhasil menyatujan suku-suku regional dalam otoritasnya. Pemerintahan Abdul Qadir juga dilindungi oleh Kesultanan Maroko. Kekuasaan yang ia bangun digunakan untuk berjuang melawan pendudukan Perancis.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Abdul Qadir membentuk beberapa khalifah bawahan dilengkapi dengan pejabat militer, finansial dan pejabat peradilan. Di bawah khalifah dibentuk jabatan Agha yang bertugas mengumpulkan pajak. Di bawah mereka ada jabatan kepala suku yang disebut Qaid. Semua pejabat itu diangkat dari kalangan keluarga yang agamis dan mengabaikan mereka yang bekerjasama dengan pihak Turki.
Dari 1832-1841 Abdul Qadir secara silih berganti melancarkan serangan terhadap Perancis. Tahun 1841, Perancis di bawah Bugeaud berhasil mengalahkan Aljazair dan menjadikannya koloni Perancis. Bangsa Maroko berusaha melindungi mereka, tetapi pada peperangan di Isyli (1844) Perancis berhasil mengalahkan Maroko. Akhirnya pada 1847 Abdul Qadir diasingan ke Perancis dan kemudian ke Damaskus. Dengan demikian terbukalah jalan bagi Perancis untuk menguasai seluruh Aljazair.
Sejak  perlawanan Abdul Qadir,  Perancis terus menerus mendapat perlawanan dari penduduk Aljazair. Penyebab perlawanan itu antara lain disebabkan oleh:
§  Penduduk Aljazair banyak yang miskin;
§  Pembatasan terhadap kepemilikan tanah;
§  Pelumpuhan kepemimpinan kesukuan;
§  Kebersamaan elit keagamaan.
Kemiskinan disebabkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh Pemerintah Perancis terhadap masyarakat Aljazair. Jenderal Bugeaud menerapkan strategi penyerbuan secara besar-besaran terhadap perkampungan dan memporak porandakannya, merampas kebun-kebun, membakar lahan pertanian.
Regulasi dan perundang-undangan pertanahan Perancis telah menyengsarakan penduduk Aljazair. Misalnya sistem kepemilikan tanah komunal telah porak poranda akibat regulasi pertanahan itu. Setiap individu diperbolehkan menjual properti tanah kesukuan, sehingga memungkinkan bagi Perancis membeli tanah untuk pemukiman penduduknya dan bagi pendatang eropa lainnya. Di samping melalui regulasi ini, yang lebih banyak terjadi adalah perampasan tanah rakyat oleh pemerintah kolonial Perancis. Hingga tahun 1940 tercatat 35 % dari 40 % lahan subur Aljazair dikuasai oleh Perancis.
Kepemimpinan kesukuan yang bertahan lama di Aljazair diganti dengan pemerintahan regional yang dimobilisasi dari dukungan suku-suku tertentu. Tetapi pada tahun 1843 Perancis mengambil alih kepemimpinan itu dan membentuk  Bureaux Arabes yang terdiri dari 50 unit dengan bentuk kombinasi antara pemerintahan sipil dan militer.
Perlawanan yang paling gencar justru dilancarkan oleh kelompok kegamaan yang sangat solid. Tercatat pascaperlawanan Abdul Qadir beberapa perjuangan yang dipimpin oleh pemimpin agama, misalnya Bu Zian dari Zaatsha (1849), Sidi Sadok ibn al Hajj (1858), Bu Khentash (1860), Muhammad Amzian (1879). Di samping itu  muncul juga perlawanan masyarakat Aljazair Selatan antara tahun 1851-1855 dan 1871-1872 oleh masyarakat penggembala yang ingin mempertahankan akses mereka terhadap pasar dan menghindar dari ketergantungan ekonomi terhadap Perancis.
Berbagai perlawanan itu dibangkitkan melalui gerakan bawah tanah (shartiya) dan rata-rata dipimpin oleh para sufi dan pimpinan tarekat. Sayangnya gerakan ini sering bersifat lokal dan dilakukan sendiri-sendiri.  Namun di balik itu, rangkaian pemberontakan tersebut telah membangun rasa kesatuan bagi masyarakat Aljazair pedalaman yang dahulunya sering dilanda perpecahan.
Pada 1870-1871 perlawanan lokal itu dipusatkan dan jadilah perlawanan dalam skala besar. Hal ini didorong oleh peperangan antara Perancis dan Rusia, dan masyarakat Aljazair berharap Perancis di bawah Napoleon III kalah dalam peperangan tersebut. Di samping itu, kekahawatiran terhadap berdirinya pemerintah Republik di Perancis berdampak pada perampasan seluruh tanah Aljazair untuk dijadikan koloni Perancis.
Pemberontakan dalam skala besar itu dipimpin oleh al Muqrani, sekutu Perancis sejak 1830-an. Al Muqrani khawatir kedudukannya terancam oleh upaya Perancis menggantikan stratum yang dominan dengan generasi adminitrasi yang lebih lunak. Tetapi pemberontakan ini berhasil dipadamkan.
Tanda-tanda alih generasi itu terlihat antara 1843-1870, Perancis berusaha merusak kepemimpinan suku dan agama yang berpengaruh di Aljazair dengan generasi baru pejabat pemerintahan yang kurang berpengaruh yang dapat menerima kontrol dari Perancis. Tahun 1874 penduduk Muslim Aljazair dipaksa menerima code l’indegenat yang membuat pihak Muslim dapat dihukum akibat pengkhianatan atau tindakan ilegal terhadap Perancis. Undang-undang ini membuka peluang bagi Perancis untuk merampas hak properti bangsa Aljazair.
Semenjak kekacauan itu, sekolah, madrasah dan zawiyah di Aljazair tidak dapat lagi melaksanakan aktivitasnya. Pendidikan yang tersedia hanyalah pendidikan Perancis (Eropa) yang diperkenalkan pada 1883 dan 1889 yang bertujuan mengasimilasi anak-anak Aljazai kepada peradaban Eropa. Pendidikan itu jukebnayakan disediakan untuk melatih pejabat pribumi bekerjasama dengan Perancis untuk mengontrol penduduk Muslim.
Generasi Elit Baru Aljazair telah lahir menggantikan generasi kepala Suku, Marabout dan Qa’id. Merka rata-rata berpendidikan Barat atau berpendidikan Islam. Merka bekerja sebagai pegawai pemerintah seperti guru, pegawai pos, pegawai farmasi atau pekerja jawatan kereta api. Tetapi secara psikologis mereka juga tidak dapt menerima dominasi Perancis di Tanah Aljazair. Kadangkala mereka mereka juga melakukan perlawanan melalui demonstrasi, aksi mogok dan kekjaman sporadis. Generasi baru ini pada akhirnya menjadi cikal bakal pergerakan modern perjuangan kemerdekaan.
Secara umum, elit pribumi Aljazair dapat dibagi pada tiga komponen utama. Pertama, Lulusan Sekolah Arab- Perancis yang berharap integrasi penuh dengan Perancis meskipun mempertahankan identitas Muslim mereka. Salah satu tokoh dari elit ini adalah Farhat Abbas yang terkenal dengan ucapannya: ”...Imperium Bangsa Arab dan Islam adalah masa lalu; masa depan kita sangat berkaitan dengan Perancis.”
Elit kedua, berorientasi nasionalis dan berkembang di kalangan emigran Aljazair di Paris. Ketika dipimpin oleh Haji Messali cita-cita beralih kepada kemerdekaan Aljazair yang berakar pada nilai-nilai Islam dan bersahabat dengan bangsa-bangsa Arab.
Elit ketiga adalah tokoh-tokoh reformis Islam yang beraafiliasi dengan MuhammadAbduh dan para reformis dari Tunisia. Salah satu tokohnya adalah Abdul Hamid Ibn Badis (Ben Badis). Ia mengembangkan pemikirannya dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Gerakan reformasinya diarahkan kepada para sufi dan praktek mistikal Marabout. Gerakan ini mencapai puncaknya pada tahun 1954. tercatat pada masa itu 110 sekolah dan 20.000 murid. Sekolah itu juga digunakan untuk pelatihan militan bagi perjuangan kaum nasionalis, dan menjadi bagian terpenting bagi kemunculan sense identitas nasional Aljazair.
Konsep reformasi yang dibawa Ben Badis mengandung makna politis. Aljazair dalam pandangannya merupakan entitas Arab Muslim. Arabisme tidak hanya digunakan untuk menentang Asimilisasi Perancis, tetapi juga menentang usaha Perancis membedakan antara Bangsa Arab dan Berber. Arabisme mengandung konsep solidaritas nasionalisme bangsa Arab. Ini berarti bahwa bangsa Aljazair dibawah kaum reformis berhasil membuat raison d’etre bagi nasionalitas bangsanya dibawah kesatuan agama, bahasa dan kultural.
Pada bulan Maret 1962 Aljazair memperoleh kemerdekaannya. Tetapi Aljazair tetap memberikan wilayah bagi penerbangan dan pelayara. Kerja sama ekonomi masa depan disepakati, beberpa koloni Perancis diberi kebebasan memilih antara kewarganegaraan Perancis atau Aljazair.
Setelah kemerdekaan, Aljazair didominasi oleh paham kapitalisme. Hal ini tidak menyenangkan tentara revolusioner yang perlahan-lahan tersingkir oleh rezim angkatan bersenjata. Bagi tentara revolusioner, Arabisme dan Islam merupakan satu-satunya basis bagi identits nasional. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, perlakuan terhadap wanita menjadi problem tersendiri. Hal ini ironis dengan penjajahan Perancis yang semestinya berhasil membawa wanita ke wilayah publik. Tetapi kebanyakan wanita masih banyak dipingit dan diasingkan dari wilayah publik.
TUNISIA
Tunisia di bawah kolonisasi Perancis sejak 1881 mengalami nasib yang hampir sama dengan Aljazair. Tetapi di wilayah pedalaman, Perancis mengukuhkan pejabat lokal (Qa’id) dan memperlemah suku-suku independen. Kegiatan kolonisasi utama yang dapat disebut antara lain pemberlakuan sistem pertanian dan pendidikan modern.
Di bidang pertanian, hingga tahun 1945 Perancis telah menguasai sekitar 1/5 tanah pertanian Tunisia. Di bidang pendidikan melalui Alliance Francaise dan gereja Katolik Perancis mengembangkan pendidikannya di Tunisia. Antara tahun 1885-1912 sekitar 3000 warga Tunisia belajar ke Paris. Di samping itu Perancis juga ikut dalam pengelolaan pendidikan Muslim. Pada 1898 Perancis berusaha mereformasi Perguruan Zaytuna dan menambahkan sejumlah pelajaran modern dan metode paedagogis. Tetapi usaha ini ditentang ulama dan ulama memasukkan  pelajaran hukum Islam. Sekalipun demikian, ulama Tunisia dapat bekerjasama dengan Perancis dalam mereformasi pengajaran publik, administrasi wakaf dan manajemen Perguruan Sadiqi.
Sayangnya, dikalangan ulama terjadi perpecahan berlatar mazhab. Kalangan ulama Maliki lebih cendrung memperhatikan pendidikan di bawah pengawasannya daripada pendidikan di bawah mazhab Hanafi. Perpecahan ini tidak terlalu berpengaruh, karena Perancis melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga Muslim berhasil memepekerjakan kembali para ulama. Dengan demikian pada dasarnya para elit Tunisia tidak mengalami kesulitan yang berarti di bawah pemerintahan Perancis.
Sekalipun secara politik relatif tenang, namun perlawanan selalu saja muncul, terutama ketika persoalan menyentuh pada aspek identitasa keislam dan kebangsaan Tunisia. Hal ini dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa Eropa dan dunia, isu-isu politik, ekonimi dan sastra yang sering didiskusikan oleh  Aluni Perguruan Zaytuna dan Sadiqi. Pada tahun 1888 alumni kedua perguruan ini mendirikan surat kabar mingguan al Hadira. Para elit ini juga mendirikan Sekolah Khalduniah pada 1896 untuk melengkapi pendidikan Zaytuna dalam beberapa pelajaran modern. Disamping itu pengaruh Arab Timur terutama Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh  dan Partai Nasional Mesir. Dari sinilah terbentuk gerakan Pemuda Tunisia. Mereka menyokong modernisasi dan westernisasi Tunisia dan mendukung kebangkitan kultur Arab, sejarah, geografi dan teori-teori sosial.
Pemuda Tunisia mensponsori  sekolah al Qur’an modern dilengkapi pengajaran bahasa Arab, ilmu aritmatika, geografi, sejarah dan bahasa Perancis. Generasi ini sangat memberi perhatian terhadap reformasi administrasi hukum Islam dan pendidikan kesusastraan Arab.
Gerakan ini berubah menjadi gerakan politik sekitar tahun 1920. Kalangan   nasionalis menuntut persamaan gaji, kebebasan penerbitan dan perkumpulan secara liberal. Partai Destour (konstitusi) di bawah pimpinan Abdul Azis al Thalibi menuntut pemberlakuan konstitusi 1861. Perlawanan ini berlangsung sangat gencar hingga pada tahun 1922 Perancis mengirmkan militernya untuk menumpas perlawanan ini.
Pada 1930an generasi baru nasionalis kembali tampil. Tuntutan berkisar sekitar kemerdekaan Tunisia. Tahun 1932 Habib Bourguiba dalam kongres Partai Destour menuntut kemerdekaan Tunisia dan mengusulkan perjanjian persahabatan untuk melindungi kepentingan Perancis di Tunisia. Tahun 1934 kelompok radikal mengambil alih Partai Destour dan mengangkat Mahmud Materi sebagai Presiden Prtai dan Bourguiba sebagai Sekretaris Jenderal. Partai Neo Destour ini menuntut pembentukan penerintahan Demokrasi Parlementer dan memboikot produk-produk Perancis. Meskipun berorientasi sekuler, para tokoh neo destour mempunya tradisi keislaman yang kuat dan dapat membangkitkan sentimen muslim melalui pertemuan-pertemuan di mesjid dan zawiyah.
Tunisia relatif mudah mencapai kemenangan. Setelah perlawanan selama 12 tahun Tunisia mendapatkan kemerdekaannya. Bahkan Tunisia dapat dikatakan tidak merasakan penderitaan di bawah koloni Perancis. Para pemukim Perancis di Tunisia pun tidak mengambil perlawanan senjata terhadap gerakan kemerdekaan Tunisia.
Sesuatu yang penting dicatat, rezim Tunisia pasca kemerdekaan sangat gencar melakukan sekularisasi. Perguruan Zaytuna diambilalih oleh Kementrian Pendidikan dan sejumlah sekolah agama dimasukkan ke dalam sistem sekolah negeri. Rezim ini juga menerapkan peradilan sekuler, kitab hukum perorangan diberlakukan yang melarang poligami dan memasukkan perkawinan ke dalam perkara sipil. Pada 1960, puasa Ramadhan dikecam sebagai penghambat produktivitas. Tetapi kebijakan ini tidak sepenuhnya diterima masyarakat tunisia.
Tahun 1960an mahasiswa dan intelektual Tunisia lebih menekankan identitas Arab-Muslim daripada Tunisia-Perancis. Pada awal 1970an kalangan konservatif Islam menguat. Perkumpulan-perkumpulan agama erdiri di mana-mana. Kaum konservatif Islam ini mendirikan surat kabat al Ma’rifa sebagai alat perjuangan. Meskipun demikian, hingga saat ini Tunisia masih saja bertahan sebagai masyarakat sekuler. Tetapi di dalam masyarakatnya, sentimen Islam masih sangat kuat dan sewaktu-waktu dapat saja melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang sekuler.
MAROKO
Maroko merupakan sebuah otoritas negara merdeka yang didasarkan atas simbol khilafah dan komunitas sufi. Tetapi mereka tidak menjadi bagian dari imperium Turki Usmani. Kelas politik menengah Maroko seperti tuan tanah bangsawan lebih lemah dibandingkan dengan elit kesukuan. Otoritas Sultan sebagai penguasa negara tidak dapat diganggu meskipun terkadang kekuasaannya tersaingi oleh pimpinan suku dan pimpinan Sufi.
Maroko menjadi protektorat Perancis dan Spanyol pada tahun 1912. Perancis menjadikan Sultan sebagai perpanjangan tangan dan menjadikan suku-suku berada di bawah kekuasaannya. Suku-suku diintimidasi melalui pamer pasukan militer dan mengusir mereka dari wilayah padang  rumputnya. Suku-suku itu dibuat tidak berdaya sehingga terpaksa membayar pajak. Para kepala suku (qa’id) pada akhirnya ditugaskan untuk menjalankan tugas-tugas baru eperti mengatur lalu lintas, memberikan izin senjata, menyelesaikan persengketaan dan menertibkan harga.
Di selatan Atlas masih ada suku-suku besar yang di luar kendali Perancis. Beberapa tokoh suku besar seperti Mtouggi, Gundafa dan Galwis menguasai surplus pertanian. Sebelum 1912, para Qa’id mampu membeli senjata-senjata modern, menggaji tentara bayaran, membangun benteng untuk menguasai distrik mereka. Tetapi mereka rentan terhadap persaingan antar suku. Perancis cendrung membiarkan mereka dan bahkan memerlukan mereka untuk melawan kaum nasionalis.
Sebagian besar zawiyah Sufi menerima otoritas Perancis dan membantu Perancis dalam menaklukkan suku-suku. Tetapi akhir5nya prestise dan peran politik mereka melemah akibat dibentuknya administrator pemerintah. Sherqawa misalnya, kelompok Sufi di Boujad kehilangan peranan karena sengketa duniawi  harus diajukan kepada Perancis. Mereka tidak lagi dibutuhkan untuk mengamankanperdagangan, sebab sistem protektorasi memberikan hak paten bagi perdagangan lokal.
Setelah Perang Dunia II perwalian para sufi semakin berkurang. Perancis menjadikan ulama dan administrasi peradilan di bawah kontrol pemerintah. Tahun 1914 Perancis membentuk pengadilan administratif tandingan yang mengalihkan hukum pidana ke dalam wilayah peradilan Perancis, mengembangkan pengadilan Berber dan membatasi Yurisdiksi Syari’ah.
Disamping mendirikan sekolah-sekolah bercorak Perancis di Rabat dan Fez, Perancis juga melindungi madrasah-madarasah tradisional. Sayangnya yang menikmati pendidikan itu hanya sekelompok elit kecil dari golongan bangsawan. Pada tahun 1950an, kelompok usia belajar di Maroko hanya 6 %. Pendidikan yang dibangun itu pada akhirnya menjadi cikal bakal penentang penjajahan.
Sesuatu yang penting dicatat adalah bahwa Perancis berusaha membuat dikhotomi antara Arab dan Berber. Ibarat politik belah bambu, etnik Berber dipelihara sedemikian rupa oleh Perancis dengan harapan Berber dapat menjadi pendukung Perancis. Sementara pengaruh Arab Islam dibatasi. Dekrit 1930 tentang Berber dimaksudkan untuk mengorganisir sistem peradilan Berber yang menggunakan hukum adat. Kalangan Islam melihat ini sebagai upaya untuk mengkonversi Berber ke dalam agama Kristen.
Ironisnya, orang Berber justru menolak pendirian peradilan hukum adat bahkan mendukung peberapan syari’ah. Mahasiswa Berber justru lebih tertarik belajar Bahasa Arab dibandingkan Bahasa Perancis. Para mahasiswa lebih berpihak sebagai kelompok nasionalis dan jauh dari kesan separatis.
Dominasi Perancis di bidang ekonomi dan politik  di Maroko berjalan lancar. Tetapi hal itu tidak menutup peluang terbentuknya kelompok oposisi. Hancurnya struktural masyarakat Maroko, kecilnya kekuasaan kepala suku dan agama, perampasan tanah menjadi sebab oposisi tersebut. Di samping itu kondisi itu juga mendorong generasi Maroko berpindah ke kota dan menjadi bagian kesatuan militer Perancis. Bagaimanapun identitas Arab Islam dan Berber tetap menjadi alat bagi perlawanan terhadap Perancis.
Oposisi pertama berlangsung dalam bentuk pemberontakan di wilayah pendudukan Spanyol di bawah pimpinan Abdul Karim. Tahun 1923 Abdul Karim mendirikan Negara RIF dengan identitas nasional. Negara ini merupakan federasi sejumlah suku lokal yang otonom yang disatukan dengan ideologi nasionalis. Negara ini telah membewa Perancis terlibat dalam membantu Spanyol. Tahun 1926 Abdul krim mengalami kekalahan, namun ia tetap dianggap sebagai pahlawan dalam menetang Perancis.
Perlawanan paling akhir datang dari gerakan reformasi agama. Antara 1920-1960 kalangan sufi dan ulama perkotaan merasa kecewa terhadap Perancis. Gerakan ini masih diilhami oleh gagasan Muhammad Abduh. Gerakan dimulai dengan gerakan pendidikan, diikuti gerakan pemurnian oleh kelompok salafy dan menentang pemujaan terhadap orang suci. Salah satu isu pentingnya adalah penolakan terhadap penyebaran kultur Barat. Ini berarti; penolakan  kultur Barat sama dengan penolakan terhadap Perancis yang notabene bagian dari Barat.
Sebagaimana di tempat lainnya, Perang Dunia II telah memperlemah Perancis. Pada tahun 1943 terbentuk untuk menggalang dukungan massa bagi kemerdekaan Maroko. Tahun 1947 Sultan Muhammad  memproklamirkan Maroko sebagai negara Arab yang condong kepada Liga Arab dan mengabaikan penghormatan kepada Perancis. Karena usaha ini Sultan Muhammad diasingkan dari Maroko.
Tahun 1955 sekemablinya dari pengasingan, Sultan Muhammad memproklamirkan Maroko sebagai sebuah kerajaan Konstitusional. Pada 7 Maret 1956 Maroko meraih kemerdekaan dan Perancis melalui Pierre Mendez Farnce mengakui kemerdekaan itu.
Menariknya gerakan kemerdekann Maroko justru dipimpin oleh figur Sultan sebagai rezim lama. Pada saat Aljazair dan Tunisia mengalami pergantian generasi dan tersekulerkan, Maroko justru bertahan dengan identitasnya. Hal ini disebabkan sedikitnya warga Maroko yang mendapat pendidikan Perancis. Dengan kata lain Sultan Muhammad menjalankan rezim lama menjadi negara modern. Hingga saat ini Maroko bertahan sebagai negara paling konservatif dan menyatu di antara negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Di Maroko Islam sangat kuat, diidentifikasi melalui negara dan kerajaan sebagai identitas nasional bangsa Maroko.
LIBYA
Libya didirikan oleh Pemerintahan Usmani yang pada awalnya berpusat  di wilayah Tripolitania, Cyrenaica, dan Fezzan. Pada masa modern negara-negara tersebut membentuk sebuah negara dikenal sebagai negara Libya.  Selama pada masa pendudukan Usmani, Libya merupakan wilayah yang tidak memiliki catatan sejarah. Proses Arabisasi berlangsung pada abad ke-7 dan Islamisasi penduduk negeri ini tetapi tidak diiringi pembentukan rezim yang memusat.
Beberapa rezim pernah mengklai menguasai daerah ini. Otoritas Almohad bersifat nominal (sekedar nama); Mamluk Mesir bersekutu dengan suku-suku di Cyrenaica sehingga mengantarkan klaim mereka sebagai penguasa negeri ini. Klaim ini diwarisi oleh Usmani, yang menaklukkan Mesir pada tahun 1517 dan Tripoli pada tahun 1551. Sejak tahun 1551 sampai tahun 1711 Tripoli diperintah oleh Pasha Usmani dan tentara Jenisari. Pada tahun 1711 Ahmad Qaramanli, seorang perwira Jenisari lokal, merebut kekuasaan dan mendirikan sebuah dinasti yang berada di hawah pemerintahan Usmani yang berlangsung hingga tahun 1835.
Pada awal abad ke-19 kekuasaan Qaramanli semakin herkurang sebagai akibat tekanan para perampok dan tumbuhnya pengaruh Inggris dan Perancis. Pada tahun 1835 Usmani kembali menguasai Libya, dan mengakhiri dinasti Qaramanli. Para gubernur Usmani memerintah Tripolitania dan menjadi penguasa Cyrenaica hingga pendudukan Italia pada tahun 1911 dan penarikan Usmani pada tahun 1912.
Sejak 1835 sampai 1911 Usmani mengadakan perubahan besar-besaran di Tripolitania. Pada tahun 1858 mereka mengalahkan perlawanan lokal, memperkokoh pemerintahan mereka di seluruh penjuru wilayah ini, dan memberlakukan reformasi Tanzimat ke Libya. Para gubernur Usmani memperkuat otoritas pusat, melancarkan proses sedentarisasi masyarakat Badui, membangun sejumlah kota dan mengembangkan pertanian, dan membantu membangkitkan kembali perdagangan trans-Sahara yang berkembang pesat di Libya sebagai abolisi terhadap rute perdagangan budak Sahara melalui Tunisia dan Aljazair. Pemerintahan Usmani juga mengem-bangkan pendidikan lokal dan pembentukan sebuah kelompok inteligensia yang diilhami oleh kehidupan politik dan kultural Istambul. Pada fase pemerintahan Usmani ini, para pejabat, intelektual, kepala suku dan kepala kampung di Tripolitania mendapatkan ungkapan identitas sebagai bagian dari propinsi yang lebih besar, yakni bagian dari Usmani, Arab, dan dunia Islam.
Cyrenaica bertahan sebagai propinsi sendiri di bawah pemerintahan Usmani dan menjalani sebuah fase pembangunan yang sama akibat kerja sama Usmani dengan Thariqat Sanusiyah. Thariqat Sanusiyah didirikan pada 1837 oleh Muhammad Ibn Ali al-Sanusi (1787-1859), yang lahir di Aljazair dan belajar di Fez dan di Makkah. Al-Sanusi, di bawah pengaruh arus reformasi, menegaskan bahwasanya tujuan yaang hendak dicapainya adalah mengajak kembali kepada ajaran dasar al-Qur'an dan hadis, dan mengembangkan hak orang beriman agar menggunakan ijtihad untuk mengembangkan ajaran--ajaran Islam yang dengannya orang Islam harus menjalani kehidupannya. Thariqat Sanusiyah berusaha menyatukan seluruh ummat Muslim dalam persaudaraan, dan memberikan kontribusi bagi penyebaran dan revitalisasi Islam.
Pada akhir abad 19 jaringan kerja zawiyah Sanusiyah membentuk sebuah koalisi kesukuan yang sangat luas di beberapa wilayah bagian barat Mesir dan Sudan. Di bawah kepemimpinan Sanusiyah koalisi kesukuan ini menentang ekspansi Perancis di wilayah Danau Chad (Lake Chad) sekaligus menentang invasi bangsa Italia terhadap Libya.
Semenjak kongres tahun 1878 Italia mengklaim Tripolitania sebagai bagian dari wilayah imperial mereka, dan mereka berusaha memperkuat kehadiran perekonomian mereka di propinsi ini. Ketegangan diplomatik Perancis Jerman memberikan kesempatan bagi sebuah invasi Italia pada tahun 1911. Italia menduduki beberapa kota dan mereka memaksa Usmani agar mengakhiri pemerintahan mereka terhadap Tripolitania dan Cyrenaica, namun Sanusiyah juga mengklaim sebagai pewaris otoritas Usmaniyah di Libya. Baru setelah Peranag Dunia I Italia dapat mengalahkan oposisi lokal di Tripolitania dan hal ini baru terjadi hingga terjadi sebuah perang sengit dan destruktif yang berlangsung dari tahun 1923 sampai tahun 1932 di mana bangsa Italia benar-benar mampu mengalahkan masyarakat badui di Cyrenaica, merampas sebagian pertahanahan mereka, dan menjajah negeri ini. Para pemuka Sanusia dipaksa keluar dan menjalani hidup di pengasingan, dan ketika mereka meraih kembali sebuah otoritas spiritual, mereka diwajibkan mengakui pemerintahan Italia. Pada tahun 1934 bangsa Italia menyempurnakan penaklukannya atas Cyrenaica dan Tripolitania dan menyatukan dua wilayah ini menjadi Libya modern.
Italia menderita kekalahan dalam Perang Dunia II sehingga Libya jatuh di bawah kekuasaan Inggris dan Perancis, tetapi Perserikatan Bangsa Bangsa memutuskan menjadikan Libya sebagai sebuah negara merdeka pada 1951. Seorang pemimpin Sanusi, Amir Idris, menjadi Raja, dan memerintah negeri ini atas dasar legitimasi keagamaan keluarganya dan atas dasar pengabdiannya dalam perjuangan melawan pemerintahan asing. la memerintah dengan bantuan para pejabat perkotaan, dengan dukungan warga badui yang bersekutu melaalui jaringan zawiyah Sanusiyah, dan dengan bantuan klien para pimpinan suku. Rezimnya mendapat perlawanan dari generasi muda nasionalis-radikal dan dari kelompok mahasiswa socialis-minded lantaran sangat korup dan sangat bergantung pada bantuan asing, dan juga mendapat perlawanan dari kelompok pekerja galangan kapal, pertambangan minyak, teknisi, dan dari para perwira muda yang diilhami oleh ideologi pan-Arab, ideologi sosialis Nasserisme dan ideologi Partai Ba'th. Pada tahun 1969, gerakan Perwira Bebas Libya, yang terdiri dari para perwira menengah dan N.C.O.S. yang belajar di Akademi Militer Baghdad, bahkan mereka berasal dari suku-suku miskin dan lemah di Libya merebut kekuasaan dengan pimpinan Mu'ammar Qadhdhafi. Kelompok perwira ini membentuk sebuah Dewan Komando Revolusi (Revolutionary Command Council) dan dalam waktu yang singkat mendirikan rezim militer yang berkuasa penuh. Beberapa kekuatan asing dihapuskan. Perbankan dan perusahaan asing dinasionalisasikan sejumlah partai politik dan serikat kerja dibubarkan. Pada tahun 1973 Revolusi Libya mengalami perubahan yang sangat radikal, dengan memberhentikan sejumlah pejabat, profesional dan musuh-musuh politiknya yang potensial, dan membentuk komite populis untuk menjalankan kementerian negara, sekolah, dan sejumlah perusahaan besar. Pada akhir dekade 1970 negara mengambil alih kekuasaan atas seluruh fungsi ekonomi yang penting, menghancurkan sekelompok kecil kelas menengah, dan mendistribusikan kekayaan negara. Dampak politik, populisme ini adalah penghapusan seluruh pusat kekayaan independen, dan pembentukan sebuah sistem pengendalian terhadap fungsionari publik, sehingga meminimalkan prospek opposisi terhadap Qadhdhafi.
Qadhdhafi sangat terkenal sebagai tokoh ideologi Arab dan Islam radikal Doktrin revolusionernya yang pertama merupakan kopi dari ideologi Nasseriyah dan Ba'thiyah dan menyerukan persatuan Arab, menentang kolonialisme dan Zionisme, dan kepemimpinan bangsa Libya dalam menggalang persatuan dan perjuangan Arab dalam menghadapi Isra'il. Dalam rentang masa pemerintahannya Qadhdhafi telah menegosiasikan persatuan antara Libya dan Mesir, antara Libya dan Syria, dan antara Libya, Sudan, dan Tunisia, dari seluruh persekutuan tersebut tak satupun yang membawa hasil. Pada awal tahun 1970an, Qadhdhafi menambahkan satu dimensi baru dalam pandangan teoretisnya di mana ia mengusulkan misi Arab-Islam sebagai Alternatif Dunia Ketiga (Third Universal Alternative) daripada kapitalisme dan komunisme. Qadhdhafi memproklamirkan sebuah skripturalisme Islam yang ekstrem di mana al-Qur'an dijadikan satu-satunya sumber otoritas bagi rekonstruksi masyarakat Islam, namun hal yang sama tidak diberlakukan terhadap hadis Nabi Muhammad (al-Sunnah). Skripturalisme Islam sejalan dengan populisme yang menghancurkan otorita ulama', syaikh Sufi, kalangan birokrat dan teknokrat, dan menjadikan Qadhdhafi sendiri sebagai figur sentral dalam versi modernisme, Islamnya. Demikian juga moralitas al-Qur'an di Libya mengharamkan praktik perjudian, alkohol, dan bentuk-bentuk kejahatan "Barat" yang sedang menggejala. Dalam arena internasional, Third Universal Alternative menyeruhkan jihad atau perjuangan melawan imperialisme dan Zionisme di Timur Tengah, Afrika Muslim, dan bahkan di Philipina, di mana berkembang gerakan Muslin separatis. Teori ini secara tidak langsung mengisyaratkan identifikasi sosialisme,

ISLAM DALAM IDEOLOGI NEGARA DAN GERAKAN OPOSISI

Negara-negara Arab Afrika Utara dikelompokkan menjadi satu bukan hanya dikarenakan faktor geografi tetapi juga dikarenakan faktor kesamaan perkembangan sejarah mereka. Dalam periode pre-modern, masing-masing negeri tersebut memiliki struktur sosial dan politik yang berbeda-beda, bahkan masing-masing garis keturunan mereka yang merupakan basis kemasyarakatan dan pastoralis merupakan unsur kekuatan sosial dan politik yang sangat penting.
Secara umum, di seluruh penjuru Arab Timur Tengah dan Afrika Utara, ideologi resmi rezim negara dibangun berdasarkan kombinasi yang beragam antara nasionalis, pan-Arab, dan simbol-simbol Islam. Beberapa negara seperti Syria, Iraq, dan Tunisia menekankan ideologi nasionalis-sekuler dan terkadang menekankan landasan sosialis sebagai identitas negara, namun terdapat beberapa pengecualian seperti pengakuan secara konstitusional terhadap Islam sebagai karakter negara atau sebagaimana adanya semangat seruan kepada beberapa sentimen Muslim kepada masyarakat umum. Beberapa negara yang secara institusional sangat rentan (mudah pecah) seperti Syria, Iraq, dan Libya, juga sangat kuat menekankan loyalitas mereka terhadap pan-Arab. Pada negara-negara ini, pengendalian negara terhadap urusan keagamaan, dan dominasi sosial kalangan elite atasan militer atau dominasi terhadap kelompok minoritas yang diwariskan Usmani, memihak kepada nasionalisme sekuler.


[1] Sumber: Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Bagian Ketiga, Ghufron A. Mas’adi (terj). (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999, h. 201-259

No comments: