14 May 2008

Satu Dekade Reformasi

Oleh: Muhammad Nasir
Ketua Divisi Organisasi Magistra Indonesia Padang (2007-…..)


Reformasi merupakan titik pusar perkembangan kesejarahan bangsa Indonesia, termasuk waktu referensial perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Waktu-waktu lainnya yang pantas diingat adalah proklamasi sebagai gerak pertama sebagai bangsa merdeka di jalur demokrasi, kemudian era demokrasi terpimpin di masa orde lama, era demokrasi Pancasila di bawah orde baru dan era Reformasi yang belum jelas jantan betinanya. Namun pencapaian terbesar demokrasi di era reformasi adalah terbukanya kesempatan bagi warga negara untuk ikut dalam pemilu sebagai aspek procedural dari demokrasi. Selain itu agenda reformasi sudah menghasilkan…entahlah!

Bagaimanapun, ibarat sebuah pohon, Indonesia itu kembali menjadi sebatang pohon tinggi lurus menjulang ke langit. Sementara, dahan-dahan lama sudah tidak ada lagi bekasnya, meski hanya dipakai untuk sekedar berpijak.

Apa yang diperingati?

Reformasi sempat dimaknai sebagai kesadaran bersama bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan. Perubahan yang paling nyata dan paling diinginkan adalah semakin baiknya nasib rakyat dalam berbagai lapangan; ekonomi, politik, keamanan, sosial, budaya.
Reformasi memang berhasil menciptakan suasana politik yang demokratis dan membuka peluang setiap warga negara untuk berperan aktif dalam institusi demokrasi tersebut. Ruang sosial (public sphere) terbuka lebar untuk untuk mengekspresikan kehendak sosialnya dalam rangka memperkuat masyarakat madani. Begitu juga dengan kebebasan budaya, di mana setiap entitas budaya -termasuk budaya Tionghoa yang selama ini dikerangkeng- dapat dengan bebas menunjukkan jati dirinya.

Namun lagi-lagi reformasi dianggap gagal karena persoalan perut warga negara yang sering terancam kenaikan harga kebutuhan pokok. Kedelai susah dibeli akibat diversifikasi pangan. Beras yang terlanjur menjadi makanan pokok bagi penduduk kawasan timur Indonesia yang akrab dengan ubi, jagung dan sagu, mulai susah didapatkan. Mahal! Lalu apa yang pantas untuk diperingati? Paling tidak untuk menjaga kewibawaan zaman reformasi ini penting diingat adalah kesadaran bersama bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan.

Apa yang dilupakan?

Reformasi sebagai sebuah proses sudah terjadi ditandai dengan mundurnya penguasa rezim otoritarianisme Orde Baru. Penguasa itu dipanggil Soeharto. Soeharto dalam kekuasaannya yang mencapai 32 tahun (bahkan ada yang menyatakan 33 tahun) telah menciptakan banyak surga di atas dahan yang lapuk. Menjelang keruntuhan dahan itu, semua rakyat merasa puas bertengger dan menikmati segala fasilitas yang dibuat. Rakyat seperti sejahtera.

Tiba-tiba saja dahan itu runtuh, dan reformasi menfardhukan tumbuhnya dahan baru untuk bertengger. Pada saat yang bersamaan, rakyat yang tidak sabar mencarikan pijakan baru untuk kembali ke atas pohon. Alih-alih mencari pijakan, justru yang terjadi saling injak untuk menggapai dahan –yang celakanya- telah runtuh. Dahan itu tidak ada lagi di sana.

Sebagian orang berteriak, inilah akibat pembangunan yang tidak diletakkan pada dahan yang kokoh. Jangankan dijadikan pegangan untuk memanjat lebih tinggi, sisa patahannyapun tidak ada lagi. Apatah daya?
Satu dekade reformasi, seraya merenung, rakyat Indonesia kembali melihat ke atas, di mana dahan yang bernama Orde Baru itu bergantung. Ah, seandainya dahan itu masih di sana. Ah, tiba-tiba ingat Soeharto.

Dua bagian terakhir ini yang perlu dilupakan. Indonesia sekarang ini tinggal sebatang pohon tinggi menjulang ke langit. Tanpa dahan tempat berpegang dan berpijak. Sekarang lupakan perdebatan dan ingatan tentang dahan yang patah, lihatlah akar tunjang yang menghujam dalam ke bumi. Masihkan ada harapan untuk hidup? Jika ada mengapa tidak disiram bersama-sama? Bukankah masih ada harapan bagi tunas-tunas kecil yang akan tumbuh menjadi dahan yang kokoh.

Yang perlu dilakukan

Tidak ada salahnya mengambil manfaat dari setiap peringatan. Semangat apa yang menjadikan bangsa Indonesia beramai-ramai menumbangkan dahan reformasi? Jika pada awal tulisan ini disebut sebagai kesadaran bersama untuk melakukan perubahan. Jika ternyata dalam sepuluh tahun ini dianggap tidak ada yang berubah, tentu saja itu disebabkan oleh ulah bangsa ini juga. Berlomba-lomba memanjat pohon tinggi itu tanpa menyadari ada tunas-tunas kecil yang bergerak tumbuh. Tiba-tiba ia mati digerus kaki dan tangan-tangan yang tidak sabar mencapai puncak.

Semangat tidak akan cukup tanpa ada kesabaran untuk melihat hasil. Kesabaran itu sendiri tidak berarti melambangkan sikap pasrah menunggu hasil. Tetapi makna lebih dari kesabaran adalah keberlanjutan dari amalan serta keyakinan dalam menunggu.

No comments: