28 April 2008

Kebangkitan Peradaban Islam

Oleh : Muhammad Nasir
Islam telah mewariskan dan memberi pengayaan terhadap peradaban dunia. Sebagai agama, Islam telah menjadi konsepsi terpenting dalam membangun peradaban. Kemajuan dimulai dan berdiaspora setelah Bani Abbas menggantikan Bani Umayah sebagai khalifah, dan mendirikan ibu kotanya yang baru di Baghdad dalam tahun 762 M. Pada abad kesembilan dan kesepuluh Masehi dunia menyaksikan puncak kemajuan peradaban Islam. Kerajinan, perdagangan, kesenian bangunan, dan beberapa kesenian yang kurang penting, berkembang dengan subur. Dengan model peradaban yang terbuka, umat Islam berhasil mensintesa peradaban mediterania yang pernah jaya dan sekaligus memberi pengayaan, seperti peradaban Persia, Mesopotamia, Syiria, dan Mesir. Dengan semangat Islam semua komponen pembangun peradaban Islam ini bekerja dan memberi sokongan bagi kemajuan peradaban Islam.
Sepertinya tepat yang ditulis oleh Roger Garaudy bahwa "Islam telah membawakan kepada manusia suatu dimensi transenden (ketuhanan) dan dimensi masyarakat. (Roger Garaudy, 1985
Selain Islam, di dunia ini dijumpai beberapa peradaban lain, yaitu: Pertama, sinik di China. Kedua, Jepun. Ketiga, Hindu di India. Keempat, Orthodox di Russia. Kelima, Barat yang melingkupi Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin. keenam, Amerika Latin yang meliputi Mexico, Amerika Tengah, Peru, Bolivia, Argentina dan Chili. Peradaban ini merupakan sub-peradaban Barat. Ketujuh, Afrika (Samuel P. Huntington,1998). Dalam waktu yang tidak begitu lama, Islam telah menyisir keenam kawasan peradaban tersebut. (Harun Nasution: 1982). Dalam perjalanannya ini, tentu saja, agama Islam ada yang berubah dari segi non-akidah, sebab telah berakulturasi dengan kawasan setempat.
Terhadap diaspora (penyebaran) agama Islam ini, W. Montgomery Watt berkomentar:”Saya tidak akan memandang kaum Muslim sebagai sekelompok orang yang memaksakan sesuatu yang asing kepada Eropah. Saya malah akan memandang mereka lebih sebagai wakil sebuah peradaban dengan capaian-capaian besar, yang mengatasi capaian-capaian besar di wilayah lain di bumi, yang manfaatnya sangat melimpah di wilayah ini [Eropah]. (W. Montgomery Watt:1997)
Seusai memberikan pencerahan terhadap berbagai peradaban dunia, tiba-tiba Islam mengalami berbagai kemunduran. Islam mulai masuk ke “kamar gelap peradaban”. Suara Islam masih lantang terdengar. Tetapi hanya menjadi gaung dan tidak pernah terealisasi. Kemunduran itu dipercepat oleh malapetaka yang berturut-turut terjadi di Asia Barat dalam abad ketiga belas dan keempat belas. Penyerbuan pertama kaum Mongol penyembah berhala, membumihanguskan propinsi-propinsi bagian Timur Laut sekitar abad ke-13.
Kebangkitan Islam; Tanpa Sintesa
Peradaban Islam sedang sakit! Di manapun Islam dianut dan berkembang sebagai agama tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, baik dari segi ilmu pengetahuan, ekonomi, politik dan sebagainya. Meskipun demikian, keberadaannya tetap menjadi hambatan terbesar bagi peradaban barat. Tidak kurang, Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of civilizations and the Remaking of World Order (1996) meletakkan Islam sebagai sparring partner peradaban Barat. Eksplorasinya yang sangat luas dilengkapi data yang cukup memadai membawanya pada tesa tentang dominasi benturan peradaban dalam kancah politik global, terutama antara Barat dan Islam. Bagi Huntington, sumber utama konflik dunia baru bukan lagi ideologi atau ekonomi, melainkan budaya.
Dipengaruhi sejarawan Perancis Fernand Braudel, Huntington memandang peradaban sebagai the broadest cultural entity. Maksudnya kebudayaan merupakan sebuah representasi dari wilayah yang lebih sempit dan karena itu bervariasi menurut wilayah, misalnya Jerman, Inggris, dan Perancis adalah kebudayaan, sedangkan wilayah kesatuannya yang disebut Eropa adalah peradaban. Demikian pula Arab adalah kebudayaan, sedangkan Islam adalah peradaban; Taiwan adalah kebudayaan, sedang Cina adalah peradaban, dan seterusnya (Ismail Fahmi, 2003). Pascaperang dingin, Islam tampil sebagai tantangan terhadap Barat, sebuah tesis yang kemudian dikukuhkan oleh Huntington.
Mengikuti alur berpikir Huntington di atas, peradaban Islam yang dimaksud pada prinsipnya bukanlah peradaban Islam yang luhur seperti yang pernah jaya. Tetapi sayangnya, Huntington cenderung menilai Peradaban Islam sebagai wajah kelompok-kelompok penganut Islam yang disebut barat sebagai penganut Islam fundamental. Ia tidak melihat nilai-nilai Islam sebagai semangat pembangun peradaban luhur.
Hal tersebut sebelumnya juga disinggung oleh Francis Fukuyama melalui bukunya, The End of History and The Last Man (1993). Meskipun Fukuyama mengatakan bahwa paska perang dingin, tidak akan ada lagi pertarungan antar ideologi besar, karena sejarah telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal, ia justru membuat akar tesis Huntintong tentang kekuatan Islam sebagai tandingan kekuatan barat semakin kuat. Adalah Islam, sebagaimana liberalisme dan komunisme, yang juga memiliki ideologi yang sistematik dan koheren. Dan di sebagian besar dunia Islam, Islam benar-benar telah berhasil mengalahkan demokrasi liberal dan memposisikan dirinya sebagai ancaman terhadap praktik-praktik liberal bahkan di Negara di mana Islam tidak memiliki kekuasaan politik secara langsung. Meskipun demikian, dunia Islam akan tampak lebih mudah diserang ide-ide liberal dalam jangka panjang ketimbang sebaliknya. Karena tampaknya ide-ide liberal lebih memikat para pengikut Islam sepanjang satu setengah abad yang lalu. Sebagai reaksinya adalah lahirnya apa yang kemudian disebut fundamentalisme.
Fukuyama beranggapan bahwa demokrasi liberal merupakan titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia sekaligus bentuk final pemerintahan manusia. Runtuhnya Soviet dan ambruknya tembok Berlin menjadi pertanda kalahnya sosialisme, dan sebagai gantinya adalah perayaan dan kemenangan kapitalisme tanpa ada kompetitornya.
Tentang tidak adanya kekuatan tandingan barat itu dibantah oleh Huntington. Ada tiga bantahan yang dikemukakannya: pertama, kebangkitan kembali adalah hal yang mung¬kin. Munculnya Keynisianisme dalam teori ekonomi pada tahun 1940-an sampai tahun 1960-an membuat teori liberalisme klasik seakan tidak mendapat tempat. Tapi pada tahun 1970-an, Liberalisme klasik muncul kembali dan menjadi teori dominan yang dipakai oleh banyak negara maju sampai sekarang. Kedua, penerimaan universal demokrasi liberal tak menghindarkan konf¬lik-konflik di dalam Liberalisme. Ketiga, kemenangan suatu idiologi tidak menyingkir¬kan kemungkinan munculnya idiologi-idiolo¬gi baru. Peradaban adalah konsep yang tidak berdasar. Peradaban dan budaya itu sendiri sangat susah dibatasi dan didefinisikan, ia menyu¬sup dan menyebar melintasi batas wilayah teritorial. Budaya dan peradaban datang dan pergi silih berganti, dianut dan dicam¬pakkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan. (Huntington dalam A. Fawaid Sjadzili,2004)
Argumen kedua ideolog Barat itu semestinya dapat dicerna dan beberapa bagian tertentu dapat dimentahkan oleh umat Islam. Jika Barat melandasi peradabannya pada dua hal; liberalisme dan demokrasi, maka Islam harus mencari sintesa mengatasi kedua hal tersebut. Terbukti, hari ini tidak semua negara yang menggunakan liberalisme sebagai roh peradabannya tidak dapat berdemokrasi dengah baik. Begitu pula negara-negara yang menerapkan demokrasi sebagai ruh pemerintahannya berupaya keras menentang praktik liberalisasi di negaranya. Satu hal lagi yang justru tidak dianggap ancaman serius oleh barat, yaitu bangkitnya peradaban Cina dan Amerika Latin. Cina mulai menggeliat sebagai raksasa baru perekonomian dengan mensintesa komunisme dan kapitalisme barat. Amerika Selatan dimotori Venezuela, Brazil, Mexico, Peru, Bolivia, Argentina, Chili dan beberapa kompatriotnya bangkit dengan semangat etnic solidarity-nya.
Sebenarnya, mengikuti perkembangan sekarang, semua orang menunggu Fukuyama membatalkan tesisnya, jika harus memaksakan tesis itu ia sebagai ideolog demokrasi liberal mesti berteriak lebih keras menyuruh barat berjuang dengan upaya yang juga sangat keras untuk mewujudkan mimpinya. Menggunakan metode falsifikasi Karl Popper (1975) dedengkot posmodernisme, umat Islam tidak perlu ragu akan sesumbar Fukuyama.
Tetapi lebih penting dari itu, Islam harus mencari sintesa bagi kebangkitan peradabannya. Jika kebangkitan Cina dan menggeliatnya Ekonomi Amerika Selatan didasari semangat yang berbeda dengan demokrasi liberal barat, umat Islam tentu saja sudah memiliki ruh tersendiri bagi peradabannya. Paradaban bagi umat Islam tidak lebih dari pertarungan nilai baik dan buruk. Visi peradaban Islam adalah mewujudkan kemenangan nilai baik atas nilai buruk. Visi ini sudah tercerahkan dengan nilai-nilai yang sifatnya transendental (ilahiyah).
Apa arti peradaban barat bagi umat Islam?. Boleh jadi saat ini yang dimulai pada awal abad kesembilan belas, barat telah berhasil mengimport system demokrasi dan liberalisasi ke berbagai penjuru negara di dunia. Tetapi Peradaban Islam dapat saja mengambil sisi baik (nilai baik) dari prinsip demokrasi liberal yang dianut barat dan membuang sisi gelapnya.
Untuk hal ini tentu saja diperlukan reformasi dalam pemikiran umat Islam. Reformasi dalam Islam identik dengan islāh, yakni memperbaiki dan menyempurnakan sesuatu yang belum sempurna, termasuk mengganti yang usang dan rusak (Said Aqiel Sirajd, 1999). Kata islāh berasal dari kata aslaha-yuslihu- islāh yang berarti lawan daripada kata rusak (fasad) (Louis Ma‘luf,1986) Reformasi dalam Islam bukan bermakna mengubah ajaran Islam, namun lebih kepada gerakan untuk kembali kepada Islam, kepada pesan-pesan aslinya, yaitu mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Dalam al-Qur’an, istilah ini sering dikaitkan dengan perbuatan yang merusak dan perbuatan yang buruk (Ragib al Asfahani, t.t). Al-Qur’an memuat istilah islāh dalam beberapa ayat. Antaranya: Surah al-Baqarah (2): 220, Surah An-Nisā’ (4): 114, Surah Hud (11): 88, Surah al-A‘rāf (7): 56, dan Surah al-A‘rāf (7):85.
Dari beberapa ayat di atas menunjukkan bahwa konsep islāh memiliki beberapa karakteristik. Pertama, berkenaan dengan kegiatan ekonomi, yaitu perbaikan dalam hal kesempatan untuk menikmati hidup, sama dalam hal pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Kedua, berkenaan dengan perbuatan baik, yaitu amar ma‘rūf . Ketiga, adanya potensi manusia untuk berbuat kejahatan, maka perbaikan untuk itu merupakan suatu yang wajar. Dalam konteks inilah peradaban Islam harus dibangun. Pada dasarnya, manusia dimanapun dalam tataran parktis akan cendrung kepada sesuatu yang dianggap baik. Maka tawaran kebaikan dalam peradaban Islam harus dikemukakan.
Untuk melakukan hal ini, menurut M. Amin Abdullah, ada dua model yang ditempuh oleh para pemikir Islam. Pertama, dengan cara menekankan perlunya tajdīd al-fahm (memperbaharui pemahaman Islam).
Menurut Hassan Hanafi, umat Islam harus mempelajari tradisi barat dengan Pertama, mempelajari tradisi Barat untuk memindah ilmu pengetahuan, Kedua, mempelajari tradisi Barat sebagai bagian dari analisa terhadap realitas kontemporer, Ketiga, mengkaji tradisi Barat sebagai bahagian dari kajian tentang tradisi lama umat Islam, Keempat, mempelajari tradisi Barat sebagai bagian dari partisipasi kita dalam kajian kemanusiaan umum. (Hamid Algar,2001)
Apa yang dikemukakan Hasan Hanafi di atas termasuk dalam mata kajian tentang nilai-nilai baik, termasuk kebaikan ruh peradaban barat untuk melawan nilai-nilai buruk. Barat hanya dianggap sebagai ilmu perantara (‘ulūm al-wasā’il), bukan ilmu tujuan. Maka peradaban Islam adalah sintesa dari pertarungan antara nilai-nilai baik islam (ma’ruf) plus keunggulan barat hari ini dengan kegagalan beberapa aspek peradaban barat seumpama hilangnya semangat transendental dan terlu berorientasi kebendaan. Dan bahwa kemajuan peradaban tidak tergantung pada capaian yang bersifat kebendaan (materialisme) belaka. (22/02/07)
Wallahu’alam bi alshawab.

25 April 2008

Tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Oleh: Muhammad Nasir

Islam diyakini sebagai sebuah agama yang memperhatikan seluruh kebutuhan umat manusia. Termasuk di dalamnya dorongan untuk menuntut ilmu. Dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan, umat Islam pernah menhalami kejayaan pada masa kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Demikiannya juga kehadiran universitas Islam semisal Universitas al Azhar di Kairo didorong oleh semangat menuntut ilmu.

Namun setelah serangan Hulaghu Khan pada abad ke-13 Islam mengalami kemunduran. Beberapa saat setelah itu, dengan semangat kemodernan dan rasionalitas, Barat sebagai representasi kawasan Kristen mengalami kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ini menurut umat Islam ternyata tidak diimbangi dengan agama dan spiritualitas yang baik. Barat diduga telah meninggalkan etika kemanusiaan dalam memajukan ilmu pengetahuan. Tidak heran, ilmu pengetahuan pada akhirnya ditunggangi oleh kepentingan kolonialisme dan kapitalisme.

Pada sisi lain, umat Islam mulai menyadari ketertinggalannya dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam hal yang menyangkut kebutuhan praktis manusia. Untuk urusan ini, umat Islam dapat menerima Barat tetapi sesuatu yang tidak patut ditiru adalah keterlepasan ilmu Barat dengan nilai-nilai agama, terutama pasca “perang” supremasi ilmu dan geraja era modern (abad ke-17 M). Hal ini mendorong ilmuwan muslim untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis agama.

Persoalan yang muncul, mengapa Islam berkepentingan mendasari ilmu (termasuk ilmu yang berasal dari barat) dengan agama? Apakah Ilmu keislaman punya metodologi sendiri?Menjawab hal tersebut, yang perlu didudukkan pemahamannya adalah; apakah agama itu ilmu atau ilmu itu agama? Atau mungkinkah kedua kata itu muradif (sinonym) atau Musytarak?

Menurut Dr. Imaduddin Khalil (1994) ilmu dan agama mengacu kepada makna yang sama. Menurutnya, Al Qur’an sering menggunakan kata al’ilm sebagai istilah untuk agama yang diajarkan para nabi.

Jika Ilmu keislaman merujuk pendapat Imaduddin Khalil di atas berarti Agama Islam itu sendiri, maka ilmu keislaman memeiliki metodologi sendiri. Menurut Mukti Ali (1996) metodologi memahami Agama Islam adalah metode tradisional (naqly) dengan menggunakan petunjuk dalil-dalil (nash) al Qur’an dan al Hadits, metode rasional (Aqly) dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan kaidah-kaidah berpikir logis (manthiq) dan metode mistis (kasyf) dengan menggunakan pendekatan intuisi, illumiation, ma’rifah dan istilah lain yang mengacu kepada makna yang sama.

Etika Ilmu Pengetahuan

Pada masa Yunani ilmu tidak terikat dengan nilai. Menurut Aristoteles ilmu tidak mengabdi kepada fihak lain. Ilmu digeluti manusia untuk ilmu itu sendiri (le’science pour le’science). Ilmu adalah sesuatu yang mewah yang dapat dilakukan oleh segelintir orang yang sudah mapan. Hal ini berangkat dari ucapan primum vivere, diende philosophari.

Pada fase rasional dan empiric (abad ke 17), ilmu mulai terikat nilai. Hal ini berangkat dari pertanyaan, apa sebenarnya tujuan ilmu pengetahuan? Pertanyaan ini memunculkan jawaban kegunaan ilmu untuk menjawab kebutuhan manusia. Van Peursen menyatakan, tugas ilmu adalah menjawab keresahan manusia. Maka keresahan adalah jarak yang prinsipil ke arah kebenaran. Kebenaran sebagai tugas ilmu pada hakikatnya adalah sebuah nilai.

Pada masa keemasan keilmuan Barat modern perdebatan tentang etika keilmuan beralih kepada aspek teoritis dan aspek praktis ilmu pengetahuan. Paradigma keilmuan Barat modern cendrung berpendapat ilmu pengetahuan dari aspek teoritis bebas nilai (netral). Hal ini disebabkan kegiatan ilmiah bertujuan hanya menyusun teori-teori keilmuan dan mewujudkan karya praktis ilmu pengetahuan (teknologi). Orang bebas berbuat apa saja untuk kepentingan ilmiah.

Setelah jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945, perdebatan tentang ini terus berlanjut. Pembahasan melebar kepada aspek konsekwensi logis dan tanggung jawab ilmu pengetahuan. Apakah penemu atom (yang bergerak dalam tataran teoritis) dapat disalahkan atas kejadian tersebut? Ataukah tentara sekutu yang menjatuhkan (secara praktis) menggunakan bom atom untuk tujuan membunuh manusia?

Untuk melihat apakah ilmu bebas nilai atau terikat nilai, maka harus dilihat dari dua aspek; pertama, etika teleologis (tujuan ilmu), kedua, etika ontologis (hakikat ilmu).

Jadi ilmu pengetahuan dalam tataran teoritis bebas nilai dalam arti secara ontologis, kegiatan ilmiah dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang agama, etnis, ideology dan bangsa. Kecuali nilai yang boleh mengikat adalah kebenaran/ hikmah/ kebijaksanaan. Dalam tataran praktis ilmu harus tunduk kepada nilai-nilai universal yaitu mengabdi untuk kebenaran. Berdasarkan uraian di atas, tidak mungkin ilmu lepas dari nilai.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisasi ilmu pengetahuan bergerak pada dua poros utama yaitu: teoritis dan praktis. Dari segi teoritis pembahasan menyangkut paradigma bebas nilai atau tidaknya ilmu pengetahuan. Dari segi praktis pembahasan menyangkut nilai kegunaan, tujuan sains modern yang rasional obyektif serta menyangkut nilai pemanfaatan bagi peningkatan kesejahteraan manusia.

Ada yang mengatakan sains yang sekarang tidak islami seperti kata Sayyed Hossein Nasr, karena ilmu pengetahuan modern yang berkiblat ke Barat sudah lepas dari nilai teologisnya (agama). Cara kerja ilmu pengetahuan sudah mengabaikan prinsi-prinsip agama. Ada yang mengatakan bahwa sains itu netral seperti almarhum Abdussalam. Oleh karena itu yang perlu dilakukan bukanlah islamisasi sains, tetapi modernisasi ilmu-ilmu kalam, fiqh dan tasawwuf. Kemunduran peradaban Islam bersumber pada ketidak mampuan umat Islam menggali Quran secara ilmiah di satu pihak dan kegagalan mengakomodasi tuntutan-tuntutan zaman sesuai dengan kemajuan sains dan teknologi.(Armahedi Mahzar, 2002)

Dengan demikian terdapat sebuah spektrum pandangan mengenai relasi sains modern dan Islam. Dari sains itu tak islami, lewat sains itu netral hingga sains itu sudah islami (terikat nilai).Sebagai proses, sains tak dapat dilepaskan dan konteks sosial dan kultural yang selalu berkembang sesuai dengan kemajuan sains sebagai produk dan teknologi sebagai aplikasi sains.

Dari segi prakteknya, sains terapan (teknologi) itu bagaikan pisau: di tangan pembunuh dia menjadi senjata yang mematikan, di tangan dokter bedah dia menjadi penyelamat manusia. Begitu juga teknologi, misalnya teknologi nuklir bisa digunakan untuk penghancur, namun dia bisa digunakan untuk sumber energi pengganti teknologi energi yang menggunakan bahan bakar fosil.

Ilmu dalam Islam bersifat spiritual. Di dorong oleh semangat semacam ini epistemologi Islam melahirkan rumus peran sosial ilmu dan hal-hal terlibat di dalamnya. Ilmu ditujukan untuk ibadah. Dalam hal ini al-Ghazalı merumuskan 3 kelompok ilmu yaitu 1) jenis-jenis ilmu terpuji dan tercela, 2) etika orang berilmu, dan 3) etika pengajar dan pelajar.(Nanang Tahqiq, 2002) Oleh karena itu di dalam Islam persoalan “relevansi sosial” lebih diunggulkan daripada “relevansi intelektual”, dan Islam tidak mengenal klaim “bebas nilai” dalam ilmu-pengetahuan.

Dari penjalasan di atas Islamisasi ilmu sangat perlu dilakukan, baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis. Tetapi dalam hal penamaan, tidak perlu mencantumkan Islamnya dalam satu frasa semisal, Sastra Islam, Sosiologi Islam, metalurgi Islam, kimia Islam dan sebagainya. Selain bid’ah secara syari’at, epistemologinya pun tidak mendesak sampai ke arah itu. Kecuali dalam ilmu-ilmu tertentu yang menunjukkan kekhasannya, seperti politik Islam dan ekonomi Islam. DR. Imaduddin Khalil bahkan mengusulkan agar disusun khusus sebuah Kode Etik Keilmuan Islam.

Sekadar ilustrasi, pentingnya islamisasi, Shustery mengatakan; metode ilmiah dari Barat, etika dari Timur. Einstein, ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh (Jujun S. Suriasumantri, 1992) meskipun Shustery mengklaim ilmu itu dari Barat, namun ia tetap mengakui etika itu datang dari Timur. Islam sekarang identik dengan Timur. Wallahu a’lam bi al shawab

Penulis Aktivis
Majelis Sinergi Islam dan Tradisi Indonesia
(Magistra Indonesia)Padang
Telah dimuat di Harian Haluan, Rabu 26 Maret 2008

14 April 2008

Fundamentalisme Islam di Filipina

Oleh:Muhammad Nasir
MAGISTRA-INDONESIA

Tulisan ini mengambil pembahasan Islam di Filipina yang nasibnya tidak kunjung membaik dan dikategorikan sebagai agama yang dianut minoritas penduduk Mindanao, bukan sebagai agama yang dianut oleh minoritas penduduk Filipina. Bukankan Mindanao itu Filipina juga, Nyonya Arroyo? Mungkin, Gloria Macapagal Arroyo ngeri karena Mindanao disebut sebagai simpul terorisme Asia Tenggara.
Islam di Filipina saat ini dikenal melalui gerakan fundamentalisme yang mengambil jalur radikal. Kenyataan ini meskipun sulit dibantah, namun perlu dipahami, alasan apa yang membuat gerakan Islam di Filipina itu mengambil jalur kekerasan. Apalagi fenomena terakhir, dengan dalih pembinaan poros baru kebangkitan Islam Asia Tenggara, Filipina yang fundamentalis sangat dekat dengan image dengan kawasan berbahaya; teroris!

Asia Tenggara merupakan kawasan terpenting dalam perkembangan Islam sejak abad ke-15 hingga ke-17. Robert W. Hefner berpendapat bahwa Asia Tenggara dalam perspektif Barat adalah Islam atau rumah bagi orang Muslim yang populasinya melebihi Arab Timur Tengah.(R.W. Hefner,2001)
Namun aksi kekerasan yang dituduhkan kepada kelompok fundamentalis beraliran radikal telah merusak citra Islam di kawasan ini. Misalnya Jama’ah Islamiyah dan Majelis Mujahidin di Malaysia, kelompok Majelis Mujahidin Indonesia di bawah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir serta beberapa aksi terorisme di Indonesia dan di Filipina dengan kelompok Abu Sayyafnya. Beberapa kasus belakangan menunjukkan para aktor yang diduga terorisme bergerak dan membuat jaringan di tiga wilayah ini.
Chandra Muzaffar berpendapat, bahwa kesadaran dan kebangkitan Islam di Filipina diartikulasikan dalam gerakan yang radikal. Fenomena ini menarik untuk dibahas, terutama untuk mencari penjelasan atas sebab musabab radikalisme gerakan Islam di Filipina.Sepertinya ada kesinambungan gerakan fundamentalisme Islam kontemporer semisal Abu Sayyaf dengan sejarah Filipina sebagai sebuah negarabangsa.
Paling tidak ada dua masalah besar yang menjadi perhatian kelompok fundamentalis Islam; Pertama, mereka menolak sekularisme Barat yang memisahkan agama dari politik, gereja dari negara. Kedua, banyak masyarakat Islam yang menginginkan agar masyarakat mereka diperìntah dengan menggunakan Al-Qur-an dan syari'at Islam sebagai hukum negara. Gerakan-gerakan ini menjadikan jihad sebagai maskot utama gerakannya.
Akar Radikalisme
Secara geografis wilayah Filipina terbagi dua wilayah kepulauan besar, yaitu Filipina Utara dengan kepulauan Luzon dan gugusannya serta Filipina Selatan dengan kepulauan Mindanao dan gugusannya. Muslim Moro atau lebih dikenal dengan Bangsa Moro adalah komunitas Muslim yang mendiami kepulauan Mindanao-Sulu beserta gugusannya di Filipina bagian selatan.
Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao, pada tahun 1380. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum (Syeikh Makhdum). Banyak pedagang dan da’i muslim yang mengikuti Syeikh Makhdum dan menghabiskan waktunya di sana, mengajarkan Islam kepada penduduk setempat.
Informasi lainnya, Raja Baguinda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan tersebut. Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari Minangkabau (Taufik Abdullah,1988). Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam di kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil kerja kerasnya juga akhirnya Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao, memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini mulai dirintis.
Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina pada 16 Maret 1521, penduduk pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik "ekspedisi ilmiah" Ferdinand de Magellans. Maksud itu adalah kolonialisme dan mision-sacre (misi suci Kristenisasi) terhadap orang-orang Islam. Di samping itu, diduga pengalaman perang reconquesta masih tersangkut di benak tentara Spanyol. Spanyol dapat menaklukan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan berarti, tidak demikian halnya dengan wilayah selatan yang dihuni oleh penduduk muslim.
Pada perang besar tahun 1578 penduduk pribumi wilayah Utara yang telah dikristenkan dilibatkan dalam ketentaraan kolonial Spanyol, kemudian disuruh berperang melawan orang-orang Islam di selatan. Sehingga terjadilah peperangan antar orang Filipina sendiri dengan mengatasnamakan "misi suci". Dari sinilah akar kebencian orang-orang Kristen Filipina terhadap Bangsa Moro yang Islam hingga sekarang. Cesar Majul, sejarawan Muslim Filipina menyebut peperangan ini dengan peperangan agama.
Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat seharga US$ 20 juta pada tahun 1898 melalui Traktat Paris. Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri mereka sebagai seorang sahabat baik dan dapat dipercaya. Traktat Bates (20 Agustus 1898) yang berisi kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro ditandatangani untuk mengambil hati orang Islam. Namun selama periode 1898-1902, AS menggunakan waktu tersebut untuk membebaskan tanah serta hutan di wilayah Moro untuk keperluan ekspansi para kapitalis. Bahkan periode 1903-1913 dihabiskan AS untuk memerangi berbagai kelompok perlawanan Bangsa Moro(Cesar Majul,1989).
Kemerdekaan yang didapatkan Filipina (1946) dari Amerika Serikat ternyata tidak memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro. Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina Kristen). Bagi bangsa Moro, Filipina Utara yang Kristen tidak lebih hanya anak ideologis Spanyol.
Namun pada masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front perlawanan yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-Reformis, BMIF. Perjuangan Bangsa Moro melaui organisasi itu mengarah pada dua tujuan, pertama, Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan. Namun dalam perjalanannya, MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Tentu saja perpecahan ini memperlemah perjuangan Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi Bangsa Moro.
Catatan sejarah ini paling tidak dapat menjawab sebab awal bagi gerakan fundamentalisme radikal Filipina Dari rentang historis itu, tekanan terus menerus terhadap Bangsa Moro sejak tiga setengah abad yang lalu menjadi alasan yang kuat bagi mereka untu melakukan perlawanan secara radikal.
Memahami Radikalisme Moro
Uraian di atas memperlihatkan, bahwa radikalisme di Filipina menemukan konteksnya. Bangsa Moro dapat disebut sebagai mantan penguasa Filipina yang kalah dalam melawan kolonialisme plus kristenisasi yang memboncenginya.
Kepergian kolonialis Spanyol dan Amerika, justru meninggalkan boncengannya, yaitu kristen. Kristen yang dianut kebanyakan warga di Filipina Utara telah membantu warga utara itu memperoleh kekuasaan atas seluruh kepulauan Filipina. Radikalisme ini pada hakikatnya, sebuah artikulasi konflik supremasi antara Filipina Utara-Kristen dengan Filipina Selatan-Islam.
Dalam pemahaman yang lain, tentu saja akan ada perbedaan artikulasi radikalisme politik antara penguasa dengan warga. Radikalisme penguasa dalam konteks ini bisa dibahasakan dengan represif, sementara radikalisme warga dimaknai dengan subversif, pemberontak, bahkan teroris.
Barangkali yang tersisa dari gerakan bangsa Moro adalah pencitraan terhadap gerakan muslim radikal yang mengambil jalan kekerasan. Pencitraan ini selaras dengan penyebutan teroris terhadap para pejuang tersebut yang akhir-akhir ini semakin kuat disorot sebagai terorisme Asia Tenggara.
Aksi terorisme ini tidak lepas dari peran Abdurasul Sayaf, pejuang Muslim Filipina. Abdurrasul Sayyaf atau Abu Sayyaf diduga kuat sebagai penghubung antara Jama’ah Islamiyah dengan al Qaeda melalui organisasi Tandzim al Ittihad al Islami yang dipimpinnya. Tandzim ini merupakan tempat berkumpulnya para alumni Mujahidin Afghanistan. Gerakan ini menginginkan terbentuknya Negara Islam Asia Tenggara.
Akhirnya ini menjadi “PR” baru bagi umat Islam Filipina untuk mengahapus pencitraan jelek terhadap umat Islam sebagai bangsa yang buta huruf, jahat, huramentados (tukang bunuh) dan suka berperang. Gerakan Abu Sayyaf tidak lebih sebagai gerakan perlawanan dengan semangat klasik yaitu perjuangan bersenjata dan tanpa berupaya membangun gerakan alternatif. Wallâhu A’lam!
Padang, Maret 2008
Muhammad Nasir,
Ketua Majelis Sinergi Islam dan Tradisi Indonesia (Magistra Indonesia)
Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam PPs IAIN Imam Bonjol Padang

09 April 2008

TASAPO

Oleh: Muhammad Nasir

Jam 06.40 Waktu Indonesia Barat. Embun serasa enggan melepas pagi, sementara siang memaksakan diri menguasai hari. Demi sunnatullah. Pagi itu Jorong* Batu Baru didatangi tamu tak diundang. Maling tidak, lanunpun entah. Tamu itu berjumlah tiga orang. Sepertinya mereka orang asing. Tak sekalipun wajah mereka pernah tampak di Jorong tersebut.
Satu orang pria gemuk, tidak terlalu pendek. Berputar-putar seperti bocah kehilangan kelereng di rerumputan. Satu lagi lelaki kurus, agak tinggi. Berkumis jarang dan memegang ladiang.* Satu yang terakhir adalah seorang wanita putih, berkacamata hitam. Bibir tipisnya makin manis ditimpa gincu. Sayang ia sudah tua, sekitar limapuluh lima atau enampuluh tahunan.

"Siapa mereka?" tanya Mak* Katik
"Entahlah" Kutar langsung menyerah.
Kedua laki-laki yang bicara tadi adalah warga Batu Baru. Mak Katik enampuluhan. Kutar tigapuluhlimaan. Mereka berdua baru saja pulang dari surau Angku Mudo Ka'anin. Biasa, habis sholat shubuh. Ketiga tamu asing itu acuh tak acuh. Rumput di Parak Sati tempat mereka berdiri masih basah embun. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Yang kurus sibuk merambah perdu dengan golok di tangan. Pria gemuk sedang asyik menyibak dan menginjak semak. Nenek yang cantik cuma berdiri saja di atas semak.
"Ini mobil mereka?" Mak Katik mendekati sedan biru tua yang parkir anggun di aspal kacang. Kutar juga mendekat.
"Iya mungkin" Kutar menjawab tak yakin. seperti agar-agar dilempar ke batu saja agaknya.
Tuit...tuit...tuit...
"Ya Allah!"
"Putus tali jantung saya!"
Tuit...tuit...tuit...
Sedan itu berteriak marah. Sirene alarm itu memanggil tuannya.
"Apa yang kau lakukan Kutar?" Mak Katik mendelik ke arah utara. Kaget bercampur malu. Betapa tidak, ketiga orang asing itu memandang kompak ke arah mereka.
"Anu...saya hanya menyentuhnya, lalu..."
Pria gemuk itu mendekat. Selepas memandang keduanya ia berkata, "Tidak apa-apa, itu hanya alarm." Setelah itu ia kembali ke semak-semak. Tidak peduli dengan keheranan Mak Katik dan Kutar. Tinggallah mereka berdua bertukar pandang.
"Dasar kutar!" umpat Mak Katik.
"Apa ? Kenapa saya?" protes Kutar.
"Kurang taratik!"*
"Siapa?"
"Mereka!" tunjuk Mak Katik.
Tak lama kemudian, tiga makhluk aneh itu kembali menuju mobil. Mak Katik dan Kutar bersiap-siap. Entah untuk apa. Berkelahi mungkin. Pria kurus berkumis makin mendekat ke arah Mak Katik.
"Ini, Jorong Batu Baru, Pak?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" jawab dan tanya Kutar.
Tak ada jawaban. Pria kurus itu menoleh ke arah temannya. Sepasang sejoli tua itu tersenyum aneh seraya mengangguk. Anggukan itu dijawab dengan membukakan pintu mobil untuk kedua pasangan tua tersebut. Sebentar saja mereka bertiga sudah di atas mobil untuk orang kaya tersebut.
Cuit...bruuuumm mesin mobil menyala lembut. Beberapa saat mobil itu sudah hilang di balik alang-alang. Tinggalah bau asam dari knalpot mobil.
"Bertegur sapa tidak, bersalaman juga tidak, apalagi berkenalan. dasar tidak sopan!" Mak Katik kembali menyemburkan umpat.
"Sabar mak, begitulah adat orang kaya. Biar mereka terima pembalasan di neraka sana" Kutar berusaha menyabarkan lelaki tua sesepuh Jorong Batu Baru.
"Pantang bagiku dianggap angin lalu. Apalagi oleh orang yang dikenal. belum tahu mereka siapa saya?" Mak Katik makin panas.
"Sabar Mak, mereka belum tahu kalau mamak itu parewa,* tapi itu kan dulu, mak. Ha...ha...ha..." Kutar tertawa selepas-lepasnya.
"Tenang mak, naik pula tensi mamak nanti!"
"Kutar ada adat yang pantang dilanggar dariku. Adat bila salam wala kalam!"
"Apa pula itu mak?"
"Ini Bahasa Arab, Kutar! Belum tahu kamu rupanya, hee?"
"Hey, kapan pula Mak Katik belajar Bahasa Arab? Kutar tertawa campur cemeeh.
"Haa...? Bodoh waang Kutar. Makanya kalau Angku Mudo Ka'anin ceramah dengarkan baik-baik. Jangan tidur atau maota* saja kerja kamu. Bila salam wala kalam itu artinya tanpa salam dan tanpa bicara langsung kabur seperti hantu aru-aru," terang Mak Katik panjang lebar.
"Iya mak, aku tertidur, soalnya kaji Angku Mudo terlalu panjang"
"Kalau mereka tasapo bagaimana? Aku juga yang susah. ِApalagi harga rempah, kunik bau dan kemenyan lagi mahal. Dengan apa aku sembur?"
"Hiii...sudahlah Mak, mari kita pulang!"

-------------

Peristiwa tadi masih menyangkut di benak Mak Katik. Siapa pula gerangan ketiga orang itu? Maling, rampok atau siapakah? Jangan-jangan mereka orang kaya dari kota yang sedang membuang anak haram jadah. Atau mereka sedang membuang potongan kepala korban yang sudah mereka bunuh. pikiran Mak Katik berbalik ke acara TV yang ia tonton tadi malam.
"Aneh, siapa orang-orang tadi? Berani-beraninya ia menginjak Parak Sati tanpa seizinku. Tidak tahukah mereka jika sewaktu-waktu hantu si Angku Radin bangkit dan mencekik mereka, matilah mereka dengan mata mendelik," desis Mak Katik untuk dirinya sendiri.
Mak Katik menghirup kopi. Tak lengkap pagi ini tanpa lintingan tembakau dan daun enau. Sebentar saja, lintingan rokok daun enau itu hinggap di bibirnya dan crick...mancis antik itu membakar ujung rokok. "pufff...aahh....asap mengepul. Mak Katik mengebul.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu mebuyarkan kenikmatan Mak Katik, namun asap rokok masih bersileweran.
"Masuk!" perintah Mak Katik layaknya pejabat eselon satu A.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
Seorang pria gemuk masuk dan langsuk duduk. Ia langsung menjulurkan kaki layaknya di rumah sendiri. Sungguh tak sopan.Mak Katik terpana seperti melihat buaya.
"Mak Katik?" tanya pria itu tiba-tiba.
"He...eh!" jawab Mak Katik curiga.
Pria itu menyodorkan sebuah kartu nama. Mak Katik langsung menyambarnya seperti elang menangkap mangsa. Ia mengeja kartu nama itu. mulutnya mendesis, matanya reflek memandang ke arah pria gemuk itu.
"Doktorandus Haji Ajirun Radin Esha" eja Mak Katik.
"Pengacara garis miring Lawyer" lanjutnya.
"Ya, saya mak. Saya Drs. H. Ajirun Radin,SH.," jawab pria itu membenarkan.
"Wa'ang* si Ajin? Anak angku Radin?" jerit Mak Katik tak percaya. begitulah Mak Katik melafalkan nama pria tersebut. Ajin. Seperti kebiasaan orang kampungnya, tak ada nama seseorang yang dipanggil dengan becus. Syamsiah menjadi Ciah. Nur menjadi Inun. Angku Radin sendiri sebenarnya bernama Ardin, tetapi dilafalkan Radin. Begitulah, Ajirun-pun dipanggil Ajin.
"Iya, maaf tadi tak menyapa," jawab Drs H.Ajirun Radin,SH biasa saja.
Tiba-tiba Mak Katik menggigil seperti orang diserang demam Chikunguya. Tak tahu apa yang hendak dikata.
"Begini saja, mak. Nantilah kita bicara. Saya hendak ke pusara Angku Radin, ayah saya. Permisi Mak, Assalamu'alaikum." Drs H.Ajirun Radin, SH pergi begitu saja meninggalkan Mak Katik yang terpana.
Mak Katik mendadak mati rasa. Peluh dingin menyembur di sela-sela ketiaknya. Semestinya ia menahan pria itu agak sejenak. Hilanglah sifat parewa-nya. Tanggal kehormatannya. Setelah itu mak katik tak ingat apa-apa.

-----------------------
"Mak Katik...Mak...Mak...Mak Katik!"
Tok...tok...tok...
Mak Katik terjaga. Sedikit pusing di kepala dan nanar di mata.
"Siapa?"
"Saya, Mak. Si Kutar"
Kutar masuk tergesa-gesa. Langsung duduk terjerembab seperti orang tak bertenaga.
"Ada apa Kutar, kenapa seperti dikejar hantu?" tanya Mak Katik.
"Celaka mak. Laki-laki yang kita lihat tadi pagi..."
"Kenapa? Ada apa dengan dia?"
"Dia mati, Mak!"
"Innalillahi wainna ilaihi raji'un! Kutar cepat kau pergi ke surau. Guguah tabuah tiga-tiga!"* perintah Mak Katik.
Kutar segera pergi ke surau.
Mak Katik kembali terpana. Entah kenapa ia merasa tak berdaya. Tak biasanya terjadi pada parewa seperti dia. Ia kembali mati rasa, pingsan untuk kedua kalinya.
--------------------
Begitu terjaga, Mak Katik bergegas ke arah jendela. Tak kuat melihat cahaya ia kembali duduk. Jam dinding menunjukkan angka 08.11 WIB.
"Oi Ajin, kenapa begini jadinya?" Mak Katik menangis seperti anak remaja. Meremas dada, menepuk paha dan memukul kepala. Ia merebahkan badannya ke lantai. Pikirannya menerawang ke masa silam.
"Aku membunuh ke dua-duanya! Ya Allah, ampuni aku.
Mak Katik tak menyangka kedatangan Drs H.Ajirun Radin,SH yang tiba-tiba. Ia teringat masa mudanya sebagai parewa.
Mak Katik melayang ke pertengahan tahun 1958, Mak Katik hampir lupa tanggal pastinya. Zaman itu digenal zaman bagolak. Orang tua-tua menyebutnya zaman peri-peri. yang benarnya adalah Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, perang saudara antara pendukung PRRI di Sumatera Tengah dengan pemerintah pusat. Orang kampung Mak Katik menyebutnya tentara pusat. Konon tentara pusat itu didrop dari pulau Jawa. Ibu kota negara.
Tentang Angku Radin, ayah Drs H. Ajirun Radin,SH adalah orang yang dipercaya jadi mata-mata. Menurut laporan Angku Radin, tentara pusat akan masuk menyerang kampung Batu Baru hari Rabu. Ia bicara tergesa-gesa dan penuh curiga. Seolah-olah ada banyak rahasia di kepalanya. Sekarang hari Selasa. berarti tentara pusat akan masuk esok hari. Maka pemuka kampung segera memerintahkan penduduk mengungsi. Termasuk keluarga Angku Radin. Tinggallah di kampung beberapa orang muda-muda sekedar berjaga-jaga. Juga Mak Katik sebagai ketua pemuda.
Batu Baru adalah negeri di lingkung bukit. Penat mata memandang, hanya bertumbuk dengan bukit berkeliling. Satu-satunya jalan masuk ke Batu Baru adalah Jorong tetangga, Batu Gaba-Gaba. sesuai namanya, gaba-gaba mirip gapura. Di situlah Angku Radin berjaga-jaga. Hari itu masih hari Selasa. penduduk sudah diungsikan semua. Tanpa diduga-duga hari itu juga tentara pusat memasuki desa. Tidak hari Rabu sebagaimana laporan intelijen Angku Radin. Sebentar saja api menyala di angkasa Batu Baru. Langit Batu Baru merah saga. asap hitam seolah menjeput senja. Tentara pusat merajalela membakar rumah yang ada. Setiap rumah gadang disatroni, diperiksa lalu dibakar. Maklum rumah gadang merupakan tempat berembuknya para penghulu penggerak massa.
Melihat kondisi itu, Mak Katik muda naik pitam. Waktu itu ia sedang bersembunyi di belakang rumah Angku Radin tempat Drs H.Ajirun Radin,SH tergeletak tanpa nyawa tadi pagi. Di tengah angkara murka, Mak Katik melihat sosok Angku Radin bergegas memasuki rumahnya. Begitu keluar ia menggengam selembar bendera merah putih. Penggalan penopang batang pisang di depan rumah dijadikan tiang. Akhirnya bendera itu berkibar megah melambai-lambai menghimbau senja. Angku Radin berdiri tegap, mengambil sikap hormat ke arah bendera. Persis seperti Jenderal Sudirman, atau Letkol Ahmad Husein.
Melihat hal itu Mak Katik muda makin terbakar dan keluar dari persembunyian. Dengan ladiang terhunus ia melompat ke arah Angku Radin seraya berteriak, "Matilah kau pengkhianat!" Angku Radin mati seketika.
Seraya menyeret jasad Angku Radin, Mak Katik muda terus mengomel, Jangan coba-coba mengambil muka mengibar bendera. Ternyata kau antek-antek tentara pusat!" tubuh Angku Radin ia lemparkan ke luak* di samping rumah. Luak itu langsung menjadi kuburnya.
Tak puas sampai di sana, bendera yang tengah berkibar ia turunkan. "Tak pantas kau berkibar dalam perang saudara. Tak seorangpun yang sungguh-sungguh menghormatimu," umpat Mak Katik. Bendera ia cabut dari tiangnya, lalu ia lemparkan ke dalam luak. Mungkin jadi selimut Angku Radin. "Jika sebangsa berbunuh-bunuhan, kita tak butuh lagi bendera," Mak Katik melanjutkan ocehannya sebelum kabur ke semak-semak.
Tiga hari sesudah kejadian itu, Mak Katik kembali ke rumah Angku Radin. Kampung Batu Baru masih lengang. Ia mencoba menggali kubur untuk Angku Radin. Tetapi ia putus asa kehabisan tenaga. Tiba-tiba ia dapat akal. Tanah penggalian yang belum selesai ia jadikan gundukan. Anggap saja ini kubur Angku Radin.
Satu setengah bulan setelah peristiwa itu Mak Katik baru tahu, ternyata Angku Katik bukan pengkhianat. Bendera yang ia kibarkan ternyata seperintah Sersan Busra Sutan Mangkuto, mantan komandan PRRI di kecamatan. "Bendera itu tanda cinta kita, PRRI dan tentara pusat, sebagai orang Indonesia," kata Sersan Busra.
Mak Katik menyesal sejadi-jadinya. Itulah, kenapa sampai sekarang mendengar nama Angku Radin ia berpeluh. Pias seperti habis ditegur hantu.
"Untunglah ada kuburan buatan," batin Mak Katik ketika keluarga Angku Radin yaitu yang menjadi Drs H.Ajirun Radin,SH sekarang ini bertanya tentang bapaknya. Waktu itu ia masih remaja.
"Angku Radin mati ditembak tentara, ini kuburnya. Aku yang menyelenggarakannya," jelas Mak Kati kepada Ajin atau Drs H.Ajirun Radin,SH, dahulu, empat puluh tahun yang lalu. Semenjak itu keluarga Angku Radin merantau ke Medan. ٍSampai waktu yang lama, tak ada lagi kabar beritanya.
---------------------------
Lokasi rumah dan kuburan palsu Angku Radin itu sekarang dikenal dengan Parak Sati. Luak tempat berkuburnya Angku Radin menjadi Luak Sati. Kata orang lokasi itu angker. Tetapi sejauh ini, hanya Mak Katik yang dapat merasakan keangkerannya.
-------------------------
"Mak Katik, semua orang sudah diberi tahu. Mayat itu sudah diangkat dari luak. Mungkin ia terpeleset dan langsung mati ketakutan," lapor Kutar.
"Ehem..." Mak Katik cuma berdehem.
"Bersama mayat itu ditemukan juga satu tengkorak kepala. Mungkin saja ia mati karena tak kuat melihat tengkorak itu," terang Kutar melanjutkan laporannya.
"Apa? Mak Katik berteriak kaget. Tengkorak kepalanya seolah lepas.
"Tengkorak mak, tengkoraaak!!!" tegas Kutar.
Mata Mak Katik juga ingin lepas.
"Aku tidak membunuhnya, Angku Radin!" Mak Katik berteriak histeris.
"Angku Radin? Siapa dia Mak?" tanya Kutar tak mengerti.
Mak Katik tak menjawab. Sebab ia pingsan untuk ketiga kalinya.

Padang 20 Oktober 2006
Tasapo : Kerasukan roh halus.
Jorong : Unit terkecil dalam pemerintahan nagari di Sumatera Barat
Ladiang : Parang, golok.
Mak : Panggilan yang lazim untuk mamak (paman) di Minangkabau
Taratik : Sopan santun, tata tertib.
Parewa : Preman di Minangkabau. Meski preman, orang ini berfungsi penjaga nagari (paga nagari), dan bertugas membela kehormatan anak dan kemenakan.
Maota : Bercakap-cakap, ngobrol
Wa'ang : Engkau, (laki-laki)
Guguah tabuah tiga-tiga : Memukul bedug dengan tiga ketukan berulang-ulang. Biasanya di daerah tertentu di Minangkabau berarti ada kemalangan, orang meninggal dan sebagainya.
Luak : Sumur gali

Pecundang

Biarkan tubuhnya pulang
Bukan karna takut berjuang
Atau kehabisan uang
Nyawanya pergi karena perang
Perang antar orang terpandang
Begini ceritanya…

yang bodoh maju tak hendak dihadang
yang licik tak sudi berbagi uang
yang pintar kecut tak mau datang
sibuk ngomong dengan lantang
habis itu terima uang
dari panitia yang ngundang
begitulah…
matinya mati orang pecundang
karena ditikam dari belakang
oleh ksatria jaman sekarang
yang takut kalah maunya menang
meski dengan cara yang curang
april04

Kontrak di Arus Tengah “Catatan Untuk LSM”

Oleh : Muhammad Nasir
Relawan Yayasan Totalitas

Ada pertanyaan yang muncul berkaitan pelaksanaan PILKADA tahun ini, apa peran punggawa arus tengah kita ? Saya tidak tahu persis, mudah-mudahan Arus tengah yang dimaksud adalah kelompok masyarakat yang disebut elit minority, semisal pers, perguruan tinggi, pakar/cendikiawan, Ormas, LSM, Partai politik, mungkin termasuk mahasiswa dsb.

Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan dan status. Setiap individu yang hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya berarti mejalankan suatu peran (Soekamto,1987). Merujuk definisi ini, pertanyaan di atas jika dirinci akan menjadi, apa hak dan kewajiban kelompok arus tengah sesuai dengan kedudukannya/posisinya pada Pilkada 2005?.


Adalah sebuah keniscayaan bila semua komponen masyarakat dituntut berpartisipasi dalam pelaksanaan Pilkada. Tanpa bermaksud membagi stratifikasi masyarakat kedalam kelas-kelas, terma arus atas (pemerintah), arus tengah (sebagaimana dirinci di atas), dan arus bawah, rakyat akar rumput (grassroot) tentu memiliki perannya masing-masing. Pemerintah atau aparatur penyelenggara Negara berperan sebagai penanggungjawab penyelenggaraan Pilkada. Rakyat dituntut partisipasinya sebagai pemilih. Sementara komunitas yang disebut arus tengah ini dalam problem statement saya terkesan belum menjelaskan perannya.

Jika LSM memang bagian dari arus tengah, saya ingin fokus mengusut peran LSM sebagai mitra pemerintah yang kritis, sahabat masyarakat yang arif. Terlepas dari apakah penyataan ini berdasar atau tidak, agaknya LSM mesti segera mengambil sikap, sebelum peran mereka dipinggirkan oleh kepentingan calon kepala daerah yang tengah bertarung !. Keterpinggiran ini akan semakin nyata apabila masyarakat diracuni oleh keyakinan dan fanatisme bahwa calon pilihannya adalah satu-satunya orang yang mampu mengatasi masalah di daerah ini. Bahkan LSM akan semakin redup bila rakyat banyak kehilangan kesadaran bahwa masih ada komunitas yang bisa taken for granted mampu menjadi problem solver.

Tidak termasuk LSM yang menyatakan diri bagian dari Tim Sukses Cagub/Cabup/cawako, LSM yang selama ini concern dalam bidang pendampingan masyarakat (community assistance) atau secara vertikal mejadi mitra pemerintah yang kritis, semestinya melihat moment pilkada sebagai peristiwa penting membangun apa yang disebut Rustam Ibrahim (LP3ES-1992 dan KPMM ; Workshop Good ‘NGO’ Governance, 2003 ) jaringan kerja pemerintah-LSM (Government-NGO Networking).

Sebagai komunitas yang tercerahkan, LSM jangan sampai kalah populer dengan parpol, LSM tiba-tiba atau Tim Sukses yang mengorganisir rakyat, mendesain partisipasi semu untuk kepentingan sesaat (quantity participatory). Sementara masyarakat mempunyai peluang yang nyaris nihil dalam menetukan program calon kepala daerah. Disinilah peran LSM dibutuhkan sebagai kekuatan penyeimbang. Mimpi LSM rasanya tidak jauh dari keinginan meningkatnya kualitas partisipasi masyarakat, tidak hanya meningkatnya angka kunjungan ke TPS atau keikutsertaan masyarakat dalam pencoblosan.

Kembali ke soal keterpinggiran, bila masyarakat awam telah diracuni dengan keyakinan dan fanatisme calon, maka ini sama saja kematian perlahan-lahan bagi kelompok tengah yang tercerahkan. LSM murni (istilah penulis) yang tidak larut dalam politik praktis, akan dibungkus oleh citra LSM yang menceburkan diri ke dalam “arus primodial/partisan” bertajuk parpol atau calon kepala daerah. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi peran dan agenda LSM murni ke depan. Pencitraan negatif yang mungkin timbul dari masyarakat selama durasi pilkada terhadap LSM partisan akan nempel erat di benak sosial masyarakat, bahkan akan menjadi stigma bagi LSM murni. Langkah taktis untuk mengatasi ini adalah bagaimana mengupayakan advokasi untuk LSM sebagai lembaga masyarakat di satu pihak, dan LSM partisipan politik pilkada di lain pihak.

Karena itulah perlu penyadaran dini terhadap masyarakat, bahwa PILKADA hanya sebagai penentu calon Kepala daerah, dan bukan satu-satunya jalan menuju kemakmuran. Tidak ada jaminan satu orang kepala daerah yang cerdas mampu mengalahkan ribuan anggota arus tengah Sumatera Barat. Jika satu calon kepala daerah hanya memiliki satu atau dua keahlian, maka Sumatera Barat dengan potensi ratusan bahkan ribuan intelektual bisa saja menjadi sebuah konsorsium yang tidak kalah hebatnya dari sang calon.

Soal pilih-memilih adalah persoalan sesaat. Kemenangan dapat diketahui dalam sekejap pascapemilihan. Benar saja argumen yang mengatakan moment sekejap ini sangat menentukan nasib daerah ini 5 tahun kedepan. Setuju, tetapi tidak sepenuhnya. Bagi saya, argumen ini justru melegalkan peminggiran terhadap peran arus tengah yang “kurang serius” ini.

Yang pasti, pascapilkada akan ada satu kepala daerah terpilih, yang akan menjadi penentu kebijakan daerah. Apakah sudah terlambat atau belum, sepertinya masih ada kesempatan untuk melakukan semacam kontrak sosial antara calon kepala daerah dengan arus tengah, khususnya dengan LSM. Tujuannya agar Pemerintah atau LSM keluar dari “kotak-kotak kecil” yang dibangun sendiri. Pemerintah sibuk membangun birokrasinya dengan judul Good Government, begitupun LSM dengan tema transparansi dan akuntabilitas, dus status pengakaran, keberpihakan (the siding of/to) ke masyarakat. Sementara belum ada jaminan kesamaan pandangan tentang masyarakat, dan pendekatan apa yang mesti digunakan dalam membangun masyarakat.

Sebelum kepala daerah itu terpilih, sang calon sedang sibuk memetakan kantong suara. Namun masih ada peluang mengusik calon dengan menawarkan langkah-langkah menuju penyusunan “networking” antara LSM dengan Pemerintah (dalam hal ini ; an inquiry to calon kepala pemerintahan). Untuk tahap awal kontrak yang perlu ditawarkan cukup dua saja, pertama; kesungguhan untuk mengutamakan pembangunan berbasis masyarakat, kedua; kelancaran komunikasi -termasuk bermitra strategis- antara LSM dan Pemerintah.

Padang, April 2005
Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Pagi Padang Ekspres.