Oleh: Muhammad Nasir
Apa jadinya jika manusia modern masih rajin mendengar suara azan dari mushalla, tetapi tidak lagi mampu mendengar suara burung yang hilang dari hutan, bunyi sungai yang rusak, dan jerit ekosistem yang perlahan dihancurkan?
Disclaimer: tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan surau, apalagi merendahkan tradisi religius yang hidup di dalamnya. Ia justru berangkat dari keseriusan untuk meminjam logika berpikir A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami (RSK): sebuah cara pandang yang menguji kesalehan bukan hanya dari ritual, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan relasi manusia dengan alam. Dengan kata lain, yang dibicarakan di sini bukan “surau sebagai tempat”, melainkan surau sebagai "ruang berpikir" tentang tanggung jawab.
