Oleh: Muhammad Nasir
Apa jadinya jika manusia modern masih rajin mendengar suara azan dari mushalla, tetapi tidak lagi mampu mendengar suara burung yang hilang dari hutan, bunyi sungai yang rusak, dan jerit ekosistem yang perlahan dihancurkan?
Disclaimer: tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan surau, apalagi merendahkan tradisi religius yang hidup di dalamnya. Ia justru berangkat dari keseriusan untuk meminjam logika berpikir A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami (RSK): sebuah cara pandang yang menguji kesalehan bukan hanya dari ritual, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan relasi manusia dengan alam. Dengan kata lain, yang dibicarakan di sini bukan “surau sebagai tempat”, melainkan surau sebagai "ruang berpikir" tentang tanggung jawab.
Cerpen Robohnya Surau Kami—selanjutnya disingkat RSK—karya A.A. Navis pertama kali terbit pada 1955 dan kemudian menjadi salah satu karya paling penting dalam sejarah sastra Indonesia modern. Cerpen ini berkisah tentang seorang Kakek penjaga surau yang sepanjang hidupnya tekun beribadah dan mengabdikan diri pada rumah ibadah kecil di kampungnya. Namun hidupnya terguncang setelah mendengar kisah yang dibawa Ajo Sidi tentang Haji Saleh, seorang ahli ibadah yang justru dipertanyakan Tuhan karena terlalu sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan melupakan keadaan masyarakat di sekitarnya.
Dalam bagian paling penting cerpen itu, Navis menghadirkan dialog tajam antara Tuhan dan Haji Saleh:
Mendengar itu Tuhan bertanya: ‘Di negeri yang tanahnya subur dan kaya raya itu?
‘Benar. Tuhan. Bukankah negeri kami ini negeri yang kaya raya, tanahnya subur? Orang lain datang ke negeri kami untuk mencari kekayaan, tetapi kami sendiri melarat dan sengsara.’” (Navis, RSK, 1955).
Dialog itu berbicara tentang ironi sebuah bangsa yang hidup di atas tanah kaya raya namun gagal menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya sendiri. Haji Saleh sedang berbicara tentang negeri yang subur, hutan yang luas, dan kekayaan alam yang melimpah. Tetapi justru di negeri seperti itu masyarakat tetap hidup dalam kekurangan.
Kutipan tersebut terasa relevan jika dibaca dalam konteks Indonesia hari ini. Tanah masih subur, sungai masih mengalir, dan hutan masih tercatat luas dalam laporan pembangunan. Namun desa-desa perlahan kehilangan sumber kehidupannya sendiri. Sawah berubah fungsi, ladang singkong hilang, bukit dibuka untuk industri ekstraktif, dan hutan dipotong menjadi konsesi perusahaan.
Yang roboh hari ini mungkin bukan lagi surau, melainkan hubungan moral manusia dengan alam tempat ia hidup.
Di banyak wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, singkong yang dahulu menjadi penyangga pangan keluarga perlahan tergeser oleh kebun sawit. Padi tidak lagi dipandang sebagai kebudayaan hidup, tetapi sekadar komoditas yang harus memenuhi target produksi. Bahkan ruang pertanian rakyat kini diarahkan untuk menopang logika dapur besar dan proyek penyediaan makan massal. Sawah, ladang, dan kebun kecil perlahan dibaca sebagai angka distribusi pangan nasional, bukan lagi sebagai ruang hidup masyarakat.
Di titik inilah ironi besar muncul. Atas nama ketahanan pangan dan makan bergizi gratis, desa-desa didorong meningkatkan produksi, petani diminta menopang rantai pasok pangan nasional, dan lahan terus diperluas. Namun pada saat yang sama, masyarakat justru menghadapi harga sembako yang semakin mahal. Beras naik, cabai melonjak, minyak goreng tidak stabil, sementara ketergantungan terhadap impor pangan tetap berlangsung.
Situasi ini menghadirkan paradoks yang terasa seperti satire dalam RSK: negeri yang tanahnya subur justru hidup dalam kecemasan pangan. Petani menanam, tetapi tidak selalu dapat menikmati hasil tanamannya sendiri. Desa memasok bahan pangan untuk proyek besar MBG, tetapi dapur rumah tangga tetap dihantui harga kebutuhan pokok.
Lebih ironis lagi ketika sebagian lahan pangan rakyat berubah fungsi demi komoditas pasar global. Singkong yang dahulu menjadi cadangan pangan keluarga berubah menjadi hamparan sawit. Sawah menyusut oleh pembangunan dan industri. Akibatnya, negara berbicara tentang swasembada sambil terus membuka keran impor untuk menutup kekurangan yang diciptakan oleh perubahan orientasi lahannya sendiri.
Dalam konteks ini, kritik Navis menemukan bentuk baru. Tokoh Kakek dalam RSK bukan hanya simbol manusia yang terlalu sibuk memikirkan akhirat, tetapi juga simbol masyarakat yang gagal membaca penderitaan nyata di sekelilingnya. Hari ini penderitaan itu bukan hanya kemiskinan manusia, melainkan juga kerusakan ekologis dan hilangnya kedaulatan pangan masyarakat.
Ironinya, semua itu berlangsung di tengah masyarakat yang semakin religius secara simbolik. Mushalla berdiri megah di dekat kawasan industri. Ceramah agama ramai di media sosial. Spanduk ucapan hari besar memenuhi jalan-jalan kota kecil. Namun pada saat yang sama, sungai tercemar, udara memburuk, dan hutan hilang sedikit demi sedikit tanpa kegelisahan moral yang cukup besar.
Padahal dalam tradisi lama masyarakat Nusantara, termasuk Minangkabau, agama dan alam tidak pernah benar-benar dipisahkan. Surau bukan hanya tempat belajar ibadah, tetapi juga ruang pembentukan tanggung jawab sosial. Alam dipandang sebagai amanah, bukan sekadar sumber eksploitasi.
Karena itu, membaca kembali Robohnya Surau Kami hari ini terasa seperti membaca peringatan ekologis yang tersembunyi. Navis seolah mengingatkan bahwa kesalehan yang kehilangan keberpihakannya pada kehidupan nyata akan berubah menjadi ritual kosong. Dan kehidupan nyata hari ini tidak hanya menyangkut manusia, tetapi juga tanah, air, hutan, dan sumber pangan masyarakat.
Mungkin inilah bentuk baru “robohnya surau” di zaman modern. Rumah ibadah tetap berdiri, tetapi sawah hilang. Takbir tetap berkumandang, tetapi hutan dibakar. Orang semakin fasih berbicara tentang pahala, tetapi semakin jarang bertanya siapa yang kehilangan tanah, siapa yang kehilangan sungai, dan siapa yang kehilangan masa depan.
***
Lalu ketika Hari Raya Kurban nanti daging dibagikan di mushalla-mushalla modern, masihkah ada yang bertanya: apakah pengorbanan hari ini benar-benar untuk kehidupan bersama, atau sekadar perayaan yang berlangsung di atas tanah yang perlahan sedang kita habiskan sendiri?
Sapi-sapi kurban diimpor karena desa-desa tak lagi punya lahan untuk beternak sapi kurbannya sendiri.
15 Mei 2026

No comments:
Post a Comment