25 March 2025

Pendi

 Cerpen Muhammad Nasir


Angin di pasar membawa bau yang sama sejak lama. Sampah, tanah basah, keringat, dan harapan. Pendi ingat betul bagaimana dulu ia mendorong gerobaknya, menjual hasil panen dengan suara lantang. Tapi itu dulu, sebelum semuanya menjadi kabur. 

Dulu, hidupnya sederhana. Bangun sebelum subuh, menyiram tanaman, memanen sayur-mayur, lalu mendorong gerobaknya ke pasar. Ia hafal jalur itu, tahu di mana roda gerobaknya sering terperosok, tahu kapan harus berhenti dan menyeka keringat.

Lalu, suatu malam, semuanya berubah.

Saat perjalanan pulang, entah dari mana, dua tangan kuat menariknya ke lorong gelap. Mulutnya ditutup, tubuhnya dihantam keras hingga dunia berputar. Ia disekap di tempat yang tidak ia kenali, diikat di sudut ruangan dengan lampu redup yang berkedip-kedip. Orang-orang datang, wajah mereka samar. Mereka tidak berbicara banyak, hanya pukulan dan tendangan yang menjelaskan semuanya.

Beberapa hari kemudian, ia diberi makan seadanya, lalu sesuatu yang lebih buruk terjadi. Mereka mulai mengajarinya sesuatu yang baru: cara menakut-nakuti, cara memaksa orang tunduk, cara mengayunkan pukulan dengan tepat. Mereka menyebutnya "pelatihan."

"Ini hidup barumu."

Pendi ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia hanyalah petani. Tapi suaranya serak, dan tubuhnya terlalu lelah. Perlahan, tangannya mulai terbiasa mengepal, ototnya mulai mengingat bagaimana cara bertahan.

Lalu, tiba-tiba, mereka melepasnya. Tanpa penjelasan. Tanpa pesan.

Ia kembali ke pasar. Matahari terasa lebih panas dari biasanya, dan langkahnya goyah. Lalu, sesuatu yang lebih aneh terjadi: di kejauhan, ia melihat dirinya sendiri.

Pendi berdiri terpaku. Sosok itu—dirinya—masih menjual hasil panen, seolah tidak pernah ada penculikan, tidak pernah ada penyekapan. Itu dirinya yang dulu. Yang seharusnya ia jalani.

Ia ingin mendekat, ingin memastikan, tapi tiba-tiba seseorang mendatanginya. Ia tak mengenalnya, tapi orang itu langsung menghantam wajahnya.

Pendi jatuh. Refleksnya bergerak sendiri. Tangan yang sudah terlatih selama penyekapan menghantam balik. Orang itu terpelanting, dan Pendi terus memukulinya. Sampai orang itu tak bergerak. Sampai orang-orang di sekelilingnya menatapnya dengan ketakutan.

Dan sejak itu, kata-kata itu muncul. "Preman."

Siapa yang memulainya, ia tidak tahu. Tapi yang jelas, ia tak bisa menolaknya.

Tahun-tahun berlalu.

Pendi telah melupakan bagaimana rasanya menjadi petani. Ia telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, meskipun ia tak pernah memahaminya. Ia mulai tahu bahwa ia bukan sekadar preman, tapi alat.

Ia dipakai untuk mengendalikan orang-orang seperti dirinya. Kadang ia bertanya, siapa sebenarnya yang mengendalikannya? Tapi setiap kali ia mencoba melawan, sesuatu selalu terjadi.

Lalu, suatu hari, ia membunuh seseorang.

Itu bukan sekadar perkelahian biasa. Ia ingat rasa sakit hati itu, kemarahan yang membakar dadanya. Tapi setelahnya, ketika darah mengering di tangannya, sesuatu dalam dirinya runtuh.

Ia bertanya pada dirinya sendiri:
"Apakah ini benar-benar aku?"
"Apakah aku memang ditakdirkan untuk ini?"
"Atau seseorang telah menuliskan hidupku sebelum aku sempat memilih?"

Lalu, ia ditangkap. Tapi tidak lama.

Di dalam penjara, ia mendengar cerita: preman-preman lain, satu per satu, mati di jalanan. Ditembak oleh orang tak dikenal. Tanpa alasan, tanpa jejak.

Dan ia sadar, bahwa itu bukan kebetulan.

Ia ditangkap bukan karena hukum. Ia dipenjara karena itu satu-satunya cara untuk tetap hidup. Jika ia tetap di luar, ia akan menjadi korban berikutnya.

Lalu ia mengerti.

Ia bukan hanya preman. Ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, semacam roda kecil dalam mesin yang mengendalikan kekacauan. Ia dibiarkan hidup, dibiarkan tumbuh dalam legenda, hanya untuk mengendalikan para preman lain.

Dan kini, ia menua! 

Di surau kecil di pinggir pasar, ia duduk diam, jarinya menyentuh tasbih, bibirnya bergerak pelan dalam doa.

Tapi pikirannya masih berkelana ke masa lalu.

Kadang, ia bertanya-tanya:
"Bagaimana jika malam itu aku tidak ditarik ke lorong gelap?"
"Bagaimana jika aku tetap menjual sayur dan pulang ke rumah dengan tenang?"
"Apakah aku tetap akan menjadi aku?"

Orang-orang masih mengenalnya. "Dulu dia preman besar," mereka berbisik. Mereka tidak tahu, Pendi hanya menunggu.

Menunggu sesuatu yang pasti. Sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun.

Menunggu jemputan.

No comments: