Muhammad Nasir
Saya pernah beberapa kali melihat keberadaan burung punai di semak-semak di belakang gedung Perpustakaan UIN Imam Bonjol. Setiap kali melihatnya, muncul pertanyaan sederhana di kepala saya: pohon apa yang tumbuh di sana hingga mampu menjadi sumber makanannya.
Punai adalah burung yang senang mematuk buah-buahan dan senang hinggap di pohon yang bijinyabisa dimakan, atau pohon yang cukup aman untuk bertengger. Saya mengedarkan pandangan ke semak-semak di bukit. Pohon dan buah-buah apakah yang ada di bukit dan lembah sungai banget itu?
Kehadirannya teramat singkat. Tetapi sesingkat apa pun, itu menandakan bahwa masih ada kehidupan ekologis yang bekerja di alam di beberapa sudut kampus.
Pengalaman serupa saya rasakan ketika melihat burung enggang melintas terbang di atas aliran sungai di Barang Kandis, tepat di bawah Gedung Fakultas Adab. Enggang bukan burung kecil yang mudah beradaptasi dengan ruang sempit. Ia membutuhkan wilayah jelajah yang luas, pepohonan tinggi, dan lingkungan yang relatif tenang.
Meski hanya melintas, penampakan itu meninggalkan kesan kuat. Ia menjadi penanda bahwa jalur alam masih terbuka, meski semakin terdesak oleh penebangan kayu di hutan dan dirampas oleh bangunan dan beton.
Dua penampakan ini mendorong saya berpikir lebih jauh. Bagaimana mungkin burung-burung yang identik dengan hutan masih mau singgah di kawasan yang pohonnya terbatas. Jawabannya barangkali sederhana. Alam selalu mencari celah untuk bertahan. Selama masih ada pohon yang berbuah, semak yang tumbuh, dan sungai yang mengalir, burung akan datang, meski hanya sebentar. Namun, singgah sesaat tentu berbeda dengan memilih untuk hidup.
Dari sini, bayangan tentang kampus yang asri mulai terbentuk. Kampus yang tidak hanya menanam pohon sebagai pelengkap visual, tetapi sebagai bagian dari sistem kehidupan. Pohon-pohon yang ditanam bukan sekadar peneduh jalan, melainkan pohon yang menyediakan pakan bagi burung. Pohon-pohon lokal yang akrab dengan ekosistem setempat, yang akarnya menjaga tanah dan buahnya memberi makan satwa. Dengan perencanaan yang sadar, kampus dapat menjadi ruang singgah yang layak, bahkan ruang hidup.
Kampus yang asri juga berarti memberi ruang bagi alam untuk bekerja dengan caranya sendiri. Tidak semua semak harus dibersihkan. Tidak semua daun kering harus disapu. Kerapian sering kali kita pahami secara sempit, padahal di balik sisa-sisa alami itu ada kebutuhan ekologis yang nyata. Burung membutuhkan tempat berlindung, serangga membutuhkan habitat, dan semuanya terhubung dalam satu rantai kehidupan yang saling menopang.
Gagasan ini memiliki hubungan erat dengan cara Al-Qur’an menggambarkan surga. Bagi orang UIN, gambaran ini tentu sangat familiar. Surga berulang kali digambarkan sebagai taman-taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Gambaran itu menghadirkan lingkungan hidup yang utuh. Ada air yang mengalir, ada pohon yang tumbuh, ada keteduhan yang menenangkan. Surga tidak digambarkan sebagai ruang kosong, tetapi sebagai lanskap kehidupan yang tertata dan berkelanjutan.
Jika dibaca dengan cermat, gambaran itu bukan hanya tentang imaji akhirat, tetapi juga pesan etis tentang kehidupan ideal. Taman dan sungai menunjukkan pentingnya keseimbangan alam. Air mengalir untuk memberi kehidupan, bukan untuk dikeringkan atau dikotori. Pohon tumbuh untuk memberi manfaat, bukan untuk ditebang tanpa pertimbangan. Dalam konteks ini, impian tentang kampus yang hijau dan hidup terasa sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an.
Keberadaan sungai di kawasan kampus UIN Imam Bonjol, termasuk aliran di Barang Kandis, sebenarnya merupakan modal ekologis yang penting. Sungai itu mengalir di bawah aktivitas akademik, persis seperti gambaran yang sering kita baca dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, sungai hanya akan bermakna jika dijaga. Ia tidak cukup menjadi latar pemandangan, tetapi harus dipelihara agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi tumbuhan, hewan, dan manusia.
Di sinilah wacana ekoteologi yang digemakan oleh Kementerian Agama menemukan relevansinya. Ekoteologi mengajak umat beragama untuk melihat alam sebagai amanah. Merawat lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab keimanan. Menanam pohon, menjaga sungai, dan memberi ruang bagi makhluk hidup lain bukan sekadar kerja teknis, tetapi juga praktik moral.
Jika wacana ini diterjemahkan ke dalam kebijakan kampus, maka penghijauan tidak lagi dipahami sebagai proyek sesaat. Ia menjadi bagian dari visi keislaman kampus. Pohon dipilih dengan kesadaran ekologis, sungai dijaga dari sampah dan limbah, ruang terbuka hijau dipertahankan sebagai ruang hidup, bukan sekadar lahan cadangan pembangunan.
Dalam kerangka ini, penampakan burung punai dan burung enggang tidak lagi sekadar peristiwa kebetulan. Ia bisa dibaca sebagai pengingat bahwa alam masih memberi kesempatan. Kampus, sebagai ruang produksi ilmu dan nilai, memiliki posisi penting untuk menanggapi sinyal itu secara serius.
Pada akhirnya, impian tentang kampus yang asri dengan pohon dan burung-burung bertemu dengan visi keagamaan yang lebih luas. Kampus tidak hanya mengajarkan ayat-ayat tentang taman dan sungai, tetapi berusaha menghadirkannya dalam skala yang mungkin.
Dengan begitu, nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti sebagai teks yang dikaji, tetapi hadir sebagai etika yang hidup dalam tata ruang dan keseharian. Jika itu dapat diwujudkan, kampus bukan hanya pusat ilmu, tetapi juga rumah kecil bagi kehidupan yang lebih luas.
Kampus dengan puluhan prodi dan ratusan dosen mungkin sudah memberi jaminan mutu untuk penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi untuk keperluan akreditasi. Sekarang sudah unggul. Tetapi, untuk pengembangan lingkungan dan tata ruang ekologis, kampus juga perlu pemikir dan kesadaran kuasa pengguna anggaran untuk mewujudkannya.
Dan tiba-tiba saya ingat pak Men, Dr. Raichul Amar, M.Pd. Pensiunan dosen UIN penerima Kalpataru. Kampus 2 lubuk lintah yang saat ini sedikit sepi ditinggal libur mahasiswa, di penuhi suara balam. Burung perkutut turun membawa serta anak-anaknya ke atas aspal halaman kampus. Dan yang pasti, sebagian besar pohon di kampus 2 adalah legacy pak Raichul Amar
[1 Sya'ban 1447 H]




No comments:
Post a Comment