04 January 2026

Pendulum Waktu Gen Xennial

 Muhammad Nasir 


Saya generasi yang tumbuh di antara dua dunia. Satu kaki menapak pada masa majalah Bobo, Wiro Sableng, dan novel Freddy S yang berpindah tangan dari satu tas ke tas lain. Dunia itu pelan, terbatas, tetapi justru memberi ruang luas bagi imajinasi.

Pada masa itu, cerita menjadi jendela utama untuk memahami hidup. Kata-kata bekerja lebih dulu sebelum gambar bergerak. Imajinasi dilatih tanpa sadar, membangun kesabaran dan daya tahan batin.



Kartun menjadi sekolah rasa tanpa papan tulis. He-Man mengajarkan keberanian yang sederhana, Defenders of the Earth membuka kesadaran tentang dunia yang luas. Maya the Bee dan Little Missy menanamkan empati tanpa khotbah.

Menata Ulang Ruang dan Jalur Perjalanan

Catatan Akhir Tahun 2025

Muhammad Nasir


Sejak akhir November 2025, banjir bandang dan tanah longsor telah mengubah wajah Sumatera Barat secara nyata. Peristiwa ini sudah menghadirkan kerusakan fisik,  juga mengguncang cara masyarakat memahami ruang, jarak, dan keterhubungan antarwilayah. 

Ungkapan adat Minangkabau, sakali aia gadang, sakali tapian barubah, terasa menemukan maknanya yang paling konkret. Air yang meluap tidak hanya mengubah tepi sungai, tetapi juga memaksa perubahan cara hidup, jalur mobilitas, dan ritme keseharian masyarakat.


21 November 2025

Menggambar Hantu Di Kepala

 Muhammad Nasir


Ini adalah Emmanuel Benjamin Gharib, pendeta Kuwait dari Gereja Presbiterian Kuwait dan ketua Gereja Injili Nasional Kuwait. Iseng-iseng saya posting foto ini dengan caption “mari berdamai.” Lalu muncul komentar sadis, umumnya dari non-Muslim: “Ogah. Dasar kadrun Yaman.” Saya balas singkat, “Itu kan pendeta Ben Gharib.” Di sinilah terlihat jelas sebuah fenomena: kesalahpahaman yang berangkat dari framing budaya dan stereotip tentang pakaian.


13 November 2025

Sejarah Keseharian (Alltagsgeschichte)

Muhammad Nasir
Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang

 

Pendahuluan

Sejarah keseharian atau Alltagsgeschichte merupakan salah satu pendekatan dalam historiografi modern. Pendekatan ini awalnya berkembang di Jerman Barat pada dekade 1970–1980-an. Pendekatan ini muncul sebagai reaksi terhadap dominasi sejarah politik dan ekonomi yang dianggap terlalu menekankan peran tokoh besar, institusi, serta peristiwa monumental. Tokoh-tokoh seperti Alf LΓΌdtke dan Hans Medick menegaskan pentingnya memusatkan perhatian pada kehidupan sehari-hari masyarakat biasa, yang selama ini tersisih dari narasi utama sejarah (Ludtke, 1995; Medick, 1987)

 













10 November 2025

Pahlawan dan Tindak Kepahlawanan di Masa Sekarang

 Muhammad Nasir

 Masihkah manusia masa kini mencari pahlawan, ataukah kita kini hanya mencari figur untuk dikagumi sesaat? Pertanyaan ini mengemuka ketika dunia modern begitu ramai oleh citra berupa gambar, narasi, dan simbol yang berlomba merebut ruang kepercayaan publik. Di tengah banjir informasi, manusia tetap membutuhkan sosok yang bisa dijadikan cermin moral, tetapi cara kita menemukan dan menilai mereka telah berubah. Jika dahulu pahlawan lahir dari perang dan perjuangan, kini mereka muncul dari keberanian moral dan ketulusan dalam keseharian.

Sejarah itu, kata sejarawan R.G. Collingwood (1946), bukan sekadar rekaman peristiwa, tetapi upaya manusia untuk “memikirkan kembali” tindakan masa lalu di dalam pikirannya sendiri. Dan juga tidak semata hidup di monumen, melainkan di dalam ingatan kolektif masyarakat yang terus menafsir ulang nilai-nilainya, kata Halbwachs (1992). Karena itu, setiap zaman akan selalu melahirkan tafsir baru tentang siapa yang layak disebut pahlawan. Hari ini, manusia mencari figur yang mampu mengembalikan rasa percaya di tengah keterasingan sosial dan krisis moral publik. 

Apa contohnya? Lihatlah, dalam konteks global dapat diingat kemunculan nama-nama seperti Mahmoud Ahmadinejad di Iran pada awal 2000-an; Evo Morales di Bolivia sejak masa pemerintahannya tahun 2006 hingga 2019; Barack Obama di Amerika Serikat pada era kepemimpinannya 2009–2017, hingga Zohran Mamdani, politisi muda progresif yang muncul di New York pada dekade 2020-an, sekarang (2025) ia terpilih sebagai Walikota New York. Nama-nama itu menunjukkan bagaimana imaji kepahlawanan masa kini dibangun di antara kesederhanaan dan keberanian moral.

12 October 2025

Positivisme Konservatif dalam Studi Sejarah

Muhammad Nasir

Positivisme konservatif merupakan salah satu fondasi metodologis paling berpengaruh dalam tradisi penulisan sejarah modern. Aliran ini meyakini bahwa sejarah dapat dijelaskan secara ilmiah, objektif, dan empiris, sebagaimana ilmu-ilmu alam (Comte, 1851). Ia lahir pada abad ke-19, ketika sains sedang mengalami kemajuan pesat dan menjadi model bagi semua bentuk pengetahuan. Dalam pandangan positivisme, fakta adalah satu-satunya dasar pengetahuan yang sahih, dan tugas sejarawan adalah menyingkap kebenaran masa lalu berdasarkan bukti yang dapat diverifikasi.


Namun, di balik keteguhan ideal ilmiah itu, positivisme konservatif juga menyisakan sejumlah persoalan metodologis, terutama ketika pendekatan ini diterapkan dalam konteks penelitian mahasiswa tingkat sarjana (S1). Tulisan ini akan mengulas warisan pemikiran positivisme konservatif, kritik terhadap batasan temporal dan peristiwa, serta tantangan yang muncul dalam praktik penulisan sejarah bagi sejarawan pemula.