Showing posts with label IAIN Imam Bonjol Padang. Show all posts
Showing posts with label IAIN Imam Bonjol Padang. Show all posts

02 June 2025

Lubuk Lintah, Di Sini Aku Menetas dan Beranak Pinak

Muhammad Nasir


(1) Memory 1996-2002

Namanya Lubuk Lintah, tapi anehnya… aku tak pernah benar-benar menemukan lubuk, apalagi lintah di sini. Yang ada justru belut sawah yang jinak di lahan basah sebelah barat kampus, arah Parak Jigarang. Mungkin itulah satu-satunya fauna air yang bisa disapa sambil jalan kaki sambil mikir: Besok mid semester apa ujian semester, ya?

Jalanan kampus ini tergolong rapi dan kokoh. Sempit, iya. Tapi cukup untuk dilewati satu motor (itupun kalau ada), satu becak sate, dan dua mahasiswa yang sedang adu argumen soal “mana yang lebih penting: epistemologi atau nasi bungkus?”


Di antara gedung-gedung bersahaja, tumbuh pohon-pohon besar yang menaungi kami. Ada yang akarnya menonjol keluar seperti tangan-tangan tua yang siap merangkul. Di situlah kami duduk bersila, bersandar di batangnya, bergantung di dahannya, dan berlindung di bawah daunnya, dari panas, dari gerimis, dan kadang dari kegelisahan hidup.

03 June 2020

Prof. Dr. Saifullah SA., M.A. dan Historiografi Angkatan ’66 di Sumatera Barat


Prof. Dr. Saifullah SA., M.A. dan Historiografi Angkatan ’66
di Sumatera Barat
Oleh Muhammad Nasir


1| Poros Angkatan ’66 di IAIN Imam Bonjol Padang

Di Sumatera Barat Prof Saifullah dikenal karena rekam jejaknya sebagai aktivis. Pada 1998 konsolidasi aktivis mahasiswa tidak lepas dari patron senioritas di kampus. Utamanya senior yang dosen. Maka di IAIN Imam Bonjol Padang ada Prof Saifullah. Pembicaraan tentang dirinya tidak lepas dari track record-nya sebagai eksponen Angkatan ’66.

Berbeda dengan di IKIP Padang/UNP yang merupakan kombinasi aktivis eksponen ’66 dengan dosen akademisi cum aktivis yang merupakan generasi setelahnya. Misalnya Prof Mestika Zed. Di Unand begitu juga, kombinasi eksponen ’66 plus akademisi yang aktifis. Misalnya Dr. Ranny Emilia. Tanpa mengecilkan arti tokoh di kampus yang lain, setidaknya aktivis di ketiga kampus ini terkonsolidasi secara ideologis dengan ikatan eksponen angkatan ’66 plus keluarga besar Bulan Bintang (baca eks Masyumi dan organisasi satelitnya).

Kehadirannya memberi energi positif dan kekuatan moral dan mental bagi aktivis mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang kala itu. Apalagi ditunjang dengan kesediaannya berorasi dalam beberapa aksi mahasiswa. Suaranya yang lantang dengan retorika yang bagus, ikut memberikan bobot dalam aksi tersebut.

09 October 2019

Agama dan Kepercayaan Masyarakat Minangkabau Sebelum Islam


Oleh Muhammad Nasir

Pengantar
Tulisan ini disarikan dari Disertasi Doktoral Muhammad Sanusi Latief berjudul “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau (1907-1969), IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1981)., halaman 39-42. M Sanusi Latif  pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Imam Bonjol, Padang periode 1976–1982. Tujuan penulisan ini antara lain untuk menambah referensi tentang agama dan keyakinan masyarakat Minangkabau sebelum kedatangan Islam. Selain itu, mengingat disertasi ini tidak dicetak, maka salah satu bentuk melestarikan sumber informasi tentang sejarah Minangkabau adalah menyalin sebagian kecil informasi yang dimuat dalam disertasi tersebut. Untuk membantu pemahaman dan mengembangkan informasi, penulis juga memberikan catatan yang bersumber dari literatur yang lain, dan model penyalinanpun pada beberapa bagian dilakukan secara bebas; tak secara persis seperti menulis kutipan langsung. Mudah-mudahan salinan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan referensi tentang Agama dan Kepercayaan Masyarakat Minangkabau sebelum Islam.

A. Agama dan Kepercayaan di Minangkabau sebelum Islam.

Masa Pra Agama.
Sanusi Latif menuliskan bahwa sebelum masuknya agama-agama ke Minangkabau, masyarakat Minangkabau selain menaati adat, juga menganut keyakinan pra-agama,[i] baik animisme dan dinamisme, maupun kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus yang dapat membahayakan manusia, sehingga kepadanya harus diberikan sesajian serta pembacaan mantera-mantera [M. Sanusi Latief, hal. 39]. Masa Pra Agama ini tidak diulas lebih lanjut oleh M Sanusi Latief, terutama dalam rentang waktu kapan masa ini berlangsung.

Masa Hindu Budha
Sumber Foto: Wikipedia
Masa Hindu Brahma (abad ke-5 M), agama Budha Hinayana (abad ke-7) dan agama Budha Mahayana (abad ke-7 sampai abad ke-10), baik yang dibawa oleh para pedagang dari Hindustan (India) maupun mereka yang datang dari kerajaan Majapahit.[ii]  

Akan tetapi, Agama Hindu dan Budha di Minangkabau tidak sekuat adat, dan tidak pula sekuat pengaruh Hindu dan Budha di Jawa ketika Islam datang. Pengaruhnya tidaklah mendalam dan tidak meninggalkan bekas-bekas yang lama. Kedua agama tersebut belum sempat memasyarakat. Belum banyak didirikan tempat-tempat pengajaran dan penyiaran agama tersebut di daerah ini [M. Sanusi Latief, hal. 40].[iii]

Sejarah Hanya mencatat bahwa sebuah stupa dari biara agama Budha yang berdiri di Muara Takus, abad ke-8 dalam daerah Kerajaan Minangkabau Timur. Muara Takus atau Telaga Udang terletak di hulu Kampar.[iv]  Selain Itu, beberapa prasasti mengenai Adityawarman dan agama Budha, di anatarnya terdapat di Lima Kaum, yaitu Prasasti Kuburajo I (1347) dan Kuburajo II (1339/1351). Salah satu yang diyakini sebagai jejak agama Budha adalah di antaranya yang bergambar matahari atau teratai (lambang agama Buddha) dan sapaan dalam agama budha “Oṃ māṃla”

B. Sebab-sebab lemahnya pengaruh agama Hindu dan Budha di Minangkabau [M. Sanusi Latief, hal.40-41], yaitu:  

Pertama: Karena kedua agama tersebut yang datang ke Minagkabau dari Kerajaan Majapahit, di bawa oleh penyerbu. Dengan demikian menimbulkan citra yang kurang simpatik bagi masyarakat di daerah ini.

Kedua, walaupun Adityawarman akhirnya berhasil menjadi raja di Minangkabau, kekuasaannya tidak dapat menjangkau kehidupan masyarakat di nagari-nagari, terutama di daerah Luhak nan Tigo. Dengan demikian, kalaupun ia ingin menyebarkan agama Budha, namun peluang itu amat terbatas.

Ketiga, misinya dalam bidang politik dan militer jauh lebih menonjol sehingga penyebaran agama kurang menjadi perhatiannya. Kedatangannya ke Minangkabau tidak disertai dengan ahli-ahli agama Budha yang cukup untuk menyebarkan agama tersebut di daerah ini. Tidak seperti raja-raja Islam Aceh yang selalu membawa ahli-ahli agama dalam perjalanannya ke daerah-daerah yang dikuasainya.

Keempat, Pengaruh adat dalam masyarakat Minangkabau jauh lebih kuat dan benar-benar berurat berakar sehingga tidak mudah dimasuki oleh paham-paham lainnya, a[alagi yang tidak sejalan dengannya.

Kelima, susunan masyarakat menurut kasta-kasta dalam agama Hindu tidak berkenan di hati masyarakat Minangkabau karena sangat bertentangan dengan kehidupan demokratis yang telah mendarah daging bagi mereka. Keinginan Adityawarmnan agar susunan masyarakat berkasta-kasta diberlakukan di Minangkabau, segera mendapat tantangan.

Agama Hindu dan Budha walaupun pengaruhnya amat kecil di Minangkabau, telah bercampur aduk  dengan kepercayaan pra agama dan adat.[v] Dalam situasi yang demikianlah kemudian agama Islam sampai ke daerah ini. Agama Islam menemukan masyarakat di sini telah mempunyai adat dan kepercayaan-kepercayaan pra-agama, ditambah dengan unsur-unsur agama Hindu dan Budha yang belum kuat tertanam. [M. Sanusi Latief, hal.40-41]  







   
End Notes


[i] Sanusi Latif menggunakan isltilah pra agama. James  W Fowler menyebutnya dengan kepercayaan eksistensial. Kepercayaan eksistensial itu sendiri menurutnya merupakan suatu kegiatan relasional, artinya ‘berada-dalam-relasi-dengan-sesuatu. Lebih lanjut lihat  Sari Pemikiran James W. Fowler dalam “Teori Perkembangan Kepercayaan: Karya-karya Penting James W. Fowler”, Editor. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1995Kepercayaan
[ii][ii] Dalam catatan kakinya, M Sanusi Latief menulis, “Adityawarman yang datang ke Minangkabau (1340) dari Kerajaan Majapahit, dikatakan menganut agama Hindu-Budha Hinayana. (Lihat J.L. Moens, Budhisme di Jawa dan Sumatera dalam Masa Kejayaannya yang Terakhir, Jakarta, Bharata, 1974, hal. 44)
[iii] M Sanusi Latif merujuk pada sumber yang ia tulis di catatan kaki, yaitu dari Harry J Benda, “Kontinuitas dan Perubahan dalam Islam di Indonesia dalam buku Islam di Indonesia, editor, Taufik Abdullah, Jakarta, Tintamas, 1974 hal. 34;36.
[iv] Lihat M Rasyid Manggis, Minangkabau, Sejarah Ringkas dan Adatnya, Padang, Sri Dharma, 1970, hal.172
[v] Catatan kaki M Sanusi Latief nomor 49, “Kepercayaan tentang reinkarnasi, keharusan membakar kemenyan sebelum berdo’a, serta bermacam-macang kenduri, selamatan di rumah duka dan berkaul ke kuburan dan tempat-tempat yang dipandang keramat atau sakral, sering dikemukakan sebagai contoh tentang sisa-sisa  pengaruh Hjindu dan atau kepercayaan animisme dan dinamisme yang telah ada sebelum kedatangan agama Hindu dan Budha.

28 March 2018

Masalah Rektor dan Semangat Akademik

Masalah Rektor dan Semangat Akademik
Muhammad Nasir

Foto: Persma.org
Baramulo kalam!
Sekitar Mei 2006 yang lalu, kampus IAIN Imam Bonjol terasa panas. Suasana itu tidak ada sangkut pautnya dengan peringatan sewindu reformasi yang diperingati hampir seluruh kampus di Indonesia. Menurut banyak orang, hal itu disebabkan tidak jelasnya nasib rektor IAIN pascapemilihan Desember 2005 lalu. Boleh dikata, jiwa zaman pada waktu itu adalah keresahan warga kampus tanpa rektor definitif. Terutama mahasiswa yang akan wisuda mulai khawatir, siapa yang akan menandatangani ijazah  mereka.

Dalam suasana yang seperti itu pula IAIN sempat diramaikan isu berkembangnya pemikiran liberal yang diusung oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Lembaga yang mengusung  semangat pembaharuan pemikiran keagamaan yang dipimpin Ulil Abshar Abdalla dituduh telah mendanai berbagai aktivitas ilmiah di IAIN Imam Bonjol Padang.