Showing posts with label Tuanku Imam Bonjol. Show all posts
Showing posts with label Tuanku Imam Bonjol. Show all posts

15 August 2025

Perang Paderi dalam Tinjauan Fikih Siyasah

 Muhammad Nasir

Pengajar Sejarah Minangkabau UIN Imam Bonjol Padang


Perang Paderi yang terjadi di Minangkabau pada awal abad ke-19 merupakan salah satu babak penting dalam sejarah sosial-politik Indonesia. Konflik ini bermula dari perbedaan pandangan antara kelompok yang mengedepankan pemurnian ajaran Islam dan kelompok yang mempertahankan adat sebagai bagian integral dari identitas Minangkabau. Kaum Paderi terinspirasi dari semangat pembaruan yang mereka temui saat menunaikan ibadah haji di Mekkah dan Madinah, sedangkan Kaum Adat berpegang pada tradisi yang telah mengakar kuat dalam sistem sosial, termasuk pola kekerabatan matrilineal.

Perselisihan tersebut pada awalnya bersifat internal dan terbatas di wilayah Minangkabau. Namun, ketegangan meningkat hingga memunculkan pertikaian bersenjata. Situasi semakin kompleks ketika Belanda ikut campur, awalnya atas undangan sebagian pihak yang menginginkan penyelesaian konflik, namun kemudian intervensi itu berujung pada perluasan kontrol kolonial. Akhirnya, perang ini berkembang menjadi konflik yang memadukan dimensi agama, adat, politik, dan perjuangan melawan penjajahan.



11 June 2022

Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol ============= Terhutang pula rasanya badan ini. Belajar dan berkuras selama seperempat abad di perguruan tinggi yang menyandang nama Tuanku Imam Bonjol, tetapi sosok beliau belum dikenali dengan baik. Sejak tingkat Sarjana (S1), Magister (S2) di IAIN Imam Bonjol Padang. Kemudian mulai lagi menapaki jenjang doktoral (S3) di kampus yang sama yang sudah berubah menjadi universitas sejak tahun 2017. Sekarang namanya Universitas Islam Negeri (UIN), tetapi nama Imam Bonjol yang dinisbatkan pada sosok pemimpin besar revolusi Padri itu masih melekat. Berbeda dengan saudara sapiah balahan-timbang pacahan IAIN Imam Bonjol Padang. Di Bukittinggi, pernah ada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Syekh Djamil Djambek. Syekh ini memang tak ada sangkut pautnya dengan Tuanku Imam Bonjol. Tetapi murid-murid Inyiak Djambek, begitu beliau disapa, menjadi barisan terdepan dalam menopang berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang pada masa-masa awal. Legasinya berupa Ilmu Falak, diterus-ajarkan oleh murid-muridnya yang mengajar di IAIN Imam Bonjol Padang. Sayangnya, nama Sjekh Muhammad Djamil Djambek hanya dibibir saja. Dua kali Keputusan Presiden (Kepres RI Nomor 11 Tanggal 21 Maret 1997 dan Kepres RI No. 78, tahun 2006) tak tersebut nama beliau di nomenklatur nama perguruan tinggi Islam tersebut. Ditambah satu kali lagi Peraturan Presiden, yaitu (Peraturan Presiden nomor 181 tahun 2014 tentang perubahan STAIN Bukitinngi menjadi IAIN Bukitinggi, sama saja, tak ada nama ulama besar tersebut. Padahal, Sjekh Muhammad Djamil Djambek dikenal sebagai ulama yang pertama kali memperkenalkan cara bertabligh di muka umum. Lebih lanjut, kalau diperiksa benar riwayat hidup beliau, boleh disebutkan bahwa tradisi ceramah, tabligh akbar dan kemudian majlis taklim yang populer saat ini berakar dari kebiasaan atau metode beliau dalam mengajarkan agama. Karena itu, dalam pangana saya, ilmu dan metode dakwah mestinya menjadi pusat keunggulan IAIN Bukittinggi. Berharap benar kita. Apalagi Bukittinggi, jaman dahoeloe, merupakan epicentrum dakwah lisan dan tulisan. Ada banyak penerbitan pula di sana. Cerita yang sama untuk anak pisang IAIN-UIN Imam Bonjol lainnya, yaitu STAIN, sekarang IAIN Batusangkar. Kerap disebut-sebut dengan nama STAIN Prof Mahmud Yunus (Mahmoed Joenoes) Batusangkar. Sebagaimana diketahui, Prof Mahmoed Joenoes (1899-1982), putra Sungayang itu adalah rektor pertama IAIN Imam Bonjol Padang yang menjabat tahun 1967-1970. Berdasarkan Kepres No. 11/1997 dan Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 285/1997 mengubah status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol menjadi sekolah tinggi agama Islam negeri (STAIN).Berdasarkan Perpres No. 147 tahun 2015, tanggal 23 Desember 2015 resmi menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Lagi-lagi, tak ada nama beliau di nomenklatur itu. Aa…sudahlah. Tapi, sedikit yang perlu dipikirkan sekarang adalah, upaya mengusulkan Prof Mahmud Yunus sebagai pahlawan nasional. Semasa hidupnya, sejak sebelum kemerdekaan, beliau sudah berkecimpung dalam dunia pergerakan dan pendidikan. Sebagai ulama, ia ikut aktif berjuang bersama Majelis Islam Tinggi (MIT) Minangkabau. Semasa Jepang beliau ikut mendorong bahkan merekrut pemuda-pemuda agar ikut pelatihan militer melalui Gyugun. Berkat usaha beliau pulalah kiranya, semangat bertempur bujang-bujang Minang yang pudur setelah Perang Padri dan rentetan Perang Belasting di beberapa wilayah Minangkabau kembali bangkit. Di bidang pendidikan apalagi. Betapa gigihnya beliau mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar memasukkan pelajaran agama ke sekolah umum milik pemerintah. Apa pesannya? Jelas agar pendidikan agama Islam ini harus menjadi urusan pemerintah. Itu pulalah sebabnya, setelah kemerdekaan, beliau terlihat concern dalam bidang pendidikan. Beliau yang malang melintang sebagai birokrat pendidikan, begitu serius membidani lahirnya lembaga pendidikan Islam modern, tentu saja untuk mempertinggi derjat sumber daya manusia Indonesia. Pantas pulalah memikirkan tempat yang layak untuk beliau dalam sejarah nasional Indonesia, yaitu dalam daftar pahlawan nasional Indonesia. ==== Hampir saja lupa kita tentang Tuanku Imam Bonjol yang kita bentang di awal tulisan ini. Sesuai judul, bagian terbesar tulisan ini tentunya mesti bercerita tentang sosok beliau. Kita-kita yang mengenyam pendidikandi IAIN-UIN Imam Bonjol , terutama adik-adik dan generasi di bawah saya mestinya mengenal beliau dengan baik dan mengambil pelajaran-pelajaran yang bermakna bagi kita sendiri. Apalagi jika dicari relevansi sosok dan perjuangan beliau dengan dunia pendidikan. FYI, sejauh yang saya amati, kesalahan paling sering dalam penulisan (typo) yang saya temui adalah menulis kata Bonjol dengan kata "Bpnjol." Betapa naif dan tak awasnya kita. Sebagai pembuka wacana, tak ada salahnya meangabstraksikan hidup beliau dalam dunia pendidikan. Beliau mengawali hidup dari dunia pendidikan dan pengajaran selama kurang lebih 28 tahun, dan sekitar 27 tahun sisa usianya di pengasingan (Padang, Cianjur, Ambon dan Manado) juga dihabiskan dengan dunia pengajaran. Penjumlahan usia pengabdian beliau dalam dunia pendidikan ini, tentunya tak kalah mentereng dari perjuangan bersenjata beliau sebagai panglima perang yang membangkrutkan pemerintah Belanda selama Revolusi Padri. Beliau berkata, "semakin banyak ilmu yang dituntut, akan semakin banyak pula tampak yang tidak patut. Semakin banyak pengalaman seseorang, akan semakin banyak pula terlihat kepincangan. Untuk itulah guna ilmu, untuk berjuang." Itulah pesan beliau kepada pangikutnya. Apa yang kita perbuat sesungguhnya tidak ada yang patut dipuji, termasuk perang2 ini. Karena berapa benarlah hebatnya buatan (karya) manusia, apalagi jika bersamanya ada kemudharatan. Karena itu, kerja sebenarnya adalah mengurang-ngurangi kemudaratan itu. Itu yang berat. Termenung-menung kita membaca pesan-pesan itu. Apalagi melihat fenomena dunia kecendekiaan belakangan ini. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin berterima dia dengan ketidakpatutan. Semakin banyak pengalamannya, bukannya semakin nyalang matanya melihat kepincangan, justru sensitifitasnya makin hilang. Ilmu dan pengalaman tak lebih sebagai alat tukar untuk bersenang-senang. Entahlah, kalau itu dalam pengamatan saya saja. #TuankuImamBonjol (bersambung, kalau takana)

28 October 2020

Drama Penangkapan Tuanku Imam Bonjol

Oleh Muhammad Nasir

Suatu malam, 25 Oktober 1837. Tuanku Imam Bonjol dijemput oleh seorang Jaksa utusan Kapiten Steinmis dari Bukittinggi. “Adapun saya disuruh oleh Tuan Besar (Residen Francis) untuk membawa Tuanku ke Bukittinggi. Tuan Besar  ingin bertemu Tuanku sebab beliau tahu Tuanku ada di sini (Palupuah), “kata utusan itu.

 

Tuanku Imam Bonjol menyanggupi. Setelah perjamuan, Tuanku Imam berangkat ke Bukittinggi diiringi serdadu Kompeni. Sesampai di Bukittinggi, Tuan Besar Francis berkata, “Sekarang Tuanku tak boleh pulang ke Bonjol, melainkan tinggal di Luhak Agam ini saja.”

 

Tuanku Imam menolak. Beliau minta pulang ke Bonjol. Tetapi si Tuan Besar itu berkata, “Tuanku tinggal di Bukittinggi saja. Di mana Kapiten Steinmis diam, di situ Tuanku diam. Di sini Tuanku dapat belanja dan sebab Tuanku sudah tua, boleh tinggal di dalam surau dan mengaji. Perempuan (istri) Tuanku jika mau boleh ikut ke mari,” bujuk Tuan Besar. Tapi jika Tuanku tidak suka boleh diam di dalam negeri (Bonjol) saja.


 

Pada pertemuan itu juga ada Regen Batipuah Datuk Pamuncak. Ia menolak jika Tuanku Imam tinggal di Bukittinggi. Ia sepertinya ingin Tuanku Imam dibang jauh. “Jika perkataan saya ini berguna bagi kompeni, saya berpendapat jika Tuanku masih ada di Tanah Darek ini, Kompeni tak akan bisa tenang,” kata Datuk Pamuncak, kolega kompeni dari kaum adat yang memerangi Padri. Sepertinya, tuan besar tak berkenan dengan ucapan regen Batipuh itu. Ia mendelik ke arah regen dan kemudian pembicaraan terhenti.

 

3 hari sudah Tuanku di Bukittinggi. Drama berlanjut. Setelah sembahyang Isya, terjadi insiden. Bagindo Tan Labiah pengikut Tuanku Imam keluar hendah buang air. Namun saat menuju ke tempat buang air, ia ditangkap dengan todongan piarit (tombak) dan diikat. Begitu pula Bagindo Putiah. Melihat hal ini, Tuanku Imam marah dan mencabut pedangnya.

 

Sebelum terjadi keributan, tiba-tiba Tuanku nan Panjang (?) datang dan berkata “Tuanku dipanggil tuan besar masuk ke rumah.” Tuanku pun menyarungkan pedangnya dan menuju ke rumah. Di sana ada Kapiten Steinmis dan Letnan Arbacht. Tak ada Tuan Besar Residen Francis di rumah itu.

 

Keduanya mengatakan bahwa di sini (di Bukittinggi) tidak mungkin dapat berunding. Lebih baik Tuanku bicara dengan Tuan Besar di Padang, kata mereka. Mendengar hal itu, semakin naik amarah Tuanku Imam. Ia berkata: “Jika kompeni ingin membinasakan (membunuh) saya, sebaiknya di sini saja. Tak ada gunanya ke Padang lagi!” kata Tuanku Imam.

 

Lalu, Letnan Arbacht menjawab: “Tidak. Saya bersumpah kepada hari malam dan kepada lampu yang hidup ini, Tuanku tak akan dibinasakan. Tidak berkicuh kami pada Tuanku.” Sebab Tuanku diminta ke Padang, Tuan Residen mendadak berangkat ke Padang karena ada urusan mendadak.

 

“Baiklah. Jika saya ke Padang, siapa yang mengantar saya?” tanya Tuanku Imam.

 

“Saya yang mengantarkan. Tapi tak sampai ke Padang.”  Jawab Letnan Arbacht.

 

“Baiklah. Malam ini juga saya berangkat!” kata Tuanku Imam.

 

Malam itu juga beliau berangkat dengan ditandu oleh orang kuli suruhan kompeni. Letnan Arbacht menjadi kepala rombongan itu. Dalam perjalanan itu beliau sama sekali tak boleh berjalan sendiri, melangkahkan kakinya sendir walau hanya selangkah. Beliau dikawal ketat oleh serdadu kompeni dan orang Batipuah anak buah Datuk Pamuncak.

 

Pukul sebelas malam sampai di Padang Panjang. Letnan Arbacht kembali ke Bukittinggi dan  menyerahkan pimpinan rombongan pengantar kepada kapiten dari Padang Panjang. Sampai di Kayu Tanam pimpinan rombongan berganti lagi. Pukul dua belas malam berhenti di Kiambang untuk makan.

 

Karena ditandu gerak beliau tak leluasa. Bahkan beliau sempat marah ketika waktu subuh tiba ia tak sepertinya tak diizinkan untuk shalat. “Jikalau tak boleh bersembahyang apa gunanya hidup. Lebib baik mati!” kata beliau mengardik rombongan yang mengawalnya.

 

Perjalanan ke Padang memakan waktu2 malam. Pukul 12 siang  keesokan harinya belia sampai di Padang. Sampai di Padang beliau diturunkan dari tandu dan dijemput denga kuda. Keadaan semakin tak menentu sebagaimana diceritakan oleh putranya Na’ali Sutan Caniago.

 

“Mancareteh kuda melarikan sampai di Kualo. Tibo di situ terhibalah hati anyo lai. Karena sikoci sudah menanti di kuala. Mayor kompeni segera menyuruh Tuanku Imam naik ke atas sikoci. Beliau diiringi oleh kemanakannya Sutan Saidi dan Durahap serta pengiringnya Bagindo Tan Labiah.

 

Beliau berempat di atas sikoci, sikoci tak boleh lagi ditahan, segera meluncur menuju Pulau Pisang. Di sana sudah menunggu sebuah kapal. Dalam hati Tuanku Imam sudah berdetak bahwa badan akan dibawa ke seberang lautan. Negeri di lembah Alahan Panjang tidak akan lagi terjelang.

 

Tuan besar Francis tak kunjung datang. Maka Tuanku Imam terpaksa bermalam di kapal itu. Kapal layar tiang tiga sungkup. Baru tengah hari keesokan harinya Residen Francis tiba di kapal dari Padang.

 

“Bagaimana lagi sekarang Tuanku. Tuanku terpaksa harus ke Betawi. Tempo hari di Bukittinggi tuan tidak mau bicara dengan saya,” kata residen Francis.  

 

Mendengar kata Residen Francis ini, marahlah Tuanku Imam Bonjol. Air ludahnya jatuh ke dalam menahan ragam.

 

“Saya datang ke Bukittinggi kemudian sampai di Padang ini karena memenuhi surat tuan. Itupun saya sudah bertemu langsung dengan tuan. Andaipun tak ada surat itu, saya juga pasti akan menemui tuan, kata Tuanku Imam. Itu makanya saya tahan amarah dan saya ikuti perkataan tuan Steinmis. Sekarang tuan tidak mau menerima. Sungguh mengecewakan!” Dengan kecewa bercampur marah ia melanjutkan kata-katanya.

 

“Baiklah. Apa boleh buat. Sudah berkicuh malah itu tuan kepada saya!” sergah Tuanku Imam.

 

Residen Francis menjawab; “Sebab Tuanku dipegang oleh orang menang perang, sekarang Tuanku turut dulu ke Betawi. Boleh dan mengadu kepada Tuan Besar di Betawi. Kalau tuhan Allah punya kasihan, hiba tuan besar melihat Tuanku dan Tuanku boleh pulang kembali.”

-

Kapal pun belayar menuju Betawi. Perjalanan pembuangan yang penuh tipu-tipu berlanjut. Cerita pembuangan Tuanku Imam Bonjol ini membuat air mata jatuh ke dalam.

 

Catatan:

Diceritakan oleh Na’ali Sutan Caniago, putra Tuanku Imam Bonjol

Sjafnir Aboe Nain, Naskah Tuanku Imam Bonjol, Padang: PPIM, 2005