Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

15 May 2026

Membaca RSK di Pagi Ini

Oleh: Muhammad Nasir


Apa jadinya jika manusia modern masih rajin mendengar suara azan dari mushalla, tetapi tidak lagi mampu mendengar suara burung yang hilang dari hutan, bunyi sungai yang rusak, dan jerit ekosistem yang perlahan dihancurkan?



Disclaimer: tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan surau, apalagi merendahkan tradisi religius yang hidup di dalamnya. Ia justru berangkat dari keseriusan untuk meminjam logika berpikir A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami (RSK): sebuah cara pandang yang menguji kesalehan bukan hanya dari ritual, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan relasi manusia dengan alam. Dengan kata lain, yang dibicarakan di sini bukan “surau sebagai tempat”, melainkan surau sebagai "ruang berpikir" tentang tanggung jawab.

13 June 2025

Papan Bunga untuk Pak Saridjo

 Muhammad Nasir


Masih terngiang-ngiang di sepanjang jalan percakapan orang-orang di rumah Pak David tadi. Antara ingin ketawa atau mendongkol aku. Ketawa, karena memang itu pantas untuk bahan tertawaan. Mendongkol karena itulah kenyataan yang harus kuhadapi: bekerja total demi penghasilan pada orang yang sebenarnya tidak benar-benar aku senangi. Bukan karena ia buruk, tetapi karena terlalu sulit berakrab-akrab dengannya. 

Hanya karena itu adalah mata air yang harus kujaga, agar kehidupan keluargaku terus berlanjut.

Pak Saridjo bukan orang baru dalam dunia kekuasaan. Ia memulai karier sebagai kepala seksi bidang pertanian di kantor kecamatan, lalu naik perlahan menjadi camat, kepala dinas, hingga dua periode menjadi anggota DPRD kabupaten. 

Meski tak pernah terlalu menonjol, ia dikenal rajin hadir dalam rapat dan pandai berbaur dengan siapa saja. Rekam jejaknya bersih, atau setidaknya, tak tercemar secara resmi. Namanya lumayan harum di kalangan generasi tua yang masih percaya pada idealisme awal reformasi.

"Mengapa Pak Saridjo masih ingin menjabat?"

"Mungkin karena ia butuh papan bunga yang banyak di hari kematiannya!"

17 May 2025

TIKUS KOTA

Cerpen Muhammad Nasir


"Selain dikenal sebagai aktivis, ia juga dikenal sebagai seorang rakus. Tapi, saya melihat aktivismenya itu karena kerakusan, seperti aktifnya hewan nocturnal di malam hari," ujarnya.

Kalimat itu diucapkan lelaki pemilik lapau kopi di pinggiran Banjir Kanal. Senja mulai turun dan aroma kopi hitamnya mengalahkan bau anyir sungai. Sore itu, seperti sore-sore lainnya di kota ini, terasa berat dan lengang. Udara terasa diam, seperti menyimpan perasaannya sendiri.

Aku datang ke tempat itu bukan karena ingin bertemu siapa pun. Justru sebaliknya, aku sedang ingin lari. Dari seseorang, dari kenyataan, dan dari diriku sendiri yang sedang limbung antara idealisme dan hidup yang tak kunjung menentu.

Gaji sebagai jurnalis media online lokal tidak cukup untuk membiayai rencana kuliah S2 yang sudah lama kupendam. Aku sudah mencoba mengatur, menabung, bahkan mencari-cari beasiswa yang tak kunjung berpihak. Di tengah kegundahan itu, aku teringat pada seseorang. Dulu, dia pernah berkata dengan nada nyinyir, tapi cukup untuk kutangkap maknanya:

 “Kalau kau jadi S2, temui aku.”

Itu kalimat yang belakangan terngiang di alam pikiranku. Bagiku, kalimat itu tak hanya berarti sebuah sapaan masa depan. Tapi juga janji diam-diam, semacam kode bahwa jika aku berhasil mencapai titik itu, maka ia akan ada di sana untuk menolong. Mungkin membantu biaya kuliah, mungkin mendampingi langkah.

31 December 2024

Pemilihan Kepala Jaga Neraka

Cerpen Muhammad Nasir


“Aku tak percaya Arthas maju,” kata Ghory, sambil meluruskan tanduknya yang bengkok. “Ia bahkan tak bisa menjaga barak utara tanpa membuat kekacauan!”

 “Setidaknya Arthas tegas,” sahut Reksa. “Bandingkan dengan Ballot, yang lebih sibuk membangun citra daripada bekerja. Setiap keputusan selalu dia tunda hanya untuk membuat survei!”

 “Aku lebih khawatir pada Buyung Oke,” sela Saitoni, yang biasanya pendiam. “Dia bilang ingin reformasi. Tapi reformasi apa? Memasang pendingin ruangan di sini?”

 “Hahahaha…”

 Tawa sinis meledak di antara mereka, meski beberapa wajah tampak khawatir. Pemilihan kali ini dianggap penting karena Kepala Penjaga Neraka yang baru akan memegang kendali ribuan tahun ke depan. Atau malah lebih, tergantung kemauan Lucifer.

 

10 September 2024

Di Bawah Kuasa Neraka

 Muhammad Nasir

 

Bias bara api neraka semakin menyala. Bertingkah dengan suara jeritan samar di kejauhan. Dinding neraka menanyangkan baya-bayang dua sosok hitam bergoyang-goyang. Tetapi pemilik bayangan itu, satunya berwajah garang dengan kulit merah menyala dan tanduk melengkung ke belakang. Mirip dengan sosok yang digambar oleh buku siksa neraka yang pupoler tahun 1980-1990an. Dialah Zaalfash, kepala neraka. Ia telah memimpin ribuan jiwa menuju siksaan abadi selama ribuan tahun.

Di hadapannya, seorang pria tua. Duduk santai menyilanhgkan tangan di dada. Ia tampak tenang namun penuh perhitungan dan berbahaya. Mantan Kepala Biro Politik Partai Keranjang Kuning, Tuan Dr. (HC). Anantakana. Mereka berdua duduk di meja panjang yang dikelilingi kobaran api.

Sepertinya kedua sosok itu sedang berpikir, atau mungkin juga sedang berdebat panas. Saya yang sedang jalan-jalan pagi di surga mengintip mereka dari celah rimbunan semak firdaus  yang wangi dan lembut. Saya sepertinya hanya mendengar potongan percakapan mereka di pertengahan saja. Entah sejak kapan dan apa asal mulanya.

 

10 October 2023

Percakapan Yang Meresahkan Dunia

Oleh Muhammad Nasir

Pagi-pagi sekali, kabut asap sudah menyungkup kota. Memeluk erat-erat warga agar tetap bertahan dalam kemalasan. Berdiam dalam rumah dan bilik pribadi sekiranya lebih aman dari pada menghisap jerebu yang menyesakkan dada. Kabut asap dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, kata orang ahli. 

Engku Emir el Majanin sepagi itu sudah bersiap-siap. Memilih baju paling pantas untuk berpikir santuy. Setelan sarung asli negeri Wakanda, baju kaos polos dan kemeja lengan pendek yang semua kancingnya sengaja dibuka. 

“Ini sekadar menutupi bahwa aku ini orang gila,” batin Engku Majanin. 

Setelah berkaca sepuasnya, Engku Majanin tersenyum tipis. Semakin lama gila, ia merasa semakin bersih dan cemerlang. Ia kemudian berjalan ke teras dan duduk menatap bukit yang berselendang kabut. 

 “Gawat Engku, semalam ada lagi orang gila yang masuk!” kata seorang pria kepada Engku Majanin. 

Engku Majanin menoleh sesaat kepada orang itu. Usai tersenyum tipis ia hanya menjawab, “Apakah yang engkau cemaskan? Bukankan ini adalah tempat bagi orang-orang gila?” 

“Benar Engku, aku baru sadar bahwa ini adalah rumah sakit jiwa,” jawab pria itu sambil terkekeh. 

“Engkau macam tak tahu saja. Orang yang baru gila biasanya memang begitu. Belagak, merasa sok paten, petantang petenteng. Aku yang sudah lama gila, biasa-biasa saja kok,” kata Engku Majanin 

 “Iya pula engku. Agaknya, orang baru kaya, baru berkuasa, baru berilmu dan baru beragama juga begitu. Merasa paling kaya, paling berkuasa, paling berilmu dan paling takwa. Hahaha…” 

“Husy…kemana pula perginya itu. Marah mereka nanti,” balas Engku Majanin. 

 “Tapi benar juga katamu, merasa paling gila itu memang meresahkan. Begitu juga merasa paling kaya, paling berkuasa, paling berilmu dan paling beragama.” Engku Majanin sepertinya sepakat dengan pendapat pria itu. 

 “Sepertinya engku, saya dapat membuat kesimpulan, bahwa kata kunci kegilaan itu adalah “merasa paling” dan “perbuatan meresahkan,” benar begitu engku?” pria itu meminta pendapat Engku Majanin. 

“Terserah kau lah, buyung. Aku mau minum obat dulu!” jawab Engku Majanin seadanya. 

Anda yang merasa waras pasti bisa bayangkan bagaimana suasana yang terbangun dalam percakapan itu. Bagaimana setting tempat yang pas dan apa properti yang tersedia di area teras percakapan itu. Bagi anda yang ingin membuat film pendek, bisa menggambarkan percakapan itu sifilmis mungkin. 

*** 

31 December 2020

Happy Ending

Happy Ending

Cerpen Muhammad Nasir


Sejak tiga tahun terakhir, libur di rumah nenek terasa panas. meskipun udara di kampung sangat-sangat dingin. Suasana mestinya hangat, sebab kawa daun buatan nenek yang kerap menjadi buah mimpi bilamana sampai di kampung biasanya dapat menjadi penghangat pagi yang basah embun.

Tahun ini ayah ingin cepat-cepat balik ke Medan. Sepertinya beliau tidak betah. Selama di rumah nenek, ayah hanya berdiam diri di kamar. Alasannya, udara sangat dingin. Bahkan ayah kulihat sering minta agar makanan atau kopi dibawa ke kamar saja. Jika terpaksa ke luar kamar, ayah hanya menggunakan sarung. Kadang seperti sengaja beliau membalut tubuhnya dengan baju hangat dan berlagak seperti orang kedinginan.

"Ayolah, selesaikan segala temu ramah. Yang penting-penting saja. Setelah itu berkemaslah. Besok pagi kita balik ke Medan," kata Ayah. 

Kami semua terdiam. Padahal itu baru hari ketiga. Kami belum selesai mengunjungi tempat-tempat indah yang diciptakan tuhan untuk desa ini. Belum sempat pula selfie-selfie.

05 December 2020

Yang Berbahagia Guru Jani

Yang Berbahagia Guru Jani 

Cerpen Muhammad Nasir

 

Bagi guru Jani, memancing adalah pekerjaan ekslusif yang tak disukai sebagian orang. Terutama orang-orang terdekatnya. Padahal, sebagaimana sebutannya pekerjaan guru yang disandangnya juga tak disukai oleh orang-orang tertentu. Yaitu orang-orang tertentu di sekitar kerabatnya juga. Nantilah alasannya kita jelaskan.

Tak ada yang tahu nama aslinya. Menurut Lelek, juru parkir Pasar Gaung, orang-orang sudah memanggilnya begitu sejak tiga tahun yang lalu. Sejak ia menjadi juru parkir di pasar itu. Dia pun tahu nama orang itu Guru Jani karena para pemancing yang kerap mampir membeli umpan atau perangkat memancing mengenali sepeda motornya.

“Sudah tiba Guru Jani rupanya,” kata seorang pemancing.

“Mana?” tanya pemancing lain  

“Itu, sepeda motornya,” jawab orang yang pertama tadi.

Lelek, juru parkir itu menguping dengan jelas percakapan dua orang tersebut. Awalnya ia tidak peduli. Namun seiring jalannya waktu, sejalan dengan kusamnya rompi juru parkir oren yang dipakainya, ia jadi hafal wajah Guru Jani. Hafal juga kendaraan sekaligus plat nomornya. Apalagi plat nomor itu sepertinya sudah mati pajak.

Di belakang Pasar Gaung ada pagar tembok bolong. Pagar itu dibuat dari batako yang diplester semen ala kadarnya. Sejak suatu masa yang entah kapan, tembok itu berlobang. Lelek sang juru parkir ikut andil menambah besar lobang itu. Karena batakonya terbuat dari bahan yang rapuh, Lelek tanpa sengaja sering mengupil-upil lobang itu dan meremas-remas pecahan batako itu menjadi serpihan pasir. Saya sering ingatkan Lelek agar jangan terus mengupil tembok itu.  

“Begitulah nasib kita. Seperti pecahan batako yang rapuh dan mudah diremas menjadi pasir, guru” kata Lelek berfilsafat. Ia juga memanggilku dengan sebutan guru.

Akhirnya Lelek sang juru parkir itu berteman dengan Guru Jani. Pertemanan mereka sangat erat. Bila tak bersua, mereka saling merindu. Bila berjumpa mereka mengopi sambil tertawa-tawa. Setidaknya itulah yang aku lihat. Guru Jani terlihat bahagia. Lelek pun terlihat gembira. Kedua laki-laki paruh baya itu benar-benar berteman melebih saudara.

Sebagian besar informasi tentang Guru Jani memang aku dapatkan dari Lelek. Pria perantauan asal Jawa yang hidup menduda. Lalu apa pula pentingnya Guru Jani itu kita ceritakan?

Begini saudara. Guru Jani benar-benar seorang guru. Hidupnya memang ditopang dengan gaji yang diberikan oleh sekolah tempat ia mengajar.

Eh, mengapa dari sekolah? Tidak dari Pemerintah? Ah, jangan pura-pura bego begitulah sahabat. Jika bukan guru honor, pastilah ia guru di sekolah swasta. Jelaslah ia digaji oleh sekolah.

Melihat penampilannya sehari-hari, gajinya pasti tidak besar. Mukanya terlihat lelah dan matanya acap terlihat merah. Boleh dikata mukanya terlihat lebih tua dari usianya. Begitu juga sepeda motornya. Berdasarkan informasi dari internet, kendaraannya itu keluaran tahun 1984. Ia beli tahun 1996 secara kontan. Tentu saja setelah melewati tangan ke sekian. Kata Lelek juru Parkir yang juga pernah main ke rumah Guru Jani, hanya itulah sastu-satunya kendaraan yang ia punya.

***

Hampir satu tahun aku tak ikut memancing di spot belakang pasar itu. Belakangan, spot mancing yang berdekatan dengan pelabuhan Teluk Bayur itu terlihat sibuk. Truk-truk besar pengangkut material bangunan lalu lalang saban waktu. Suasana memancing agak terganggu. Di antara mandor dan pengawas proyek ada yang over acting. Melarang ini dan itu, sehingga di antara penghobi mancing ada yang merasa tak nyaman.

Ada juga di antara buruh itu yang ikut nimbrung. Duduk bersama-sama para pemancing saat rehat dari pekerjaannya. Ada yang hobi bercerita. Ada yang hobi menanya-nanya, lalu mengutip sebatang rokok.

"Kok stang ndan!" katanya

Yang paling menyebalkan, ada yang suka mendikte, mengajar cara memancing yang baik dan menganjur umpan yang cocok untuk memancing di pantai yang landai. Sementara ia sepertinya sama sekali tak hobi mancing.

Karena alasan-alasan di atas, aku memutuskan tak akan memancing sementara waktu di lokasi itu. Aku pindah ke lokasi yang lain. Menurut Lelek, Guru Jani juga hampir setahun tak memancing di situ. Tetapi, selama waktu itu, ia tetap berkunjung ke pondok kecil tempat Lelek duduk-duduk.

“Guru Jani masih sering ke sini. Hampir setiap hari,” kata Lelek kepadaku.

Katanya, Guru Jani memang jarang memancing selama setahun itu. Ia tetap membawa joran. Tetapi waktunya habis bermain domino di kedai kopi, dekat lokasi parkir Pasar Gaung.

“Sore datang ke sini. Nanti, habis maghrib dia batru pulang ke rumahnya,” terang Lelek. Kadang-kadang, bila hari libur, Guru Jani biasa nongkrong di pasar dari pagi sampai sore.

Hari itu, nasib baik aku bertemu Guru Jani. Kami memancing di lokasi yang dulu. Sekarang tempatnya terlihat bersih. Sampah mulai jarang terlihat. Biasanya, lokasi ini penuh sampah. Kalau tidak sampah plastik, ya pembalut bekas.

Kali ini wajah Guru Jani terlihat cerah. Kulitnya sedikit berwarna dan bersih. Makanya saya bertanya sambil bersoloroh.

“Hari ini Pak Guru terlihat ganteng,” kataku membuka percakapan.

Guru Jani terkekeh-kekeh. Ia tak segera memberi jawaban. Sambil menyimpul kail ia terlihat berpikir-pikir. Jawaban seperti apa yang mesti ia berikan. Akhirnya setelah selesai mengikat mata kail dan menggigit ujung benang yang terjulur di pangkalnya, ia menjawab juga.

“Hehe… iya. Akhir-akhir ini saya memang bahagia,” jawabnya gembira.

“Apa Pak Guru masih mengajar?” tanyaku

“Masih. Insya Allah sampai dua tahun ke depan saya akan tetap mengajar. Kalau masih hidup!” jawabnya santai.

“Mengapa dua tahun lagi?” tanyaku kembali

“Begitulah perjanjian kami.” jawabnya

“Kami?”

“Ya, aku dan anak perempuanku,” terang Guru Jani seraya melontar kail yang sudah terpasang umpan ke punggung ombak yang kembali ke tengah.

Guru Jani lalu bercerita panjang. Hidupnya sudah mulai senang dan tenang. Tahun ini merupakan tahun penuh bunga. Bunga-bunga di tamannya sudah mulai mekar. Belasan kumbang sudah sering datang ke taman rumahnya yang kusam. Dua ekor kumbang sepertinya beruntung besar. 

“Putri kembarku sekarang sudah berumah tangga. Mereka mendapatkan suami yang baik dan berpunya,” kata Guru Jani

“Wah, selamat Pak Guru,” kataku ikut bahagia. Meskipun aku sama sekali tak mengenal putri kembarnya, ada terselip rasa bahagia. Bukan karena putri kembarnya yang sudah berumah tangga aku bahagia. Tapi karena kebahagiaan yang terpancar di muka Guru Jani itu.

Terus terang, selama mengenal Guru Jani, aku menaruh rasa iba kepadanya. Terutama bila ia bercerita tentang keadaan hidupnya. Tentang rumah dan lingkungannya yang gaduh. Katanya ia tinggal kawasan padat di seberang Padang. Tinggal di rumah pusaka istrinya. Karena rumah itu rumah pusaka, kerabat-kerabat istrinya sering singgah di rumah itu. Bahkan hingga berlama-lama. Kadang-kadang rumah itu juga ramai karena pertengkaran sesama anggota keluarga. Ia bercerita apa adanya. Tak ada keluhan dan tak ada penyesalan. Keadaan inilah yang membawanya menjadi pemancing. Mengulur-ulur benang di atas gelombang. Nasib baik bila umpan disambar ikan.

“Lebih baik pergi memancing. Daripada mendengar omelan orang tentang dapur yang tiris atau lantai yang retak. Apalah daya guru honor, tamat SPG, tak sanggup kita memperbaikinya,” kenang Guru Jani terkekeh-kekeh.

“Apalagi bila melihat putri kembarku. Sejak tamat kuliah, hatiku selalu berdebar-debar. Tidak semata memikirkan calon suaminya, tapi tentang biaya perhelatan mereka andai jodohnya tiba.” Guru Jani kembali memasang umpan dan melontarkannya melampaui gulungan ombak petang.    

“Memancing saja kerja bapakmu. Tak terpikir kacang sudah minta junjung,” kata Guru Jani entah pada siapa. Tetapi sepertinya ia sedang mengulang-ulang kata-kata orang.

Jadi, memanglah bagi Guru Jani, kegiatan memancing ini menjadi pelarian. Di rumah istrinya ia hanya mampu menebalkan muka dan memekak-mekakkan telinga. Begitu pengakuannya.

“Ya, begitulah jika tinggal di rumah pusaka,“ kata Guru Jani tanpa beban.     

Guru Jani mengeluarkan telepon genggam dari kantong celananya. Setelah memainkan papan ketik beberapa saat, ia menunjukkan beberapa foto.

“Cantik sekali…” kataku bergumam, setengah sadar, tapi lillahi ta’ala, gumamku itu sangat tulus.

Guru Jani melirikku. Lalu kami tertawa bersama-sama.

“Hahaha…hahaha…!”

“Mereka sudah bersuami sekarang,” kata Guru Jani lirih. Ia bercerita, kedua putri kembarnya itu sama-sama berprofesi sebagai guru. Yang satu yang dipanggil Adek sudah PNS yang satu lagi si Kakak belum. Tetapi si kakak juga sudah mengajar. Namun suami mereka sama-sama PNS. Salah seorang menantunya itu adalah bekas muridnya. Mereka bertemu saat pelatihan pra jabatan. Bekas muridnya itu lalu melamar putrinya yang PNS. Lalu putrinya yang PNS itu mengajukan persyaratan, dia bersedia menerima lamaran, jika pria itu mau mencarikan calon suami untuk kakaknya. Deal, tak beberapa lama lelaki itu membawa temannya yang juga guru PNS untuk calon suami kakak kembarnya.

“Mereka itu gadis-gadis yang malang. Tak tersentuh bedak dan lipstik. Bahkan baju-baju mereka tak beberapa kali terganti olehku. Kusam dan tak menarik. Untunglah mereka anak-anak yang baik dan tak banyak pinta,” tutur Guru Jani.

“Ajaibnya, begitu memakai baju seragam guru yang sejatinya sederhana, aura kecantikan mereka keluar. Itulah kegembiraan pertama yang kurasakan.” Mata Guru Jani terlihat berbinar-binar. Bertingkah dengan kemilau ombak yang ditimpa lembayung sore.

“Ya, sekarang saya paham, mengapa Pak Guru begitu bahagia,” timpalku.

“Yaa, begitulah. Nasib baik memang membayang ke muka. Aku sendiri merasakannya,” kata Guru Jani. Seekor belanak jantan melayang di atas air. Sambarannya menggetarkan ujung joran Guru Jani. Sejenak Guru Jani menikmati sesansi yang tak dapat dibeli itu. Selepas lontaran umpan kesekian, Guru Jani kembali bicara.

“Sayang sekali. Kedua menantuku itu tak suka memancing!” katanya datar. Tapi bibirnya kulihat mengulum senyum. Saya merasa ada sesuatu yang ganjil sedang menyudu-nyudu hatiku. Sampai akhirnya ia menoleh ke arahku. Matanya mengembang dan senyumnya mengembang lebar. 

“Hahaha…hahaha..!”

Kami kembali tertawa lepas bersama-sama, dan entah siapa yang memulai, akhirnya… “Tosssss…!” kami saling pelontar tepukan hangat di udara senja.

“Kalera!” ujarnya pelan setelah tawanya mereda.

Ternyata  apa yang dikatakan Lelek waktu itu, sungguh benar adanya.  Senja itu, Guru Jani pulang dengan hati lega.

***

Pasa Gauang, 2012 (edit, 2020)



22 November 2020

Cerita Bang Covid Sejenak Setelah Kematiannya

Cerita Bang Covid Sejenak Setelah Kematiannya

Cerpen Muhammad Nasir

 

Jam 23.50 WIB jelang tengah malam rumahku diketuk seseorang. Aku belum tidur. Sejak isya tadi aku masih asyik menggerayangi layar sentuh handphoneku.  Dari balik jendela kuintip, rupanya ada bujang tanggung berusia limabelas tahun.  Selepas pintu rumahku terkuak, kulihat wajahnya ragu-ragu. Sepertinya ia ingin bicara, tapi tak tahu apa yang ingin ia bicarakan. Sebab ia terpana saja menatap mataku. Baiklah, aku saja yang akan bertanya.

“Ada apa, Dodo Armando?” sapaku perlahan.

Buyung atung itu bernama Dodo Armando anak tetanggaku Covid Coperfield. Meskipun sudah aku tanya, ia belum menjawab juga. Ia masih terlihat ragu-ragu apa yang akan ia katakan. Matanya sebentar-sebentar melihat ke rumahnya, dua petak rumah jaraknya dari rumahku. Kemudian ia kembali menatapku. Kali ini ia menggaruk-garuk alis mata kirinya.

“Ada apa denganmu Dodo? Ada perlu apa tengah malam begini?” kembali kuulangi pertanyaanku. Kali ini Dodo sudah siap dengan jawabannya.

“Ibuku menyuruh aku ke sini. Tapi... begini sajalah Om. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku berharap Om mau ke rumahku segera,” jawab Dodo.

Dodo lega setelah berhasil berkata-kata. Namun setelah berkata, ia terlihat gelisah. Aku paham. Pasti ada yang penting. Aku tak ingin membayangkan sesuati yang tak jelas. Akhirnya kukabulkan permintaan Dodo dengan mengangguk berulang-ulang. Dodok kusuruh saja pulang segera,

“Ya, ya, ya. Baiklah Dodo. Kau pulanglah duluan. Om akan segera ke rumahmu.

Aku bergegas ke dalam rumah. Segera ku loloskan sarungku dan menggantinya dengan celana panjang. Ku raih handphone ku, kubawa serta ke rumah Covid Coperfield. Dari pintu pagarku, ku lihat Dodo berdiri di pintu pagar rumahnya. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa aku akan segera datang ke rumahnya. Setelah aku terlihat berjalan ke rumahnya, ia segera masuk ke dalam rumah. Pintu ia biarkan terbuka lebar. Semua lampu di rumah itu terlihat menyala.

Dengan rasa penasaran aku segera masuk. Aku tak ingin menduga-duga. Di tengah rumah terlihat Dodo dan dua adiknya termenung bersama-sama. Wajah mereka terlihat cemas dan tegang.

“Ibu di dalam bersama ayah. Ibu terlihat menangis Om,” kata Dodo.

“Hmm... ada apa?” tanyaku

“Om, masuk saja. Kamar itu, yang pintunya terbuka,” tunjuk Dodo

Aku segera menuju kamar yang ditunjuk Dodo. Sedikit sungkan, kuarahkan langkahku ke kamar itu. Terlihat Vida alias Siti Covida Lara, istri Covid menangis tersedu-sedu. Ia melihat kehadiranku dan memintaku segera masuk ke kamarnya.

“Bang, Long. Masuklah. Ini... ini Bang Covid. Lihatlah!” katanya dengan cemas.

Aku segera masuk ke kamar itu. Covid terlihat terbaring. Matanya setengah terbuka. Tangannya menggenggam erat handphone miliknya.

“Apa yang terjadi Vida?” tanyaku.

“Bang Covid tadi sesak napas. Aku tak tahu, sebab aku di ruang tengah bersama anak-anak. Tiba-tiba aku dengar ia menyebut-nyebut nama Bang Long. Bang Long... bang Long... panggilkan bang Looong! Aku terkejut dan segera berlari ke kamar. Aku lihat dia tersengal-sengal. Makanya ku suruh saja Dodo menjemput abang,” katanya

“Baiklah, aku jemput mobil dulu,” kataku.

“Tidak Bang. Pakai mobil kami saja!” Vida mengangsur kontak  mobil ke tanganku.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, aku telpon dokter Reyhan, tetangga kami yang tinggal di Blok F7. Mana tahu ia tidak dinas malam. Tak menunggu lama, dokter Reyhan tiba di rumah Vida. Syukurlah, ia ada di rumah.

Inna Lillahi. Bang Covid sudah pergi, Vida!” ucap dokter Reyhan lirih.

Vida meraung keras. Ia memanggil nama Covid berulang-ulang. Ketiga anaknya ikut masuk ke kamar. Mereka semua bertangis-tangisan.

“Bang, Long. Tak usahlah ke rumah sakit. Bang Covid sudah tiada. Kecuali Kak Vida ingin memastikan sebab kepergiannya. Minimal visum.” kata dokter Rehan sambil melirik Vida.

“Bang Long, bantulah menutup matanya,” kata dokter Reyhan.

Sambil membaca do’a, akupun segera mengusap mata Bang Covid. Sekali usap, belum juga mengatup. Kubaca lagi do’a itu. Belum juga. Tiga, empat hingga kali ketujuh barulah mata itu terkatup sebelah kanan. Aku berdebar-debar. Tadinya, setiap aku usap, ia seperti mendelik ke arahku. Sekarang yang sebelah kiri menutup sedikit, seperti mengintip ke arahku. Segera aku berpaling dan keluar dari kamar.

“Sebaiknya, kita panggil tetangga yang lain. Bang Covid sebaiknya kita baringkan di tengah rumah,” kataku untuk menghilangkan kegugupanku usai berjuang menutup mata Bang Covid. Aku segera menuju halaman, menelpon beberapa orang tetangga.

Malam itu juga, rumah Bang Covid menjadi ramai. Para tetangga yang masih terjaga segera berdatangan. Begitupula yang sebelumnya sudah tertidur. Sebagiannya berjaga-jaga di teras rumah. Sebagian lagi, terutama yang perempuan terlihat duduk bersama Vida yang masih sedu sedan.  Kadang terlihat ia menangis sambi mengangkat telpon genggamnya. Ibu-ibu terlihat memijit-mijit punggung Vida.

Tubuh Bang Covid sudah dibujurkan di tengah rumah. Beralas selembar kasur. Tubuhnya diselimuti beberapa lapis kain panjang, batik coklat tua. Berganti-gantian tamu yang datang malam itu menyingkap wajah Bang Covid.

Bang Covid sudah tiada. Tutup usia pada umur 45 tahun. Berakhirlah riwayat tokoh muda harapan bangsa itu. Seorang pengusaha muda yang baik hati, suka menolong. Ia juga politisi muda cemerlang yang sedikit narsis. Mungkin tidak sedikit, tapi benar-benar narsis.

***

Kamis pagi itu, cuaca terlihat mendung. Rumah Bang Covid mulai ramai. Beberapa blok jalan di komplek sudah mulai dikondisikan untuk parkir para pelayat. Sejak pagi, mobil-mobil pengantar papan bunga keluar masuk dan berpapasan dengan kendaraan para para pelayat. 

Sejak pintu gerbang komplek perumahan  sudah berjejer papan bunga ucapan duka cita. Papan bunga ketua partai politik yang dimasuki Covid dan papan bunga gubernur tepat di depan pintu pagar rumah Covid yang bagus. Jelang tengah hari, papan bunga itu sudah kuyup diguyur hujan tipis-tipis yang turun semenjak jam sembilan pagi.

Sebagai “orang berbaun” dan tokoh muda yang sedang naik daun, kematian Covid terlihat istimewa. Orang-orang tumpah ruah datang melayat. Menyatakan duka lalu pergi. 

Sebagian terlihat bercakap-cakap dengan gembira. Bukan mempercakapkan kematian Covid memang. Tapi sepertinya mereka sedang reuni atau temu bahagia antar sahabat yang lama tak jumpa. Jejeran papan bunga andai tak dibaca apa isinya terlihat seperti suasana pesta. Indah dan berwarna-warni. Rumah Covid tidak seperti rumah duka, namun seperti open house pejabat lebaran hari kedua.

Tengah hari, hujan turun dengan lebatnya. Gubernur yang tadinya ingin berpidato melepas kematian Covid sudah berlalu menjelang zuhur tiba. Tapi ia sudah meninggalkan beberapa pejabat propinsi untuk menyampaikan pidato gubernur, andai acara melepas jenazah jadi juga dilaksanakan. Sengaja ia panggil beberapa orang pejabat untuk mewakilinya. Berjaga-jaga, menjaga nama gubernur.

“Kalian atur saja, siapa yang akan memberi sambutan. Jika ada di antara kalian yang akan pergi, boleh-boleh saja. Tapi, satu di antara kalian tetap harus tinggal!” pesan gubernur kepada para pejabatnya itu. Pesan yang mengandung perintah disertai ancaman lewat tatapan mata.

Pukul dua hujan berhenti. Udara kembali cerah disinari matahari yang mulai membungkuk ke arah barat. Pemakaman berlangsung khidmat. Siti Covida Lara, istri tercintanya terlihat anggun dibalut busana hitam-hitam,  khas perempuan kaya yang sedang berduka. Matanya yang murung tertutupi oleh kacamata hitam lebar. Tanda-tamda kesedihan hanya dapat diduga dari hidungnya yang memerah. Berulangkali Vida mengusap-usap hidungnya dengan sapu tangan. Tangisnya kadang diisyaratkan dengan kedua bahunya yang berguncang-guncang.

Hari ini aku merasa lelah. Usai jenazah tertanam, aku bergegas pulang. Sejak malam aku tak sempat tidur. Hanya memicing-micingkan mata saja di kursi yang disediaan untuk pelayat. Tak banyak tamu agung  yang melayat mengenal dan menyapaku. Tapi aku harus tetap di sana sebagai tetangga yang baik. Bahkan keluarga dan kerabat Covd ataupun Vida sama sekali mengabaikan aku. Ya, sudahlah.

Kicau burung di area pemakan mulai kentara. Aroma dan suasana pemakaman umum mulai terasa. Aku berdebar-debar. Di belakangku, dua anak muda berjalan sambil berbincang-bincang.

“Enak sekali menjadi orang mati. Pidato di pemakaman tadi semuanya mengaku bersaksi bahwa Bang Covid orang baik,” kata salah seorang di antara mereka.

“Boleh jadi baik,” kata yang seorang lagi.

“Tapi aku tadi melihat di pohon kamboja raksasa itu, dua  orang malaikat tersenyum masam, duduk menjuntai sambil membolak-balik buku catatannya.” Anak muda yang pertama bicara tadi melanjutkan ucapannya.

“Husy... tak boleh begitu. Selagi masih di area pemakaman, derap sepatumu itu masih dapat didengar bang Covid. Apalagi ucapanmu itu!” kata yang seorang lagi menasehati. Entah benar-benar  menasehati entah tidak, ya entahlah.

Sesampai di rumah aku mandi, berwuduk dan langsung tertidur. Hidup ini memang misteri. Kematian adalah kejadian yang tak dapat disangka-sangka.

***

Sore itu, Covid Coperfield datang dengan wajah sendu. Aku sedang duduk di beranda depan. Minum kopi sambil membaca-baca pesan di akun whatsapp ku. Kemilau cahaya sore menimpa dedaunan yang masih basah. Langit kekuning-kuningan. Indah namun menyimpan aura yang aneh. Mendebarkan.

“Duduklah, Vid!” aku menggeser sebuah kursi ke arah Covid.

Covid segera duduk. Badannya yang terlihat lemas ia onggokkan begitu saja di atas kursi. Ia meremas-remas rambutnya dengan kedua tangan. Kemudian ia menyapu muka dengan kedua telapak tangannya. Ia melepaskan desahnya lewat hembusan nafasnya yang berat.

“Hhhh... kematian yang tak pernah kuduga bang.” Covid segera membuka suara. Mukanya tertunduk ke lantai. Ia terlihat seperti orang kalah. Pasrah meski tak terlihat seperti kecewa.

Aku kaget. Aku baru sadar bahwa Covid baru saja dikuburkan jelang Salat Ashar tadi. Tanganku dingin dan kaku. Antara percaya dan tak percaya. Namun, sambil menjemput kenyataan yang sebenarnya, aku coba menjaga perasaan Covid yang sedang kalut itu. Dengan hati-hati aku meberi respon.

“Benar, Vid. Kukira kau sudah meninggal tadi malam. Maaf, rasanya baru tadi kau dimakamkan.”

Covid masih menekurkan kepala. Sejenak ia terdiam. Akupun merasa serba tak menentu.

“Ya, abang tak perlu  minta maaf. Aku memang sudah mati. Tadi aku minta dikembalikan sejenak ke dunia. Aku perlu handphoneku dan aku hanya ingin menyaksikan apa yang terjadi setelah kematianku. Sepertinya orang itu adalah malaikat. Dua malaikat yang amat mirip dengan wajahku itu memandangku dengan aneh, kemudian mereka saling menatap. Salah seorang dari mereka berkata kepadaku...”

“Waktumu tak banyak. Kembalilah ke rumahmu. Setelah itu kamu akan segera terbaring lagi di sini,” kata malaikat itu.

Aku mendengar suara Covid seperti datang dari dunia yang jauh. Aku berkeringat dingin. Perkataannya berdenging-denging di telingaku.

Covid lalu bercerita panjang tentang apa yang diingatnya awal mula kematiannya. Mulai saat ia memanggil-manggil namaku saat sekarat. Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi. Pengakuannya, apakah ia dimandikan, dikafani atau dishalatkan ia tak tahu.

Kemudian ia mulai merasakan sesuatu yang aneh saat ia diusung di keranda kematian. Hatinya terasa kosong. Ia dapat melihat langit yang sangat luas. Semakin lama semakin luas hingga ia merasa hanya sebutir biji sawi. 

Mendadak ia menjadi sedih dan ia mulai menangis. Ia menangisi sesuatu yang ia sendiri tak paham. Menurut Covid, itulah kali pertama ia menangis seusai nyawanya dicabut.

Lalu ia melirik ke arah iring-iringan pengantar jenazah. Istri, anak-anak dan kerabat dekatnya dapat ia pandangi satu persatu. Wajah mereka terlihat sedih.  Beberapa di antara mereka berjalan berurai air mata.

“Untuk ini aku juga menangis. Tentu saja ada alasannya. Aku mencintai mereka. Berpisah dengan mereka tentulah sesuatu yang menyesakkan. Di sinilah aku menangis untuk kedua kalinya” kata Covid sambil menegadah ke arah langit. Ia sepertinya menggenangi bolamatanya dengan air matanya sendiri. Syukurlah ia tak menatapku.

“Bang Long, apa kau masih dapat mendengarkanku?” tiba-tiba Covid menepuk pahaku.

Aku tersentak kaget. Aku seperti disengat ikan baronang. Terus terang, aku mulai gemetar. Dengan tergagap-gagap aku menjawab:

“Iya, Vid. Berceritalah. A..aku masih mendengarkanmu.”

Covid Coperfield kembali melanjutkan ceritanya.

“Bang Long, aku menangis untuk yang ketiga kalinya. Aku melihat di antara pengantarku ada yang terlihat bahagia. Tepatnya biasa-biasa saja. Sepertinya tak ada yang mereka sedihkan. Meskipun mereka terlihat tulus, mereka hanyalah manusia-manusia yang sedang menjalankan fardhu kifayahnya. Di sela-sela prosesi pemakamanku, mereka masih sempat menanyakan kabar masing-masing, keadaan keluarga dan usaha-usaha yang sedang mereka tekuni untuk kehidupan. Aku memahami tindakan mereka. Ya. mereka tak punya alasan untuk bersedih”

Covid mulai mengusap matanya yang basah. Sejenak ia menerawang.  Sampai kemudian ia kembali bercerita. Curhat orang mati.

“Bang Long, kesedihan itu seperti hujan tadi siang. Sebentar turun, sebentar berhenti. Kemudian panas mentari sore datang menghangatkan. Kemudian hujan lagi. Itulah yang dapat kulihat. Aku sempat mampir sebentar ke rumah. Di rumah kulihat istriku yang tadinya menangis bisa juga tertawa-tawa dengan kerabat dan kawan-kawan dekatnya. Begitu mereka pergi, istriku menangis lagi. Tadi kulihat Vida dengan ketiga anak kami berpelukan di kamar. Kepada anak-anak kami Vida berkata:

“Ayah kalian orang baik. Banyak yang datang melayat. Mulai dari gubernur, para pengusaha kaya, orang-orang ternama di kota ini semunya datang menyatakan bela sungkawa. Ibu merasa puas. Mereka yang menganggap kita sebelah mata, sekarang ternganga. Kita bukanlah orang biasa, anak-anakku.”

“Bang Long, saat Vida bercerita seperti itu, aku melihat ada berlembar-lembar rasa bahagia menyelip dalam tangisnya. Aku baru sadar, bahwa perasaan orang hidup itu campur aduk saja. Ketika mereka berkumpul-kumpul, sedih dan gembira datang bergandengan. Tapi sudahlah,  aku anggap saja itu sebagai pelipur lara bagi mereka yang sedang berduka,” ujarnya sambil tersenyum.

Kali ini senyum Covid Coperfield terlihat aneh. Tapi bagiku terlihat menyeramkan. Ia menyeringai seperti merencanakan sesuatu yang jahat. Aku bergidik ngeri. Aku merasa seperti ingin buang air besar. Perutku terasa mengembang.

Covid Coperfield, sambil menyeringai melanjutkan ceritanya. Seringainya mengesankan rasa bangga. 

“Bang Long, tadi aku sempai melihat isi telepon genggamku. Smartphone ku. Telpon itu ada digenggaman istriku. Ia terlihat sedang membalas ungkapan dukacita yang disampaikan oleh entah siapa saja di akun-akun medsosku. Facebook, Twitter, Whatsapp, IG dan lain-lain. 

"Aku puas bang. Tak ada yang memaki kematianku. Foto-foto ku dihias demikian rupa dengan kalung bunga kematian. Foto-foto itu viral ke mana-mana. Setidaknya, aku berharap itulah tanda-tanda husnul khatimah. Aku bahagia.” 

Covid terlihat bahagia sekali. muka pucatnya mulai gak bercahaya. Tak lama, ia kembali bertutur.

"Bang Long, Terus-terang aku memang narsis bang. Hari-hari selama aku memiliki akun media sosial memang selalu kuhabiskan melihat respon positif netizen terhadap apapun yang aku posting. Terus terang, satu saja respon negatif yang diberikan netizen, membuat darahku menggelegak. Aku marah. Itulah yang terjadi tadi malam, sampai dadaku sesak. Sekarangpun aku masih merasakan hawa marah di rongga dadaku. Heh, siapa dia yang berani menghinaku?” kata Covid sambil mendelik marah. Kali ini wajahnya benar-benar terlihat seram.

Tak ingin berlama-lama menyaksikan keseraman itu, aku coba mengalihkan kemarahannya. Memberi pertanyaan dengan terbata-bata.

“Vid, aku ingin tahu, mengapa kau panggil namaku saat kau sakaratul maut? Kemudian saat aku berusaha menutup matamu, aku merasa kesulitan. Bahkan di kali yang ketujuh, mata kirimu masih terbuka sebagian seperti mengintip ke arahku.”

Ah, tiba-tiba aku menyesal menanyakan itu. Ibarat rollet Rusia, pertanyaan itu ibarat berjudi dengan sebutir peluru yang bisa saja merengkahkan benakku. Sungguh, aku sedang menunggu jawaban yang baik-baik saja.

Mendengar pertanyaan itu Covid Coperfield tertawa ringan, seperti dipaksakan. Tawa yang mengandung kesedihan.

“Hehe... jangan khawatir bang. Kau orang baik. Spontan saja, namamu yang segera ku ingat. Kau bisa menyetir. Waktu itu, aku masih berharap diobati di rumah sakit. Dadaku terasa sesak. Hanya kaulah di komplek ini yang mau bergaul dengan ku dengan tulus tanpa memandang status baik-buruk pribadiku." 

Covid tersenyum kepadaku. Matanya berusaha mencari bola mataku. tapi aku sedang berpura-pura meraih cangkir kopi. 

"Sedangkan, kenapa mataku tak dapat terpejam, karena aku masih membayangkan orang yang menghinaku di akun facebook ku. Huhh! Kurang ajar sekali dia. Sampai tadipun masih kubuka smartphone ku untuk melihat siapakah orang yang menyebabkan kematianku. Sayang sekali, ribuan respon netizen tentang kematianku membuatku kesulitan menemukan profil orang biadab itu. Huuhh!”

Prankkk!

Tiba-tiba Covid Coperfield membanting gelas kopiku yang sudah hampir kosong. Badanku terasa ringan, nyawaku seakan terbang.  Bersamaan dengan itu, petir menggelegar. Terdengar suara berat dari kejauhan.

“Hey, anak Adam. Waktumu sudah habis. Bukannya menghitung bekal apa yang akan kau bawa ke alam baka, malah kau minta kembali untuk menjemput smartphone mu. Baguuus....!”

Kilat kembali menyambar. Kali ini menyambar tubuh Covid Coperfield yang cengengesan di dekatku. Tubuhnya meledak dan percikan cairan hangat dan dingin mengenai muka ku. Aku ikut terpental. Azan Maghrib bernada serak mendayu, menyelip di antara desir hujan di atas atap.  Langit terlihat terang-terang kopi jalang. [MN]


Padang, 22 November 2020

28 October 2017

Pulang

Oleh Muhammad Nasir


“Dengan wajahmu yang cantik, setidaknya kau bisa memilih siapapun jodohmu!” bentak emak mengakhiri perdebatan.

Emak akhirnya pergi entah ke mana. Entah ke sawah atau berjalan kemanapun ia mau di pojok kampung yang sudah didiaminya semenjak setengah abad.

Ugih hanya bisa menangis sembari membayangkan betapa hubungannya dengan Supri akan hancur berantakan. Terbayang kebersamaannya dengan Supri di Sungai Jernih, saat dengan gembira mereka berdua melempar kerupuk ke tengah kolam. Begitu menyentuh air kerupuk itu hancur berantakan disambar ikan larangan yang disakralkan sejak berabad-abad. Betapa mitos itu begitu nyata, senyata kerupuk yang cerai berai.

“Adalah hina bagi perempuan Minang tinggal di rumah mertua!”

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Ugih. Begitu longgarkah konsep hina dan malu, sehingga adat manapun boleh memaknainya seenak perutnya? Ugih merasa ingin kabur dari lingkungan adat.

Putus cinta bukanlah hal biasa. Tetapi pada saat cinta telah berkelindan dengan impian membangun mahligai rumah tangga yang bahagia, lain cerita. Ugih merasa adat telah mengalahkan syari’at. Dalam hal ini tak ada yang lebih penting kecuali menjalankan syari’at yaitu menikah dengan Supri.

***

Begitulah tekad Ugih empat tahun yang lalu saat memutuskan menikah dengan Supri, pria Orang Selatan yang patrilineal. Meski bapak pernah mengingatkan Ugih dengan lembut, ”kau telah melawan pada emak!” Tapi Ugih berdalih hanya meluruskan logika emak, bahwa tak selamanya pernikahan beda adat itu merepotkan. Syari’at lebih penting dari adat.

“Plak!”

Tamparan itu akhirnya hinggap di pipi mulus Ugih yang mulai kurus. Seingatnya, sudah berpuluh kali Supri menggertak dengan ucapan, “Diam, ku tampar kau!”. Tak dinyana setahun kemudian tangan kekar lelaki yang dicintainya itu benar-benar hinggap di pipinya.

Tamparan itu terasa seperti peristiwa pernikahan mereka. Berurai air mata ia meminta, tak ada bayangan emaknya bakal merestui pernikahan mereka. Hingga waktu yang tak diduga, restu itu akhirnya datang juga. Begitu pula tamparan itu, tak terbayangkan lelaki lembut yang pintar merayu bak penyair melayu itu melakukannya. Ketika terasa, Ugih serta merta terdampar di dunia nyata tentang legenda kekerasan dalam rumah tangga.

“Sekali lagi kau bicara tentang pulang, kupotong lidahmu!” ancam Supri.

Dalam cintanya yang menggebu-gebu, begitu mudahkan kemarahan Supri tersulut? Ugih tahu, cinta telah membuat suaminya gelap mata. Ia tak ingin Ugih pergi dari sisinya. Tetapi sesuatu yang ak ia mengerti, Supri akhir-akhir ini begitu akrab dengan Pinik Safitri, putri kenalan Temenggung yang dilayani seperti ratu di rumah, tempat di mana Ugih, suaminya dan kedua mertuanya tinggal. Seperti sinetron saja, Temenggung, mertuanya itu mendorong-dorong Pinik mendekati Supri.

“Sudahlah, tak perlu kau tahan. Apa yang kau harapkan dari perempuan mandul itu?” tiba-tiba Bapak mertua ikut serta. Rasanya itu tamparan yang paling keras, membuat kepala Ugih berputar ke kampung halamannya, mempercepat keinginannya meninggalkan rimba Orang Selatan.

***

Sejujurnya, orang tua Supri juga tidak mengijinkan pernikahan mereka. Temenggung, ayah Supri sudah punya pilihan sendiri untuk putra tunggalnya.

Dengan sedikit tipuan, Supri berhasil menaklukkan bapaknya.

“Bapak, aku sudah bekerja. Jika tak ada restu untuk pernikahanku dengan Ugih, jangan harap aku pulang ke Orang Selatan!” ancam Supri kala itu. Bagi bapaknya, ancaman itu seperti gertakan Bupati yang ingin menghambat jalur perdagangan kayunya.

Bupati incumbent yang hendak maju untuk kedua kalinya mengharapkan bantuan Temenggung mengerahkan dukungan empat ratus sembilan puluh tujuh kepala keluarga di bawah gembala Temenggung, tokoh masyarakat setempat. Bupati yang pengusaha kayu itu berkuasa penuh atas periuk nasi Temenggung. Berkubik-kubik kayu seakan tak berguna bila sekali saja Temenggung tak menelpon sang Bupati.

“Pulanglah nak, kurestui pernikahanmu, asal kau kembali ke kampung halaman dan membujuk istrimu tinggal di kampung kita” kata Temenggung dalam sikap menyerah yang penuh dendam.

Sesusai pesta di Padang, kenduri di Negeri Selatan berlangsung tujuh hari tujuh malam, ibarat dongeng dunia kayangan.

Pertanda tidak baik sudah mulai tampak, saat keluarga Ugih dari Padang diinapkan di tengah rumah seperti ikan kaleng. Tak ada cerita banyak laiknya beripar-besan. Mau makan, makanlah. Mau tidur, tidurlah, tentu saja sesudah tetamu bubar. Di situlah Ugih mengerti makna dendam di hati Temenggung.

“Tergadai kau nak,” kata emak Ugih berurai air mata sebelum ia kembali ke Padang. Dalam berpelukan emaknya berbisik, “Biarkan nasib dan kebenaran membawamu pulang ke Padang, nak.”

***

Bupati incumbent itu gagal dalam pemilihan. Sudah terjatuh tertimpa tangga. Kalah pilkada ternyata berujung pada urusan yang rumit dengan jaksa. Akhirnya usut punya usut, perkara sampai kepada kasus korupsi, illegal logging dan segala macamnya. Temenggung bangkrut karena terpaksa melenyapkan segala barang bukti, berkubik-kubik kayu miliknya. Uang habis dihambur-hamburkan untuk menyuap sana sini, pada mulut orang-orang yang patut ditutup.

Persenggamaan segala cara suami istri Ugih dan Supri belum menghasilkan apa-apa. Jangankan hamil, tak sekalipun Ugih mual-muntah layaknya orang mengidam. Kecuali sekali waktu, saat perjamuan. Pinik gadis murahan itu berbaik hati memasak gulai itik. Jangankan lahap, hidangan itu terasa asin, jauh dari rasa enak.

“Hebat, Pinik, sepertinya sudah patut pula engkau bersuami.” ungkap Temenggung berbunga-bunga.

Pinik tersipu malu, tetapi kesan rakus begitu kentara di wajahnya. Cantik memang, tetapi penuh nafsu dan keserakahan. Setidak-tidaknya di mata Ugih, apalagi saat tangan gatal Pinik mencubit mesra pinggang Supri. “Perempuan tak beradat,” batin Ugih. Tapi adat siapa dan orang mana?

Seusai perjamuan Ugih masuk ke kamar. Melampiaskan segala kesal dengan memuntahkan segalanya di lantai, dinding kamar dan ranjang peraduannya.

“Hoahkk...!” Ugih muntah sekeras-kerasnya. Ia berharap dunia tahu bahwa begitu banyak orang yang tak pandai menghormati lembaga sakral; p-e-r-n-i-k-a-h-a-n.

Di luar kamar terdengar makian Temenggung; “Perempuan tak beradat!”

Peduli setan! Adat siapa dan orang mana? Sungut Ugih.

“Engkau mengidam?” tanya Supri yang tiba-tiba menyusul ke kamar dengan gembira.

***

Uang ternyata bukan segala-galanya. Apalagi bila benda celaka itu sudah tidak ada. Bangkrut. Entah mengapa mata dan telinga jaksa begitu nyaring. Berkubik-kubik kayu telah membuat jeruji penjara untuk Temenggung, entah untuk berapa lama.

Mobil bak terbuka itu meraung-raung memberi tahu orang kampung ; ada maling kayu yang hendak dikurung! Temenggung terpekur dalam menghitung mata rantai yang saling berkait menggelangi kedua belah tangannya. Mobil itu pergi seraya meninggalkan debu serta bergelanggang mata orang banyak. Orang-orang kampung hanyak berteriak “huuu...!” seraya berbalik menekuni pekerjaan masing-masing.

Di seberang jalan, rumah panggung berarsitektur istana Melayu terlihat kuyu. Pinik tergopoh-gopoh meniti jenjang-jenjang rumah yang dulunya penuh dengan kehormatan. Sepertinya memang Pinik yang punya kesempatan meraih kehormatan itu tanpa harus membungkuk-bungkuk seperti orang tua pikun yang tak berguna; minta upah kerja kepada Temenggung, sang Juragan Kayu.

Pinik menggerung-gerung. “Oh, Temenggung, menikam jejak dari selatan, berharap mendung segera pupus, pada dara yang berpayung. Tempat berpijak sudah terban, tempat bergantung sudah putus, kepada siapa berbapak bayi yang ku kandung?” tangisnya pecah meraung-raung.

“Apa? Engkau mengandung benih bapakku? Perempuan tidak tahu di untung! Kau makan tebu dengan urat-uratnya!” Supri marah sejadi-jadinya.

“Plak!”

Belum hilang merah di pipi Ugih, tangan pria itu sekarang hinggap di pipi Pinik, perempuan gatal yang meresahkannya akhir-akhir ini. Jika tak boleh menyebut karma, Ugih merasa itu balasan untuk gadis pendosa.

“Lelaki bejat. Apa bedanya kau dengan bapakmu, heh? Siapa yang tebu siapa yang urat?” balas Pinik murka. Matanya melotot akibat dua tangan yang terlalu kencang berkacak pinggang. “Bukankah kalian yang makan di piring yang sama, bergiliran seperti ayam dan babi?” maki Pinik.

“Plak!”

Ugih merasa itulah tamparan yang paling keras, dari tangan yang tak terduga. “ada pula teori invisible hand Adam Smith dalam rumah tangga? Entahlah, jawabnya cuma kelam. Ugih lunglai merengkuh lantai. Pingsan!

***

“Kali ini engkau memang mengidam!” Itulah suara pertama yang didengar Ugih di ruangan kotak sempit serba putih. Ah, itu rumah bidan Yenni, satu-satunya tenaga medis di kampung ini. Suara itu datang dari wajah yang tiba-tiba sangat memuakkan; Supri putra sang juragan kayu.

“Apa? Benarkah?” Ugih berbinar-binar.

“Betul! Benar!, sekarang apa yang kau mau, aku kabulkan!” lagak Supri meyakinkan.

“Pulang kampung!” jawab Ugih penuh keyakinan.

Di luar sirene kembali meraung-raung. Begitu senyap polisi berseragam sudah meringkus Supri. “Anda terlibat dalam illegal logging. Ini surat penangkapan anda!” Supri ternganga.

“Engkau betul-betul akan pulang, Ugih?” mendadak Supri merasa cemas. “Lalu bagaimana dengan rumahtangga kita?”

“Ceraikan aku secara adat!” tegas Ugih, setegas air matanya yang tiba-tiba mengalir deras.

***

Langit mendung sangat mendukung. Ugih berharap hujan sebentar lagi menghapus jejak serta suara-suara ba’da kepergiannya. Adat orang selatan mengatakan, tak baik tinggal di rumah mertua bilamana suami tak ada di rumah. Tetapi apalah gelagat manusia. Ada saja mata dan suara yang tak bisa diduga.

“Perempuan tak tahu adat. Suami di penjara, ia malah pergi seenaknya!” [MN]

Padang, 2003-2008

29 May 2008

Rapun


Oleh: Muhammad Nasir

Mak Maun, perempuan beranjak tua itu kembali termenung-menung di palanta depan rumahnya. Sendiri menikmati hampanya senyap. Hanya ada seekor anjing di halamannya. Sekedar untuk penjaga rumah. Saat-saat seperti inilah ia sangat mersakan dan memaknai kepunahannya. Sebelumnya ia tidak begitu memikirkan perkataan orang-orang tentangnya.

"Beginilah rasanya jadi orang punah" bisik Mak Maun selaras dengan hembusan angin yang membuatnya terkantuk-kantuk.

"Di mana kamu sekarang, Maun? Apa yang kamu lakukan bersama istrimu di Mudiak sana?"

Untung saja orang kampung tidak menganggapnya gila. Orang-orang sudah mengetahui kebiasaan Mak Maun di sore hari. Berdendang melagukan nyanyian rindu perempuan-perempuan Minang.

"Aku sudah katakan, kenapa harus jauh-jauh babini ke kampung orang? Apa di sini sudah tidak ada lagi perempuan yang ingin menjadi suamimu?"

Mak Maun kembali teringat saat-saat Maun, putra tungga babeleang bersikeras hendak menikah dengan gadis muda dari kampung Mudiak. Mak Maun sudah habis alasan untuk mencegah niat Maun. Meski alasan utama Mak Maun cuma tak ingin putra satu-satunya itu jauh dari sisinya.

Di Minangkabau, jika anak laki-laki menikah ia akan tinggal di rumah istrinya. Seandainya Mak Maun berhasil mencegah Maun, dan Maun bersedia menikah dengan orang kampungya, mungkin saja setiap saat Maun bisa pulang ke rumah ibunya untuk melihat kesedihan dan kesepian yang dialami perempuan gaek itu.

"Mak, bukan aku tidak mau menikah dengan orang kampung sini. Tetapi apa mak tidak tahu kalau setiap saat aku mencintai gadis sini, selalu ditentang habis-habisan oleh orang tuanya. Meskipun anak gadisnya sudah menyembah-nyembah mohon dinikahkan denganku? Mak, katanya kita ini orang-orang palasik, aku anak palasik!"

Palasik itu juga manusia biasa, hanya saja mereka berperangai aneh lagi mengerikan, yaitu gemar memakan daging dan tulang orang mati yang sudah dikubur. Ada juga yang berpendapat, palasik itu suka menghisap darah.

Kata orang, jika seseorang yang berperangai palasik bertemu dengan seorang anak berusia di bawah tiga tahun atau anak yang dalam gendongan ibunya, bila digoda seperti layak biasanya seseorang menggoda anak kecil, maka sakitlah anak tersebut. Atau ditatap melalui mata batinnya, maka sehari atau dua hari kemudian sakitlah anak itu. Ia demam berkepanjangan, suhu badannya meninggi, badannya menjadi kurus, kulitnya mengeriput, matanya selalu bercirit, bila menangis seperti berhiba-hiba, jika tidak segera diobati, dipastikan anak itu akan meninggal dunia.

Mak Maun terhenyak. Meski sudah berulangkali ia menyatakan bahwa ia bukan palasik, tetapi orang kampung tidak pernah peduli. Sekali palasik tetap palasik. "Mana ada maling yang mengaku" demikian analogi mereka.

Anjing putih kesayangan Mak Maun menyalak. Entah apa yang disalaknya.
"Husy… diam. Gara-gara kau anjing sial, aku dan keluargaku dituduh palasik" umpat Mak Maun.

Entah mengapa, anjing putih itupun menjadi penguat tuduhan orang kepada Mak Maun. Dalam cerita palasik disebutkan, anjing putih itu muncul secara tiba-tiba. Anjing itulah nantinya yang datang menyeruak di kegelapan malam, barulah sesudah itu muncul sang palasik.

Kata orang badannya besar sebesar gajah, daun telinga lebar selebar nyiru dan wajahnya hitam menakutkan. Maka dikeluarkannya mayat anak yang baru dikubur itu dengan lidi keramatnya dan segera dibawa pulang ke rumah untuk disembelih.

Apabila seseorang yang diduga berperangai palasik datang ke rumah seorang ibu yang mempunyai anak kecil, maka si empunya rumah atau yang lainnya segera mengu¬nyah pinang sinawal atau pinang penawar lalu disemburkan kepada tamu yang tidak diundang itu. Kalau benar seorang palasik, ketika itu juga jatuhlah ia terguling. Bercucuran keringatnya dan dari mulutnya keluar air liur berbusa, tak obahnya seperti orang diserang penyakit ayan.

Namun yang umum dilakukan or¬ang, ialah membuat sebungkus obat penangkal yang diletakkan di dalam baju atau selimut anak yang dilindungi itu. Adapun isi bungkusan tersebut ialah obat penyembur seperti lada kecil (merica hitam), dasun (bawang putih tunggal), pinang sinawal, buah pala, cengkeh dan kunyit. Dengan demikian palasik tidak akan berani mendekat, apalagi mengusik anak yang telah diberi penangkal tersebut.

"Aku tidak pernah jatuh terguling. Bercucuran keringat dan dari mulutku keluar air liur berbusa, tak obahnya seperti orang diserang penyakit ayan. Jelas aku bukan palasik" Mak Maun menyesali orang-orang kampung.

Tapi, lagi-lagi mana peduli orang-orang kampung, meski Mak Maun mengaku orang biasa layaknya perempuan-perempuan lain di kampungnya.

Kata orang-orang kampung, "palasik itu ialah manusia biasa seperti kita-kita juga. Dalam pergaulan sehari-hari mustahil dapat dibedakan mana yang palasik dan mana pula yang bukan. Orang berperangai palasik itu tidak hilang bangsa dalam adat. Sebab mereka turunan yang jelas asal usulnya dan bukan berasal dari bangsa budak.

Dalam jamuan yang terkembang atau medan yang sekata, mereka dapat setanding duduk. Demikian juga mereka makan dapat sejambar (makan bersama satu talam atau piring besar) dengan orang lain yang tidak berperangai palasik. Kalau ia seorang penghulu, duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan penghulu lain di nagarinya.

Hanya saja yang dikhawatirkan orang, ialah kalau-kalau terambil menjadi urang sumando (menantu laki-laki). Bila hal semacam itu terjadi, bisa celaka tiga belas. Sebab anak-cucu kaum tersebut akan berperangai palasik pula seperti bapaknya.

"Maun juga bukan palasik. Ia pemuda biasa" gumam Mak Maun.
"Mauun, Maun. malangnya nasibmu nak"

Bersamaan dengan azan maghrib, Mak Maun masuk ke rumah, hendak menunaikan shalat Maghrib.

Mak Maun menghela nafas sepanjang tubuh rentanya. Maun putranya memang pantas membenci orang kampungnya. Gara-gara tuduhan palasik yang tidak pernah ada bukti dan kebenarannya, Maun terpaksa berkali-kali putus cinta. Kalau saja Maun tidak ia sekolahkan ke pesantren Angku Katik, mungkin saja Maun sudah bunuh diri. Rasa marah inilah yang membuat Maun bersikukuh kawin dengan Herni anak kampung Mudiak yang jaraknya kurang lebih 90 Km.

Mak Maun kembali mengingat peristiwa itu.

"Maun, Kampung Mudiak itu jauh. Mak takut, tak kuat menjenguk cucu mak nantinya".

"Jauh Mak? Tidak Mak. Dulu memang jauh, karena Mak dulu ke sana pakai pedati. Sekarang ada bus Mak".

Sekarang apa buktinya? Maun tidak pernah lagi pulang menjenguk badan tua itu semenjak menikah delapan bulan yang lalu. Mak Maun merasakan jauhnya Kampung Mudiak itu dalam kesepiannya.


Seusai shalat maghrib, Mak Maun kembali termenung. Masih bermukena di atas sajadah lusuh.

"Terasa benar malang nasibku sebagai orang punah. Siti, kenapa umurmu begitu pendek. Coba saja kau dan anakmu hidup, mungkin masih ada penerus keturunan kita"

Siti adalah adik perempuan Mak Maun. Dua puluh lima tahun yang lalu Siti meninggal dalam usia yang masih sangat muda, enambelas tahun. Siti meninggal waktu melahirkan bayi pertamanya yang kebetulan perempuan. Limabelas belas menit setelah melahirkan Siti pun pergi menghadap ilahi. Kini tinggal bayi perempuan merah. Harapan kembali muncul. Namun harapan itu tidak bertahan lama. Dua hari setelah kematian Siti, bayi perempuan itupun menyusul ibunya ke alam baka.

Di Minangkabau, perempuan adalah pelanjut silsilah keturunan. Maklum Minangkabau menganut system matrilineal, menurut garis ibu. Suku seseorangpun mengikut kepada suku ibu.

Duka masih terus berlanjut. Belum lagi kering tanah pekuburan muncul lagi isu, bayi perempuan itu mati karena palasik. Palasiknya siapa lagi, kalu bukan Mak Maun, kata masyarakat.

Ketika Mak Maun melahirkan bayi laki-laki, Maun sekarang, ia tidak begitu gembira. Sebenarnya ia berharap kelahiran anak perempuan biar keturunannya berkembang dan dapat berkuasa atas segenap tanah ulayat. Tanah ulayat itu sekarang, satu persatu sudah dipakai oleh mamak jauhnya, mamak sepesukuan. Terakhir tanah yang di bawah penguasaannya sudah dihibahkan untuk membangu mushalla.

Sayang sekali, saat ia tengah berusaha mendapatkan keturunan baru, seorang anak perempuan, suaminya meninggal dunia diseruduk babi hutan. Maun saat itu masih berumur 6 bulan. Sejak saat itu Mak Maun hidup menjanda. Bukan ia tak mau kawin lagi, tetapi tak seorangpun pria yang sudi menikah dengan dirinya. Takut anaknya menjadi palasik. Padahal, Mak Maun tidak kalah cantik bila di banding perempuan lain seusianya. Kalau tidak tercantik ke dua, mungkin ke tiga di kampungnya.

Mak Maun, mau tidak mau, terpaksa menerima kenyataan bahwa ia termasuk orang-orang punah.


Di sebuah dapur yang sangat sederhana duduklah seorang perempuan yang beranjak tua. Mak Maun. Di depan tungku Mak Maun terlihat sibuk mengacau rendang. Sesekali ia berbicara seolah-olah hanya untuk dirinya sendiri.

“Mmh… makan sendiri, tidur sendiri, segalanya sendiri” keluhnya sambil menghela nafas. Bikin kalio…, dimakan sendiri. Bikin rendang…, tak ada yang makan. Yoo… beginilah nasib padusi di Minangkabau.

Mak Maun terus mengaduk-aduk sesuatu yang berbau enak di dalam kuali. Dan mulutnyapun tetap komat-kamit meneruskan curhatnya kepada tungku api yang menyala-nyala…

“Punya anak laki-laki, ini mah… susah.. susaaah..!” Selusinpun anak laki-laki, kalau tak ada yang padusi, eeh, setelah besar, terbang semuanya ke rumah orang. Inilah contohnya.. kapan lagi bisa makan enak.

Mak Maun mendadak kesal dan berhenti mengaduk. Mungkin isi kuali itu kalio. Mungkin juga sudah jadi randang.

Tiba-tiba terdengar suara laki-laki berdehem. Berdehem, batuk-batuk kecil. Begitulah orang laki-laki Minang, sebelum mengucap salam, terlebih dahulu berdehem, supaya perempuan yang ada di rumah itu bersiap-siap, siapa tahu pada saat itu auratnya tersingkap.

“Assalamu’alaikum, Ondee, harumnya. Masak apa mak? Bikin rendang ya. Sepertinya aku akan makan enak nih. Mmmh, lapar perutku jadinya,mak…ada nasinya, mak?”

Sesosok wajah muncul dan langsung bertanya bertubi-tubi dan langsung mencari-cari tempat nasi.

“Oi, waang Maun. Masih ingat waang sama amak rupanya. Rupanya waang belum lupa dengan rendang amak sejak waang tergadai ke Mudiak? ucap Mak Maun tanpa sempat menjawab salam Maun.

Ya, ternyata lelaki itu adalah Maun anak lelakinya yang babini ke Kampung Mudiak. Blok M, bahasa kerennya.

“Kenapa sih mak, protes Maun sambil memijit sayang bahu emaknya. Mana mungkin seorang anak lupa sama ibunya.. Ada-ada saja si Amak ini. Cepat lah mak…saya sudah tak tahan lagi, lapar sekali aku Mak” pinta Maun manja.

Mak Maun berjalan ke sudut dapur. Disitu terletak rak-rak piring yang sudah lusuh, tetapi masih terawat sehingga meninggalkan kesan bersih. Nampaknya Mak Maun cukup memperhatikan masalah kebersihan dapurnya. Apalagi yang menyangkut peralatan makan. Piring yang di tangannya ia isi dengan nasi hangat. Buktinya nasi itu mengepulkan asap.

“Makanlah,Nak, rendang ini enak apalagi sedang hangat-hangat. Aa..ini gulai pangek yang amak bikin kemarin. Cobalah..!”

“Amak betul-betul mengerti dengan selera aku. Ayo, Mak. makanlah Amak sekalian, kita makan sama-sama”

Segera Maun mencuci tangan dengan bersih dan setelah mengucek nasi yang bercampur lauk, tangannyapun rajin turun naik dari piring ke mulut. Mak Maun memandang anaknya dengan penuh kasih sayang. Ia pun ikut makan bersama Maun.

“Ondeh, Enak sekali makan Amak, Nak. Sudah lama Amak tidak dapat menikmati makanan yang Amak masak”

“Iya mak, sampai berkeringat aku...

“Karena makan bersama kamu mungkin. E..ee, itu lah Amak kan sudah bilang dahulu, bila waang memang sayang sama Amak,, jika…

“Apa mak?” Maun langsung memotong.“Cepat-cepat beranak, itu kan mak?”

“Iya, kalau begini terus , rumah ini akan lengang selamanya. Kesepian kata anak-anak sekarang. Apa lagi istrimu yang cantik itu tidak mau pula tinggal di sini. Oi, sekarang di mana dia?” Kenapa tidak diajak kemari?, Apa dia jajok naik ke rumahku yang jelek ini?” Mak Maun mengejar dengan pertanyaan beruntun.

Maun menghela nafas. Perlahan nasi yang ada dimulutnya ia telan. Entah sudah lumat atau belum.

“Tidak Mak. Tadi dia mampir ke rumah bidan Mai, sebentar lagi mungkin tiba di sini”

“Rumah bidan Mai?, Apa yang dia lakukan di sana?. Apa ia sudah terlambat?” Mendadak Mak Maun melurus punggungya yang sebentar lagi bongkok. Tangannya berhenti menyuap.

“Tidak Mak! Masih belum Mak. Herni, menantu Amak itu 'kan baru tujuhbelas tahun umurnya” Maun menghela nafas panjang. Lantas ia bertanya, suaranya sangat pelan, nyaris seperti orang berbisik. “Mak, padi yang masih muda itu apa bisa dijadikan benih? Apa bagus tumbuhnya?”

“Bisa! sahut Mak Maun sigap. Kenapa tidak! Ampo barek saja bisa tumbuh, tapi hasilnya kurang bagus.”

“Ooh...Iya..ya. Kalau begitu, orang pasti seperti itu juga Mak! Si Herni, jika aku paksa, mungkin ia bisa hamil. Tapi, seperti apalah anaknya nanti,” Maun membela diri.

“Phuah..! sudah pintar kamu sekarang ya. Sejak kapan istri kamu itu kau samakan dengan tanaman?. Percuma saja waang sekolah tinggi. Diberi apa kamu oleh wanita mandul itu, ha?..” Mak Maun langsung tegak, tangannya bertumpu di pinggang. “Biarlah, sekarang saya cari dia ke rumah Bidan Mai. Kenapa ia di sana? Apa dia bersuntik KB?”

Maun ikut berdiri sembari memegang bahu ibunya, tentunya menenangkan orang tua itu.

“Amak…tenanglah amak dulu. Tak ada yang bisa kita selesaikan dengan muka kusut dan hati panas seperti ini! KB itu tidak selalu dengan suntik, Mak, haa…haa…ha…”

“Apa katamu? apa kamu tidak malu. Lihatlah si Lepai, baru kemarin menikah, kini sudah besar pula perut istrinya”

Mak Maun masih emosi. Maun kembali duduk. Nasi yang masih tersisa dipermainkan dengan ujung jarinya.

“Mak, anak itu amanah dari Allah. Makanya perlu dipersiapkan”
“Entahlah, sekarang ini, orang tidak menikah saja bisa bunting. Malang nasib ku, dapat menantu mandul” sungut Mak Maun.

"He…he… itu kecelakaan namanya Mak, hamil di luar nikah. Kambing yang tidak nikah juga bisa bunting, Mak"

Mak Maun membelakangi Maun dan merajuk seperti anak remaja.

“Mak, Herni tidak mandul. Ia cuma menunda kehamilannya saja. Usianya masih tujuhbelas tahun. Saya khawatir, kalau ia hamil sekarang, nanti mengganggu kesehatannya. Mak tidak lupa 'kan, dengan etek Siti?Ia meninggal dalam usia muda. Anak perempuannya meninggal bukan karena palasik, tetapi karena memang tidak sehat sejak dalam kandungan" terang Maun panjang lebar.

"Iya, Maun. Amak ingat. Tetapi meskipun kita ini orang punah, Amak tidak ingin mati dalam kesepian. Biarlah Amak terhibur dengan tangis dan keceriaan anak-anakmu nantinya. Kalau bisa lahirkan anak-anak perempuan. Usahakanlah, tak usah lah bini waang ber-KB"

"Begini saja Mak, habiskan saja makan Mak, dulu. Nanti kita lanjutkan ceritanya "

"Maun, Amak sudah tak tahan lagi sendiri di hari tua. Kau bisa enak-enak tidur bersama istrimu. Sementara Amak di sini?

"Biarlah, Mak, kita terima kenyataan ini apa adanya. Nanti kalau Allah mempercayai akau, kotrasepsi itu akan jebol sendiri. Herni pasti hamil Mak. Nanti anak-anaknya akan aku bawa ke sini, menemani Amak"

"Maun, Amak sudah putus harapan. Selusinpun anakmu, tetap akan tinggal di rumah istrimu.kalau kau tidak cepat-cepat punya anak biarlah Amak mati saja, biar punah sekalian"

"He..he… jangan begitu, Mak. Saya janji, akan segera punya anak. Tetapi dengan syarat"

“Baik, dengan syarat istrimu kau larang ber KB. Habiskan nasimu, mari kita ke rumah bidan Mai. Tanyakan ke bidan, kenapa sampai sekarang istrimu belum hamil juga..? Kalau kau tak mau bertanya, biar Amak yang bertanya…!”. Mak Maun bersemangat.

“Ondeh!”, Maun geleng-geleng kepala. (Padang Agustus 2006)


Catatan kata-kata /istilah Minangkabau :
1.Ondeeh, kata seru, aduh
2.Rapun , habis, punah, hancur lebur.
3.Palanta, tempat duduk santai di halaman rumah, warung. Biasanya terbuat dari bambu.
4.Babini, kawin
5.Tungga babeleang, anak tunggal, semata wayang
6.Palasik, mitos orang Minangkabau tentang orang yang suka menghisap darah anak kecil di bawah tiga tahun. Dalam kepercayaan orang Minangkabau, mereka suka menggunakan ilmu hitam
7.Bercirit, berkotoran, tahi mata
8.Sajamba, makan bersama satu talam atau piring besar
9.Kalio, gulai daging sebelum menjadi rendang. Rendang merupakan makanan penting dan persyaratan yang mesti ada dalam perjamuan adat Minangkabau.
10.Padusi, perempuan.
11.Ondee, kata seru, sama dengan aduhai.
12.Amak, ibu, mandeh.
13.Pangek, gulai pepes ikan.
14.Jajok, jijik
15.Waang, kamu (untuk anak laki-laki)
16.Ampo barek, sisa gabah yang selesai dianginkan. Biasanya berbentuk padi hampa, tak berisi. Jika terserak di sawah bisa tumbuh dan berbuah bulir padi yang kurang bagus.
17.Etek, bibi, adik perempuan ibu atau ayah.

Special Thank to :
Terima Kasih Buat Inyiak Anas Nafis atas informasinya tentang Palasik

09 April 2008

TASAPO

Oleh: Muhammad Nasir

Jam 06.40 Waktu Indonesia Barat. Embun serasa enggan melepas pagi, sementara siang memaksakan diri menguasai hari. Demi sunnatullah. Pagi itu Jorong* Batu Baru didatangi tamu tak diundang. Maling tidak, lanunpun entah. Tamu itu berjumlah tiga orang. Sepertinya mereka orang asing. Tak sekalipun wajah mereka pernah tampak di Jorong tersebut.
Satu orang pria gemuk, tidak terlalu pendek. Berputar-putar seperti bocah kehilangan kelereng di rerumputan. Satu lagi lelaki kurus, agak tinggi. Berkumis jarang dan memegang ladiang.* Satu yang terakhir adalah seorang wanita putih, berkacamata hitam. Bibir tipisnya makin manis ditimpa gincu. Sayang ia sudah tua, sekitar limapuluh lima atau enampuluh tahunan.

"Siapa mereka?" tanya Mak* Katik
"Entahlah" Kutar langsung menyerah.
Kedua laki-laki yang bicara tadi adalah warga Batu Baru. Mak Katik enampuluhan. Kutar tigapuluhlimaan. Mereka berdua baru saja pulang dari surau Angku Mudo Ka'anin. Biasa, habis sholat shubuh. Ketiga tamu asing itu acuh tak acuh. Rumput di Parak Sati tempat mereka berdiri masih basah embun. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Yang kurus sibuk merambah perdu dengan golok di tangan. Pria gemuk sedang asyik menyibak dan menginjak semak. Nenek yang cantik cuma berdiri saja di atas semak.
"Ini mobil mereka?" Mak Katik mendekati sedan biru tua yang parkir anggun di aspal kacang. Kutar juga mendekat.
"Iya mungkin" Kutar menjawab tak yakin. seperti agar-agar dilempar ke batu saja agaknya.
Tuit...tuit...tuit...
"Ya Allah!"
"Putus tali jantung saya!"
Tuit...tuit...tuit...
Sedan itu berteriak marah. Sirene alarm itu memanggil tuannya.
"Apa yang kau lakukan Kutar?" Mak Katik mendelik ke arah utara. Kaget bercampur malu. Betapa tidak, ketiga orang asing itu memandang kompak ke arah mereka.
"Anu...saya hanya menyentuhnya, lalu..."
Pria gemuk itu mendekat. Selepas memandang keduanya ia berkata, "Tidak apa-apa, itu hanya alarm." Setelah itu ia kembali ke semak-semak. Tidak peduli dengan keheranan Mak Katik dan Kutar. Tinggallah mereka berdua bertukar pandang.
"Dasar kutar!" umpat Mak Katik.
"Apa ? Kenapa saya?" protes Kutar.
"Kurang taratik!"*
"Siapa?"
"Mereka!" tunjuk Mak Katik.
Tak lama kemudian, tiga makhluk aneh itu kembali menuju mobil. Mak Katik dan Kutar bersiap-siap. Entah untuk apa. Berkelahi mungkin. Pria kurus berkumis makin mendekat ke arah Mak Katik.
"Ini, Jorong Batu Baru, Pak?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" jawab dan tanya Kutar.
Tak ada jawaban. Pria kurus itu menoleh ke arah temannya. Sepasang sejoli tua itu tersenyum aneh seraya mengangguk. Anggukan itu dijawab dengan membukakan pintu mobil untuk kedua pasangan tua tersebut. Sebentar saja mereka bertiga sudah di atas mobil untuk orang kaya tersebut.
Cuit...bruuuumm mesin mobil menyala lembut. Beberapa saat mobil itu sudah hilang di balik alang-alang. Tinggalah bau asam dari knalpot mobil.
"Bertegur sapa tidak, bersalaman juga tidak, apalagi berkenalan. dasar tidak sopan!" Mak Katik kembali menyemburkan umpat.
"Sabar mak, begitulah adat orang kaya. Biar mereka terima pembalasan di neraka sana" Kutar berusaha menyabarkan lelaki tua sesepuh Jorong Batu Baru.
"Pantang bagiku dianggap angin lalu. Apalagi oleh orang yang dikenal. belum tahu mereka siapa saya?" Mak Katik makin panas.
"Sabar Mak, mereka belum tahu kalau mamak itu parewa,* tapi itu kan dulu, mak. Ha...ha...ha..." Kutar tertawa selepas-lepasnya.
"Tenang mak, naik pula tensi mamak nanti!"
"Kutar ada adat yang pantang dilanggar dariku. Adat bila salam wala kalam!"
"Apa pula itu mak?"
"Ini Bahasa Arab, Kutar! Belum tahu kamu rupanya, hee?"
"Hey, kapan pula Mak Katik belajar Bahasa Arab? Kutar tertawa campur cemeeh.
"Haa...? Bodoh waang Kutar. Makanya kalau Angku Mudo Ka'anin ceramah dengarkan baik-baik. Jangan tidur atau maota* saja kerja kamu. Bila salam wala kalam itu artinya tanpa salam dan tanpa bicara langsung kabur seperti hantu aru-aru," terang Mak Katik panjang lebar.
"Iya mak, aku tertidur, soalnya kaji Angku Mudo terlalu panjang"
"Kalau mereka tasapo bagaimana? Aku juga yang susah. ِApalagi harga rempah, kunik bau dan kemenyan lagi mahal. Dengan apa aku sembur?"
"Hiii...sudahlah Mak, mari kita pulang!"

-------------

Peristiwa tadi masih menyangkut di benak Mak Katik. Siapa pula gerangan ketiga orang itu? Maling, rampok atau siapakah? Jangan-jangan mereka orang kaya dari kota yang sedang membuang anak haram jadah. Atau mereka sedang membuang potongan kepala korban yang sudah mereka bunuh. pikiran Mak Katik berbalik ke acara TV yang ia tonton tadi malam.
"Aneh, siapa orang-orang tadi? Berani-beraninya ia menginjak Parak Sati tanpa seizinku. Tidak tahukah mereka jika sewaktu-waktu hantu si Angku Radin bangkit dan mencekik mereka, matilah mereka dengan mata mendelik," desis Mak Katik untuk dirinya sendiri.
Mak Katik menghirup kopi. Tak lengkap pagi ini tanpa lintingan tembakau dan daun enau. Sebentar saja, lintingan rokok daun enau itu hinggap di bibirnya dan crick...mancis antik itu membakar ujung rokok. "pufff...aahh....asap mengepul. Mak Katik mengebul.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu mebuyarkan kenikmatan Mak Katik, namun asap rokok masih bersileweran.
"Masuk!" perintah Mak Katik layaknya pejabat eselon satu A.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
Seorang pria gemuk masuk dan langsuk duduk. Ia langsung menjulurkan kaki layaknya di rumah sendiri. Sungguh tak sopan.Mak Katik terpana seperti melihat buaya.
"Mak Katik?" tanya pria itu tiba-tiba.
"He...eh!" jawab Mak Katik curiga.
Pria itu menyodorkan sebuah kartu nama. Mak Katik langsung menyambarnya seperti elang menangkap mangsa. Ia mengeja kartu nama itu. mulutnya mendesis, matanya reflek memandang ke arah pria gemuk itu.
"Doktorandus Haji Ajirun Radin Esha" eja Mak Katik.
"Pengacara garis miring Lawyer" lanjutnya.
"Ya, saya mak. Saya Drs. H. Ajirun Radin,SH.," jawab pria itu membenarkan.
"Wa'ang* si Ajin? Anak angku Radin?" jerit Mak Katik tak percaya. begitulah Mak Katik melafalkan nama pria tersebut. Ajin. Seperti kebiasaan orang kampungnya, tak ada nama seseorang yang dipanggil dengan becus. Syamsiah menjadi Ciah. Nur menjadi Inun. Angku Radin sendiri sebenarnya bernama Ardin, tetapi dilafalkan Radin. Begitulah, Ajirun-pun dipanggil Ajin.
"Iya, maaf tadi tak menyapa," jawab Drs H.Ajirun Radin,SH biasa saja.
Tiba-tiba Mak Katik menggigil seperti orang diserang demam Chikunguya. Tak tahu apa yang hendak dikata.
"Begini saja, mak. Nantilah kita bicara. Saya hendak ke pusara Angku Radin, ayah saya. Permisi Mak, Assalamu'alaikum." Drs H.Ajirun Radin, SH pergi begitu saja meninggalkan Mak Katik yang terpana.
Mak Katik mendadak mati rasa. Peluh dingin menyembur di sela-sela ketiaknya. Semestinya ia menahan pria itu agak sejenak. Hilanglah sifat parewa-nya. Tanggal kehormatannya. Setelah itu mak katik tak ingat apa-apa.

-----------------------
"Mak Katik...Mak...Mak...Mak Katik!"
Tok...tok...tok...
Mak Katik terjaga. Sedikit pusing di kepala dan nanar di mata.
"Siapa?"
"Saya, Mak. Si Kutar"
Kutar masuk tergesa-gesa. Langsung duduk terjerembab seperti orang tak bertenaga.
"Ada apa Kutar, kenapa seperti dikejar hantu?" tanya Mak Katik.
"Celaka mak. Laki-laki yang kita lihat tadi pagi..."
"Kenapa? Ada apa dengan dia?"
"Dia mati, Mak!"
"Innalillahi wainna ilaihi raji'un! Kutar cepat kau pergi ke surau. Guguah tabuah tiga-tiga!"* perintah Mak Katik.
Kutar segera pergi ke surau.
Mak Katik kembali terpana. Entah kenapa ia merasa tak berdaya. Tak biasanya terjadi pada parewa seperti dia. Ia kembali mati rasa, pingsan untuk kedua kalinya.
--------------------
Begitu terjaga, Mak Katik bergegas ke arah jendela. Tak kuat melihat cahaya ia kembali duduk. Jam dinding menunjukkan angka 08.11 WIB.
"Oi Ajin, kenapa begini jadinya?" Mak Katik menangis seperti anak remaja. Meremas dada, menepuk paha dan memukul kepala. Ia merebahkan badannya ke lantai. Pikirannya menerawang ke masa silam.
"Aku membunuh ke dua-duanya! Ya Allah, ampuni aku.
Mak Katik tak menyangka kedatangan Drs H.Ajirun Radin,SH yang tiba-tiba. Ia teringat masa mudanya sebagai parewa.
Mak Katik melayang ke pertengahan tahun 1958, Mak Katik hampir lupa tanggal pastinya. Zaman itu digenal zaman bagolak. Orang tua-tua menyebutnya zaman peri-peri. yang benarnya adalah Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, perang saudara antara pendukung PRRI di Sumatera Tengah dengan pemerintah pusat. Orang kampung Mak Katik menyebutnya tentara pusat. Konon tentara pusat itu didrop dari pulau Jawa. Ibu kota negara.
Tentang Angku Radin, ayah Drs H. Ajirun Radin,SH adalah orang yang dipercaya jadi mata-mata. Menurut laporan Angku Radin, tentara pusat akan masuk menyerang kampung Batu Baru hari Rabu. Ia bicara tergesa-gesa dan penuh curiga. Seolah-olah ada banyak rahasia di kepalanya. Sekarang hari Selasa. berarti tentara pusat akan masuk esok hari. Maka pemuka kampung segera memerintahkan penduduk mengungsi. Termasuk keluarga Angku Radin. Tinggallah di kampung beberapa orang muda-muda sekedar berjaga-jaga. Juga Mak Katik sebagai ketua pemuda.
Batu Baru adalah negeri di lingkung bukit. Penat mata memandang, hanya bertumbuk dengan bukit berkeliling. Satu-satunya jalan masuk ke Batu Baru adalah Jorong tetangga, Batu Gaba-Gaba. sesuai namanya, gaba-gaba mirip gapura. Di situlah Angku Radin berjaga-jaga. Hari itu masih hari Selasa. penduduk sudah diungsikan semua. Tanpa diduga-duga hari itu juga tentara pusat memasuki desa. Tidak hari Rabu sebagaimana laporan intelijen Angku Radin. Sebentar saja api menyala di angkasa Batu Baru. Langit Batu Baru merah saga. asap hitam seolah menjeput senja. Tentara pusat merajalela membakar rumah yang ada. Setiap rumah gadang disatroni, diperiksa lalu dibakar. Maklum rumah gadang merupakan tempat berembuknya para penghulu penggerak massa.
Melihat kondisi itu, Mak Katik muda naik pitam. Waktu itu ia sedang bersembunyi di belakang rumah Angku Radin tempat Drs H.Ajirun Radin,SH tergeletak tanpa nyawa tadi pagi. Di tengah angkara murka, Mak Katik melihat sosok Angku Radin bergegas memasuki rumahnya. Begitu keluar ia menggengam selembar bendera merah putih. Penggalan penopang batang pisang di depan rumah dijadikan tiang. Akhirnya bendera itu berkibar megah melambai-lambai menghimbau senja. Angku Radin berdiri tegap, mengambil sikap hormat ke arah bendera. Persis seperti Jenderal Sudirman, atau Letkol Ahmad Husein.
Melihat hal itu Mak Katik muda makin terbakar dan keluar dari persembunyian. Dengan ladiang terhunus ia melompat ke arah Angku Radin seraya berteriak, "Matilah kau pengkhianat!" Angku Radin mati seketika.
Seraya menyeret jasad Angku Radin, Mak Katik muda terus mengomel, Jangan coba-coba mengambil muka mengibar bendera. Ternyata kau antek-antek tentara pusat!" tubuh Angku Radin ia lemparkan ke luak* di samping rumah. Luak itu langsung menjadi kuburnya.
Tak puas sampai di sana, bendera yang tengah berkibar ia turunkan. "Tak pantas kau berkibar dalam perang saudara. Tak seorangpun yang sungguh-sungguh menghormatimu," umpat Mak Katik. Bendera ia cabut dari tiangnya, lalu ia lemparkan ke dalam luak. Mungkin jadi selimut Angku Radin. "Jika sebangsa berbunuh-bunuhan, kita tak butuh lagi bendera," Mak Katik melanjutkan ocehannya sebelum kabur ke semak-semak.
Tiga hari sesudah kejadian itu, Mak Katik kembali ke rumah Angku Radin. Kampung Batu Baru masih lengang. Ia mencoba menggali kubur untuk Angku Radin. Tetapi ia putus asa kehabisan tenaga. Tiba-tiba ia dapat akal. Tanah penggalian yang belum selesai ia jadikan gundukan. Anggap saja ini kubur Angku Radin.
Satu setengah bulan setelah peristiwa itu Mak Katik baru tahu, ternyata Angku Katik bukan pengkhianat. Bendera yang ia kibarkan ternyata seperintah Sersan Busra Sutan Mangkuto, mantan komandan PRRI di kecamatan. "Bendera itu tanda cinta kita, PRRI dan tentara pusat, sebagai orang Indonesia," kata Sersan Busra.
Mak Katik menyesal sejadi-jadinya. Itulah, kenapa sampai sekarang mendengar nama Angku Radin ia berpeluh. Pias seperti habis ditegur hantu.
"Untunglah ada kuburan buatan," batin Mak Katik ketika keluarga Angku Radin yaitu yang menjadi Drs H.Ajirun Radin,SH sekarang ini bertanya tentang bapaknya. Waktu itu ia masih remaja.
"Angku Radin mati ditembak tentara, ini kuburnya. Aku yang menyelenggarakannya," jelas Mak Kati kepada Ajin atau Drs H.Ajirun Radin,SH, dahulu, empat puluh tahun yang lalu. Semenjak itu keluarga Angku Radin merantau ke Medan. ٍSampai waktu yang lama, tak ada lagi kabar beritanya.
---------------------------
Lokasi rumah dan kuburan palsu Angku Radin itu sekarang dikenal dengan Parak Sati. Luak tempat berkuburnya Angku Radin menjadi Luak Sati. Kata orang lokasi itu angker. Tetapi sejauh ini, hanya Mak Katik yang dapat merasakan keangkerannya.
-------------------------
"Mak Katik, semua orang sudah diberi tahu. Mayat itu sudah diangkat dari luak. Mungkin ia terpeleset dan langsung mati ketakutan," lapor Kutar.
"Ehem..." Mak Katik cuma berdehem.
"Bersama mayat itu ditemukan juga satu tengkorak kepala. Mungkin saja ia mati karena tak kuat melihat tengkorak itu," terang Kutar melanjutkan laporannya.
"Apa? Mak Katik berteriak kaget. Tengkorak kepalanya seolah lepas.
"Tengkorak mak, tengkoraaak!!!" tegas Kutar.
Mata Mak Katik juga ingin lepas.
"Aku tidak membunuhnya, Angku Radin!" Mak Katik berteriak histeris.
"Angku Radin? Siapa dia Mak?" tanya Kutar tak mengerti.
Mak Katik tak menjawab. Sebab ia pingsan untuk ketiga kalinya.

Padang 20 Oktober 2006
Tasapo : Kerasukan roh halus.
Jorong : Unit terkecil dalam pemerintahan nagari di Sumatera Barat
Ladiang : Parang, golok.
Mak : Panggilan yang lazim untuk mamak (paman) di Minangkabau
Taratik : Sopan santun, tata tertib.
Parewa : Preman di Minangkabau. Meski preman, orang ini berfungsi penjaga nagari (paga nagari), dan bertugas membela kehormatan anak dan kemenakan.
Maota : Bercakap-cakap, ngobrol
Wa'ang : Engkau, (laki-laki)
Guguah tabuah tiga-tiga : Memukul bedug dengan tiga ketukan berulang-ulang. Biasanya di daerah tertentu di Minangkabau berarti ada kemalangan, orang meninggal dan sebagainya.
Luak : Sumur gali