Showing posts with label Contoh Laporan Bacaan. Show all posts
Showing posts with label Contoh Laporan Bacaan. Show all posts

25 October 2019

Urang Siak: Tak Sekadar Santri


Urang Siak: Tak Sekadar Santri
Muhammad Nasir


Sebutan Urang Siak masih dikenal dan masih sering digunakan oleh masyarakat Minangkabau. Sebutan itu orisinil milik penutur asli bahasa Minangkabau, digunakan untuk menyebut sosok elit agama di tengah masyarakat, atau untuk menyebut orang-orang yang terhubung dengan tugas-tugas peribadatan dan upacara adat serta keagamaan di tengah masyarakat.


Penggunaan istilah Urang Siak sangat bervariasi dan memberikan maksud yang beragam pula. Masyarakat yang masih terhubung dengan praktik kehidupan tradisional masyarakat Minangkabau di masa-masa lampau diyakini masih terbiasa menggunakan istilah ini.

Menurut teori linguistik, kosa kata yang dipakai oleh masyarakat untuk berkomunikasi menunjukkan adanya benda atau aktivitas khusus yang masih berlangsung. Artinya, istilah Urang Siak yang masih digunakan oleh masyarakat Minangkabau menunjukkan dinamika sosial yang melibatkan peran Urang Siak masih ada dan dialami langsung oleh penuturnya.

Namun tetap perbedaan variasi dalam penyebutan Urang Siak. Di zaman Ojek Online (ojol) ini, variasi penyebutan disebabkan adanya penurunan frekwensi kegiatan sosial dan interaksi sosial yang melibatkan Urang Siak itu. Dari segi usia penutur, istilah buya dan ustadz yang digunakan untuk menyebut Urang Siak dapat dipastikan  adalah generasi termuda yang mulai terpengaruh dengan unsur peubah tradisi dari luar.

27 July 2019

Ikhtisar Gerakan Kaum Tua dan Kaum Muda


Ikhtisar Gerakan Kaum Tua dan Kaum Muda
-Sebuah Laporan Bacaan
Oleh Muhammad Nasir

Asal usul Istilah Kaum Tua dan Kaum Muda
Kitab al Syir'ah (1937)

Kaum Tua dan Kaum Tua adalah istilah untuk menyebutkan kelompok elit sosial dalam masyarakat. Meskipun istilah ini secara historis sangat populer dalam gerakan intelektual Minangkabau, namun istilah ini tidak mutlak ditujukan untuk polarisasi kaum intelektual di Minangkabau.

Yudi Latif[1] misalnya, menyebut kaum intelektual atau inteligensia ini dengan Bangsawan Pikiran. Bangsawan pikiran disebut untuk menunjukkan kemunculan inteligensia Hindia Belanda di paruh awal abad ke-20. Istilah Bangsawan Pikiran ini dimunculkan untuk menunjukkan dengan elit bangsawan lama yang disebut Bangsawan Oesoel. Lebih lanjut Yudi Latif menulis untuk menegaskan mulai hadirnya komunitas baru inteligensia[2] seperti yang dibayangkan, maka komunitas baru bangsawan pikiran disebut dengan Kaum Muda dan komunitas Bangsawan Oesoel disebut dengan Kaum Tua atau Kaum Kuno. Hanya saja, Yudi Latif belum menunjukkan secara persis waktu kemunculan istilah ini.