Urang Siak: Tak Sekadar Santri
Muhammad Nasir
Sebutan
Urang Siak masih dikenal dan masih
sering digunakan oleh masyarakat Minangkabau. Sebutan itu orisinil milik
penutur asli bahasa Minangkabau, digunakan untuk menyebut sosok elit
agama di tengah masyarakat, atau untuk menyebut
orang-orang yang terhubung dengan tugas-tugas peribadatan dan upacara adat
serta keagamaan di tengah masyarakat.
Penggunaan istilah Urang
Siak sangat bervariasi dan
memberikan maksud yang beragam pula. Masyarakat yang masih terhubung
dengan praktik kehidupan tradisional masyarakat Minangkabau di masa-masa lampau
diyakini masih terbiasa
menggunakan istilah ini.
Menurut
teori linguistik, kosa kata yang dipakai oleh masyarakat untuk berkomunikasi
menunjukkan adanya benda atau aktivitas khusus yang masih berlangsung. Artinya,
istilah Urang Siak yang masih digunakan oleh masyarakat Minangkabau
menunjukkan dinamika sosial yang melibatkan peran Urang Siak masih ada
dan dialami langsung oleh penuturnya.
Namun tetap
perbedaan variasi dalam penyebutan Urang Siak. Di zaman Ojek Online
(ojol) ini, variasi penyebutan disebabkan adanya penurunan frekwensi kegiatan
sosial dan interaksi sosial yang melibatkan Urang Siak itu. Dari segi usia
penutur, istilah buya dan ustadz yang digunakan untuk menyebut Urang Siak dapat
dipastikan adalah generasi
termuda yang mulai terpengaruh dengan unsur peubah tradisi dari luar.

