Showing posts with label Covid-19. Show all posts
Showing posts with label Covid-19. Show all posts

22 November 2020

Cerita Bang Covid Sejenak Setelah Kematiannya

Cerita Bang Covid Sejenak Setelah Kematiannya

Cerpen Muhammad Nasir

 

Jam 23.50 WIB jelang tengah malam rumahku diketuk seseorang. Aku belum tidur. Sejak isya tadi aku masih asyik menggerayangi layar sentuh handphoneku.  Dari balik jendela kuintip, rupanya ada bujang tanggung berusia limabelas tahun.  Selepas pintu rumahku terkuak, kulihat wajahnya ragu-ragu. Sepertinya ia ingin bicara, tapi tak tahu apa yang ingin ia bicarakan. Sebab ia terpana saja menatap mataku. Baiklah, aku saja yang akan bertanya.

“Ada apa, Dodo Armando?” sapaku perlahan.

Buyung atung itu bernama Dodo Armando anak tetanggaku Covid Coperfield. Meskipun sudah aku tanya, ia belum menjawab juga. Ia masih terlihat ragu-ragu apa yang akan ia katakan. Matanya sebentar-sebentar melihat ke rumahnya, dua petak rumah jaraknya dari rumahku. Kemudian ia kembali menatapku. Kali ini ia menggaruk-garuk alis mata kirinya.

“Ada apa denganmu Dodo? Ada perlu apa tengah malam begini?” kembali kuulangi pertanyaanku. Kali ini Dodo sudah siap dengan jawabannya.

“Ibuku menyuruh aku ke sini. Tapi... begini sajalah Om. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku berharap Om mau ke rumahku segera,” jawab Dodo.

Dodo lega setelah berhasil berkata-kata. Namun setelah berkata, ia terlihat gelisah. Aku paham. Pasti ada yang penting. Aku tak ingin membayangkan sesuati yang tak jelas. Akhirnya kukabulkan permintaan Dodo dengan mengangguk berulang-ulang. Dodok kusuruh saja pulang segera,

“Ya, ya, ya. Baiklah Dodo. Kau pulanglah duluan. Om akan segera ke rumahmu.

Aku bergegas ke dalam rumah. Segera ku loloskan sarungku dan menggantinya dengan celana panjang. Ku raih handphone ku, kubawa serta ke rumah Covid Coperfield. Dari pintu pagarku, ku lihat Dodo berdiri di pintu pagar rumahnya. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa aku akan segera datang ke rumahnya. Setelah aku terlihat berjalan ke rumahnya, ia segera masuk ke dalam rumah. Pintu ia biarkan terbuka lebar. Semua lampu di rumah itu terlihat menyala.

Dengan rasa penasaran aku segera masuk. Aku tak ingin menduga-duga. Di tengah rumah terlihat Dodo dan dua adiknya termenung bersama-sama. Wajah mereka terlihat cemas dan tegang.

“Ibu di dalam bersama ayah. Ibu terlihat menangis Om,” kata Dodo.

“Hmm... ada apa?” tanyaku

“Om, masuk saja. Kamar itu, yang pintunya terbuka,” tunjuk Dodo

Aku segera menuju kamar yang ditunjuk Dodo. Sedikit sungkan, kuarahkan langkahku ke kamar itu. Terlihat Vida alias Siti Covida Lara, istri Covid menangis tersedu-sedu. Ia melihat kehadiranku dan memintaku segera masuk ke kamarnya.

“Bang, Long. Masuklah. Ini... ini Bang Covid. Lihatlah!” katanya dengan cemas.

Aku segera masuk ke kamar itu. Covid terlihat terbaring. Matanya setengah terbuka. Tangannya menggenggam erat handphone miliknya.

“Apa yang terjadi Vida?” tanyaku.

“Bang Covid tadi sesak napas. Aku tak tahu, sebab aku di ruang tengah bersama anak-anak. Tiba-tiba aku dengar ia menyebut-nyebut nama Bang Long. Bang Long... bang Long... panggilkan bang Looong! Aku terkejut dan segera berlari ke kamar. Aku lihat dia tersengal-sengal. Makanya ku suruh saja Dodo menjemput abang,” katanya

“Baiklah, aku jemput mobil dulu,” kataku.

“Tidak Bang. Pakai mobil kami saja!” Vida mengangsur kontak  mobil ke tanganku.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, aku telpon dokter Reyhan, tetangga kami yang tinggal di Blok F7. Mana tahu ia tidak dinas malam. Tak menunggu lama, dokter Reyhan tiba di rumah Vida. Syukurlah, ia ada di rumah.

Inna Lillahi. Bang Covid sudah pergi, Vida!” ucap dokter Reyhan lirih.

Vida meraung keras. Ia memanggil nama Covid berulang-ulang. Ketiga anaknya ikut masuk ke kamar. Mereka semua bertangis-tangisan.

“Bang, Long. Tak usahlah ke rumah sakit. Bang Covid sudah tiada. Kecuali Kak Vida ingin memastikan sebab kepergiannya. Minimal visum.” kata dokter Rehan sambil melirik Vida.

“Bang Long, bantulah menutup matanya,” kata dokter Reyhan.

Sambil membaca do’a, akupun segera mengusap mata Bang Covid. Sekali usap, belum juga mengatup. Kubaca lagi do’a itu. Belum juga. Tiga, empat hingga kali ketujuh barulah mata itu terkatup sebelah kanan. Aku berdebar-debar. Tadinya, setiap aku usap, ia seperti mendelik ke arahku. Sekarang yang sebelah kiri menutup sedikit, seperti mengintip ke arahku. Segera aku berpaling dan keluar dari kamar.

“Sebaiknya, kita panggil tetangga yang lain. Bang Covid sebaiknya kita baringkan di tengah rumah,” kataku untuk menghilangkan kegugupanku usai berjuang menutup mata Bang Covid. Aku segera menuju halaman, menelpon beberapa orang tetangga.

Malam itu juga, rumah Bang Covid menjadi ramai. Para tetangga yang masih terjaga segera berdatangan. Begitupula yang sebelumnya sudah tertidur. Sebagiannya berjaga-jaga di teras rumah. Sebagian lagi, terutama yang perempuan terlihat duduk bersama Vida yang masih sedu sedan.  Kadang terlihat ia menangis sambi mengangkat telpon genggamnya. Ibu-ibu terlihat memijit-mijit punggung Vida.

Tubuh Bang Covid sudah dibujurkan di tengah rumah. Beralas selembar kasur. Tubuhnya diselimuti beberapa lapis kain panjang, batik coklat tua. Berganti-gantian tamu yang datang malam itu menyingkap wajah Bang Covid.

Bang Covid sudah tiada. Tutup usia pada umur 45 tahun. Berakhirlah riwayat tokoh muda harapan bangsa itu. Seorang pengusaha muda yang baik hati, suka menolong. Ia juga politisi muda cemerlang yang sedikit narsis. Mungkin tidak sedikit, tapi benar-benar narsis.

***

Kamis pagi itu, cuaca terlihat mendung. Rumah Bang Covid mulai ramai. Beberapa blok jalan di komplek sudah mulai dikondisikan untuk parkir para pelayat. Sejak pagi, mobil-mobil pengantar papan bunga keluar masuk dan berpapasan dengan kendaraan para para pelayat. 

Sejak pintu gerbang komplek perumahan  sudah berjejer papan bunga ucapan duka cita. Papan bunga ketua partai politik yang dimasuki Covid dan papan bunga gubernur tepat di depan pintu pagar rumah Covid yang bagus. Jelang tengah hari, papan bunga itu sudah kuyup diguyur hujan tipis-tipis yang turun semenjak jam sembilan pagi.

Sebagai “orang berbaun” dan tokoh muda yang sedang naik daun, kematian Covid terlihat istimewa. Orang-orang tumpah ruah datang melayat. Menyatakan duka lalu pergi. 

Sebagian terlihat bercakap-cakap dengan gembira. Bukan mempercakapkan kematian Covid memang. Tapi sepertinya mereka sedang reuni atau temu bahagia antar sahabat yang lama tak jumpa. Jejeran papan bunga andai tak dibaca apa isinya terlihat seperti suasana pesta. Indah dan berwarna-warni. Rumah Covid tidak seperti rumah duka, namun seperti open house pejabat lebaran hari kedua.

Tengah hari, hujan turun dengan lebatnya. Gubernur yang tadinya ingin berpidato melepas kematian Covid sudah berlalu menjelang zuhur tiba. Tapi ia sudah meninggalkan beberapa pejabat propinsi untuk menyampaikan pidato gubernur, andai acara melepas jenazah jadi juga dilaksanakan. Sengaja ia panggil beberapa orang pejabat untuk mewakilinya. Berjaga-jaga, menjaga nama gubernur.

“Kalian atur saja, siapa yang akan memberi sambutan. Jika ada di antara kalian yang akan pergi, boleh-boleh saja. Tapi, satu di antara kalian tetap harus tinggal!” pesan gubernur kepada para pejabatnya itu. Pesan yang mengandung perintah disertai ancaman lewat tatapan mata.

Pukul dua hujan berhenti. Udara kembali cerah disinari matahari yang mulai membungkuk ke arah barat. Pemakaman berlangsung khidmat. Siti Covida Lara, istri tercintanya terlihat anggun dibalut busana hitam-hitam,  khas perempuan kaya yang sedang berduka. Matanya yang murung tertutupi oleh kacamata hitam lebar. Tanda-tamda kesedihan hanya dapat diduga dari hidungnya yang memerah. Berulangkali Vida mengusap-usap hidungnya dengan sapu tangan. Tangisnya kadang diisyaratkan dengan kedua bahunya yang berguncang-guncang.

Hari ini aku merasa lelah. Usai jenazah tertanam, aku bergegas pulang. Sejak malam aku tak sempat tidur. Hanya memicing-micingkan mata saja di kursi yang disediaan untuk pelayat. Tak banyak tamu agung  yang melayat mengenal dan menyapaku. Tapi aku harus tetap di sana sebagai tetangga yang baik. Bahkan keluarga dan kerabat Covd ataupun Vida sama sekali mengabaikan aku. Ya, sudahlah.

Kicau burung di area pemakan mulai kentara. Aroma dan suasana pemakaman umum mulai terasa. Aku berdebar-debar. Di belakangku, dua anak muda berjalan sambil berbincang-bincang.

“Enak sekali menjadi orang mati. Pidato di pemakaman tadi semuanya mengaku bersaksi bahwa Bang Covid orang baik,” kata salah seorang di antara mereka.

“Boleh jadi baik,” kata yang seorang lagi.

“Tapi aku tadi melihat di pohon kamboja raksasa itu, dua  orang malaikat tersenyum masam, duduk menjuntai sambil membolak-balik buku catatannya.” Anak muda yang pertama bicara tadi melanjutkan ucapannya.

“Husy... tak boleh begitu. Selagi masih di area pemakaman, derap sepatumu itu masih dapat didengar bang Covid. Apalagi ucapanmu itu!” kata yang seorang lagi menasehati. Entah benar-benar  menasehati entah tidak, ya entahlah.

Sesampai di rumah aku mandi, berwuduk dan langsung tertidur. Hidup ini memang misteri. Kematian adalah kejadian yang tak dapat disangka-sangka.

***

Sore itu, Covid Coperfield datang dengan wajah sendu. Aku sedang duduk di beranda depan. Minum kopi sambil membaca-baca pesan di akun whatsapp ku. Kemilau cahaya sore menimpa dedaunan yang masih basah. Langit kekuning-kuningan. Indah namun menyimpan aura yang aneh. Mendebarkan.

“Duduklah, Vid!” aku menggeser sebuah kursi ke arah Covid.

Covid segera duduk. Badannya yang terlihat lemas ia onggokkan begitu saja di atas kursi. Ia meremas-remas rambutnya dengan kedua tangan. Kemudian ia menyapu muka dengan kedua telapak tangannya. Ia melepaskan desahnya lewat hembusan nafasnya yang berat.

“Hhhh... kematian yang tak pernah kuduga bang.” Covid segera membuka suara. Mukanya tertunduk ke lantai. Ia terlihat seperti orang kalah. Pasrah meski tak terlihat seperti kecewa.

Aku kaget. Aku baru sadar bahwa Covid baru saja dikuburkan jelang Salat Ashar tadi. Tanganku dingin dan kaku. Antara percaya dan tak percaya. Namun, sambil menjemput kenyataan yang sebenarnya, aku coba menjaga perasaan Covid yang sedang kalut itu. Dengan hati-hati aku meberi respon.

“Benar, Vid. Kukira kau sudah meninggal tadi malam. Maaf, rasanya baru tadi kau dimakamkan.”

Covid masih menekurkan kepala. Sejenak ia terdiam. Akupun merasa serba tak menentu.

“Ya, abang tak perlu  minta maaf. Aku memang sudah mati. Tadi aku minta dikembalikan sejenak ke dunia. Aku perlu handphoneku dan aku hanya ingin menyaksikan apa yang terjadi setelah kematianku. Sepertinya orang itu adalah malaikat. Dua malaikat yang amat mirip dengan wajahku itu memandangku dengan aneh, kemudian mereka saling menatap. Salah seorang dari mereka berkata kepadaku...”

“Waktumu tak banyak. Kembalilah ke rumahmu. Setelah itu kamu akan segera terbaring lagi di sini,” kata malaikat itu.

Aku mendengar suara Covid seperti datang dari dunia yang jauh. Aku berkeringat dingin. Perkataannya berdenging-denging di telingaku.

Covid lalu bercerita panjang tentang apa yang diingatnya awal mula kematiannya. Mulai saat ia memanggil-manggil namaku saat sekarat. Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi. Pengakuannya, apakah ia dimandikan, dikafani atau dishalatkan ia tak tahu.

Kemudian ia mulai merasakan sesuatu yang aneh saat ia diusung di keranda kematian. Hatinya terasa kosong. Ia dapat melihat langit yang sangat luas. Semakin lama semakin luas hingga ia merasa hanya sebutir biji sawi. 

Mendadak ia menjadi sedih dan ia mulai menangis. Ia menangisi sesuatu yang ia sendiri tak paham. Menurut Covid, itulah kali pertama ia menangis seusai nyawanya dicabut.

Lalu ia melirik ke arah iring-iringan pengantar jenazah. Istri, anak-anak dan kerabat dekatnya dapat ia pandangi satu persatu. Wajah mereka terlihat sedih.  Beberapa di antara mereka berjalan berurai air mata.

“Untuk ini aku juga menangis. Tentu saja ada alasannya. Aku mencintai mereka. Berpisah dengan mereka tentulah sesuatu yang menyesakkan. Di sinilah aku menangis untuk kedua kalinya” kata Covid sambil menegadah ke arah langit. Ia sepertinya menggenangi bolamatanya dengan air matanya sendiri. Syukurlah ia tak menatapku.

“Bang Long, apa kau masih dapat mendengarkanku?” tiba-tiba Covid menepuk pahaku.

Aku tersentak kaget. Aku seperti disengat ikan baronang. Terus terang, aku mulai gemetar. Dengan tergagap-gagap aku menjawab:

“Iya, Vid. Berceritalah. A..aku masih mendengarkanmu.”

Covid Coperfield kembali melanjutkan ceritanya.

“Bang Long, aku menangis untuk yang ketiga kalinya. Aku melihat di antara pengantarku ada yang terlihat bahagia. Tepatnya biasa-biasa saja. Sepertinya tak ada yang mereka sedihkan. Meskipun mereka terlihat tulus, mereka hanyalah manusia-manusia yang sedang menjalankan fardhu kifayahnya. Di sela-sela prosesi pemakamanku, mereka masih sempat menanyakan kabar masing-masing, keadaan keluarga dan usaha-usaha yang sedang mereka tekuni untuk kehidupan. Aku memahami tindakan mereka. Ya. mereka tak punya alasan untuk bersedih”

Covid mulai mengusap matanya yang basah. Sejenak ia menerawang.  Sampai kemudian ia kembali bercerita. Curhat orang mati.

“Bang Long, kesedihan itu seperti hujan tadi siang. Sebentar turun, sebentar berhenti. Kemudian panas mentari sore datang menghangatkan. Kemudian hujan lagi. Itulah yang dapat kulihat. Aku sempat mampir sebentar ke rumah. Di rumah kulihat istriku yang tadinya menangis bisa juga tertawa-tawa dengan kerabat dan kawan-kawan dekatnya. Begitu mereka pergi, istriku menangis lagi. Tadi kulihat Vida dengan ketiga anak kami berpelukan di kamar. Kepada anak-anak kami Vida berkata:

“Ayah kalian orang baik. Banyak yang datang melayat. Mulai dari gubernur, para pengusaha kaya, orang-orang ternama di kota ini semunya datang menyatakan bela sungkawa. Ibu merasa puas. Mereka yang menganggap kita sebelah mata, sekarang ternganga. Kita bukanlah orang biasa, anak-anakku.”

“Bang Long, saat Vida bercerita seperti itu, aku melihat ada berlembar-lembar rasa bahagia menyelip dalam tangisnya. Aku baru sadar, bahwa perasaan orang hidup itu campur aduk saja. Ketika mereka berkumpul-kumpul, sedih dan gembira datang bergandengan. Tapi sudahlah,  aku anggap saja itu sebagai pelipur lara bagi mereka yang sedang berduka,” ujarnya sambil tersenyum.

Kali ini senyum Covid Coperfield terlihat aneh. Tapi bagiku terlihat menyeramkan. Ia menyeringai seperti merencanakan sesuatu yang jahat. Aku bergidik ngeri. Aku merasa seperti ingin buang air besar. Perutku terasa mengembang.

Covid Coperfield, sambil menyeringai melanjutkan ceritanya. Seringainya mengesankan rasa bangga. 

“Bang Long, tadi aku sempai melihat isi telepon genggamku. Smartphone ku. Telpon itu ada digenggaman istriku. Ia terlihat sedang membalas ungkapan dukacita yang disampaikan oleh entah siapa saja di akun-akun medsosku. Facebook, Twitter, Whatsapp, IG dan lain-lain. 

"Aku puas bang. Tak ada yang memaki kematianku. Foto-foto ku dihias demikian rupa dengan kalung bunga kematian. Foto-foto itu viral ke mana-mana. Setidaknya, aku berharap itulah tanda-tanda husnul khatimah. Aku bahagia.” 

Covid terlihat bahagia sekali. muka pucatnya mulai gak bercahaya. Tak lama, ia kembali bertutur.

"Bang Long, Terus-terang aku memang narsis bang. Hari-hari selama aku memiliki akun media sosial memang selalu kuhabiskan melihat respon positif netizen terhadap apapun yang aku posting. Terus terang, satu saja respon negatif yang diberikan netizen, membuat darahku menggelegak. Aku marah. Itulah yang terjadi tadi malam, sampai dadaku sesak. Sekarangpun aku masih merasakan hawa marah di rongga dadaku. Heh, siapa dia yang berani menghinaku?” kata Covid sambil mendelik marah. Kali ini wajahnya benar-benar terlihat seram.

Tak ingin berlama-lama menyaksikan keseraman itu, aku coba mengalihkan kemarahannya. Memberi pertanyaan dengan terbata-bata.

“Vid, aku ingin tahu, mengapa kau panggil namaku saat kau sakaratul maut? Kemudian saat aku berusaha menutup matamu, aku merasa kesulitan. Bahkan di kali yang ketujuh, mata kirimu masih terbuka sebagian seperti mengintip ke arahku.”

Ah, tiba-tiba aku menyesal menanyakan itu. Ibarat rollet Rusia, pertanyaan itu ibarat berjudi dengan sebutir peluru yang bisa saja merengkahkan benakku. Sungguh, aku sedang menunggu jawaban yang baik-baik saja.

Mendengar pertanyaan itu Covid Coperfield tertawa ringan, seperti dipaksakan. Tawa yang mengandung kesedihan.

“Hehe... jangan khawatir bang. Kau orang baik. Spontan saja, namamu yang segera ku ingat. Kau bisa menyetir. Waktu itu, aku masih berharap diobati di rumah sakit. Dadaku terasa sesak. Hanya kaulah di komplek ini yang mau bergaul dengan ku dengan tulus tanpa memandang status baik-buruk pribadiku." 

Covid tersenyum kepadaku. Matanya berusaha mencari bola mataku. tapi aku sedang berpura-pura meraih cangkir kopi. 

"Sedangkan, kenapa mataku tak dapat terpejam, karena aku masih membayangkan orang yang menghinaku di akun facebook ku. Huhh! Kurang ajar sekali dia. Sampai tadipun masih kubuka smartphone ku untuk melihat siapakah orang yang menyebabkan kematianku. Sayang sekali, ribuan respon netizen tentang kematianku membuatku kesulitan menemukan profil orang biadab itu. Huuhh!”

Prankkk!

Tiba-tiba Covid Coperfield membanting gelas kopiku yang sudah hampir kosong. Badanku terasa ringan, nyawaku seakan terbang.  Bersamaan dengan itu, petir menggelegar. Terdengar suara berat dari kejauhan.

“Hey, anak Adam. Waktumu sudah habis. Bukannya menghitung bekal apa yang akan kau bawa ke alam baka, malah kau minta kembali untuk menjemput smartphone mu. Baguuus....!”

Kilat kembali menyambar. Kali ini menyambar tubuh Covid Coperfield yang cengengesan di dekatku. Tubuhnya meledak dan percikan cairan hangat dan dingin mengenai muka ku. Aku ikut terpental. Azan Maghrib bernada serak mendayu, menyelip di antara desir hujan di atas atap.  Langit terlihat terang-terang kopi jalang. [MN]


Padang, 22 November 2020

14 June 2020

Ujang Lento Pulang Kampuang

Ujang Lento Pulang Kampuang
Muhammad Nasir

Tibo di rumah rang gaek no, Ujang Lento basorak gadang, “Yes! Aden pulang kampuang!”. Ndak tangguang gadang ati no. Pamerantah memang malarang para perentau Minang pulang kampuang untuak samantaro wakatu. Maklum musim korona. Jan sampai para perantau manjadi agen nan mambao virus kalera, eh korona tu ka kampuang. Sabab, Jakarta tampek rantau Ujang Lento memang sarang korona. Mantun kecek berita.

Sajak sampai di rumah biyai no, Ujang Lento mahanok sajo di dangau durian. Isolasi diri.  Untung lai ka mujua, Ujang Lento mandapati durian sadang rareh mararak galeh. Wak no iyo patuah sen ka parentah ketua pamuda nagari nan umua no ampia limo puluah. Di telepon, Tan Rajo ketua pemuda tun mangecek an, kok iyo ang ka pulang jang, ang iyo harus bakuruang, isolasi mandiri agak ampek baleh hari. “Lai jaleh diang?” kecek Tan Rajo. “Jadih da, aman du,” jawek Ujang Lento sangkek tu. “Pulang paja gai?, tanyo Tan Rajo baliak. “Indak da. Wak den surang sen no,“ jawek Ujang Lento

09 April 2020

Perjumpaan Islam dengan Budaya Minangkabau


Perjumpaan Islam dengan Budaya Minangkabau
Muhammad Nasir

Pada pembahasan terdahulu telah ditulis bahwa sebelum Islam masuk ke Minangkabau, masyarakat sudah hidup dalam susunan adat yang teratur. Meskipun sebelum Islam berkembang secara masif, telah hadir terlebih dahulu agama Hindu dan Budha, namun tak banyak informasi sejarah yang menunjukkan bahwa masyarakat Minangkabau hidup dalam ketaatan dalam aspek keimanan dan peribadatan  dalam kedua agama terdahulu. Dapat dikatakan, “agama” masyarakat Minangkabau pada masa itu adalah adatnya sendiri.
Setelah kedatangan Islam yang membawa aturan keimanan disertai dengan nilai-nilai yang baru, muncullah dialektika dengan nilai-nilai yang ada dalam adat Minangkabau. Beberapa hal yang perlu diperhatian sebelum mencari titik singgung ajaran Islam dengan adat Minangkabau adalah, pertama, bahwa Islam sudah diterima sebagai agama baru masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau sudah beralih keyakinan (konversi) dari keyakinan agama lamanya.[1] Bahkan hingga saat ini, dalam percakapan sehari-hari  orang Minangkabau dengan percaya diri mengatakan “agama orang Minangkabau adalah Islam, jika tidak Islam, bukanlah orang Minangkabau.” Tidak banyak warga kebudayaan dunia ini yang mengambil Islam sebagai identitas keagamaannya. Kedua, kehadiran Agama Islam tidaklah menghapuskan adat Minangkabau, bahkan menyempurnakan dan mengokohkannya.[2] Bahkan setelah revolusi Padri-pun adat Minangkabau terutama sistem matriachaat sebagai ciri utama Minangkabau justru tetap bertahan hingga sekarang. Hal ini menurut Jefrey Hadler (2010) dengan formula “adat basandi syarak, syarak basandi adat” pemimpin-pemimpin Padri dan adat berhasil berkompromi dan mempertahankan kekhasan budaya Minangkabau.[3]
Kedatangan Islam secara umum memberikan perubahan dalam kebudayaan Minangkabau. Tidak hanya orangnya saja yang memeluk Islam tetapi banyak aspek kehidupan terbawa serta. Mansoer (1970:38) menulis:
Karena itu bukan sadja penduduk sesuatu daerah tempat agama Islam masuk dan berkembang jang di-Islamkan, tetapi djuga seluruh lembaga masjarakat dan hasil-hasil kebudajaannja, termasuk  tambo2 dan tjerita2 lamanja peninggalan dari zaman djahiliah." [4]

Namun keterangan-keterangan ilmiah mengenai pertumbuhan, perkembangan dan persinggungan dengan lembaga-lembaga Minangkabau, seperti adat-istiadat, susunan masyarakat, sistem dan struktur pemerintahan masyarakat adat Minangkabau sejak berislam tidak cukup tersedia. Tulisan ini belum menukik kepada aspek bagian dalam adat yang mengalami persinggungan dengan ajaran Islam. Namun, untuk melihat kontak awal yang menyebabkan interaksi Islam dan adat Minangkabau menjadi lebih intesif perlu dilihat titik singgungnya.

1- Jejak Awal
Sebagai gambaran umum, jejak pengaruh awal Islam dengan adat Minangkabau dapat dilihat dari beberapa informasi berikut:
a-   Rajo Tigo Selo dan Basa Ampek Balai (Abad ke-17)
Sebelum Sultan Alif, raja Pagaruyung pertama yang memeluk Islam (+ 1560), belum tercatat perubahan mendasar dalam struktur masyarakat Minangkabau di luar istana Pagaruyung. Oleh Sebab itu, titik singgung Islam dengan struktur kepemimpinan masyarakat Minangkabau baru dapat dilihat dari perubahan dalam kerajaan Pagaruyung, yaitu munculnya istilah Rajo Tigo Selo. Mengenai asal usul Rajo Tigo Selo, Rusli Amran (1981) mengutip sebuah sumber Belanda mengatakan “Seorang pegawai VOC bernama Van Bazel, pernah pula menulis pertengahan abad ke-18, bahwa tahun 1680 Kerajaan Minangkabau pecah menjadi tiga, karena rajanya Alif meninggal tanpa anak. Tetapi keterangan ini masih diragukan kebenarannya.[5]
Rajo Tigo Selo (Raja Tiga Sila) adalah tiga orang raja dengan masing-masing tahta yang terpisah tapi merupakan satu kesatuan. Selo dalam bahasa Minangkabau berarti sila (duduk) kemungkinan, arti harfiahnya adalah raja tiga sila atau tiga kedudukan dengan tiga fungsi. Selain itu, dikatakan tiga sila (tiga posisi duduk bersila) karena semenjak dahulu raja-raja Pagaruyung atau Minangkabau tidak mempunyai singgasana sebagai tempat bersemayamnya melainkan hanya duduk bersila di lantai istana yang sedikit agak ditinggikan. Rajo Tigo Selo masing-masing terdiri dari Raja Alam berkedudukan di Pagaruyung, Raja Adat berkedudukan di Buo dan Raja Ibadat berkedudukan di Sumpur Kudus.
Masing-masing raja mempunyai tugas, kewenangan dan mempunyai daerah kedudukan tersendiri. Raja Alam membawahi Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam merupakan kepala pemerintahan, sedangkan Raja Adat mengurus masalah-masalah peradatan dan Raja Ibadat mengurus masalah-masalah keagamaan dan pendidikan.
Struktur Rajo Selo ini memberi isyarat bahwa adanya unsur kepemimpinan agama di Pagaruyung. Meskipun ada yang mengatakan sistem Rajo Tigo Selo muncul jauh sebelum Islam,[6] namun informasi yang tertulis menyatakan bahwa pengaruh Islam dapat dilihat dari pembagian kekuasaan dalam sistem ini. Hamka (1982) berpendapat, Raja di Pagaruyung sebelum Islam (HAMKA menyebutnya zaman "jahiliyah" Budha Bhairawa) raja di Minangkabau, hanyalah "lambang". Justru eksistensi raja terlihat setelah kedatangan Islam. Islam ikut mengambil peran dalam menyusun adat. Ia bekeyakinan bahwa Rajo Tigo Selo adalah salah satu sumbangan Islam terhadap susunan kepemimpinan raja di Minangkabau.
Rajo Tigo Selo ini dibantu oleh Basa Ampek Balai, yaitu 1). Bandaharo atau Tuan Titah di Sungai Tarab. Kedudukannya sama dengan perdana menteri. 2). Makhudum di Sumanik yang tugasnya menjaga kewibawaan istana dan memelihara hubungan dengan seluruh rantau dari kerajaan lain yang ada hubungan dengan Minangkabau. 3). Indomo di Saruaso yang menjaga perjalanan adat istiadat agar "setitik tidak boleh hilang, sebaris tidak boleh lupa” dalam seluruh Alam Minangkabau. 4). Makhudum (Tuan Qadhi) di Padang Ganting yang menjaga perjalanan agama adakah berlaku menurut Kitabullah dan sunnah rasul, berjalan sunnat dan fardhu, terbatas antara halal dan haram.[7]
Dengan demikian, keberadaan Rajo Selo dan Basa Ampek Balai ini, menurut Zulqayyim (2012) menunjukkan penetrasi Islam di Minangkabau masih terbatas pada bidang formal, yaitu dengan adanya Rajo Ibadat dan Tuan Qadhi. Kedua petinggi adat ini menatur urusan agama di kerajaan Pagaruyung. Selain itu keberadaan keduanya juga mencerminkan pengakuan terhadap keberadaan agama Islam di Minangkabau.[8]

b-   Pendidikan Surau (Abad ke-17-19)
Surau adalah bangunan tempat ibadah umat Islam. Istilah ini populer di Minangkabau dan di banyak tempat di bumi melayu. Di Minangkabau, surau kebanyakan lebih dikhususkan sebagai lembaga pendidikan. Istilah surau sudah dikenal di Minangkabau jauh sebelum kedatangan Islam. Berdasarkan fungsi dan kepemilikannya ada 3 jenis surau di Minangkabau, yaitu surau adat, surau ulama dan surau dagang.[9]
Surau adat adalah surau tempat mendidik anggota kaum tentang pengetahuan adat, msyawarah kaum dan tempat tidur bagi anggota kaum yang laki-laki, yaitu anak-anak yang sudah baligh atau laki-laki dewasa yang menduda. Setelah berkembangnya Islam, surau juga digunakan untuk melaksanakan ibadah shalat bagi anggota kaum.[10] Dari penamaannya, jelas bahwa surau ini merupakan milik kaum dalam suatu suku di Minangkabau. Bahkan ada juga surau ini yang dimiliki langsung oleh suku. Banyak nama surau di Minangkabau yang dilekatkan dengan nama suku, misalnya: Surau Jambak, Surau Sikumbang, Surau Koto dan lain-lain.
Surau Ulama adalah surau yang berfungsi sebagai tempat pengajaran agama oleh ulama. Surau ini lazim dinamakan dengan nama ulama yang memimpin surau ini. Misalnya Surau Angku Kali, Surau Syekh Burhanuddin, Surau Inyiak Djambek dan sebagainya. Menurut Firdaus (2014), surau jenis ini berfungsi untuk mengajarkan tarekat. Lama-kelamaan surau ini berkembang menjadi lembaga pendidikan agama yang resmi.[11] Di antara surau yang terkenal menjadi lembaga pendidian adalah Surau Tuo atau Surau Gadang Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan, Ulakan Pariman. AWP Verkerk Pistorious pada tahun 1868 mencatat belasan surau-surau ulama terkenal yang memiliki murid antara 100 hingga 1000-an murid. Di antara surau-surau tersebut ada yang yang menjadi pelopor pembaharuan yang berpengaruh menjembatani interaksi adat dan agama Islam di di Minangkabau. Surau-surau ini pada akhirnya berkembang seiring dengan pulangnya murid-murid (urang siak) yang menuntut ilmu di sana ke negeri masing-masing dan mendirikan surau pula dengan tujuan yang sama, sehingga terbentuklah jaringan guru-murid yang pada saatnya memperkuat posisi dan daya tawar ulama dalam masyarakat Minangkabau. Di surau ini diajarkan pengetahuan agama dan juga pengetahuan adat.
Adapun Surau Dagang adalah surau yang merupakan tempat persinggahan para pedagang dari berbagai daerah di Minangkabau bahkan luar Minangkabau. Bagi masyarakat Minang anak dagang bukanlah orang buangan, bahkan dia sangat dihormati dan memiliki hak-hak tertentu. Mereka juga dibuatkan surau dagang untuk menginap dalam beberapa waktu. Penilaian masyarakat tidak terbatas kepada negeri asal anak dagang, namun lebih kepada kebaikan perilakunya bahkan kerap diambil menantu oleh warga setempat karena sikap tanggung jawab dan kemandirian yang telah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting dari itu, anak dagang yang berasal dari Minangkabau dalam sistem kekerabatan Matrilineal Minangkabau adalah dunsanak, apalagi jika ditinjau dari sukunya.
Pentingnya menyebut surau sebagai titik persinggungan Islam dan adat Minangkabau disebabkan: 1). Surau selain mengajarkan agama sekaligus tempat membicarakan persoalan adat Minangkabau yang dianut oleh murid atau masyarakat yang belajar di surau tersebut. dapat diduga, transformasi ide dan persinggungan Islam dan adat Minangkabau bermula dari sini 2). Dengan munculnya Surau yang berorientasi ke agama dan pendidikan agama di Minangkabau, bertambah pula jenis, bentuk dan nilai bangunan adat dari bangunan yang sudah ada sebelumnya. Apalagi bangunan surau keagamaan ini menghadap ke suatu arah yang berbeda, yaitu arah kiblat ke Makkah. 3). Surau dalam fungsinya yang lebih luas, merupakan media terpenting Islamisasi Minangkabau. 4). Ulama, Syekh, Tuanku atau tokoh agama yang memimpin kegiatan keagamaan di surau pada tahap awal menjelang pembaharuan Islam di Minangkabau merupakan rujukan bagi masyarakat yang pada akhirnya menjadi ide untuk menambahkan pemimpin agama dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau.

c-    Islamisasi Tambo
Tambo dalam bahasa Minangkabau kuno artinya adalah cerita sejarah asal-usul kejadian manusia dan alam semesta (Alam Minangkabau), serta kisah perjalanan para leluhur dan penerapan sistem adat dan hukum undang adat Minangkabau.
Awalnya Tambo yang tidak dituliskan di sembarang tempat, dan tidak disebarkan kepada masyarakat umum menjadi sebuah buku bacaan yang bisa di kuasai dan dipunyai oleh siapa saja. Namun, belakangan banyak didapati Tambo-tambo lama yang bertulisan tangan dengan memakai aksara Arab Melayu, dengan versi berbeda, dan menjadi pusaka keramat bagi pemegangnya, bahkan adakalanya dijadikan status legalitas keabsahan suatu kaum atau pemilik pemegang Tambo tersebut.
Tambo adalah rujukan dan panduan orang Minangkabau dalam melaksanakan perbuatan hukum menurut adat, Tambo mengajarkan tata cara dan perikehidupan orang Minangkabau, dari upacara adat kelahiran sampai upacara adat kematian, semua hukum dan undang telah diatur dan diajarkan Tambo, kecuali tatacara peribadatan keagamaan. Dalam Tambo asli (bukan tambo karangan),[12] tidak ada istilah atau ajaran agama apapum, baik ajaran agama Hindu, Budha, dan Islam, selain dari kemiripan penamaan dan gelar adat. [13]
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. 
Tidak ada suatu kisah tambo yang sama isinya. baik yang menggunakan tulisan Arab. yang mcnggunakun tulisan Latin. yang baru dikenal pada awal abad ke-20 ini. Penulis yang menggunakan bahasa Indonesia menambah keragaman kisah tambo karena umumnya mereka mencoba memberikan tafsiran menurut ilmu dan orientasinya masing·masing. Kisah tambo yang pertama ditulis dengan tulisan Arab. Oleh karena itu pengaruh agama Islam dan kisah-kisah yang bersumber dari Arab sangat dominan mewarnai kisah tambo.[14]
Secara substansi, Sheiful Yazan (2017) menyatakan amat jelasnya pengaruh Islam dalam Tambo Minangkabau terutama yang ditulis pada tahun 1800-an. Menurutnya, setidaknya ada 8 (delapan) kutipan atau kalimat yang senada dengan ayat Al Qur’an dalam naskah-naskah Tambo. Terdapat tema-tema dan kisah terkait Islam khususnya tasawuf. Terdapat kalimat, nama dan ungkapan khas Islam mulai dari basmalah, syahadatain, shalawat nabi, sampai kisah penciptaan Nabi Adam ‘alahissalam. Sebaliknya tidak terdapat unsur-unsur yang memperlihatkan jejak agama selain Islam di dalam naskah-naskah Tambo terebut.[15]

d-   Masuknya Bahasa Arab dan berkembangnya Aksara Arab Melayu
Bahasa merupakan salah satu sistem kebudayaan yang penting di dalam masyarakat. Dalam terbentuknya suatu kebudayaan dalam masyarakat, diperlukan bahasa yang memudahkan setiap orang untuk berkomunikasi, berbagi informasi, nilai, dan kepercayaan. Bahasa mempengaruhi proses kognitif manusia, serta memudahkan kelompok untuk melakukan ritual agama dan adat bersama-sama.
Sejak masuknya agama Islam ke Minangkabau, bahasa Arab sebagai bahasa al Qur’an dan bahasa ritual keagamaan ikut berkembang. Perkembangannya didukung oleh intensifnya pengajaran agama baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa Arab yang dipakai dalam menjelaskan ajaran agama otomatis membekas dan lestari dalam konunikasi sehari-hari masyarakat Minangkabau.
Pengaruh Islam yang paling kental dalam kebudayaan Minangkabau dari segi aspek bahasa adalah penggunaan aksara Arab. Aksara Arab digunakan untuk menuliskan materi ajaran agama Islam kepada masyarakat Minangkabau. Di  antara naskah yang menggunakan aksara Arab adalah kitab tafsir Al-Qur’an dari beberapa versi seperti, kitab-kitab pengajaran bahasa seperti Nahu, Sharf, Balaghah (ilm ma’ani, bayan, badi’, ma’ani, Mantiq), kitab-kitab fikih. Selain naskah-naskah berbahasa Arab mrni, juga ditemukan naskah-naskah beraksara Arab-Melayu yang banyak memuat catatan tentang silsilah keluarga, mantra, syair, legenda, mitos, metode penyembuhan dan sebagainya.  Selain itu, aksara Arab Melayu juga digunakan untuk menuliskan pengetahuan adat yang dikenal dengan tambo, naskah-naskah pidato adat, naskah-naskah pagang-gadai, hutang piutang dan sebagainya. Dengan demikian, kehadiran Islam juga memberikan pengayaan dalam kebudayaan Minangkabau, yaitu berkembangnya tradisi menulis melengkapi tradisi lisan yang telah berkembang sebelumnya.

2- Perjumpaan dengan Budaya Minangkabau
Proses masuknya pengaruh ajaran agama Islam ke dalam masyarakat adat Minangkabau tidaklah berlangsung instan dan mudah. Sejak masyarakat Minangkabau mengenal agama Islam dan beralih secara massal memeluk agama ini, terlihat ada masa yang panjang di mana tidak dijumpai informasi tentang pergulatan agama ini dengan adat Minangkabau. Andaipun diterima teori masuknya Islam ke Minangkabau sejak abad ke-7 masehi, atau abad ke-12 masehi, pergulatan atau interaksi yang intensif justru terjadi di akhir abad ke-18 masehi hingga ke paruh pertama abad ke-20 masehi.
Dalam periodesasi sejarah Minangkabau, masa ini dikenal dengan fase pemurnian dan pembaharuan. Fase ini merupakan fase terpenting integrasi antara agama Islam dan Adat Minangkabau. Kehadiran surau-surau pengajaran agama Islam di Minangkabau pasca-Syekh Burhanuddin memberi andil besar munculnya ulama-ulama yang memegang kendali atas pengajaran Islam di daerahnya masing-masing. Kesadaran beragama mulai tumbuh dan para ulama tersebut mulai melirik dan mengkritik praktik beragama masyarakat muslim Minangkabau yang masih bercampur dengan ajaran-ajaran lama serta praktik-praktik adat yang tak sesuai dengan ajaran Islam.
Fase ini dibagi kepada dua periode, yaitu: 1) Periode Pembaharuan Gelombang Pertama yang dimulai sejak revolusi Paderi (1803-1838) yang digagas Tuanku nan Renceh (1780-1825) serta disokong oleh tiga orang ulama Minang yang pulang dan Mekkah pada tahun 1803 M, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Gerakan ini mengusung agenda pemurnian (purifikasi) agama Islam, kritik adat dan kebiasaan lama yang mereka anggap tidak sesuai, dan mendesak masyarakat untuk melakukan kewajiban formal agama Islam. Revolusi ini menyulut terjadinya perang saudara antara Kaum Padri (kelompok pendukung) dan Kaum Adat (kelompok penentang) gerakan tersebut.  Perang ini yang diawali masalah konflik adat dan agama akhirnya berubah menjadi peperangan melawan penjajahan Belanda. 2). Periode Pembaharuan Gelombang Kedua yang dilaksanakan oleh murid-murid Syekh Ahrnad Khatib Minangkabawi yang baru pulang dari Mekkah. Kondisi sikap keberagamaan dan tradisi yang sudah turun temurun yang tidak dapat dirobah kembali mendapat tantangan dari kelompok pembaharu. Pembaharuan tahap kedua tampil dengan corak yang berbeda dengan yang dilakukan oleh gerakan Paderi. Gerakan Paderi lebih cenderung mengedepankan corak militerisme, tetapi pembaharuan tahap dua lebih kepada pergolakan inteletual. Hal ini dapat dilihat dengan dimunculkannya majalah-majalah, diadakannya perdebatan umum, dibentuknya organisasi-organisasi masyarakat dan didirikannya sekolah-sekolah yang bercorak modern. Selama dua abad pergulatan Islam dan Adat Minangkabau tersebut berlangsung alot, mulai dari bentuk interaksi yang keras yang berujung bentrok fisik hingga bentuk yang lebih elegan dalam bentuk debat-debat intelektual. Namun dibalik bentrokan tersebut juga tersedia informasi tentang bentuk penerimaan, baik secara natural maupun melalui proses perdamaian.
Dengan demikian, dapat dikatakan reaksi yang dimunculkan oleh masyarakat adat Minangkabau terhadap nilai-nilai yang bersumber dari agama Islam adakalanya berbentuk positif (dalam bentuk penerimaan) dan ada kalanya dalam bentuk negatif (dalam bentuk penolakan). Reaksi ini sekilas terbaca sebagai bentuk dilematika masyarakat Minangkabau yang sedang dihadapkan pada dua pilihan antara menerima agama atau tetap mempertahankan adat. Bahkan dalam banyak literatur -bahkan literatur modern- masih menulis reaksi ini sebagai bentuk pertentangan Islam dan adat Minangkabau. Mestinya, keadaan ini ditulis sebagai konsekwensi logis datangnya nilai-nilai baru yang bersumber dari agama Islam menghampiri nilai-nilai adat Minangkabau yang sudah tersusun sejak lama yang dianut oleh masyarakat Minangkabau yang sudah memeluk Islam. Masyarakat Minangkabau dalam posisi ini sesungguhnya sedang menghadapi proses penyesuaian diri dan menghadapi keharusan mereformasi adat dengan datangnya ajaran Islam. Akhirnya, dilema yang dihadapi masyarakat Minangkabau itu justru dapat diselesaikan sebagian besarnya dalam sebuah konsensus Adat Basandi Syara’-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). ABS-SBK ini pada akhirnya diterima sebagai falsafah adat alam Minangkabau.
Berdasarkan uraian di atas, perjumpaan Islam dengan Budaya Minangkabau dapat diskemakan sebagai berikut: pertama, Islam dan adat Minangkabau mampu berbaur menjadi identitas sosial-kultural-religius sehingga melahirkan Tradisi Islam Minangkabau atau tradisi Minangkabau yang Islami. Kedua,  Islam dan adat tidak berbaur, tetapi juga tidak memicu pertentangan dan konflik. Ketiga, Islam dan adat Minangkabau bertentangan, baik kemdian yang memunculkan konflik ataupun tidak.[16]

3- Titik Singgung
Beberapa tema yang menjadi titik singgung antara ajaran Islam dengan adat Minangkabau, yaitu persoalan adat matrilineal, sistem pewarisan, sistem residensi matrilokal, dan sistem perkawinan eksogami. Keempat tema tersebut pada dasarnya merupakan  inti dari adat matrilineal minangkabau itu sendiri. Persoalan garis keturunan, pewarisan harta, sistem residensi dan perkawinan eksogami merupakan konstruksi dasar dari adat matrilineal Minangkabau.


[1] Istilah konversi di sini bermakna sebagai peralihan kepenganutan dari suatu agama ke agama lain. Istilah ini digunakan oleh Irhash A. Shamad untuk memudahkan dan menyederhanakan penyebutan. Lihat, Irhash A. Shamad, Danil M. Chaniago, Islam dan Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau, Jakarta: Tintamas, 2007, h.29
[2] M Sanusi Latief, Gerakan Kaum Tua di Minangkabau 1907-1969,(Disertasi)  IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta:1988, h.65
[3] Jefrey Hadler, Sangketa Tiada Putus; Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau. Jakarta: Freedom Institut, 2010, h.xi
[4] M.D. Mansoer, Sedjarah Minangkabau, Jakarta: Bhratara, 1970, h.38
[5] Rusli Amran, Sumatera Barat hingga Plakat Pandjang,Jakarta: Sinar Harapan, 1981, h. 36
[6] Ibid, h. 51.
[7] Hamka, Ayahku, Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatra, ed. ke-4 Jakarta: Umminda, 1982, h. 6-7
[8] Zulqayyim, Pedagang Islam dan Kebangkitan Islam di Luhak Agam, dalam Nurus Shalihin, Yasmadi, Sefriyono, Muhammad Sholihin, Mozaik Islam Nusantara, Padang: Imam Bonjol Press, 2012., h.127-131
[9][9] Firdaus, Sejarah Pendidikan Islam di Minangkabau Abak XVII-XVIII M, Padang:Imam Bonjol Press, 2014, h.22-25
[10] Di beberapa daerah Minangkabau terutama di Agam dikenal istilah Sumbayang berkaum-kaum. Istilah ini menunjukkan fungsi surau sebagai tempat shalat jamaa’ah bagi anggota kaum
[11] Firdaus, Ibid., h.23
[12] Tambo Asli diyakini sebagai tambo yang diwariskan secara lisan. Keaslian tambo ini dilihat dari kesamaan bahasa redaksional dan diksi yang digunakan oleh tambo. Upaya penjagaan keasliannya dinyatakan dengan ungkapan sabarih bapantang lupo, satitiak bapantang hilang (sebaris berpantang lupa, setitik berpantang hilang)
[13] Tengku Irwansyah, Mengungkap Sejarah Minangkabau dalam Perspektif Tambo, (Makalah Kongres Sejarah Minangkabau, Bukittinggi,16-18 Desember 2018), Dinas Kebudayaan Propinsi Sumatera Barat,2018
[14] Edwar Djamaris, Tambo Minangkabau, Tinjauan Strukturl, Seminar Nasional Mengenai Kesusastraan, Kemasyarakatan dan Kebudayaan Minangkabau, Bukittinggi 1980.
[15] Sheiful Yazan, Menggugat Pemahaman Tambo Minangkabau, Padang: Penerbit Erka, 2017, h.37
[16] Nelmawarni, dkk., Islam dan Tradisi Lokal di Minangkabau (Laporan Penelitian), Padang: Pusat Penelitian dan Penerbitan LPPM IAIN Imam Bonjol Padang, 2014, h. 3

02 April 2020

Kekerabatan Matrilineal Minangkabau


Kekerabatan Matrilineal Minangkabau
Muhammad Nasir

1-   Konsep Kekerabatan
Masyarakat Minangkabau dalam pengetahuan umum disebut menganut sistem kekerabatan matrilineal dengan ciri-ciri pokok menarik garis keturunan dari garis ibu. Demikian banya tertulis dalam berbagai teks yang menjelasakan tentang adat matrilineal Minangkabau. Kesalahan dalam penulisan frasa garis keturunan ini justru menimbulkan kesalahan dalam memahami sistem kekerabatan Minangkabau. Apalagi bila frasa garis keturunan ini secara bersamaan digunakan dengan frasa garis kekerabatan, garis keluargaan atau garis perkauman tanpa seleksi dan kesadaran atas konsekwensi penggunaannya. Generasi Minangkabau modern sering memahaminya dengan istilah garis keturunan, kecuali beberapa di antara mereka yang sudah mendekati sistem kekerabatan Minangkabau ini dengan pedekatan sosiologis dan antropologis.
Hubungan kekerabatan atau kekeluargaan pada hakikatnya adalah istilah yang netral untuk menunjukkan hubungan antar individu dalam sebuah kelompok  merupakan hubungan antara tiap entitas yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam antropologi, sistem kekerabatan termasuk keturunan dan pernikahan, sementara dalam biologi istilah ini termasuk keturunan dan perkawinan. Berdasarkan definisi antropologis dan biologis ini, hubungan kekerabatan yang dimaksud semestinya dapat dipahami dalam sebuah istilah normal lainnya yang disebut dengan keluarga.
Keluarga merupakan afiliasi individu dalam masyarakat. Dalam susunan masyarakat, keluarga disebut sebagai unit sosial terkecil.[1] Dalam susunan ini, ada tiga jenis keluarga, yaitu keluarga inti (nuclear family), keluarga konjugal dan keluarga luas (extended family).
Keluarga Inti (nuclear family), adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak- anak baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi. Keluarga Konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak mereka yang terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua.[2] Baik dari keluarga pihak ibu maupun dari pihak ayah. Keluarga luas (extended family) yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek. Hubungan itu juga dikenal dengan Keluarga Besar, atau hubungan yang terjadi antargenerasi, misalnya: kakek, orang tua, anak, cucu. [3]
Berdasarkan jenis-jenis keluarga di atas, membaca sistem kekerabatan di Minangkabau mesti dilakukan dengan pendekatan jenis keluarga konjugal yang menekankan pada pengelompokan berdasarkan interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. Berdasarkan pendekatan ini, orang Minangkabau memiliki interaksi dengan kerabat orang tuanya baik dari pihak ayah maupun di pihak ibu. Status individu dalam kedua kerabat ini akan berbeda-beda dan memiliki konsekwensi hukum, hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Para anggota keluarga dari jalur ibu dan ayah ini dipandang sebagai saudara (dunsanak). Ada dua jenis dunsanak di Minangkabau. Pertama, dunsanak saparuik (seperut) yaitu dunsanak menurut garis keturunan ibu yang diurutkan dari nenek perempuan. Kedua, Dunsanak Batali Darah, yaitu dunsanak menurut garis keturunan ayah, baik laki-laki maupun perempuan. Dunsanak dari pihak ayah ini lazim disebut dengan Bako.