Oleh: Muhammad Nasir
Dalam percaya diri yang berlebihan, kita bisa menjadi bagian dari kekerasan
Seekor burung pipit terbang tinggi di
atas awan. itu penerbangan paling penting dalam sejarah hidupnya. Ketika ia merasa dirinya seperti seekor elang. Tidak ada keraguan, hanya keheningan
dan keyakinan yang dibangun dari imajinasi tentang dirinya sendiri. Dalam
penerbangan itu, ia bertemu seekor burung besar. Mereka terbang beriringan,
tanpa tegur sapa. Masing-masing hanyut dalam pikirannya sendiri.
Angin mulai kencang. Pipit mulai
sesak napasnya. Tapi ia berusaha tenang. Ia ingat ucapan Tan Kari, filosof multidimensi:
semakin tinggi pohon, semakin kencang terpaan angin. Burung besar itu melirik.
Wajah pipit tampak lelah dan cemas. Tapi burung besar itu pura-pura tidak tahu. Ia pun membuka percakapan;
"Hei, burung cantik, siapa
namamu?"
"Saya elang," jawab pipit
mantap.
"Mau ke mana?" tanta burung besar itu lagi.
"Tak ada. Sekadar memantau
wilayahku. Perjalanan dinas biasa" jawab pipit, suaranya terputus-putus ditiup angin. "...dan
mencari area selera yang viral. Katanya, ada ayam muda blasteran Hongkong dan
Kamboja." terang pipit dengan sedikitb jumawa.
Burung besar melirik sejenak, lalu
bertanya lagi, "Kalau begitu, kau pasti tahu di mana padi mulai
menguning?"
"Tentu saja tahu. Padi itu makananku
sehari-hari," jawab pipit.
"Baik. Maukah kau antar aku ke
sana? Nanti aku beri seekor ayam muda." lanjut burung besar itu.
Pipit setuju. Mereka menukik bersama
ke arah persawahan yang mulai menguning. Pipit hinggap di tangkai padi yang
merunduk, lalu mulai menikmati bulir-bulir padi. Burung besar itu menepati
janji. Seekor ayam muda sedang mencicipi padi di tepi pematang. Tanpa banyak
usaha, ia jadi incaran. Sekejap saja ia sudah ada di cengkaraman burung besar.
Pipit mendengar suara gaduh. Anak-anak
ayam panik, induknya berteriak, "Awas, ada elang! Berlindung!"
Pipit menatap bangkai ayam muda itu.
Masih hangat. Tetapi burung besar sudah terbang tinggi, menghilang di balik
awan.
Ia kembali melanjutkan makannya. Diam.
Tidak lagi merasa tenag. Setiap ia menelan butiran padi, ia selalu terngiang, “awas
ada elang!”
***
Cerita di atas mungkin tak lebih hanya
dongeng kecil saja. Karangan yang terlintas begitu saja, setelah mendengar lirik
lagu “Elang” dari Dewa 19 yang popular tahun 1999. Lagu yang mengekspresikan
kerinduan akan kebebasan dan cinta yang tak terbalas. Entah iya, entah tidak. Itu
menurut saya saja. Tapi di dalam cerita yang saya reka ini, saya ingin
menyampaikan sebuah peta keadaan yang lebih luas dari sekadar dunia unggas.
Pipit adalah rakyat kecil yang ingin terbang tinggi
dengan mengenakan jubah kekuasaan. Ia tidak cukup kuat, tidak cukup siap, tapi
cukup percaya diri. Elang, sebagaimana lazimnya dalam narasi kekuasaan, adalah
figur kuasa yang tidak pernah benar-benar butuh kawan, tapi sangat lihai
memilih alat. Begitulah kira-kira.
Tetapi di zaman di mana halusinasi
bisa dikemas menjadi narasi ini, kisah seekor pipit bisa tampil seperti elang di dunia
maya. Pipit yang tak punya cakar, tapi merasa bisa ikut mencakar. Yang tak punya sayap kuat, bisa
menumpang badai opini. Tapi tetap saja, ketinggian bukan hanya soal kemauan,
tapi juga daya tahan.
Ayam muda adalah rakyat biasa. Tak tahu menahu soal
permainan di udara. Ia menjadi korban dari kesepakatan yang tak pernah ia
dengar. Ia dibayar untuk kepercayaan yang tak pernah ia jual. Ia hilang dalam
kebisingan yang tak sempat ia ikuti. Sementara, induk ayam mewakili mereka yang kenyang pengalaman, tapi kadang tak berdaya juga menghadapi kenyataan yang datang tiba-tiba. mengasuh mereka yang belum berpengalaman, adalah tantangan nyata.
Dalam lanskap politik kita, buzzer dan
opini liar berperan seperti pipit: mereka mencari posisi, ingin dianggap
tinggi, ikut dalam narasi besar, tapi tak sadar sedang menjadi petunjuk jalan
bagi kekuasaan yang tak pernah berniat berbagi. Dan rakyat? Mereka ada di
pematang. Menjadi korban yang dibungkus dengan narasi pembangunan dan
hadiah-hadiah kecil. Induk ayam, kadang-kadang hanya bisa mengelus dada pada saat peringatan tidak dapat diterima sebagai sebuah nasehat.
Saya jadi ingat kutipan tulisan Friedrich
Nietzsche (1878). Kira kira, ia mengatakan "keyakinan palsu adalah musuh
yang lebih berbahaya bagi kebenaran daripada kebohongan." Pipit yang
mencoba meyakini dirinya sebagai elang, dan keyakinan palsunya itu memang cukup
untuk membawanya ikut terbang tinggi. Tetapi itu ternyata tidak cukup untuk
menyelamatkannya dari realitas, sesak napas dan keadaan yang dipaksa-paksakan,
menghejan-hejan tuah.
Mungkin induk pipit juga pernah mengingatkan, bahwa "bohong jika ada pipit yang mengaku dapat menjadi elang dengan segala kualitasnya." Tetapi nasihat dan peringat seperti ini mana mempan bagi mereka yang dikuasai halusinasi dan diopok-opok oleh keyakinan palsu.
Mungkin dalam kalam konteks kekuasaan,
gaya pipit itu serupa dengan keadaan yang sering tersua. Seseorang kadang memang
butuh usaha dan semangat untuk naik, tetapi ia lupa menyiapkan kesadaran akan
posisi. Mungkin ia Bahagia dengan keadaan itu, tetapi mungkin kebahagiaan itu
palsu. Karena, kebahagian itu bukan semata perasaan saja, tetapi tentu saja
berakar dari keadaan yang nyata.
Inilah mungin maksud perkataan Bung
Hatta. "Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya
syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat." Kemerdekaan
adalah jembatan emas, bukan tempat tinggal, tapi jalan untuk dilewati dengan
sadar dan bijak. Mencermati kata Bung Hatta ini, bahwa apa yang sebenar nyata
dari kebahagiaan itu adalah kemakmuran yang nyata, bukan halusinasi.
Di lapisan masyarakat, banyak pipit
yang dibujuk menjadi pemandu oleh burung besar. Mereka diberi panggung, dibayar
dengan eksistensi, bahkan diberi upah materi. Tapi yang sesungguhnya terjadi:
mereka mengantar burung kuasa menuju mangsa. Sesudah itu, mereka kembali makan
padi, kadang lebih sedikit dari sebelumnya.
Cerita ini bukan untuk menyindir
siapa-siapa. Tapi untuk mengingatkan, bahwa dalam politik, keinginan untuk
terbang tinggi tanpa sadar diri sering kali membawa kita menjadi kaki dari
peristiwa yang tak kita kendalikan. Dalam diam, kita bisa menjadi alat. Dalam
percaya diri yang berlebihan, kita bisa menjadi bagian dari kekerasan.
Sebab kekuasaan, sebagaimana elang
dalam cerita, tak pernah benar-benar ingin ditemani. Ia hanya ingin diarahkan, lalu
meninggalkan jejak yang sunyi: bangkai ayam muda, dan seekor pipit yang
akhirnya hanya makan padi, dengan rasa yang tak lagi sama.
Artinya, elang sejati takkan menyuruh
pipit untuk berburu, sebab ia tahu poisisi, bahwa yang kuat sebenarnya tak
butuh perantara; tetapi kadang yang lemah bagi elang hanya dibutuhkan sebagai alat.
Agar kekuasaan terlihat lebih epic dan dramatis.
[90/05/2025]