Showing posts with label Minangkabau. Show all posts
Showing posts with label Minangkabau. Show all posts

17 March 2026

Nak Ameh Bungka Diasah

Muhammad Nasir
Pengajar Kebudayaan Minangkabau UIN Imam Bonjol Padang

ungkapan ini menunjukkan bahwa keindahan bahasa Minangkabau terletak pada kemampuannya menyatukan estetika dan etika. Ia tidak hanya indah secara bunyi dan struktur, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Dalam khazanah pemikiran Minangkabau, falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” adalah  fondasi epistemologis yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berbahasa. Alam diposisikan sebagai sumber pengetahuan, bukan hanya dalam arti fisik, tetapi juga sebagai ruang simbolik tempat manusia membaca hukum-hukum kehidupan. Jadi, itu bukan ungkapan stilistika semata. 


Dari sinilah lahir berbagai ungkapan adat yang padat makna, salah satunya: “Nak kayu janjang dikapiang, nak aia talang dipancung, nak ameh bungka diasah.” Ungkapan ini berisi nasihat moral tentang kerja keras, tetapi lebih penting darinitu: sebagai representasi dari struktur berpikir orang Minangkabau yang empiris, rasional, dan simbolik sekaligus. 

11 January 2026

Apa Guna Biografi? Biar Ilmu Sejarah Yang Menjawab

Muhammad Nasir 
Pengajar Sejarah UIN Imam Bonjol Padang


Perdebatan mengenai kegunaan kisah orang-orang besar di masa lalu kerap muncul dalam diskursus akademik dan ruang publik. Sebagian pandangan sinis memandang biografi sebagai bentuk glorifikasi masa lalu yang dianggap tidak lagi relevan dengan persoalan sosial masa kini. Pandangan ini umumnya berangkat dari asumsi bahwa biografi terlalu memusatkan perhatian pada individu tertentu dan mengabaikan struktur sosial yang lebih luas. 


Namun, dalam tradisi historiografi dan ilmu sosial, biografi justru dipahami sebagai salah satu medium penting untuk membaca relasi antara individu, masyarakat, dan konteks sejarah yang melingkupinya (Kuntowijoyo, 2003; Burke, 2005).

04 January 2026

Menata Ulang Ruang dan Jalur Perjalanan

Catatan Akhir Tahun 2025

Muhammad Nasir


Sejak akhir November 2025, banjir bandang dan tanah longsor telah mengubah wajah Sumatera Barat secara nyata. Peristiwa ini sudah menghadirkan kerusakan fisik,  juga mengguncang cara masyarakat memahami ruang, jarak, dan keterhubungan antarwilayah. 

Ungkapan adat Minangkabau, sakali aia gadang, sakali tapian barubah, terasa menemukan maknanya yang paling konkret. Air yang meluap tidak hanya mengubah tepi sungai, tetapi juga memaksa perubahan cara hidup, jalur mobilitas, dan ritme keseharian masyarakat.


11 June 2022

Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol ============= Terhutang pula rasanya badan ini. Belajar dan berkuras selama seperempat abad di perguruan tinggi yang menyandang nama Tuanku Imam Bonjol, tetapi sosok beliau belum dikenali dengan baik. Sejak tingkat Sarjana (S1), Magister (S2) di IAIN Imam Bonjol Padang. Kemudian mulai lagi menapaki jenjang doktoral (S3) di kampus yang sama yang sudah berubah menjadi universitas sejak tahun 2017. Sekarang namanya Universitas Islam Negeri (UIN), tetapi nama Imam Bonjol yang dinisbatkan pada sosok pemimpin besar revolusi Padri itu masih melekat. Berbeda dengan saudara sapiah balahan-timbang pacahan IAIN Imam Bonjol Padang. Di Bukittinggi, pernah ada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Syekh Djamil Djambek. Syekh ini memang tak ada sangkut pautnya dengan Tuanku Imam Bonjol. Tetapi murid-murid Inyiak Djambek, begitu beliau disapa, menjadi barisan terdepan dalam menopang berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang pada masa-masa awal. Legasinya berupa Ilmu Falak, diterus-ajarkan oleh murid-muridnya yang mengajar di IAIN Imam Bonjol Padang. Sayangnya, nama Sjekh Muhammad Djamil Djambek hanya dibibir saja. Dua kali Keputusan Presiden (Kepres RI Nomor 11 Tanggal 21 Maret 1997 dan Kepres RI No. 78, tahun 2006) tak tersebut nama beliau di nomenklatur nama perguruan tinggi Islam tersebut. Ditambah satu kali lagi Peraturan Presiden, yaitu (Peraturan Presiden nomor 181 tahun 2014 tentang perubahan STAIN Bukitinngi menjadi IAIN Bukitinggi, sama saja, tak ada nama ulama besar tersebut. Padahal, Sjekh Muhammad Djamil Djambek dikenal sebagai ulama yang pertama kali memperkenalkan cara bertabligh di muka umum. Lebih lanjut, kalau diperiksa benar riwayat hidup beliau, boleh disebutkan bahwa tradisi ceramah, tabligh akbar dan kemudian majlis taklim yang populer saat ini berakar dari kebiasaan atau metode beliau dalam mengajarkan agama. Karena itu, dalam pangana saya, ilmu dan metode dakwah mestinya menjadi pusat keunggulan IAIN Bukittinggi. Berharap benar kita. Apalagi Bukittinggi, jaman dahoeloe, merupakan epicentrum dakwah lisan dan tulisan. Ada banyak penerbitan pula di sana. Cerita yang sama untuk anak pisang IAIN-UIN Imam Bonjol lainnya, yaitu STAIN, sekarang IAIN Batusangkar. Kerap disebut-sebut dengan nama STAIN Prof Mahmud Yunus (Mahmoed Joenoes) Batusangkar. Sebagaimana diketahui, Prof Mahmoed Joenoes (1899-1982), putra Sungayang itu adalah rektor pertama IAIN Imam Bonjol Padang yang menjabat tahun 1967-1970. Berdasarkan Kepres No. 11/1997 dan Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 285/1997 mengubah status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol menjadi sekolah tinggi agama Islam negeri (STAIN).Berdasarkan Perpres No. 147 tahun 2015, tanggal 23 Desember 2015 resmi menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Lagi-lagi, tak ada nama beliau di nomenklatur itu. Aa…sudahlah. Tapi, sedikit yang perlu dipikirkan sekarang adalah, upaya mengusulkan Prof Mahmud Yunus sebagai pahlawan nasional. Semasa hidupnya, sejak sebelum kemerdekaan, beliau sudah berkecimpung dalam dunia pergerakan dan pendidikan. Sebagai ulama, ia ikut aktif berjuang bersama Majelis Islam Tinggi (MIT) Minangkabau. Semasa Jepang beliau ikut mendorong bahkan merekrut pemuda-pemuda agar ikut pelatihan militer melalui Gyugun. Berkat usaha beliau pulalah kiranya, semangat bertempur bujang-bujang Minang yang pudur setelah Perang Padri dan rentetan Perang Belasting di beberapa wilayah Minangkabau kembali bangkit. Di bidang pendidikan apalagi. Betapa gigihnya beliau mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar memasukkan pelajaran agama ke sekolah umum milik pemerintah. Apa pesannya? Jelas agar pendidikan agama Islam ini harus menjadi urusan pemerintah. Itu pulalah sebabnya, setelah kemerdekaan, beliau terlihat concern dalam bidang pendidikan. Beliau yang malang melintang sebagai birokrat pendidikan, begitu serius membidani lahirnya lembaga pendidikan Islam modern, tentu saja untuk mempertinggi derjat sumber daya manusia Indonesia. Pantas pulalah memikirkan tempat yang layak untuk beliau dalam sejarah nasional Indonesia, yaitu dalam daftar pahlawan nasional Indonesia. ==== Hampir saja lupa kita tentang Tuanku Imam Bonjol yang kita bentang di awal tulisan ini. Sesuai judul, bagian terbesar tulisan ini tentunya mesti bercerita tentang sosok beliau. Kita-kita yang mengenyam pendidikandi IAIN-UIN Imam Bonjol , terutama adik-adik dan generasi di bawah saya mestinya mengenal beliau dengan baik dan mengambil pelajaran-pelajaran yang bermakna bagi kita sendiri. Apalagi jika dicari relevansi sosok dan perjuangan beliau dengan dunia pendidikan. FYI, sejauh yang saya amati, kesalahan paling sering dalam penulisan (typo) yang saya temui adalah menulis kata Bonjol dengan kata "Bpnjol." Betapa naif dan tak awasnya kita. Sebagai pembuka wacana, tak ada salahnya meangabstraksikan hidup beliau dalam dunia pendidikan. Beliau mengawali hidup dari dunia pendidikan dan pengajaran selama kurang lebih 28 tahun, dan sekitar 27 tahun sisa usianya di pengasingan (Padang, Cianjur, Ambon dan Manado) juga dihabiskan dengan dunia pengajaran. Penjumlahan usia pengabdian beliau dalam dunia pendidikan ini, tentunya tak kalah mentereng dari perjuangan bersenjata beliau sebagai panglima perang yang membangkrutkan pemerintah Belanda selama Revolusi Padri. Beliau berkata, "semakin banyak ilmu yang dituntut, akan semakin banyak pula tampak yang tidak patut. Semakin banyak pengalaman seseorang, akan semakin banyak pula terlihat kepincangan. Untuk itulah guna ilmu, untuk berjuang." Itulah pesan beliau kepada pangikutnya. Apa yang kita perbuat sesungguhnya tidak ada yang patut dipuji, termasuk perang2 ini. Karena berapa benarlah hebatnya buatan (karya) manusia, apalagi jika bersamanya ada kemudharatan. Karena itu, kerja sebenarnya adalah mengurang-ngurangi kemudaratan itu. Itu yang berat. Termenung-menung kita membaca pesan-pesan itu. Apalagi melihat fenomena dunia kecendekiaan belakangan ini. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin berterima dia dengan ketidakpatutan. Semakin banyak pengalamannya, bukannya semakin nyalang matanya melihat kepincangan, justru sensitifitasnya makin hilang. Ilmu dan pengalaman tak lebih sebagai alat tukar untuk bersenang-senang. Entahlah, kalau itu dalam pengamatan saya saja. #TuankuImamBonjol (bersambung, kalau takana)

14 June 2020

Ujang Lento Pulang Kampuang

Ujang Lento Pulang Kampuang
Muhammad Nasir

Tibo di rumah rang gaek no, Ujang Lento basorak gadang, “Yes! Aden pulang kampuang!”. Ndak tangguang gadang ati no. Pamerantah memang malarang para perentau Minang pulang kampuang untuak samantaro wakatu. Maklum musim korona. Jan sampai para perantau manjadi agen nan mambao virus kalera, eh korona tu ka kampuang. Sabab, Jakarta tampek rantau Ujang Lento memang sarang korona. Mantun kecek berita.

Sajak sampai di rumah biyai no, Ujang Lento mahanok sajo di dangau durian. Isolasi diri.  Untung lai ka mujua, Ujang Lento mandapati durian sadang rareh mararak galeh. Wak no iyo patuah sen ka parentah ketua pamuda nagari nan umua no ampia limo puluah. Di telepon, Tan Rajo ketua pemuda tun mangecek an, kok iyo ang ka pulang jang, ang iyo harus bakuruang, isolasi mandiri agak ampek baleh hari. “Lai jaleh diang?” kecek Tan Rajo. “Jadih da, aman du,” jawek Ujang Lento sangkek tu. “Pulang paja gai?, tanyo Tan Rajo baliak. “Indak da. Wak den surang sen no,“ jawek Ujang Lento