Pengajar Sejarah UIN Imam Bonjol Padang
Perdebatan mengenai kegunaan kisah orang-orang besar di masa lalu kerap muncul dalam diskursus akademik dan ruang publik. Sebagian pandangan sinis memandang biografi sebagai bentuk glorifikasi masa lalu yang dianggap tidak lagi relevan dengan persoalan sosial masa kini. Pandangan ini umumnya berangkat dari asumsi bahwa biografi terlalu memusatkan perhatian pada individu tertentu dan mengabaikan struktur sosial yang lebih luas.
Namun, dalam tradisi historiografi dan ilmu sosial, biografi justru dipahami sebagai salah satu medium penting untuk membaca relasi antara individu, masyarakat, dan konteks sejarah yang melingkupinya (Kuntowijoyo, 2003; Burke, 2005).
Dalam kebudayaan Minangkabau, kisah masa lalu tidak dipahami sebagai cerita usang yang kehilangan makna. Ungkapan mancaliak contoh ka nan sudah, mancaliak tuah ka nan manang menunjukkan bahwa pengalaman historis dijadikan rujukan reflektif untuk memahami kehidupan masa kini dan merumuskan orientasi masa depan.
Prinsip ini menegaskan bahwa narasi tentang masa lalu memiliki fungsi pedagogis dan normatif, yakni sebagai sumber pembelajaran sosial dan moral bagi generasi berikutnya. Jadi bukan untuk malap lap cimporong lamo, melap album usang berdebu.
Dalam kajian sejarah, biografi merupakan genre penulisan yang berfungsi menjembatani pengalaman individual dan struktur sosial. Kuntowijoyo (2003) menegaskan bahwa biografi memungkinkan sejarawan menghadirkan sejarah dari sudut pandang manusia konkret yang hidup dalam keterbatasan dan peluang zamannya.
Individu dalam biografi tidak dipahami sebagai sosok yang berdiri sendiri, melainkan sebagai aktor sosial yang tindakannya dipengaruhi oleh lingkungan budaya, institusi sosial, serta relasi kuasa yang melingkupinya (Berger & Luckmann, 1966; Burke, 2005).
Biografi juga membuka akses untuk memahami sejarah sosial melalui pengalaman personal. Sartono Kartodirdjo (1992) menunjukkan bahwa pengalaman individu sering kali merekam praktik sosial, nilai budaya, dan dinamika kehidupan sehari-hari yang tidak selalu tercermin dalam arsip resmi negara. Dalam konteks ini, biografi memperkaya historiografi dengan menghadirkan lapisan pengalaman manusia yang konkret dan kontekstual, terutama pada kelompok sosial yang kerap berada di pinggiran narasi besar sejarah.
Dalam perspektif memori kolektif, biografi memiliki fungsi penting sebagai medium pewarisan ingatan sosial. Halbwachs (1992) menjelaskan bahwa ingatan individu selalu dibentuk dalam kerangka sosial dan dipelihara melalui interaksi kelompok. Biografi, ketika ditulis, dibaca, dan diceritakan kembali, menjadi bagian dari proses seleksi ingatan yang dilakukan oleh masyarakat. Proses ini menentukan figur mana yang diingat, nilai apa yang dipertahankan, dan pengalaman historis mana yang dianggap bermakna (Connerton, 1989; Assmann, 2011).
Dalam konteks Indonesia, biografi tokoh-tokoh nasional memainkan peran signifikan dalam pembentukan memori kolektif. Kisah Tuanku Imam Bonjol tidak hanya merepresentasikan figur seorang pemimpin Perang Padri, tetapi juga mencerminkan pergulatan ideologis antara adat, agama, dan kekuasaan kolonial di Minangkabau abad ke-19 (Dobbin, 1983).
Dalam kerangka komparatif, kajian Peter Carey mengenai kepemimpinan karismatik dan perlawanan lokal terhadap kolonialisme menunjukkan bahwa figur-figur keagamaan di Nusantara sering berfungsi sebagai simpul antara otoritas moral, gerakan sosial, dan resistensi politik, suatu kerangka yang relevan untuk membaca posisi Tuanku Imam Bonjol dalam sejarah Minangkabau (Carey, 2008).
Biografi Mohammad Hatta menghadirkan gambaran tentang etika politik, integritas personal, dan disiplin intelektual yang dibentuk melalui pengalaman pendidikan dan pembuangan politik. Kisah hidup Hatta sering dijadikan rujukan moral dalam diskursus kepemimpinan dan demokrasi Indonesia (Feith, 2007). Sementara itu, Sutan Syahrir memperlihatkan tradisi rasionalisme politik dan humanisme dalam sejarah pergerakan nasional, yang dapat dipahami secara utuh melalui pendekatan biografis.
Haji Agus Salim dikenal melalui biografi dan esai sejarah yang ditulis oleh sezamannya sebagai figur intelektual Muslim dengan kecakapan diplomasi dan keluasan wawasan internasional. Tulisan Rosihan Anwar memperlihatkan bahwa Agus Salim tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial kaum pergerakan, dinamika pers, serta perdebatan ideologis pada awal abad ke-20. Melalui pendekatan biografis dan kesaksian personal, Agus Salim tampil sebagai aktor sejarah yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan jaringan intelektualnya (Anwar, 1980).
Demikian pula, Mohammad Natsir dalam karya Kahin (2012) dan Hamka dalam pandangan para penulis biografi seperti Ramadhan KH dan Rosihan Anwar. Keduanya sering dibaca melalui karya-karya biografis yang mengaitkan pengalaman personal dengan pergulatan pemikiran Islam dan kebudayaan Indonesia.
Ramadhan KH, melalui beebagai tulisannya yang nyelip di berbagai karya biografinya, menarasikan bagaimana pengalaman hidup, konflik batin, dan pilihan intelektual kedua tokoh tersebut berkelindan dengan perubahan sosial dan politik Indonesia pascakemerdekaan (Ramadhan KH, 1982; Ramadhan KH, 1984). Pendekatan ini menempatkan biografi sebagai sarana untuk memahami dimensi manusiawi tokoh tanpa melepaskannya dari konteks sejarah.
Namun, pembentukan memori kolektif tidak hanya bergantung pada tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam historiografi nasional. Pada tingkat lokal, terdapat banyak figur yang perannya tidak terdokumentasi secara formal, tetapi hidup dalam ingatan komunitas. Pengusaha lokal, pendidik surau, pandai emas, dan ulama kampung memainkan peran penting dalam membentuk etos kerja, nilai moral, dan keberlanjutan sosial masyarakat.
Rusli Amran, melalui Cerita-Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah, menunjukkan bahwa sejarah Minangkabau juga digerakkan oleh aktor-aktor lokal yang menjalankan fungsi sosial secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sering luput dari narasi besar historiografi (Amran, 1997).
Dalam catatan Rusli Amran, pengusaha kecil dan pengrajin, termasuk pandai emas, berperan menopang ekonomi nagari sekaligus menjaga martabat kerja dalam masyarakat. Aktivitas ekonomi mereka terikat pada norma adat, tanggung jawab sosial, dan relasi kekerabatan, sehingga membentuk etos kerja yang bersifat kolektif. Pendidik surau dan ulama kampung, dalam kerangka yang sama, berfungsi sebagai penjaga nilai moral dan transmisi pengetahuan keagamaan. Surau tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga arena pendidikan karakter dan sosialisasi nilai adat serta agama, dengan otoritas yang bertumpu pada keteladanan dan kepercayaan masyarakat (Amran, 1997).
Kegunaan Biografi bagi Historiografi Minangkabau
Dalam konteks historiografi Minangkabau, biografi memiliki kegunaan metodologis dan epistemologis yang signifikan. Pertama, biografi memungkinkan penulisan sejarah dari perspektif aktor lokal, bukan semata dari sudut pandang kolonial atau negara. Banyak sumber tertulis tentang Minangkabau berasal dari arsip kolonial yang menempatkan masyarakat lokal sebagai objek administrasi dan kontrol. Biografi tokoh-tokoh lokal membuka ruang bagi sejarah yang lebih berimbang dan kontekstual.
Kedua, biografi berfungsi sebagai jembatan antara sejarah adat, sejarah Islam, dan sejarah sosial Minangkabau. Melalui kisah hidup individu, dapat ditelusuri bagaimana prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, dinegosiasikan dalam konflik, dan ditafsirkan ulang lintas generasi.
Ketiga, biografi memperkaya historiografi Minangkabau dengan menghadirkan dimensi keseharian dan pengalaman hidup. Kisah pengusaha nagari, pendidik surau, pandai emas, dan ulama kampung memperlihatkan bagaimana nilai adat dan agama dijalankan dalam praktik ekonomi, pendidikan, dan relasi sosial. Pendekatan ini sejalan dengan perluasan historiografi menuju sejarah sosial dan budaya (Kartodirdjo, 1992).
Keempat, biografi berperan dalam menjaga kesinambungan memori kolektif Minangkabau. Melalui pewarisan kisah hidup tokoh-tokoh lokal, masyarakat mempertahankan ingatan tentang nilai kerja, kepemimpinan moral, dan tanggung jawab sosial. Ingatan ini menjadi sumber legitimasi budaya yang membantu masyarakat menghadapi perubahan sosial tanpa kehilangan identitas historisnya (Halbwachs, 1992; Assmann, 2011).
Dengan demikian, biografi tidak berfungsi sebagai pemujaan masa lalu, melainkan sebagai medium refleksi kritis atas pengalaman sejarah manusia. Dalam historiografi Minangkabau, biografi memungkinkan penulisan sejarah yang lebih manusiawi, kontekstual, dan berakar pada pengalaman sosial masyarakatnya sendiri, sekaligus memperkuat kesadaran historis dan memori kolektif lintas generasi. [11/01/2026]
Daftar Pustaka
Amran, Rusli. (1997). Cerita-Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka.
Assmann, Jan. (2011). Cultural Memory and Early Civilization. Cambridge: Cambridge University Press.
Berger, Peter L., & Luckmann, Thomas. (1966). The Social Construction of Reality. New York: Anchor Books.
Burke, Peter. (2005). History and Social Theory. Cambridge: Polity Press.
Carey, Peter. (2008). The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java. Leiden: KITLV Press.
Connerton, Paul. (1989). How Societies Remember. Cambridge: Cambridge University Press.
Dobbin, Christine. (1983). Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy. London: Curzon Press.
Halbwachs, Maurice. (1992). On Collective Memory. Chicago: University of Chicago Press.
Kahin, Audrey R. (2012), Islam, Nationalism and Democracy: A Political Biography of Mohammad Natsir (NUS Press)
Kartodirdjo, Sartono. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.
Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Beberapa nukilan dari karya dari Ramadhan KH. (1982), Ramadhan KH. (1984) dan Rosihan Anwar. (1980).

No comments:
Post a Comment