Muhammad Nasir
Saya generasi yang tumbuh di antara dua dunia. Satu kaki menapak pada masa majalah Bobo, Wiro Sableng, dan novel Freddy S yang berpindah tangan dari satu tas ke tas lain. Dunia itu pelan, terbatas, tetapi justru memberi ruang luas bagi imajinasi.
Pada masa itu, cerita menjadi jendela utama untuk memahami hidup. Kata-kata bekerja lebih dulu sebelum gambar bergerak. Imajinasi dilatih tanpa sadar, membangun kesabaran dan daya tahan batin.
Kartun menjadi sekolah rasa tanpa papan tulis. He-Man mengajarkan keberanian yang sederhana, Defenders of the Earth membuka kesadaran tentang dunia yang luas. Maya the Bee dan Little Missy menanamkan empati tanpa khotbah.
Kemudian datang Doraemon, Crayon Shinchan, dan One Piece. Cerita menjadi cair, tokohnya rapuh, konfliknya panjang. Dari sana saya belajar bahwa hidup tidak selalu rapi, dan kesetiaan sering diuji oleh waktu.
Permainan juga mengajari etika diam-diam. Dingdong, Game Watch berbaterai cepat habis, Prehistoric, hingga Minesweeper membiasakan kegagalan dan pengulangan. Kami belajar menunggu dan mengulang tanpa kemewahan jalan pintas.
Teknologi berubah perlahan di depan mata saya. Dari dingdong ke PlayStation, dari komputer ke internet yang lambat dan berisik. Perubahan itu tidak meledak, tetapi mengendap dan membentuk karakter.
Sejatinya, saya adalah generasi akhir dari gen X. Tetapi berada di masa peralihan menuju gen millenial. Jadi kulturnya millenial. Bolehlah dikategorikan sebagai gen Xennial. Atau Gen X-Y, Gen transisi.
Pengalaman transisi ini membuat generasi X-milenial cenderung reflektif. Kami tahu rasanya hidup tanpa koneksi, dan juga mengenal dunia yang selalu terhubung. Kami terbiasa menimbang sebelum melompat.
Ketika anak-anak saya duduk di pangkuan sambil saya memainkan Virtua Cop, waktu terasa bertumpuk. Saya sedang mengenang, mereka sedang memulai. Di situ perubahan terasa sebagai sambungan, bukan putus.
Kini saya hampir 50 tahun. Masa kanak-kanak, kenakalan remaja, bangku kuliah, dan fase keluarga muda telah terlewati. Saya sedang merancang karakter baru bagi diri sendiri.
Fase ini bukan tentang kecepatan, melainkan penataan. Saya mencari ruang dan tempat yang sepadan bagi manula awal. Ruang untuk memilih dengan sadar, bukan sekadar mengikuti arus.
Sebagai dosen, saya kini berhadapan langsung dengan mahasiswa Gen Z. Mereka cepat, kritis, dan hidup dalam kelimpahan informasi. Saya membawa konteks, mereka membawa keberanian mencoba.
Di ruang kelas, relasi budaya itu terasa nyata. Saya sering menjadi penerjemah nilai lama ke bahasa baru. Mereka, dengan caranya sendiri, menguji apakah nilai itu masih bekerja hari ini.
Di titik ini, kalimat Epictetus sering terngiang. Ia mengingatkan bahwa yang membuat manusia gelisah bukanlah peristiwa, melainkan cara memandangnya. Bagi saya, ini latihan menata sikap di tengah perubahan.
Marcus Aurelius pernah menulis dalam catatan sunyinya bahwa hidup seseorang dibentuk oleh pikirannya sendiri. Kalimat itu terasa relevan ketika usia menua dan peran berubah. Karakter baru lahir dari kejernihan batin, bukan ambisi.
Ibnu Khaldun, berabad-abad lalu, mengamati bahwa setiap generasi memiliki watak zamannya sendiri, dan perubahan adalah hukum sosial yang tak terelakkan. Membaca Muqaddimah di usia ini membuat saya sadar bahwa kegelisahan antargenerasi adalah pola lama dengan wajah baru. Tugas kita bukan melawannya, melainkan memahaminya.
Imam Syafi’i pernah menasihati bahwa siapa yang tidak memanfaatkan waktunya akan disibukkan oleh penyesalan. Petuah itu tidak terdengar menggurui, justru terasa personal di usia hampir 50. Ia mengajak saya menata sisa waktu dengan lebih bermakna.
Dari abad ke-21, Yuval Noah Harari mengingatkan bahwa keterampilan terpenting hari ini adalah kemampuan belajar ulang dan melepaskan identitas lama. Kalimat itu terasa pas bagi generasi transisi seperti saya. Belajar kembali menjadi bentuk kedewasaan baru.
Sementara itu, BrenΓ© Brown menyebut kerentanan sebagai ukuran keberanian. Di usia ini, mengakui batas diri justru membuka ruang dialog yang jujur dengan Gen Z. Dari situ, relasi antargenerasi menjadi lebih setara.
Kesimpulannya, hubungan milenial dan Gen Z adalah kesinambungan pengalaman, bukan kompetisi usia. Ingatan memberi kedalaman, kebaruan memberi arah. Di persimpangan generasi dan usia ini, tugas saya sederhana, merawat ingatan, membuka dialog, dan menata diri agar tetap relevan tanpa kehilangan ketenangan batin.
28 Desember 2025

No comments:
Post a Comment