Catatan Akhir Tahun 2025
Muhammad Nasir
Sejak akhir November 2025, banjir bandang dan tanah longsor telah mengubah wajah Sumatera Barat secara nyata. Peristiwa ini sudah menghadirkan kerusakan fisik, juga mengguncang cara masyarakat memahami ruang, jarak, dan keterhubungan antarwilayah.
Ungkapan adat Minangkabau, sakali aia gadang, sakali tapian barubah, terasa menemukan maknanya yang paling konkret. Air yang meluap tidak hanya mengubah tepi sungai, tetapi juga memaksa perubahan cara hidup, jalur mobilitas, dan ritme keseharian masyarakat.
Hujan berintensitas tinggi yang berlangsung berhari-hari memicu banjir dan longsor di berbagai kabupaten dan kota. Air bercampur tanah, batu, dan kayu gelondongan menyapu rumah serta perkampungan yang berada di dataran rendah dan lereng perbukitan. Di sejumlah lokasi, kampung yang selama puluhan tahun menjadi ruang hidup bersama mendadak tak lagi layak dihuni.
Sungai melebar, sebagian alurnya bergeser, ada yang menghilang dari ingatan lama, ada pula yang justru membelah kawasan permukiman. Lanskap baru terbentuk dengan cara yang keras dan tidak memberi ruang tawar-menawar.
Dampak paling cepat terlihat pada infrastruktur transportasi. Jembatan penghubung antar nagari dan antar kecamatan runtuh atau tergerus arus deras. Jalan nasional, provinsi, dan kabupaten mengalami kerusakan serius akibat longsor dan banjir yang merendam badan jalan.
Data pemerintah menunjukkan ratusan titik kerusakan jalan dan jembatan di Sumatera Barat pascabencana akhir 2025, termasuk ruas strategis yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas orang dan barang.
Di beberapa jalur utama, kendaraan tidak bisa melintas sama sekali, sementara di jalur lain hanya kendaraan tertentu yang berani mengambil risiko.
Putusnya konektivitas ini tentu memunculkan efek berantai. Distribusi bantuan kemanusiaan melambat karena kendaraan harus memutar jauh melalui jalur alternatif yang sempit dan rawan longsor.
Harga kebutuhan pokok di beberapa wilayah terdampak meningkat akibat biaya angkut yang melonjak. Pasar-pasar tradisional kehilangan pasokan dari daerah lain, sementara petani dan pedagang kecil kesulitan membawa hasil produksi mereka keluar dari kampung.
Pada masa libur panjang akhir tahun, dampak sosialnya terasa lebih luas. Banyak orang tidak dapat pulang kampung meskipun memiliki waktu libur yang cukup. Jalur yang biasa ditempuh dalam hitungan jam berubah menjadi perjalanan panjang yang tidak pasti, atau bahkan sama sekali tidak bisa dilalui.
Bagi masyarakat Minangkabau, pulang kampung bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga peristiwa sosial yang menjaga ikatan keluarga dan nagari. Ketika jalan terputus, yang hilang bukan hanya akses, tetapi juga momen kebersamaan.
Sektor pendidikan ikut terdampak secara signifikan. Sejumlah perguruan tinggi di Padang dan kota lain di Sumatera Barat terpaksa mempertahankan kebijakan kuliah daring lebih lama dari rencana semula. Mahasiswa dari daerah terdampak tidak dapat kembali ke kampus karena akses jalan rusak dan transportasi umum terbatas.
Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan ke Padang berarti melewati jalur longsor atau menempuh rute memutar dengan biaya tinggi. Dalam kondisi seperti ini, kuliah online menjadi pilihan paling realistis, meskipun tidak selalu ideal.
Pembelajaran daring dalam situasi bencana menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak semua mahasiswa memiliki akses internet yang stabil, terutama mereka yang tinggal di daerah pengungsian atau wilayah pedesaan.
Proses belajar mengajar berlangsung dalam kondisi darurat, dengan kualitas yang sangat bergantung pada infrastruktur digital dan kondisi psikologis mahasiswa. Pendidikan tinggi, yang seharusnya menjadi ruang stabil untuk pengembangan pengetahuan, ikut terdampak oleh rapuhnya infrastruktur fisik di luar kampus.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa jalan bukan sekadar fasilitas teknis, melainkan fondasi kehidupan sosial dan ekonomi. Ketika jalan putus, hubungan keluarga terganggu, pendidikan terhambat, ekonomi lokal melemah, dan rasa keterhubungan antarwilayah menipis.
Dalam konteks ini, bencana tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga menguji ketahanan sistem sosial yang selama ini bergantung pada konektivitas.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah jalur-jalur lama masih layak dipertahankan untuk jangka panjang. Kerusakan yang berulang pada ruas jalan yang sama menunjukkan bahwa sebagian infrastruktur dibangun di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir dan longsor.
Perubahan iklim, dengan pola hujan ekstrem yang semakin sering, memperbesar risiko tersebut. Jika pendekatan pembangunan tetap berorientasi pada pemulihan cepat tanpa evaluasi risiko, maka kerusakan serupa sangat mungkin terulang.
Wacana perubahan jalur transportasi untuk jangka panjang harusnya semakin relevan untuk didengungkan. Penataan ulang jaringan jalan perlu didasarkan pada peta risiko bencana, karakteristik geologis, dan dinamika aliran sungai.
Ini bukan sekadar soal memindahkan jalan, tetapi juga menata ulang cara pandang terhadap ruang dan keselamatan. Pembangunan infrastruktur ke depan perlu lebih adaptif, dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan perlindungan kawasan resapan air.
Namun, perubahan jalur juga membawa konsekuensi sosial. Jalur lama adalah ruang hidup bagi banyak orang, tempat ekonomi lokal tumbuh dan interaksi sosial berlangsung. Karena itu, setiap keputusan pembangunan harus melibatkan masyarakat setempat dan mempertimbangkan dampaknya terhadap mata pencaharian dan struktur sosial nagari. Tanpa pendekatan partisipatif, pembangunan justru berisiko menciptakan kerentanan baru.
Bencana akhir 2025 di Sumatera Barat memberi pelajaran penting tentang hubungan antara alam, infrastruktur, dan kehidupan sosial. Sakali aia gadang, sakali tapian barubah tidak lagi sekadar pepatah, tetapi penanda bahwa perubahan adalah keniscayaan.
Tantangannya adalah memastikan bahwa perubahan itu tidak hanya bersifat reaktif, melainkan menjadi kesempatan untuk membangun sistem yang lebih tangguh. Jalan yang dibangun kembali seharusnya tidak hanya menghubungkan titik ke titik, tetapi juga menjaga keberlanjutan hidup masyarakat di tengah lanskap alam yang terus berubah.
—————
Paraklaweh Pulau Aia Nan XX
31 Desember 2025

No comments:
Post a Comment