Showing posts with label Teosofi. Show all posts
Showing posts with label Teosofi. Show all posts

23 May 2019

Kebenaran di Era Pascakebenaran


Muhammad Nasir

Sumber: Ethical Journalism Network
Pengetahuan (knowledge) adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari berpikir. Berpikir adalah pembeda (differentia/ fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu hewan. Sebenarnya itulah  kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya.

Namun, segala yang diketahui sekarang tak boleh buru-burudipercayai. Segala sesuatu harus diragukan (de omnibus dubitandum) kata Rene Descartes. Sehingganya, semua yang diketahui harus melewati serangkaian ujian sesuai kriteria-kriteria yang disusun sebagai acuan memperoleh kebenaran.

Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia? Bagaimana manusia berpengetahuan? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran?

09 May 2019

Pengantar Tasawuf (1)


Oleh Muhammad Nasir


                                                                                                Para Sufi Awal
Sumber Foto: Duta Islam
Tasawuf atau Sufistik adalah tema baru dalam peradaban Islam, terutama terkait posisinya dalam gerakan keagamaan Islam. Gerakan ini muncul pada abad ke-2 hijriah dan masa ini adalah periode awal Daulah Abbasiyah. Muhammad Abd Mun’im Khafaji menulis bahwa orang yang pertama kali digelari sufi adala Abu Hasyim al Shufi[1] (wafat tahun 150H/761M) adapun generasi awal yang membicarakan tentang sufi adalah Abu Hamzah al Shufi. Petunjuk tentang ini dapat disimak dari kalimat sapaan Imam Ahmad bin Hanbal kepada Abu Hamzah tatkala ia menanyakan tentang suatu hal, “Apa pendapatmu tentang masalah itu hai “Sufi?” Menurut Reynold Allen Nicholson, orang yang pertama digelari “sufi” adalalah Jabir bin Hayyan. Jabir dikenal juga dengan nama Jabir al Shufi[2].

16 September 2018

Awal dan Akar Perbedaan Pendapat di kalangan Umat Islam

Awal dan Akar Perbedaan Pendapat di kalangan Umat Islam
muhammadnasir@uinib.ac.id


Beberapa Peristiwa Awal

Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW bukanlah sesuatu yang baru. Sebagiannya merupakan sisa-sisa perdabatan yang sudah muncul sejak zaman nabi-nabi dan rasul-rasul terdahulu. Untuk perdebatan dan perbedaan pendapat semacam ini sebagian besarnya sudah dapat diselesaikan nabi Muhammad SAW semasa beliau masih hidup. Sementara, perbedaan pendapat yang mewariskan banyak hal hingga saat ini justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.


Sumber Foto: juddahblog.files.wordpress.com

Muhammad ibn Ahmad Abu al-Fatah Asy-Syahrastani Asy-Syafi’i (1076-1153 M)[1]  merinci secara kronologis sebab-sebab awal perbedaan pendapat  yang terjadi di kalangan umat Islam beberapa saat menjelang wafatnya nabi dan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

1.    Ketika Nabi SAW sedang sakit parah, ia bersabda, “ambillah tinta dan kertas, akan aku tulis untuk kamu satu “kitab” yang membuatmu tidak akan tersesat sesudahku…”. Kata KITAB yang ditulis Nabi Muhammad tersebut memicu perbedaan pendapat di kalangan sahabat Nabi SAW. Umar bin Khattab mengatakan yang dimaksud dengan “Kitab” itu adalah “Kitab Allah.” Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud adalah “kitab rasulullah” (hadis). Alasannya adalah hadis Nabi SAW sendiri yang berbunyi, “pertahankanlah apa yang (berasal) dariku, tidaklah pantas kamu berselisih di hadapanku.”

Mazhab, Aliran, Firqah

Pengenalan Istilah
Mazhab, Aliran, Firqah (Sekte)

muhammadnasir@uinib.ac.id

Mazhab
Mazhab adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati,  sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut kamus al Mu’jam al Wasith, mazhab berasal dari kata yang umumnya diartikan: pergi atau berlalu. Namun selain itu dapat juga berarti: berpendapat. Maka, jika seseorang mengambil pendapat orang lain, dikatakan: Dia berpendapat dengan pendapat si Fulan.


Disarikan dari buku: al Milal wa al Nihal, al Syahrastani
Pengertian lainnya, mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah. Berdasarkan uraian di atas, suatu dapat disebut sebagai  mazhab jika memiliki metode, prinsip operasional dan kaidah-kaidah yang menjadi landasan berpikirnya. Oleh sebab itu, mazhab dapat dirumuskan sebagai metode berpikir.

Dimensi Kajian dan Corak Pemikiran Islam

Dimensi Kajian dan Corak Pemikiran Islam
Muhammad Nasir
muhammadnasir@uinib.ac.id


A.Dimensi  dalam Islam (Islam, Iman, dan Ihsan)
Sumber Foto:SlidePlayer Info @ SlidePlayer.info
 Sayid Sabiq menulis, Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan dia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Pendapat Sayid Sabiq ini agaknya disandarkan pada hadits Nabi SAW tentang Islam Iman dan Ihsan [HR Muslim, no.8]. Ibnu Taymiyah juga menjelaskan bahwa din (agama) itu terdiri dari tiga unsur, yaitu Islam, iman dan ihsan.Dalam tiga unsur itu terselip makna kejenjangan (tingkatan): orang mulai dengan Islam, kemudian berkembang ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan.  Penjelasan ahli di atas, selanjutnya akan digunakan untuk meletakkan dimensi kajian aliran dan pemikiran Islam.