PERADABAN ISLAM
MASA DINASTI
AYYUBIYAH (1171–1254 M)[1]
Oleh: Muhammad Nasir[2]
Pendahuluan
Dinasti
Ayyubiyah atau Bani Ayyubiyah (al-AyyΕ«bΔ«yΕ«n) adalah sebuah dinasti Muslim Sunni
beretnis Kurdi. Kurdi adalah sebuah kelompok etnis di Timur Tengah, yang
sebagian besar menghuni di suatu daerah yang kemudian dikenal sebagai
Kurdistan, meliputi bagian yang berdekatan dari Iran, Irak, Suriah, dan Turki.
Orang Kurdi adalah orang-orang Iran dan berbicara dalam bahasa Kurdi, yang
merupakan anggota bahasa Iran cabang dari Indo-Eropa.[3]
Sekarang, etnis
Kurdi menyebar di banyak negara, di antaranya Mesir, Irak, Israel, Yordania,
Lebanon, Libya, Palestina, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Tunisia, Turki dan Yaman.
Problema Kurdi kontemporer adalah kisah suku bangsa tanpa negara.
Mereka tak memiliki wilayah yang berdaulat. Wilayah yang mereka sebut sebagai
Kurdistan bukanlah sebuah negara resmi yang diakui dunia.
Di masa lalu,
bangsa Kurdi pernah mengalami masa jaya. Tercatat beberapa dinasti berbangsa
Kurdi yang sempat menderikan kekuasaan pemerintahan sendiri. Di antaranya, al-Barzuqani,
(348-406 H/959-1015 M), Abu 'Ali, (380-489 H/990-1095 M), serta yang paling
signifikan kekuasaannya yaitu dinasti al-Ayyubiyyah, (564-648 H/1167-1254 M).[4]
Untuk dinasti
al Barzuqani belum ada catatan yang cukup untuk menjelaskan signifikansi
kekuasaannya. Sementara Abu ‘Ali merupakan salah satu dari penguasa Dinasty
Ghurid yang memeluk Islam Sunni setelah sebelumnya menganut ajaran Budhisme.
Dinasti Ghurid memeluk Islam setelah ditaklukkan oleh Dinasti Ghaznawi (1011
M). Kekuasaannya dilegitimasi oleh khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid. Sebelum
pertengahan abad ke-12, Ghurid telah terikat dengan Dinasti Ghaznawi dan Seljuk
selama sekitar 150 tahun. Wilayahnya
mencakup meliputi Khorasan di barat dan mencapai India utara sejauh Bengal di
timur. Ibu kota pertama mereka adalah Firozkoh di Mandesh, Ghor, yang kemudian
digantikan oleh Herat, dan akhirnya Ghazna.[5]
Dinasti
Ayyubiyah adalah yang terbesar dari suku Kurdi yang memerintah di dunia Islam. Umur
dinasti ini tercatat selama 2 abad lebih, namun kekuasan efektifnya hanya
berlangsung selama 79 tahun (1175-1254 M) dengan kekuasaan efektif di wilayah
Mesir. Penguasa Ayyubiyah yang terakhir di Hamat tutup usia pada tahun 1299,
dan Hamat kemudian sempat dikuasai oleh Mamluk. Namun, pada tahun 1310, sultan
Mamluk an-Nasir Muhammad memberikan Hamat kepada salah satu anggota Dinasti
Ayyubiyah yang dikenal sebagai ahli geografi dan penulis, Abu al-Fida. Abu
al-Fida wafat pada tahun 1331 dan digantikan oleh putranya, al-Afdhal Muhammad.
Hubungan al-Afdhal Muhammad dengan Mamluk pada akhirnya memburuk, sehingga ia
dicabut dari jabatannya pada tahun 1341 dan kota Hamat secara resmi dikuasai
oleh Mamluk
Secara berturut
ibukota Dinasti Ayyubiyah ini berpindah-pindah dari Kairo (1171–1174 M),
Damaskus (1174–1218 M), kembali ke Kairo (1218–1250 M), terakhir di Aleppo
(1250–1260). Dinasti ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad sebagai
penguasa di Mesir, Afrika Utara, Nubia, Hijaz, dan Suriah Tengah. Selanjutnya,
kekuasaan Ayyubiah berkembang hingga ke Yaman, Palestina dan Suriah.