26 May 2026

Review Film Dokumenter Pesta Babi (2026): Salib Merah, Sasi, Pesta Babi, dan Hutan sebagai Situs Memori

Oleh: Muhammad Nasir
Penyuka film dokumenter/ 
Pengajar Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang 


Prolog
Beberapa tahun terakhir, narasi ketahanan pangan dan transisi energi menjadi isu yang ramai dibicarakan di Indonesia. Tahun ini hadir film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026) sebagai interupsi visual yang mengguncang ruang publik. Disutradarai oleh sineas investigatif Dandhy Dwi Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale, dokumenter berdurasi 95 menit ini memadukan data kebijakan dengan kenyataan pahit di lapangan. Dirilis gratis di YouTube pada 22 Mei 2026 setelah menghadapi intimidasi dan pembubaran nobar di berbagai daerah, film produksi Watchdoc bersama Greenpeace menghadirkan narasi yang dingin namun menghantam. Kamera merekam ekskavator yang menggusur tanah ulayat suku Malind dan Awyu di Papua Selatan, sekaligus menelusuri jaringan korporasi di baliknya. Melalui jurnalisme investigatif yang tajam, film ini menegaskan sinema bukan sekadar tontonan, melainkan dokumen gugatan publik.

 

15 May 2026

Membaca RSK di Pagi Ini

Oleh: Muhammad Nasir


Apa jadinya jika manusia modern masih rajin mendengar suara azan dari mushalla, tetapi tidak lagi mampu mendengar suara burung yang hilang dari hutan, bunyi sungai yang rusak, dan jerit ekosistem yang perlahan dihancurkan?



Disclaimer: tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan surau, apalagi merendahkan tradisi religius yang hidup di dalamnya. Ia justru berangkat dari keseriusan untuk meminjam logika berpikir A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami (RSK): sebuah cara pandang yang menguji kesalehan bukan hanya dari ritual, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan relasi manusia dengan alam. Dengan kata lain, yang dibicarakan di sini bukan “surau sebagai tempat”, melainkan surau sebagai "ruang berpikir" tentang tanggung jawab.