Showing posts with label demokrasi. Show all posts
Showing posts with label demokrasi. Show all posts

20 January 2026

Masa Depan Demokrasi di Tangan Masyarakat Minim Literasi

Muhammad Nasir

...karena masyarakat yang tidak dibiasakan berpikir rasional akan mudah dipimpin sekaligus mudah ditipu —Tan Malaka

Demokrasi Indonesia terkini sering dibangga-banggakan. Punya pemilu, punya kebebasan bicara, punya media sosial untuk berpendapat. Tapi ada satu pertanyaan penting: apakah  masyarakat benar-benar paham apa yang sedang terjadi, apa substansi yang dibicarakan?

Di banyak tempat di Indonesia, demokrasi berjalan di atas masyarakat yang minim literasi. Bukan buta huruf, tapi malas membaca utuh dan enggan berpikir panjang. Judul berita sudah cukup untuk marah. Potongan video sudah cukup untuk membenci. Klarifikasi dan data sering dianggap tidak penting.


Padahal demokrasi harus hidup dari nalar, kata Tan Malaka. Bukan dari emosi apalagi mitos dan logika mistika. Ketika warga tidak terbiasa membaca, memeriksa, dan membandingkan informasi, ruang publik berubah jadi arena teriak-teriak. Ramai, tapi miskin isi. Semua orang bicara, sedikit yang mendengar.

08 June 2025

Nama Saya Khan: Ras, Agama, dan Krisis Kewargaan di India Kontemporer

Muhammad Nasir


My name is Khan, and I am not a terrorist.— Rizwan Khan, My Name is Khan (2010)


Kalimat ikonik ini diucapkan oleh tokoh utama dalam film My Name is Khan—seorang pria Muslim pengidap sindrom Asperger—yang menempuh perjalanan panjang demi mengatakan satu hal sederhana: bahwa ia bukan ancaman hanya karena ia seorang Muslim.

Ungkapan itu menjadi suara kolektif dari minoritas yang terjebak dalam pusaran stereotip dan kecurigaan. Ini bukan sekadar kutipan sinematik, tapi gambaran getir dari kondisi sosial-politik India kontemporer.


Dalam konteks global yang semakin mencurigai identitas Islam, dan dalam lanskap politik nasional India yang semakin terpolarisasi, kalimat Rizwan menggambarkan perasaan warga negara yang merasa harus “membuktikan” loyalitasnya hanya karena nama, pakaian, atau keyakinan mereka.

India selama ini dibayangkan sebagai negara demokrasi terbesar di dunia dengan karakter multikultural yang unik. Namun, fakta sosial mutakhir memperlihatkan bahwa demokrasi India tengah diguncang oleh kontradiksi internal: antara janji konstitusional tentang sekularisme dan kenyataan politik mayoritarianisme berbasis agama.

Dua subjudul di bawah ini adalah pengkategorian sebab musabab masalah Islam dan kewargaaan di India Kontemporer: akar lokal dan pengaruh isu global. 

19 September 2023

Gembel Politik

Gembel Politik 

Oleh Muhammad Nasir 

 

Istilah "orang gembel" adalah frasa yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem atau kurang mampu secara finansial. Biasanya, orang gembel tidak memiliki tempat tinggal tetap, tidak memiliki pekerjaan yang stabil, dan seringkali bergantung pada bantuan sosial atau sumbangan dari orang lain untuk bertahan hidup. 

Kondisi orang gembel dapat sangat sulit, dan mereka mungkin menghadapi berbagai masalah seperti kelaparan, kekurangan pakaian, masalah kesehatan, dan ketidakstabilan sosial. Penting untuk dicatat bahwa banyak orang yang terjebak dalam kondisi seperti ini mungkin memiliki masalah yang lebih dalam seperti masalah kesehatan mental, kecanduan, atau pengalaman traumatis. 

Seringkali, istilah "orang gembel" digunakan dengan konotasi negatif atau merendahkan, tetapi penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki kisah dan tantangan hidup mereka sendiri. Banyak organisasi dan individu bekerja untuk membantu orang yang menghadapi kondisi tersebut dan memberikan dukungan kepada mereka untuk mendapatkan kembali stabilitas dalam hidup mereka.