Happy Ending
Cerpen Muhammad Nasir
Sejak tiga tahun terakhir, libur di rumah nenek terasa panas. meskipun udara di kampung sangat-sangat dingin. Suasana mestinya hangat, sebab kawa daun buatan nenek yang kerap menjadi buah mimpi bilamana sampai di kampung biasanya dapat menjadi penghangat pagi yang basah embun.
Tahun ini ayah ingin cepat-cepat balik ke Medan. Sepertinya beliau tidak betah. Selama di rumah nenek, ayah hanya berdiam diri di kamar. Alasannya, udara sangat dingin. Bahkan ayah kulihat sering minta agar makanan atau kopi dibawa ke kamar saja. Jika terpaksa ke luar kamar, ayah hanya menggunakan sarung. Kadang seperti sengaja beliau membalut tubuhnya dengan baju hangat dan berlagak seperti orang kedinginan.
"Ayolah, selesaikan segala temu ramah. Yang penting-penting saja. Setelah itu berkemaslah. Besok pagi kita balik ke Medan," kata Ayah.
Kami semua terdiam. Padahal itu baru hari ketiga. Kami belum selesai mengunjungi tempat-tempat indah yang diciptakan tuhan untuk desa ini. Belum sempat pula selfie-selfie.