Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

28 September 2025

Perti dan Tantangan Abad ke-21

Muhammad Nasir

Sekretaris Yayasan Tarbiyah Islamiyah Sumbar


Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) adalah organisasi Islam yang lahir dan tumbuh dalam kultur Minangkabau yang tenang, berwibawa, dan penuh kehati-hatian. Dalam sejarahnya, Perti berjodoh dengan tradisi Sunni Syafi’i yang ihtiyath (berhati-hati) dalam memahami hukum, berlandaskan pada prinsip kehati-hatian yang menolak sikap tergesa-gesa. Watak ini membuat Perti tampil layaknya air tenang, penuh kedalaman, namun kadang justru dianggap tidak cukup menghanyutkan arus perubahan. Padahal, ketenangan tidak boleh ditafsirkan sebagai kelambanan, apalagi kebekuan.


Zaman terus berubah. Musim berganti. Pendidikan, dakwah, dan kerja-kerja sosial sebagai core issues Perti harus tetap menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Pepatah Minang mengingatkan: “sakali aia gadang, sakali tapian barubah”—sekali air membesar, sekali tepian berganti. Artinya, perubahan adalah keniscayaan, dan organisasi yang lahir dari rahim masyarakat Minangkabau ini dituntut untuk mampu membaca arah zaman, agar tidak ditinggalkan oleh generasinya.

Surau dan Tradisi Keulamaan

Salah satu akar kekuatan Perti terletak pada tradisi surau. Sejak abad ke-17, surau telah menjadi institusi pendidikan dan pusat transmisi ilmu keislaman di Minangkabau, tempat berlangsungnya pengajaran kitab kuning, tarekat, serta pembinaan adab dan akhlak (Dobbin, 1983). Surau bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga lembaga sosial yang membentuk pola pikir dan kepribadian masyarakat Minangkabau. Perti lahir dengan membawa spirit surau itu: mengintegrasikan pendidikan agama dengan kehidupan sosial, serta menjadikan ulama sebagai pusat otoritas moral.

Namun, realitas abad ke-21 berbeda. Modernisasi pendidikan dan globalisasi pengetahuan menempatkan surau tradisional di persimpangan jalan. Kitab kuning yang dulu menjadi sumber utama pengajaran kini harus bersanding dengan literatur akademik kontemporer, teknologi digital, dan wacana global. Bahkan, otoritas ulama sebagai pemegang kebenaran tunggal mulai dipertanyakan oleh generasi muda yang terbiasa dengan budaya kritis media sosial (Azra, 2004).

Di titik ini, Perti dituntut untuk menghadirkan tafsir baru atas tradisi keulamaan. Tarekat yang dulu menjadi ruang spiritual harus dipahami kembali sebagai potensi besar dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual generasi muda. Kitab kuning yang dahulu hanya dipelajari dengan metode bandongan atau sorogan bisa diperkaya dengan pendekatan blended learning, sehingga tidak tercerabut dari tradisi namun tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Tantangan Abad ke-21

Kehidupan abad ke-21 ditandai oleh percepatan perubahan sosial, teknologi digital, globalisasi ekonomi, dan krisis lingkungan. Di Indonesia, perkembangan Internet of Things, kecerdasan buatan, serta media sosial telah mengubah pola komunikasi dan gaya hidup masyarakat. Generasi muda Minangkabau kini hidup dalam ruang virtual, lebih dekat dengan gawai daripada surau.

Fakta empiris menunjukkan, lebih dari 77% penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet pada 2023 (APJII, 2023). Akses digital ini menciptakan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, dakwah dan pendidikan Islam dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui platform digital. Di sisi lain, banjir informasi juga melahirkan disinformasi dan radikalisasi yang kerap bersembunyi di balik retorika agama.

Fenomena ini sejalan dengan konsep “digital natives” yang diperkenalkan oleh Prensky (2001), yakni generasi yang sejak lahir telah berinteraksi dengan teknologi digital, sehingga memiliki cara belajar, berkomunikasi, dan memahami dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi Perti abad ke-21 termasuk di dalamnya: mereka mencari ilmu melalui YouTube, berdiskusi di forum daring, dan belajar kitab tidak hanya di surau fisik, tetapi juga melalui aplikasi digital.

Di sisi lain, lembaga-lembaga riset global menunjukkan perbedaan orientasi religius antar-generasi. Pew Research Center (2018) mencatat adanya “age gap in religion” di banyak negara, di mana generasi muda cenderung kurang terikat pada ritual tradisional dibanding generasi tua. Meski konteks Indonesia berbeda, gejala ini juga terasa: semakin banyak anak muda yang menginginkan pendekatan agama yang lebih relevan dengan isu-isu kontemporer, seperti lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan keadilan sosial.

Langkah Konkret Perti

Sebagai organisasi keagamaan dan sosial, Perti perlu mengembangkan strategi konkret untuk menjawab tantangan-tantangan itu. Pertama, dalam bidang pendidikan, Perti harus menghidupkan kembali tradisi surau dengan format baru. Surau abad ke-21 tidak semata bangunan fisik, melainkan juga digital surau yang bisa menjadi ruang belajar daring. Campbell dan Tsuria (2021) menyebut fenomena ini sebagai digital religion, yaitu praktik keagamaan yang berlangsung di ruang digital, baik dalam bentuk pengajaran kitab online, kajian via Zoom, maupun komunitas virtual yang memelihara identitas keagamaan.

Kedua, dalam bidang dakwah, Perti harus memperkuat literasi digital ulama dan da’i. Tradisi retorika khutbah di mimbar masjid perlu disandingkan dengan kemampuan berdakwah melalui media sosial, podcast, atau kanal YouTube. Hal ini sesuai dengan temuan Howe dan Strauss (2000) tentang karakteristik generasi milenial—dan kini generasi Z—yang lebih mudah terhubung melalui media digital interaktif daripada komunikasi satu arah. Dengan cara ini, ulama Perti tetap dapat menjaga otoritas moralnya di ruang publik baru yang kini diperebutkan oleh berbagai ideologi.

Ketiga, dalam bidang sosial, Perti dapat mengembangkan gerakan filantropi yang berbasis komunitas. Tradisi gotong royong Minangkabau dan semangat badoncek (patungan) bisa diadaptasi menjadi platform crowdfunding digital untuk membiayai pendidikan anak-anak yatim, bantuan kesehatan, maupun penanggulangan bencana. Nurmandi dan Kim (2020) menunjukkan bahwa inovasi digital dalam filantropi Islam di Indonesia telah meningkatkan partisipasi publik dalam kegiatan sosial, memperluas jangkauan bantuan, dan memperkuat legitimasi organisasi Islam di mata generasi muda.

Keempat, dalam bidang keulamaan, Perti perlu memfasilitasi integrasi tarekat dengan psikologi modern. Ritual zikir, khalwat, dan suluk dapat dilihat bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga sebagai praktik penguatan kesehatan mental, ketenangan jiwa, dan resiliensi spiritual. Hal ini relevan dengan kebutuhan generasi muda yang sering mengalami krisis identitas dan tekanan psikologis akibat kompetisi global.

Menyemai Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Perti memiliki modal historis dan kultural yang kuat. Surau, kitab kuning, tarekat, dan tradisi ulama adalah warisan yang tidak boleh ditinggalkan. Namun warisan ini tidak boleh diperlakukan sebagai museum, melainkan harus dihidupkan kembali dengan tafsir baru. Kekuatan tradisi harus berjalan seiring dengan kecakapan abad ke-21: literasi digital, kolaborasi lintas disiplin, kemampuan komunikasi global, dan kepekaan terhadap isu lingkungan.

Dalam perspektif ini, generasi Perti Sumatera Barat abad ke-21 tidak boleh terjebak pada nostalgia, tetapi harus menjadikan tradisi sebagai energi pembaruan. Tradisi ibarat akar yang menjaga identitas, sementara kecakapan abad ke-21 adalah cabang dan daun yang tumbuh merespons cahaya zaman. Tanpa akar, pohon akan tumbang; tanpa cabang dan daun, pohon tidak akan berkembang.

Dengan demikian, Perti dipanggil untuk menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara surau tradisional dengan ruang digital, antara kitab kuning dengan literatur modern, antara tarekat dengan psikologi kontemporer. Ketenangan Perti bukanlah kelambanan, melainkan kedalaman yang memberi arah. Seperti air tenang yang menghidupi sawah dan ladang, Perti harus menjadi aliran yang memberi kehidupan bagi masyarakat Minangkabau di era global.

---

Daftar Bacaan

APJII. (2023). Laporan Survei Internet APJII 2023. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

Azra, A. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana.

Campbell, H. A., & Tsuria, R. (2021). Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media. London: Routledge.

Dobbin, C. (1983). Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784–1847. London: Curzon Press.

Howe, N., & Strauss, W. (2000). Millennials Rising: The Next Great Generation. New York: Vintage Books.

Nurmandi, A., & Kim, S. (2020). Islamic philanthropy and digital innovation in Indonesia. Journal of Islamic Accounting and Business Research, 11(9), 2009–2027.

Pew Research Center. (2018). The Age Gap in Religion Around the World. Washington, DC: Pew Research Center.

Prensky, M. (2001). Digital natives, digital immigrants. On the Horizon, 9(5), 1–6.

09 May 2025

Silindik Basangkak Batu

Muhammad Nasir

Pengamat  Burung

                    Silindik basangkak batu,
                    sangkak tasangkuik di batang palam,
                    takikik galak urang nan tahu,
                    galak tabasuik urang nan paham

 

  Dulu waktu saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Pasaman saya sangat sering mendengar kicauan burung Silindik. Saya KKN di Desa Salibawan Mapun di Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, tahun 1999. Desa itu terletak di pertengahan jalan raya Lubuk Sikaping–Rao. Saya mendapat posko di dusun daerah Mapun, beberapa kilo dari jalan raya. Untuk sampai ke Mapun saya harus melewati jembatan gantung yang disebut oleh masyarakat setempat dengan "rajang atau rojang".

Tetapi yang menarik bukan rajangnya yang panjang melintasi sungai Batang Sumpu. Tetapi suara kicauan burung yang kemudian saya tahu sebagai burung Silindik (serindit). Dan, ternyata bagaimana saya melewati rajang itu hampir mirip dengan gaya burung Silindik itu: bergoyang-goyang dan kadang sedikit merangkak pada bagian yang sedikit menegangkan.

        Dari situlah saya mulai memperhatikan lebih serius si burung Silindik (loriculus). Burung kecil berwarna hijau terang ini memiliki semburat merah di bagian kepala atau leher, tergantung spesiesnya. Suaranya yang nyaring dan ritmenya yang khas menjadi penanda kehadirannya, walau tubuhnya kecil dan sering luput dari pandangan. Ia biasa hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil, beterbangan dari satu dahan ke dahan lain di hutan tropis dataran rendah hingga ke pohon-pohon dekat pemukiman. Keunikannya tak hanya pada suara, tapi juga sifatnya yang aktif, gesit, dan setia kawan.

Silindik sangat menyukai buah-buahan, terutama ara dan mangga matang. Saat menemukan pohon yang lebat buahnya, ia akan kembali berulang kali, bahkan mengajak burung lain. Ia cenderung menetap di kawasan yang dianggapnya aman dan nyaman, dan hanya pergi jika ada gangguan besar. Burung ini juga dikenal memiliki “suara peringatan” saat merasa terancam, yang memicu kewaspadaan burung lain.

Yang menarik, Silindik tidak agresif tapi juga bukan penakut. Ia tahu kapan bersembunyi dan kapan muncul. Geraknya lincah di udara, sulit ditangkap meski bermain di pohon-pohon sekitar rumah. Ia cerdas mencari tempat hinggap aman, tampak seperti selalu “berstrategi” dengan naluri tajam. Karena sering berinteraksi, Silindik terlihat memiliki rasa kolektivitas yang kuat: saling memanggil, menunggu, bahkan seolah berdiskusi sebelum terbang bersama.

Di Dusun Mapun, saya akhirnya melihat Silindik dari dekat. Tapi sudah dalam sangkar. Sangkar unik itu menyerupai tabung bulat telur yang digantung horizontal, terbuat dari bilah bambu yang diraut halus. Desainnya indah dan fungsional. Di dalamnya, seekor Silindik kecil bersinar dengan warna hijaunya yang mencolok. Meski terkurung, ia tampak tetap lincah dan bermain seperti biasa.

Hal yang membuat saya tertegun adalah caranya bergerak dalam sangkar. Ia tidak tampak stres atau pasrah seperti burung baru ditangkap. Justru seolah menikmati ruangnya. Ia berputar, hinggap, lalu melompat ringan ke sisi lain. Bilah-bilah bambu menjadi semacam labirin yang terus mengaktifkan tubuhnya. Kadang ia tidur dalam posisi terbalik, seperti kelelawar kecil, menggantung dan memejamkan mata, pemandangan ganjil sekaligus memukau, seolah ia sendiri yang memilih cara istirahatnya.

Kegembiraan kecil Silindik dalam sangkar itu membuat saya berpikir bahwa mungkin ia tak merasa dikurung sepenuhnya. Atau, ia adalah makhluk yang cepat menyesuaikan diri. Ia tetap berkicau, merawat bulu, dan sesekali menyapa dunia luar dengan lirikan matanya yang tajam. Sangkar yang membatasi langkahnya tak memadamkan vitalitasnya.

Saya juga perhatikan, Silindik tak mudah terkejut. Ketika didekati, ia tak panik membentur jeruji. Ia hanya bergeser sedikit, tetap menatap, seolah mencoba mengenali sebelum bereaksi. Sikapnya ini membuat banyak orang merasa sedang berhadapan dengan makhluk yang tenang dan bijak, bukan burung liar yang terkurung.

Beberapa warga percaya bahwa Silindik adalah burung yang “tahu diri”: tak sembarangan berkicau, tak membuang tenaga sia-sia. Saat pagi, ia menyambut matahari dengan nyanyian, lalu tenang di siang terik, dan kembali aktif menjelang sore. Saat diberi makan, ia tidak rakus, hanya mematuk perlahan, seakan tahu waktunya makan.

Begitulah Silindik dalam sangkar. Tetap indah, lincah, dan punya dunia kecil sendiri. Ia tak berubah menjadi makhluk duka, malah menunjukkan daya adaptasi yang luar biasa. Dalam ruang sempit, ia menciptakan ruang geraknya sendiri. Lengkung bambu bukan pagar, tapi jalur untuk terus bergerak, tidur, bermain, dan berkicau. Sebuah kehidupan kecil yang tetap berwarna, meski tak lagi bebas di dahan hutan.

Namun dalam bentuknya yang menyedihkan, Silindik dalam sangkar juga bisa dilihat sebagai ornamen. Ia menjadi bagian dari dekorasi rumah besar bernama kekuasaan, digantung di sudut beranda sebagai hiasan bunyi saat tamu datang. Ia bersuara ketika diminta, diam ketika disuruh. Tampak sibuk, tapi tak ke mana-mana. Terlihat berdaya, padahal sekadar bagian dari tata letak. Bahkan suara nyaringnya bisa menjadi pengalih dari kebusukan di balik dinding rumah.

 

Ketika dilepas liar

Mungkin karena jumlahnya yang cukup banyak, orang-orang Mapun sering melepasliar Silindik bila ada gejala yang mengkhawatirkan. Misalnya, meminjam lirik lagu Perjalanan Franky and Jane (1978) “gejala sakit yang tak terobati.” Silindik kemudian dilepaskan ke alam liar, dengan harapan ia dapat menemukan obatnya sendiri, atau alam akan menjadi dukun yang akan memulihkan penderitaan Silindik. Kata orang Mapun, “biasanya, ia akan sembuh di alam, dan akan kemali lagi setelah pulih.”

 Itulah bagian yang paling menarik adalah ketika Silindik dilepaskan ke alam bebas. Burung kecil yang tampak lemah gemulai ketika sakit di sangkar, namun kembali tenang, lentur menjadi makhluk yang Kembali sangat hidup. Ia terbang cepat, zigzag di antara pepohonan, seperti sedang merayakan kembali ruang tanpa batas yang kini terbuka di hadapannya. Tapi ia tidak langsung pergi jauh. Justru, banyak Silindik yang dilepas setelah lama dalam sangkar akan tetap berputar-putar di sekitar rumah, seakan ingin berpamitan atau menandai bahwa ia belum sepenuhnya ingin meninggalkan tempat yang pernah menjadi rumahnya.

Ia sama sekali tidak menunjukkan trauma atau ketakutan. Ia seperti burung yang telah menyerap dua dunia; dunia dalam sangkar dan dunia di lar sana. Dan kini tahu bagaimana hidup di antaranya. Saat dilepas, Silindik bukan burung yang kebingungan atau panik mencari arah. Ia tampak tahu ke mana harus pergi, dan kapan harus kembali. Kadang, burung itu justru hinggap sebentar di atap rumah atau dahan dekat jendela, memperhatikan sekeliling dengan tatapan siaga, sebelum akhirnya terbang lebih jauh, menyelinap di balik semak atau pucuk bambu.

Dalam pengamatan orang-orang yang gemar memelihara Silindik, burung ini termasuk yang setia pada wilayahnya. Jika ia merasa nyaman dengan satu lingkungan, besar kemungkinan ia akan kembali, atau minimal berputar-putar di kawasan yang sama. Itulah mengapa banyak pemilik burung Silindik yang sengaja membiarkan pintu sangkar terbuka setelah sekian waktu, sebagai bentuk ‘percobaan’ apakah Silindik yang mereka pelihara akan kabur atau tetap kembali. Dan seringkali, Silindik kembali, atau minimal tetap berkeliaran di tempat yang sama. Keputusan untuk menetap atau pergi seolah menjadi hak penuh si burung, dan manusia hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas.

Yang lebih mencengangkan lagi, Silindik yang terbiasa dilepas-liar kadang menunjukkan kecerdasan sosial. Ia datang di waktu yang kira-kira sesuai, tidak mengganggu, dan bahkan kadang menyapa dengan kicauan pendek sebelum bertengger di dahan yang biasa ia kunjungi. Kesan bahwa ia “mengetahui waktu” dan “mengenali tempat” membuat Silindik punya tempat tersendiri di hati banyak orang tua di kampung. Mereka menyebutnya sebagai burung yang tahu adat, tahu kapan bersuara, tahu kapan diam.

Dalam dunia yang luas, Silindik memang tidak bisa disebut sebagai burung yang hebat secara fisik. Ia kecil, tak bersenjata, dan mudah diserang predator. Namun justru karena itu, ia mengembangkan cara bertahan hidup yang lebih halus dengan kelincahan, dengan sinyal-sinyal suara, dengan kebiasaan mengenali tempat dan waktu. Ia bukan penakluk wilayah, tapi penjaga harmoni. Ia hidup bukan dengan menantang, tapi dengan menyesuaikan diri, sambil tetap menjadi dirinya sendiri: lincah, nyaring, dan cantik.

Dari sangkar hingga hutan, dari bilah bambu hingga ranting bebas, Silindik menunjukkan konsistensi dalam satu hal: ia adalah burung yang tahu bagaimana menyesuaikan diri dengan ruangnya, namun tidak kehilangan esensinya. Ia tetap Silindik, entah terkurung atau dilepaskan. Dan itulah yang membuatnya istimewa. Yang satu membentuk ruang makna dalam keterbatasan, yang lain justru menikmati ruang terbatas sebagai zona nyaman, menghindar dari ujian di luar sangkar. Burung hias, bukan penjaga harmoni.

Ketika Silindik dilepas ke hutan dan ia kembali dengan sukarela, di sanalah makna dirinya diuji. Apakah ia kembali karena cinta pada tempat, atau karena takut pada luasnya dunia? Apakah ia tetap bersuara karena punya pesan, atau karena sudah dilatih untuk berkicau saja? Ibarat pemimpin sejati, sepertinya Silindik yang cerdas, tahu bahwa sangkar bisa menjadi tempat singgah, bukan tempat tinggal abadi. Ia tahu kapan harus kembali ke hutan, dan kapan harus kembali ke rumah tanpa kehilangan siapa dirinya.

Maka dalam masyarakat Mapun-Salibawan yang paham simbol, Silindik bukan hanya burung. Ia adalah alegori hidup tentang bagaimana seharusnya pemimpin bergerak di antara ruang kuasa dan ruang publik. Ia bukan burung gagah, bukan elang penjaga langit. Tapi dalam tubuh kecilnya, tersimpan pelajaran besar: tentang setia, tentang suara, tentang tahu waktu, dan tentang cara menjadi pemimpin tanpa harus menaklukkan, cukup dengan memahami irama dan menjaga keseimbangan.

 

Duapuluh Enam Tahun Kemudian..

Hari ini, setelah 26 tahun kemudian, saya melihat burung ini lagi di kedai Poultry Shop di daerah Kubu, Marapalam Kota Padang. Saya hanya membeli pakan ikan. Tetapi, karena di sana juga menjual aneka burung berkicau, burung hias serta aneka ungags, saya memilih nongkrong lebih lama. Menghilangkan stress dari kerja rutinitas yang makin lama makin menjemukan. Saat itulah saya mendengar kicauan Silindik, yang semula saya kira kicauan burung lovebird.

“Ini jantan dan ini yang betina,” kata bapak pemilik kedai itu. Saya langsung menanyakan, apa perbedaannya selain jenis kelamin. Bapak itu menjawab, “yang jantan lebih atraktif dan berbunyi nyaring. Lebih senang berinteraksi dengan manusia.” Yang betina, “sepertinya ia lebih senang merawat bulu dan berbunyi bila sedang terganggu,” terang bapak itu.  

Aih, yang jelas, bacalah tulisan ini dengan benar, tak perlu pula pikiran anda travelling ke mana-mana.  Apalagi pasaran kini sedang panas. [09/05/2025]