27 August 2026

Menenun Serat Ingatan: Ruang Ambiguitas Dua Putra Kauman

Resensi Buku

Judul       : Theologies of Remembering: Modernity, Ambiguity, and Transcendence in Islamic Indonesia
Penulis    : Verena Meyer
Penerbit  : University of California Press
Terbit      : 2026

Silakan download bukunya, klik saja teks di bawah ini:
Theologies of Remembering

Menjelajahi Ruang Ambiguitas Muhammadiyah NU di Yogyakarta
Muhammad Nasir 
(Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang)



Perjalanan Verena Meyer menyusuri gang-gang sempit Kauman di jantung Yogyakarta akan membawa pembaca ke ruang yang secara geografis dekat, tetapi secara temporal menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Di kawasan inilah Meyer memulai narasi etnografis dan teologisnya dalam buku
Theologies of Remembering: Modernity, Ambiguity, and Transcendence in Islamic Indonesia (2026). Buku ini mengkaji hubungan antara ingatan, sejarah, identitas keagamaan, dan pengalaman transendensi melalui kehidupan dua tokoh yang memiliki posisi penting dalam sejarah Islam Indonesia, yaitu K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammad "Mbah" Munawwir.

Meyer tidak melihat Muhammadiyah dan NU sebagai dua kategori keagamaan yang sepenuhnya stabil. Ia justru memperlihatkan bagaimana kedua identitas tersebut terus dibentuk, dinegosiasikan, dan dipertentangkan melalui cara masing-masing kelompok mengingat masa lalu. Dalam pengantar bukunya, Meyer menegaskan bahwa identitas tradisionalisme dan modernisme merupakan konstruksi yang bergantung pada situasi. Ia menulis, "Identities like traditionalism and modernism are not sui generis or stable" (hlm. 3).

Pernyataan tersebut menjadi kunci untuk memahami keseluruhan argumen buku. Meyer tidak berusaha menentukan apakah Muhammadiyah benar-benar modernis atau NU benar-benar tradisionalis. Yang lebih penting baginya adalah melihat bagaimana kedua kategori itu bekerja dalam praktik sosial dan politik, termasuk bagaimana masa lalu digunakan untuk mempertahankan atau mengubah batas identitas. Dengan demikian, ingatan menjadi arena tempat identitas keagamaan terus dinegosiasikan.

Buku ini berpusat pada warisan dua tokoh Kauman yang lahir hanya terpaut dua tahun. K.H. Ahmad Dahlan lahir pada 1868 dan kemudian mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Muhammad "Mbah" Munawwir lahir pada 1870 dan menjadi pendiri pesantren penting di Krapyak yang kemudian berkelindan dengan lingkungan tradisionalis NU. Meyer menunjukkan bahwa keduanya dapat dibaca sebagai representasi dari dua kecenderungan besar dalam Islam Indonesia, tetapi hubungan keduanya dengan masa lalu ternyata jauh lebih kompleks daripada oposisi modernis dan tradisionalis yang selama ini sering digunakan dalam kajian Islam Indonesia.

26 May 2026

Review Film Dokumenter Pesta Babi (2026): Salib Merah, Sasi, Pesta Babi, dan Hutan sebagai Situs Memori

Oleh: Muhammad Nasir
Penyuka film dokumenter/ 
Pengajar Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang 


Prolog
Beberapa tahun terakhir, narasi ketahanan pangan dan transisi energi menjadi isu yang ramai dibicarakan di Indonesia. Tahun ini hadir film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026) sebagai interupsi visual yang mengguncang ruang publik. Disutradarai oleh sineas investigatif Dandhy Dwi Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale, dokumenter berdurasi 95 menit ini memadukan data kebijakan dengan kenyataan pahit di lapangan. Dirilis gratis di YouTube pada 22 Mei 2026 setelah menghadapi intimidasi dan pembubaran nobar di berbagai daerah, film produksi Watchdoc bersama Greenpeace menghadirkan narasi yang dingin namun menghantam. Kamera merekam ekskavator yang menggusur tanah ulayat suku Malind dan Awyu di Papua Selatan, sekaligus menelusuri jaringan korporasi di baliknya. Melalui jurnalisme investigatif yang tajam, film ini menegaskan sinema bukan sekadar tontonan, melainkan dokumen gugatan publik.

 

15 May 2026

Membaca RSK di Pagi Ini

Oleh: Muhammad Nasir


Apa jadinya jika manusia modern masih rajin mendengar suara azan dari mushalla, tetapi tidak lagi mampu mendengar suara burung yang hilang dari hutan, bunyi sungai yang rusak, dan jerit ekosistem yang perlahan dihancurkan?



Disclaimer: tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan surau, apalagi merendahkan tradisi religius yang hidup di dalamnya. Ia justru berangkat dari keseriusan untuk meminjam logika berpikir A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami (RSK): sebuah cara pandang yang menguji kesalehan bukan hanya dari ritual, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan relasi manusia dengan alam. Dengan kata lain, yang dibicarakan di sini bukan “surau sebagai tempat”, melainkan surau sebagai "ruang berpikir" tentang tanggung jawab.

28 April 2026

Psiko-Nasionalisme: Membaca Relasi Batin Warga Negara dengan Negara

Oleh: Muhammad Nasir
Pengajar Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang 


Belakangan ini publik Indonesia dibuat bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam relasi warga negara dengan negaranya? Pertanyaan ini tidak lahir dari serangkaian kejadian yang viral di media social. Ada warga negara Indonesia yang memilih pindah kewarganegaraan. Ada kasus desersi anggota TNI/Polri yang kemudian bergabung dengan tentara Rusia. Muncul pula kasus viral Syifa, seorang WNI berhijab yang bergabung dengan Dinas Angkatan Laut Amerika Serikat. Semua ini terasa searah dengan tagar yang lebih dulu viral: #kaburajadulu.

Fenomena ini bisa saja dibaca secara administratif, hukum, atau keamanan negara. Dari sudut pandang hukum, ini adalah pelanggaran disiplin, pengkhianatan sumpah, atau pelanggaran kewarganegaraan. Dari sudut pandang politik, ini adalah ancaman terhadap kedaulatan dan loyalitas nasional.

Namun, jika berhenti pada penjelasan struktural semata, tentu akan sulit menjawab pertanyan, mengapa mereka melakukan itu? Pertanyaan yang menyasar lapisan batin atau lapisan lapisan psikologis yang jarang disentuh negara.

Ini juga wilayah yang jarang disentuh secara serius dalam wacana publik: relasi batin antara warga negara dan negara Mengapa individu sampai pada titik memilih meninggalkan negaranya? Mengapa identitas nasional yang dulu dianggap kuat dan mengikat kini tampak semakin cair dan bisa dilepaskan?

17 March 2026

Nak Ameh Bungka Diasah

Muhammad Nasir
Pengajar Kebudayaan Minangkabau UIN Imam Bonjol Padang

ungkapan ini menunjukkan bahwa keindahan bahasa Minangkabau terletak pada kemampuannya menyatukan estetika dan etika. Ia tidak hanya indah secara bunyi dan struktur, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Dalam khazanah pemikiran Minangkabau, falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” adalah  fondasi epistemologis yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berbahasa. Alam diposisikan sebagai sumber pengetahuan, bukan hanya dalam arti fisik, tetapi juga sebagai ruang simbolik tempat manusia membaca hukum-hukum kehidupan. Jadi, itu bukan ungkapan stilistika semata. 


Dari sinilah lahir berbagai ungkapan adat yang padat makna, salah satunya: “Nak kayu janjang dikapiang, nak aia talang dipancung, nak ameh bungka diasah.” Ungkapan ini berisi nasihat moral tentang kerja keras, tetapi lebih penting darinitu: sebagai representasi dari struktur berpikir orang Minangkabau yang empiris, rasional, dan simbolik sekaligus. 

11 March 2026

Mengapa Amerika Membunuh Khamenei?

Mengapa Amerika Membunuh Khamenei?
Catatan tentang kekuasaan, ketakutan, dan perubahan wajah perang di abad ke-21


Muhammad Nasir
Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang

Pada awal abad ke-21, dunia menyaksikan perubahan penting dalam cara negara menggunakan kekuatan militer. Perang tidak lagi selalu dimulai dengan invasi besar atau pertempuran terbuka. Semakin sering, konflik justru diwujudkan dalam bentuk serangan presisi yang menargetkan individu tertentu.

Salah satu contoh paling terkenal adalah operasi Amerika Serikat yang menewaskan pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden. Menurut laporan BBC pada 2 Mei 2011, pasukan khusus Amerika menyerbu sebuah kompleks di Abbottabad, Pakistan, dan menewaskan bin Laden dalam operasi yang dipimpin langsung oleh pemerintah Amerika Serikat (BBC, 2 Mei 2011). Peristiwa itu segera dipandang sebagai puncak dari operasi militer global yang dilancarkan Washington setelah serangan 11 September 2001.