29 January 2026

Personalisasi Negara di Era Pilpres Langsung: Dari Pesona-isasi ke Personalisasi

 Muhammad Nasir

Pemilihan presiden secara langsung sejak 2004 lazim ditulis oleh ahli politik tata negara sebagai tonggak demokratisasi prosedural di Indonesia. Rakyat memilih langsung presiden tanpa perantara elite politik, dan legitimasi kekuasaan dikembalikan kepada suara mayoritas. Meskipun demikian, pada proses awalnya para calon presiden (capres) dipilihkan (diusulkan) oleh partai politik. 

Namun, pembacaan jangan berhenti dulu pada aspek prosedural semata. Itu cenderung akan menyilapka  mata terhadap kenyataan, bahwa ada perubahan lain yang bekerja lebih senyap, yakni perubahan cara negara direpresentasikan, dipersepsi, dan diingat oleh publik. Dalam konteks ini, pilpres langsung bukan hanya mekanisme elektoral, tetapi juga daoat dibaca sebagai arena produksi makna politik.


Dari sudut pandang ini, pilpres langsung dapat dipahami sebagai arena di mana representasi negara digeser secara simbolik, dari institusi ke figur, melalui proses pesona-isasi yang berlanjut menjadi personalisasi dalam ingatan kolektif. Negara yang sebelumnya dibayangkan sebagai bangunan institusional dengan aturan, prosedur, dan mekanisme impersonal (Elias, 1983),  kemudian disematkan pada sosok individual calon presiden dan presiden terpilih.

20 January 2026

Masa Depan Demokrasi di Tangan Masyarakat Minim Literasi

Muhammad Nasir

...karena masyarakat yang tidak dibiasakan berpikir rasional akan mudah dipimpin sekaligus mudah ditipu —Tan Malaka

Demokrasi Indonesia terkini sering dibangga-banggakan. Punya pemilu, punya kebebasan bicara, punya media sosial untuk berpendapat. Tapi ada satu pertanyaan penting: apakah  masyarakat benar-benar paham apa yang sedang terjadi, apa substansi yang dibicarakan?

Di banyak tempat di Indonesia, demokrasi berjalan di atas masyarakat yang minim literasi. Bukan buta huruf, tapi malas membaca utuh dan enggan berpikir panjang. Judul berita sudah cukup untuk marah. Potongan video sudah cukup untuk membenci. Klarifikasi dan data sering dianggap tidak penting.


Padahal demokrasi harus hidup dari nalar, kata Tan Malaka. Bukan dari emosi apalagi mitos dan logika mistika. Ketika warga tidak terbiasa membaca, memeriksa, dan membandingkan informasi, ruang publik berubah jadi arena teriak-teriak. Ramai, tapi miskin isi. Semua orang bicara, sedikit yang mendengar.

16 January 2026

Surga Yang Di Bawahnya Mengalir Sungai-sungai

 Muhammad Nasir


Saya pernah beberapa kali melihat keberadaan burung punai di semak-semak di belakang gedung Perpustakaan UIN Imam Bonjol. Setiap kali melihatnya, muncul pertanyaan sederhana di kepala saya: pohon apa yang tumbuh di sana hingga mampu menjadi sumber makanannya. 


Punai adalah burung yang senang mematuk buah-buahan dan senang hinggap di pohon yang bijinyabisa dimakan, atau pohon yang cukup aman untuk bertengger. Saya mengedarkan pandangan ke semak-semak di bukit. Pohon dan buah-buah apakah yang ada di bukit dan lembah sungai banget itu? 

11 January 2026

Apa Guna Biografi? Biar Ilmu Sejarah Yang Menjawab

Muhammad Nasir 
Pengajar Sejarah UIN Imam Bonjol Padang


Perdebatan mengenai kegunaan kisah orang-orang besar di masa lalu kerap muncul dalam diskursus akademik dan ruang publik. Sebagian pandangan sinis memandang biografi sebagai bentuk glorifikasi masa lalu yang dianggap tidak lagi relevan dengan persoalan sosial masa kini. Pandangan ini umumnya berangkat dari asumsi bahwa biografi terlalu memusatkan perhatian pada individu tertentu dan mengabaikan struktur sosial yang lebih luas. 


Namun, dalam tradisi historiografi dan ilmu sosial, biografi justru dipahami sebagai salah satu medium penting untuk membaca relasi antara individu, masyarakat, dan konteks sejarah yang melingkupinya (Kuntowijoyo, 2003; Burke, 2005).

06 January 2026

Apa Kesibukan Para Pemimpin Politik Dunia Setelah tidak Lagi Berada di Kursi Pemerintahan?

Muhammad Nasir

Awal tahun 2026 ini saya searching Wikipedia, laman berita terpercaya, dan YouTube. Saya bertanya-tanya, ingin tahu: apa kesibukan para pemimpin politik dunia setelah tidak lagi berada di kursi pemerintahan? Dari penelusuran itu tampak satu pola menarik. Kekuasaan memang berakhir pada satu titik waktu, tetapi aktivitas dan pengaruh tidak selalu ikut selesai.


Barack Obama, Presiden Amerika Serikat periode 2009–2017, memberi contoh awal. Setelah meninggalkan Gedung Putih pada Januari 2017, ia tidak kembali ke politik praktis. Pada 2020, Obama menerbitkan buku A Promised Land, sebuah refleksi panjang tentang demokrasi, kepemimpinan, dan batas-batas kekuasaan. Sejak 2018, melalui Obama Foundation, ia aktif membangun program kepemimpinan muda dan pendidikan sipil. Dari ruang kekuasaan, ia berpindah ke ruang pembelajaran.

04 January 2026

Pendulum Waktu Gen Xennial

 Muhammad Nasir 


Saya generasi yang tumbuh di antara dua dunia. Satu kaki menapak pada masa majalah Bobo, Wiro Sableng, dan novel Freddy S yang berpindah tangan dari satu tas ke tas lain. Dunia itu pelan, terbatas, tetapi justru memberi ruang luas bagi imajinasi.

Pada masa itu, cerita menjadi jendela utama untuk memahami hidup. Kata-kata bekerja lebih dulu sebelum gambar bergerak. Imajinasi dilatih tanpa sadar, membangun kesabaran dan daya tahan batin.



Kartun menjadi sekolah rasa tanpa papan tulis. He-Man mengajarkan keberanian yang sederhana, Defenders of the Earth membuka kesadaran tentang dunia yang luas. Maya the Bee dan Little Missy menanamkan empati tanpa khotbah.