Resensi Buku
Penulis : Verena Meyer
Penerbit : University of California Press
Terbit : 2026
Menjelajahi Ruang Ambiguitas Muhammadiyah NU di Yogyakarta
Muhammad Nasir
(Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang)
(Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang)
Perjalanan Verena Meyer menyusuri gang-gang sempit Kauman di jantung Yogyakarta akan membawa pembaca ke ruang yang secara geografis dekat, tetapi secara temporal menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Di kawasan inilah Meyer memulai narasi etnografis dan teologisnya dalam buku Theologies of Remembering: Modernity, Ambiguity, and Transcendence in Islamic Indonesia (2026). Buku ini mengkaji hubungan antara ingatan, sejarah, identitas keagamaan, dan pengalaman transendensi melalui kehidupan dua tokoh yang memiliki posisi penting dalam sejarah Islam Indonesia, yaitu K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammad "Mbah" Munawwir.
Meyer tidak melihat Muhammadiyah dan NU sebagai dua kategori keagamaan yang sepenuhnya stabil. Ia justru memperlihatkan bagaimana kedua identitas tersebut terus dibentuk, dinegosiasikan, dan dipertentangkan melalui cara masing-masing kelompok mengingat masa lalu. Dalam pengantar bukunya, Meyer menegaskan bahwa identitas tradisionalisme dan modernisme merupakan konstruksi yang bergantung pada situasi. Ia menulis, "Identities like traditionalism and modernism are not sui generis or stable" (hlm. 3).
Pernyataan tersebut menjadi kunci untuk memahami keseluruhan argumen buku. Meyer tidak berusaha menentukan apakah Muhammadiyah benar-benar modernis atau NU benar-benar tradisionalis. Yang lebih penting baginya adalah melihat bagaimana kedua kategori itu bekerja dalam praktik sosial dan politik, termasuk bagaimana masa lalu digunakan untuk mempertahankan atau mengubah batas identitas. Dengan demikian, ingatan menjadi arena tempat identitas keagamaan terus dinegosiasikan.
Buku ini berpusat pada warisan dua tokoh Kauman yang lahir hanya terpaut dua tahun. K.H. Ahmad Dahlan lahir pada 1868 dan kemudian mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Muhammad "Mbah" Munawwir lahir pada 1870 dan menjadi pendiri pesantren penting di Krapyak yang kemudian berkelindan dengan lingkungan tradisionalis NU. Meyer menunjukkan bahwa keduanya dapat dibaca sebagai representasi dari dua kecenderungan besar dalam Islam Indonesia, tetapi hubungan keduanya dengan masa lalu ternyata jauh lebih kompleks daripada oposisi modernis dan tradisionalis yang selama ini sering digunakan dalam kajian Islam Indonesia.





