π€Oleh Muhammad Nasir
π₯Tetapi, ketika setiap orang merasa berhak atas ruang yang sama, siapa yang bertanggung jawab mengatur?π₯
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan Ulak Karang, sebuah trotoar berbisik lirih. Si batu tua, bagian dari trotoar yang sudah ada sejak zaman Belanda, meratapi nasibnya. "Aku dulu adalah saksi langkah-langkah kecil anak-anak sekolah dan para pedagang ikan yang membawa keranjang di pagi hari. Kini, tubuhku malah jadi tempat berdirinya warung kaki lima, gerobak nasi goreng, pecel lele dan tenda rokok," keluhnya.
Bagi
warga Padang, trotoar adalah ruang serbaguna. Di sisi Jalan Perintis
Kemerdekaan, trotoar tidak hanya menjadi pijakan kaki, tapi juga panggung
bisnis kecil-kecilan. Para pedagang, dengan alasan ekonomi, menguasai ruang
yang seharusnya menjadi milik pejalan kaki. Namun, siapa yang bisa menyalahkan
mereka sepenuhnya? "Kalau kami tidak di sini, mau jualan di mana lagi? Ini
kan lebih aman daripada di jalan," ujar Pak Rusli, seorang penjual sate
Padang, dengan nada pasrah.
***