Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang
Pada akhir 1970-an dunia Islam diguncang oleh sebuah peristiwa besar: Iranian Revolution. Revolusi ini menjatuhkan monarki Mohammad Reza Pahlavi dan melahirkan Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan ulama karismatik Ruhollah Khomeini.
Peristiwa ini tidak hanya mengubah Iran. Ia juga mengguncang imajinasi politik umat Islam di banyak negara. Bagi sebagian generasi Muslim pada masa itu, revolusi Iran seperti membalik sebuah asumsi lama: bahwa agama hanya berada di wilayah moral dan spiritual. Revolusi Iran menunjukkan bahwa agama juga dapat menjadi kekuatan sosial dan politik yang sangat besar.
Di Indonesia pada awal 1980-an, gema revolusi Iran terasa sampai ke kampus-kampus. Diskusi tentang revolusi ini muncul dalam majalah mahasiswa, forum pengajian, hingga percakapan di kantin kampus.
Nama pemikir Iran Ali Shariati juga mulai dikenal oleh aktivis mahasiswa. Buku-bukunya yang berbicara tentang Islam sebagai ideologi pembebasan dibaca dengan penuh antusias.
Pada masa itu muncul fenomena yang cukup unik: foto Khomeini terpajang di kamar-kamar mahasiswa Muslim. Foto itu bukan sekadar gambar seorang ulama Iran. Ia menjadi simbol moral dan politik: seorang ulama yang mampu menantang kekuasaan besar dan memenangkan dukungan rakyat.
Pengkaji politik Islam John L. Esposito dalam bukunya The Islamic Threat: Myth or Reality? (1992) menjelaskan bahwa revolusi Iran memberi efek psikologis yang luas di dunia Islam. Menurutnya, revolusi tersebut memperlihatkan bahwa “Islam dapat menjadi sumber legitimasi politik sekaligus kekuatan mobilisasi sosial” (Esposito, 1992). Dengan kata lain, revolusi Iran memberi kepercayaan diri baru kepada sebagian umat Islam bahwa agama dapat memainkan peran aktif dalam perubahan politik.
Meski demikian, tidak semua tokoh Muslim Indonesia melihat revolusi Iran sebagai model yang harus diikuti.
Intelektual Muslim Indonesia Abdurrahman Wahid—yang lebih dikenal sebagai Gus Dur—mengakui bahwa revolusi Iran adalah peristiwa besar dalam sejarah dunia Islam. Namun ia juga mengingatkan bahwa setiap masyarakat memiliki tradisi politik yang berbeda.
Dalam esainya yang kemudian dihimpun dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), Gus Dur menegaskan bahwa pengalaman Iran tidak bisa begitu saja dijadikan model bagi Indonesia. Menurutnya, Islam Indonesia berkembang melalui jalur sosial dan budaya, bukan melalui revolusi politik negara.
Bagi Gus Dur, kekuatan Islam di Indonesia justru terletak pada kemampuannya berdialog dengan pluralitas masyarakat dan tradisi lokal. Karena itu, revolusi Iran bisa menjadi inspirasi sejarah, tetapi tidak harus menjadi template politik.
Dari Khomeini ke Khamenei
Lebih dari empat dekade setelah revolusi Iran, dunia kembali menoleh ke Iran. Pada akhir Februari 2026, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Peristiwa ini segera memicu ketegangan besar di Timur Tengah dan memunculkan berbagai reaksi di dunia Muslim.
Bagi sebagian orang, kematian Khamenei bisa memunculkan simpati politik bahkan narasi “martir” dan"syahid" Menjadi viral di media sosial. Dalam sejarah Timur Tengah, kematian tokoh sering kali justru memperkuat simbolisme gerakan yang mereka wakili.
Namun situasi hari ini juga berbeda dengan era revolusi Iran. Jika kita membandingkan dua zaman itu, perbedaannya cukup mencolok.
Pada 1980-an, inspirasi politik Islam hadir melalui simbol-simbol sederhana: poster di kamar kos, buku terjemahan, kaset ceramah, atau majalah mahasiswa. Foto Khomeini di dinding kamar mahasiswa menjadi tanda bahwa seorang anak muda sedang membaca dunia Islam dengan semangat baru.
Hari ini simbol politik bergerak jauh lebih cepat. Foto Khamenei, potongan pidato pemimpin Iran, atau berita tentang konflik Timur Tengah bisa menyebar dalam hitungan menit melalui media sosial.
Perubahan ini membuat cara umat Islam mengimajinasikan kepemimpinan juga berubah.
Sosiolog Jerman Hartmut Rosa dalam bukunya Social Acceleration: A New Theory of Modernity (2013) menjelaskan bahwa kehidupan modern ditandai oleh percepatan sosial yang sangat tinggi. Informasi, simbol, dan emosi publik bergerak sangat cepat sehingga pengalaman kolektif manusia menjadi lebih intens tetapi juga lebih singkat.
Dalam konteks ini, figur politik hari ini bisa menjadi sangat viral sekaligus sangat cepat diperdebatkan. Berbeda dengan era 1980-an ketika figur seperti Khomeini dapat bertahan lama sebagai simbol hampir mitologis bagi sebagian generasi muda Muslim.
Apakah Gairahnya Sama?
Pertanyaannya kemudian: apakah peristiwa kematian Khamenei dapat memunculkan gairah keislaman seperti yang dulu dipicu oleh revolusi Iran?
Kemungkinan besar tidak sepenuhnya sama.
Revolusi Iran adalah peristiwa revolusioner yang lahir dari mobilisasi massa rakyat. Sementara konflik Iran hari ini lebih banyak dipahami sebagai konflik geopolitik antarnegara.
Selain itu, generasi Muslim sekarang hidup dalam dunia informasi yang jauh lebih kompleks. Inspirasi keagamaan tidak lagi datang dari satu figur atau satu negara saja.
Namun tetap saja sejarah memiliki cara yang unik untuk mengingatkan kita pada masa lalu.
Ketika berita tentang kematian Khamenei beredar hari ini, sebagian orang mungkin teringat kembali pada sebuah masa ketika foto Khomeini pernah terpajang di kamar-kamar mahasiswa Indonesia—sebagai simbol harapan, keberanian, dan imajinasi tentang kebangkitan umat.
Dan dari sana ada fenomena menarik untuk diamati; bahwa satu peristiwa besar di dunia Islam selalu memiliki gema yang jauh, bahkan sampai ke ruang kecil di kampus-kampus Indonesia.
Kini di zaman media sosial, resonansinya bahkan sampai ke group WhatsApp keluarga. Meme, kutipan video dan narasi pendeknya sudah tersebar merata ke semua kalangan.

No comments:
Post a Comment