06 January 2026

Apa Kesibukan Para Pemimpin Politik Dunia Setelah tidak Lagi Berada di Kursi Pemerintahan?

Muhammad Nasir

Awal tahun 2026 ini saya searching Wikipedia, laman berita terpercaya, dan YouTube. Saya bertanya-tanya, ingin tahu: apa kesibukan para pemimpin politik dunia setelah tidak lagi berada di kursi pemerintahan? Dari penelusuran itu tampak satu pola menarik. Kekuasaan memang berakhir pada satu titik waktu, tetapi aktivitas dan pengaruh tidak selalu ikut selesai.


Barack Obama, Presiden Amerika Serikat periode 2009–2017, memberi contoh awal. Setelah meninggalkan Gedung Putih pada Januari 2017, ia tidak kembali ke politik praktis. Pada 2020, Obama menerbitkan buku A Promised Land, sebuah refleksi panjang tentang demokrasi, kepemimpinan, dan batas-batas kekuasaan. Sejak 2018, melalui Obama Foundation, ia aktif membangun program kepemimpinan muda dan pendidikan sipil. Dari ruang kekuasaan, ia berpindah ke ruang pembelajaran.

Jimmy Carter bahkan lebih awal menunjukkan arah itu. Menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat pada 1977–1981, Carter mendirikan The Carter Center pada 1982, hanya setahun setelah lengser. Sejak dekade 1980-an hingga akhir hayatnya, ia terlibat dalam pemantauan pemilu, resolusi konflik, dan kampanye kesehatan global. Pada 2002, ia dianugerahi Nobel Perdamaian, justru karena kerja-kerja pasca-jabatannya. Dalam kasus Carter, kehidupan setelah kekuasaan menjadi fase pengabdian terpanjang.

Nelson Mandela juga memilih jalan yang tenang namun bermakna. Ia menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan pada 1994–1999, lalu secara sadar menolak periode kedua. Setelah 1999, Mandela lebih banyak berperan sebagai simbol rekonsiliasi dan juru damai global. Pada awal 2000-an, ia aktif dalam isu HIV/AIDS dan perdamaian Afrika. Ia jarang bicara politik praktis, tetapi kehadirannya sendiri menjadi pesan tentang penyembuhan sejarah.

Di Asia Tenggara, Mahathir Mohamad memperlihatkan dinamika berbeda. Ia pertama kali menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 1981–2003. Setelah itu, ia tetap menulis dan mengomentari politik nasional melalui buku dan blog sejak pertengahan 2000-an. Menariknya, pada 2018, di usia 92 tahun, ia kembali menjabat sebagai Perdana Menteri hingga 2020. Dalam kasus Mahathir, masa “setelah tidak menjabat” justru menjadi fase konsolidasi gagasan yang mengantarkannya kembali ke pusat kekuasaan.

JosΓ© Mujica, Presiden Uruguay periode 2010–2015, memilih jalur yang nyaris berlawanan. Setelah 2015, ia kembali ke rumah sederhananya dan bertani. Namun sejak 2016 hingga kini, Mujica tetap aktif berbicara di forum internasional tentang etika politik, ketimpangan sosial, dan kesederhanaan hidup. Ia tidak mendirikan yayasan besar, tidak pula mengejar jabatan baru. Kehidupannya sendiri menjadi pesan.

Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB periode 1997–2006, setelah menyelesaikan masa tugasnya langsung terlibat dalam diplomasi global. Pada 2007, ia mendirikan Kofi Annan Foundation dan terus menjadi mediator konflik di Afrika dan Timur Tengah hingga wafat pada 2018. Dalam fase ini, ia bekerja tanpa mandat formal, tetapi dengan kepercayaan internasional yang luas.

Dari contoh-contoh itu, terlihat bahwa tahun-tahun setelah kekuasaan sering kali justru lebih stabil, lebih jujur, dan lebih berorientasi jangka panjang. Ada yang menulis buku setelah satu dekade menjabat, ada yang mendirikan yayasan setahun setelah lengser, ada pula yang baru menemukan peran moralnya bertahun-tahun kemudian. Waktu tidak menghapus peran, ia hanya mengubah bentuknya.

Akhirnya saya bisa memahami, ada satu hal yang sederhana: jabatan ternyata adalah episode yang tidak mereka agungkan meski sudah pensiun, dan itu juga tidak mereka anggap sebagai pucuk dari keseluruhan cerita sukses kehidupan. Ya, hanya periode kehidupan saja. 

Ketika kekuasaan dilepas dengan sadar, ia tidak berubah menjadi kehampaan, melainkan menjadi ruang baru untuk memberi makna. Dan mereka sedang membangun aktivitas baru, dan mulai memberi warna dan makna baru untuk hidup mereka. 

Dalam dunia yang sering mengukur manusia dari kursi yang didudukinya, kisah para pemimpin dunia setelah tidak menjabat mengingatkan kita bahwa kontribusi terbaik justru sering lahir setelah sorotan meredup. Saat orang-oeang mulai membaca diri para mantan itu dengan tenang, reflektif dan tanpa beban politik. [6/01/2026]

————

Disclaimer! Jangan seret esai ini ke dalam konteks Indonesia


No comments: