31 May 2025

Kontroversi Ijazah Jokowi: Algoritma Media Sosial versus Memori Kolektif

Muhammad Nasir


Isu keabsahan ijazah Presiden Joko Widodo menjadi salah satu kontroversi politik yang berulang muncul di ruang publik. Meski berbagai lembaga resmi seperti Universitas Gadjah Mada, Komisi Pemilihan Umum, dan Mahkamah Agung telah memberikan klarifikasi yang membenarkan keaslian dokumen tersebut, isu ini tetap bergaung, terutama melalui platform media sosial. Peristiwa ini menandai pertemuan antara dua kekuatan simbolik dalam masyarakat digital kontemporer: algoritma sebagai pengatur arus informasi dan memori kolektif sebagai penentu resonansi sosial terhadap narasi.


29 May 2025

Antara Pusat dan Pinggiran: Kritik Epistemologis terhadap Penulisan Ulang Sejarah Nasional

Muhammad Nasir 
(Pengajar Sejarah UIN Imam Bonjol Padang) 


Selama bulan Mei 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon acap sekali mengumumkan bahwa pemerintah tengah menginisiasi penulisan ulang sejarah Indonesia dengan tujuan “menyegarkan narasi sejarah nasional.” Ia menekankan bahwa sejarah bukanlah doktrin resmi negara bukan pula sejarah resmi (official history), melainkan produk interpretasi yang terus berkembang.


"Tidak ada yang namanya sejarah resmi," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/5/2025). Silakan baca pernyataannya di detik.com

Pernyataan itu justru bertolak belakang dengan draf Kerangka Konsep Penulisan Sejarah Indonesia. Dalam draf itu ditulis: "Tujuan penulisan ini untuk menghasilkan buku yang merupakan 'sejarah resmi' (official history) dengan orientasi dan kepentingan nasional, untuk meningkatkan rasa kebangsaan dan cinta Tanah Air. Buku ini akan ditulis sebanyak 10 (sepuluh) jilid oleh sejarawan Indonesia sendiri secara kolektif." Silakan baca di tempo.co.

Tapi, Entahlah. 

Namun, pernyataan tersebut tetaplah kontradiksi. Ketika negara menjadi pengendali proyek sejarah besar-besaran, hasil akhirnya nyaris tak bisa dielakkan: ia akan menjelma sebagai official history, yang meskipun diklaim terbuka, justru menetapkan narasi dominan dan membungkam keragaman lokal yang menjadi denyut nadi sejarah nasional itu sendiri. 

Penulisan sejarah nasional Indonesia sejak awal mengandung ketegangan epistemologis antara pusat dan daerah. Sejarah nasional, terutama pasca-kemerdekaan, disusun dengan semangat integrasionisme dan modernisme. Dalam proyek-proyek awal penulisan sejarah nasional seperti yang diinisiasi Muhammad Yamin pada 1950-an, element lokalitas ditarik paksa ke dalam narasi besar kebangsaan. Yamin melihat sejarah sebagai alat untuk membangun kesadaran nasional dan merumuskan jati diri bangsa dalam bentuk yang terpusat. Baginya, sejarah adalah “pangkal tolak nasionalisme.” 

Baginya, seperti tertuang dalam pidatonya pada Kongres Bahasa Indonesia II (1954), sejarah adalah batu penjuru untuk membangun semangat bangsa. Pandangan tersebut mengandung daya inspiratif, tetapi juga menyimpan kecenderungan penyederhanaan realitas historis lokal.

Sementara itu, sejarawan seperti R. Moh. Ali dalam Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia (1957) lebih menekankan pentingnya metodologi dan objektivitas, namun tetap menempatkan sejarah nasional dalam bingkai narasi besar yang tersentralisasi. Tetapi ia mengingatkan agar penulisan sejarah nasional tidak terjebak pada glorifikasi, namun tetap berpijak pada metode ilmiah. Namun dalam praktiknya, sejarah tetap ditulis dari atas; dengan Jakarta sebagai pusat epistemik dan pusat politis! Sementara sejarah-sejarah lokal tetap berada dalam bayang-bayang.

Ketegangan ini kemudian dikritisi oleh para sejarawan generasi berikutnya. Sudjatmoko dan Taufik Abdullah menekankan bahwa sejarah Indonesia bukanlah satu garis lurus, melainkan kolase dari banyak dunia sosial yang tak selalu sinkron satu sama lain. Taufik Abdullah, dalam berbagai tulisan dan diskusi akademik, menunjukkan bagaimana sejarah lokal adalah dunia dengan nilai-nilai, pengetahuan, dan pengalaman historis yang otonom. Ia menyebut pentingnya menggali “sejarah sosial” yang hidup dalam komunitas, bukan sekadar menyusun sejarah kekuasaan negara. 

Secara tegas, Taufik Abdullah, dalam pengantar bukunya Sejarah dan Masyarakat (2004), menyampaikan pentingnya melihat sejarah sebagai proses sosial yang penuh konteks lokal. Ia menunjukkan bahwa “sejarah nasional tanpa fondasi sejarah lokal hanya akan menjadi narasi politik, bukan pengetahuan.”

Dengan semangat yang serupa, Ong Hok Ham (2002) menyoroti pentingnya narasi dari pinggiran yang selama ini dibungkam oleh sejarah resmi. Ia menulis bahwa sejarah Jawa yang dominan telah mengaburkan keberagaman pengalaman etnis dan wilayah lain di Nusantara. Dalam Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002), Ong menulis bahwa dominasi sejarah Jawa dan negara telah mengaburkan sejarah-sejarah daerah yang sarat kekayaan budaya dan konflik sosial.

Kuntowijoyo, melalui gagasan historiografi profetik, menegaskan perlunya pendekatan yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga membebaskan dan memberdayakan. Baginya, sejarah seharusnya tidak hanya menjelaskan masa lalu, tetapi juga menjadi sarana transformatif bagi masyarakat. Sejarah lokal dalam konteks ini bukan sekadar “cerita kecil” yang harus diintegrasikan ke dalam sejarah besar, tetapi justru fondasi tempat sejarah nasional bertumpu. Ketika sejarah nasional tidak berakar pada realitas dan memori lokal, maka yang terjadi adalah rekayasa naratif dari atas yang kehilangan resonansi di tingkat akar rumput. 

Alarm Epistemologis

Penulisan ulang sejarah nasional yang sungguh-sungguh menuntut dekonstruksi atas fondasi epistemik historiografi negara.  Bukan hanya menambahkan aktor baru ke dalam cerita lama, melainkan meninjau ulang pertanyaan dasar: siapa yang menulis sejarah, dengan logika pengetahuan siapa, dan untuk kepentingan siapa? 

Hal ini diingatkan oleh Boaventura de Sousa Santos, dalam karyanya epistemologies of the South (2014), bahwa pendekatan semacam ini merupakan bentuk 'epistemicide' pembunuhan atas pengetahuan-pengetahuan lokal yang tidak sesuai dengan standar epistemik pusat.  Sejarah lokal dalam hal ini bukan hanya korban, tetapi juga pelawan.  Ia menolak untuk dibakukan, dan justru tumbuh dalam bentuk sejarah lisan, arsip keluarga, tradisi komunitas, dan ingatan kolektif yang tak tercatat secara resmi. 

Tanpa pembaruan epistemologis, proyek semacam ini hanya akan memperpanjang usia historiografi hegemonik dengan wajah yang lebih inklusif secara kosmetik, tetapi tetap eksklusif secara pengetahuan. 

Jika sejarah nasional dibayangkan sebagai narasi kolektif bangsa, maka sejarah lokal adalah sel-sel hidup yang menyusun narasi tersebut. Menegasikan sejarah lokal dengan hanya menjadikannya “ilustrasi kultural” atau sekadar penyebutan fragmen etnis adalah bentuk reduksi historis yang membahayakan. Inilah yang dikhawatirkan oleh Paul Ricoeur (2004); bahwa setiap bentuk narrative identity yang memaksakan kesatuan akan mengorbankan pluralitas memori, dan pada akhirnya menciptakan kekerasan simbolik terhadap kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan narasi utama.

Dalam konteks epistemologis, proyek penulisan ulang sejarah nasional oleh negara seperti yang saat ini digagas tidak hanya miskin metodologi partisipatif, tetapi juga cenderung mengabaikan filsafat ilmu sejarah itu sendiri. Alih-alih menjadi arena dialog antar narasi, sejarah kembali diposisikan sebagai alat konsolidasi identitas nasional yang seragam. Padahal, seperti ditunjukkan oleh sejarawan-sejarawan terkemuka, penulisan sejarah seharusnya memberi tempat pada polifoni, bukan monofoni; pada keberagaman pengalaman historis, bukan penyatuan naratif yang menghapus keragaman. 

Patut juga dicerna peringatan dari Michel Foucault (1977), sejarah yang dibentuk oleh negara adalah bentuk dari power/knowledge di mana narasi masa lalu dikonstruksi bukan untuk mengungkap kebenaran, melainkan untuk mengatur dan mengendalikan. Dalam konteks Indonesia, historiografi yang diproduksi lembaga resmi cenderung bersifat teleologis, menempatkan sejarah sebagai garis lurus menuju proyek kebangsaan yang seragam. Pandangan semacam ini menihilkan keberadaan sejarah-sejarah alternatif yang hidup dan berkembang dalam ruang-ruang lokal.

Sejarah Indonesia tidak lahir dari satu pusat, melainkan dari ribuan simpul lokal yang berkelindan membentuk jaringan ingatan kolektif. Proyek sejarah nasional yang mengabaikan suara lokal bukan hanya cacat secara etis, tetapi juga lemah secara epistemologis. Ia membangun narasi dari atas, dengan asumsi bahwa pusat selalu tahu apa yang terbaik bagi pinggiran. Narasi semacam ini tidak hanya mengulangi logika kolonial yang sentralistik, tetapi juga berisiko mengaburkan konflik, negosiasi, dan resistensi yang menjadi bagian integral dari sejarah bangsa. 

Jika proyek penulisan ulang sejarah Indonesia ini tidak dilakukan dengan kepekaan epistemologis dan keberpihakan pada kompleksitas sejarah lokal, maka hasil akhirnya adalah sejarah resmi negara dalam baju baru. Hasilnya bukan pembaruan, melainkan pelanggengan dominasi naratif. 

Sejarah semacam ini justru mengkhianati semangat sejarah nasional yang lahir dari sejarah lokal. Di titik ini, perlu ditegaskan bahwa sejarah nasional yang sehat adalah sejarah yang bersedia digugat oleh lokalitasnya sendiri. Tapi, agaknya situasinya akan berbeda. Hegemoni kekuasaan yang lahir dari politik elektoral justru akan berpotensi menjadikan official history ini sebagai alat memukul narasi sejarah lokal.

Apalagi kecenderungan penguasa hari ini suka sekali menggunakan kaum pendengung bayaran untuk menipu orang-orang tidak melek sejarah memusuhi 'narasi lokal' yang berbeda dari sejarah resmi ala negara. 


24 May 2025

Intoleransi di Media Sosial

Muhammad Nasir

Sekretaris Rumah Moderasi Beragama UIN Imam Bonjol Padang


Maka, ketika publik digital kehilangan akal sehatnya, yang rusak bukan hanya narasi, tetapi kesadaran kolektif itu sendiri.


Fixed, no debat! Media sosial kini sudah menjadi arena utama pembentukan opini publik dan ekspresi politik-populer. Di balik kemudahan akses dan kecepatan berbagi informasi, ruang ini juga menyimpan bahaya laten berupa intoleransi digital. Salah satu contoh nyata terjadi ketika muncul berita perusakan makam Kristen di Bantul. Perusakan ini mengutip pemberitaan kompas.com., terungkap pada Minggu, 18 Mei 2025. Sebelum otoritas mengonfirmasi kebenaran dan motif pelaku, publik media sosial langsung membanjiri kolom komentar dengan tuduhan berdasarkan identitas agama yang diasumsikan. Narasi “uclim pasti pelakunya” dengan cepat menyingkirkan prinsip kehati-hatian.


Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari akumulasi struktur kognitif dan afektif masyarakat yang terbentuk melalui sejarah prasangka dan dikapitalisasi oleh algoritma digital. Jonathan Haidt (2012), dalam The Righteous Mind, menjelaskan bahwa manusia lebih sering membuat keputusan moral berdasarkan intuisi dan pembenaran emosional daripada melalui nalar yang rasional. Maka, media sosial bukan hanya memfasilitasi kebebasan berekspresi, tetapi juga memperbesar bias kognitif yang sudah mengendap dalam kesadaran kolektif.

17 May 2025

TIKUS KOTA

Cerpen Muhammad Nasir


"Selain dikenal sebagai aktivis, ia juga dikenal sebagai seorang rakus. Tapi, saya melihat aktivismenya itu karena kerakusan, seperti aktifnya hewan nocturnal di malam hari," ujarnya.

Kalimat itu diucapkan lelaki pemilik lapau kopi di pinggiran Banjir Kanal. Senja mulai turun dan aroma kopi hitamnya mengalahkan bau anyir sungai. Sore itu, seperti sore-sore lainnya di kota ini, terasa berat dan lengang. Udara terasa diam, seperti menyimpan perasaannya sendiri.

Aku datang ke tempat itu bukan karena ingin bertemu siapa pun. Justru sebaliknya, aku sedang ingin lari. Dari seseorang, dari kenyataan, dan dari diriku sendiri yang sedang limbung antara idealisme dan hidup yang tak kunjung menentu.

Gaji sebagai jurnalis media online lokal tidak cukup untuk membiayai rencana kuliah S2 yang sudah lama kupendam. Aku sudah mencoba mengatur, menabung, bahkan mencari-cari beasiswa yang tak kunjung berpihak. Di tengah kegundahan itu, aku teringat pada seseorang. Dulu, dia pernah berkata dengan nada nyinyir, tapi cukup untuk kutangkap maknanya:

 “Kalau kau jadi S2, temui aku.”

Itu kalimat yang belakangan terngiang di alam pikiranku. Bagiku, kalimat itu tak hanya berarti sebuah sapaan masa depan. Tapi juga janji diam-diam, semacam kode bahwa jika aku berhasil mencapai titik itu, maka ia akan ada di sana untuk menolong. Mungkin membantu biaya kuliah, mungkin mendampingi langkah.

15 May 2025

Overgeneralisasi dan Bahaya Narasi Tunggal

Sikap Kita Terhadap Peristiwa Pernyataan Tendensius WNI di Jerman

Oleh Muhammad Nasir

Sekretaris Rumah Moderasi Beragama UIN Imam Bonjol Padang


Apa yang tersisa dari sebuah bangsa jika warganya sendiri yang menggores luka pada wajah kerukunan yang dibangun dengan susah payah? Pernyataan seorang WNI diduga bernama Cristina Sembiring [?] yang menyebut “Muslim Indonesia suka membunuh” di hadapan publik di Jerman bukan hanya keliru, tapi juga menyakitkan. Ucapan itu menjelma menjadi bara yang menghanguskan ikhtiar toleransi dan membakar kepercayaan antariman, baik di tanah air maupun di tanah rantau.

Fenomena overgeneralisasi dalam konteks ini merupakan bentuk simplifikasi berbahaya yang menyamaratakan sebagian peristiwa negatif sebagai karakteristik seluruh kelompok. Dalam hal ini, sebuah pernyataan tunggal dipakai untuk menggambarkan jutaan umat Muslim Indonesia secara keseluruhan, tanpa memperhatikan keragaman dan konteks sosial-budaya yang jauh lebih kompleks.

13 May 2025

The End of the Long Weekend

By:Tankari

 Sisa liburan tinggal sehari. Besok Epicurus harus bembali bekerja. Empat hari libur panjang ia lewatkan tanpa kenangan berharga. Buka WA, TikTok, sesekali nonton highlight liga 1 yang makin ke ujung makin penuh drama. “Uff…Yuran Fernades dihukum. Setahun gak boleh main bola di Indonesia!” Epicurus meletakkan handphonenya di sandaran kursi. Ia memaki Komdis dalam hati.  

 “Eh, teman-temanku pada kemana ya?” Tiba tiba ia ingat kawan-kawan filosof absurdnya. Ia Kembali memngut HPnya. Buka WA. Geser satu persatu status temannya. Nihil. Tak ada status apa-apa. Kecuali satu. Tuen Janaka Aji Mantrolot. Mantrolot menulis status “Ijazah bukan akte kelahiran, Gesssz!”

“Nah, ini dia!” Epicurus dapat ide. Ia buka WAG Filosof Gabut. Teman-temannya pasti ada di sana. Ia mulai memposting satu kalimat.

 

[08:37] Epicurus:

“Kebenaran bukan soal bukti, tapi siapa yang lebih rajin ngetik.” Jumlah anggota Group: 17, tapi yang aktif hanya 5 (sisanya pada kemana?)

Ting!….ada notif

[08:37] Tuen Janaka Aji Mantrolot:

Kasihan saudaraku Kalagemet. Ijazahmu dipertanyakan. Kamu nyantrik di mana sih? Apa perlu gue tanya Kanjeng Rektor Nyi Rongkot, COD., LoL?

 Ha, mantrolot langsung ngetik komentar plus lampiran satu stiker. Gambar Socrates ngopi sambil bilang Bukti dulu, baru bacot!

[08:37] Epicurus:

“Wooiiii….!” Cc @ Kalagemet

 Diam….eh….ada tulisan. Kalagemet sedang mengetik..

[08:39] Kalagemet:

Jangan asal nuduh, Bang Tuen. Saya kuliah beneran. Semester 3 sampai7 aja saya bahasa enggres aja tiga kali. Kalau mau liat transkrip, tunggu, saya cari dulu password KRS online saya.

Kalagemet membalas sambil ngirim sticker orang pakai toga, tapi wajahnya blur.

 “Wah, ini pasti panas. Tahta Masapahit lagi terguncang. Dua saudara sudah saling serang!” Pikir Epicurus. Ia pindah duduk ke atas lantai. Lama menunggu, muncullah Mak Weber.

 [08:42] Max Weber:

Halo, Mantrolooooot! Apo kaba ha?

 [08:42] Tuen Janaka Aji Mantrolot:

Siap Baaang…! Komen dong bang Max!

 [08:42] Max Weber:

Dalam sistem dunia modern, legalitas itu rasional-birokratis. Jika tak terdaftar di sistem, maka tak terakui secara sah. Ijazah tanpa rekam administratif hanyalah mitos

 

Di layar atas terbaca: Arsitoteles sedang mengetik….

 [08:43]Aristoteles:

Tolong Max, kita mulai dari substansi. Pernah kuliah belum tentu pernah berpikir. “Menjadi” tidak sama dengan “terdaftar.”

 [08:44] Max Weber:

Halah….Gerungisme…

Max ngirim stiker Rocky Gerung lagi ngakak…

 [08:47] Karl Popper:

Wait..wait..! Pertanyaannya falsifiable nggak? Kalau kita gak bisa buktikan apakah Kalagemet pernah kuliah, ya narasinya metafisik. Ayo dong, beri data yang bisa diuji.

Bang Popper melampirkan stcker text BPS huruf kapital

 [08:50] Habermas:

Saya keberatan metode debat grup ini cacat deliberatif. Siapa memberi Kalagemet ruang bicara yang adil? Bukankah ia hanya terseret narasi yang dominan?

 [08:51] Karl Popper:

Tanya @Kalagemet bang….

 [08:53] Berger-Is-Real:

Ingat, realitas sosial dikonstruksi. Jika mayoritas di grup percaya Kalagemet kuliah, maka ia lulusan. Meskipun tak ada bukti tertulis, kepercayaan kolektif bisa membangun objektivitas semu. Bang Berger kirim sticker: Buku "The Social Construction of Reality" dilempar ke wajah stiker Karl Popper.

[08:53] Karl Popper:

Niat banget bikin stickernya bang.@ Berger-Is-Real…hahah…

 

[08:54] Berger-Is-Real:

Ya dong, everything perlu dikonstruksi. Ini artefak pengetahuan bro….hahaha…

[08:57] Halbwachs:

Ada yang ingat tempat nongkrong Dek Memet di kampus? Bahkan memori kolektif grup ini tak satu storage. Ada yang ingat Kalagemet kuliah, ada yang ingat dia cuma jaga koperasi mahasiswa

[08:58] Tuen Janaka Aji Mantrolot:

Tapi gue gak percaya memori kolektif. Kalau semua sepakat dia jenius, tapi kenyataannya dia nanya rumus “wiwok detok detok” ke tukang cilok, itu gimana? 

Mantrolot ngirim sticker Nietzsche  sedang tertawa sambil jungkir balik.

[08:58] Nietzsche

Woi, ini poto gue…lu apain, Lot…? Gimana cara bikinnya?

[08:58] Mantrolot:

Wkwkwkwk…CC Nyai COD Lol..

[08:59] Nietzsche:

Kebenaran hanyalah ilusi yang sudah kita lupakan bahwa itu ilusi. Mungkin ijazah itu hanya alat kaum lemah untuk merasa bermakna.

 [09:00] Rocky Gerung:

Kalagemet itu mungkin belum lulus, Om. Tapi bisa jadi dia “telah melampaui universitas” itu sendiri. Kalau dia bodoh, kenapa kalian semua ribut tentang dia?

Rocky ngirim sticker gambar dirinya sedang jongkok dengan tulisan“Logika kamu lemah.”

 

[09:01] Rocky Gerung:

Eek jongkok lebih mulia dari IQ jongkok. Ikhhh…

 ---------------------------------

Nyi Rongkot sedang mengetik…

Hilang lagi….

Nyi Rongkot sedang mengetik…

Hilang lagi…

----------------------------------

[09:02] Rocky Gerung:

Lama amat si Nyai ngetiknya…

[09:04] Nyi Rongkot, COD., LoL (Rektor Mpu Hanggareksa):

Saya tidak bisa membocorkan data alumni. Tapi saya bisa bilang satu hal: ada satu Kalagemet yang pernah nginap di kampus karena ketinggalan bis.

Nyi Rongkot ngirim sticker: CCTV kampus blur dengan caption: “Ini Kalagemet atau bukan?”

[09:05] Tuen Janaka Aji Mantrolot:

Kalau cuma pernah nginap, semua juga bisa ngaku alumni! Cecep juga alumni dong!

[09:05] Kalagemet:

Bang, jangan begitu. Saya bahkan pernah demo soal transparansi SPP. Saya sempat di-BAP gara-gara orasi di bawah toilet rektorat.

[09:05] Tuen Janaka Aji Mantrolot:

Ngapain? Ngintip septictank?

[09:07] Habermas:

Nah, ini penting. Partisipasi dalam ruang publik akademik bisa juga bentuk “keberadaan” akademik.

[09:09] Popper:

Tapi apakah itu bisa diuji? Kalau semua hanya berdasarkan narasi pribadi, kita masuk wilayah dogma.

 [09:10] Berger-Is-Real:

Dogma itu juga konstruksi sosial, Bro…!

Berger ngirim stiker Foucault berdiri di ruang arsip dengan caption “Semua itu relasi kuasa.”

[09:11] Tuen Janaka Aji Mantrolot:

Hobi banget ngirim stiker bang @ Berger-Is-Real. Wkwkwk…

[09:12] Berger-Is-Real:

Iya nih. Barusan diajarin cucu. Xixixix…

 

------------------------------------------------------

Suasana hening. Spertinya tak ada percakapan lagi. Epicurus bingung. Ini sudah hamper 15 menit. Tak ada lagi percakapan. Sepi lagi…

------------------------------------------------------

[09:21] Epicurus CX (Admin):

Oke, semua udah baca kan?
Tapi pada diem setelah Nietzsche nyundul logika. O ya, closing statement plus kesimpulan epistemik saya tunggu sampai jam 18.00 WIB ya?Happy Long Weekend, Geesssszzzz...!!!
🎉

Sticker dikirim: Plato dan Aristoteles naik motor Vespa ke arah sunset.

 [09:29] Tuen Janaka Aji Mantrolot:

Cerita ini tak berujung, karena kebenaran dalam dunia absurd bukan untuk ditemukan, tapi untuk terus dipertanyakan. Kalagemet mungkin punya ijazah. Mungkin tidak.

[09:33] Kalagemet:

=#2%#F*cK+*&^=

Kurooook….!!!

 

 13 Mei 2025