09 May 2019

Pengantar Tasawuf (1)


Oleh Muhammad Nasir


                                                                                                Para Sufi Awal
Sumber Foto: Duta Islam
Tasawuf atau Sufistik adalah tema baru dalam peradaban Islam, terutama terkait posisinya dalam gerakan keagamaan Islam. Gerakan ini muncul pada abad ke-2 hijriah dan masa ini adalah periode awal Daulah Abbasiyah. Muhammad Abd Mun’im Khafaji menulis bahwa orang yang pertama kali digelari sufi adala Abu Hasyim al Shufi[1] (wafat tahun 150H/761M) adapun generasi awal yang membicarakan tentang sufi adalah Abu Hamzah al Shufi. Petunjuk tentang ini dapat disimak dari kalimat sapaan Imam Ahmad bin Hanbal kepada Abu Hamzah tatkala ia menanyakan tentang suatu hal, “Apa pendapatmu tentang masalah itu hai “Sufi?” Menurut Reynold Allen Nicholson, orang yang pertama digelari “sufi” adalalah Jabir bin Hayyan. Jabir dikenal juga dengan nama Jabir al Shufi[2].

06 May 2019

Wilayah Alam Minangkabau


Luhak dan Rantau
Muhammad Nasir

Alam Minangkabau dipahami dengan dua perspektif. Perspektif pertama dalam pengertian filofofis. Alam dalam pengertian ini berarti ide, gagasan, ajaran, norma. Alam dalam makna filosofis ini pada kahirnya menjadi dasar pengetahuan penyusunan adat Minangkabau.

Sumber Foto: kaskus.com
Perspektif kedua, alam Minangkabau mengandung makna wilayah geografis. Menurut tambo, wilayah Minangkabau disebutkan saedaran gunuang Marapi, salareh batang Bangkaweh, sajak Sikilang Aie Bangih, lalu ka gunuang Mahalintang, sampai ka Rokan Pandalian, sajak di Pintu Rayo Hilie, sampai Si Alang Balantak Basi, sajak Durian Ditakuak Rajo, lalu ka Taratak Aie Hitam, sampai ka Ombak Nan Badabua.

Mengenai batas-batas yang disebutkan di atas, berbagai penafsiran terjadi. Ada yang mengatakan bahwa batas-batas itu adalah simbol-simbol saja tetapi wilayah itu tidak ada yang jelas dan tepat, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa batas-batas itu adalah benar dan nagari-nagari yang disebutkan itu ada sampai sekarang. Dalam hal ini tentu kita tidak perlu melihat perbedaan-perbedaan pendapat tersebut, karena kedua-dua pendapat itu ada benarnya.

Konsepsi Alam Minangkabau

Oleh Muhammad Nasir
Pengajar Kebudayaan Minangkabau
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Ada beberapa istilah yang tersedia dalam sejarah peradaban manusia untuk
menyebut bumi tempat bermukimnya atau wilayah geografisnya. Ada yang
menggunakan istilah tanah (land). Dengan istilah ini terciptalah frasa Tanah Jawa,
Tanah atau Tano Batak. Tanah Gayo-Alas (Dataran Tinggi Gayo, Aceh), Tanah
Jawa, Tanah Pasundan, Tanah Rencong (Pesisir Barat Aceh). Tanah Rencong
dalam pemahaman sementara penulis adalah julukan yang berangkat dari kekhasan
yang iconic,yaitu Rencong sebagai senjata tradisional Aceh.

Ada juga yang menggunakan istilah bumi. Misalnya Bumi Sriwijaya dan Bumi Sikerei
(Mentawai). Bumi Sikerei sebagaimana penyebutan Tanah Rencong di Aceh
bukanlah mengandung makna tanah secara langsung, namun sebuah julukan yang
diberikan berdasarkan kekhasan yang iconic, yaitu Sikerei, dukun, penguasa magi
dan tokoh spiritual masyarakat Suku Mentawai.

Akulturasi Islam di Indonesia


Muhammad Nasir
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang



Kata Sidi Gazalba (1968), sejarah Indonesia sejak duapuluh abad terakhir adalah sejarah akulturasi. Perubahan kebudayaan berlangsung lama dari kebudayaan bersahaja menjadi kebudayaan bercorak baru yang lebih rumit. 
Dari abad pertama masehi hingga abad ke dua belas, kebudayaan Hindu datang dan terjadilah proses penyesuaian (adaptasi). Lambat laun terbentuklah corak kebudayaan Nusantara-Hindu. Sestelahnya, pada abad ke-12 datanglah agama Islam ke nusantara. Terjadi pula akulturasi yang melahirkan kebudayaan Nusantara Islam. Saat akulturasi kebudayaan nusantara dengan Islam berjalan, datang lagi kebudayaan barat ke nusantara pada abad ke-16. Kontestasi kebudayaan Nusantara-Islam dan Nusantara-Barat terus berlanjut sampai sekarang. Berkejar-kejaran dan saling berebut pengaruh.

15 November 2018

Syair Hujan



Syair Hujan
muhammad nasir

bibit yang sakit di tanah busuk, 
lumbung hilang kapuk 
rumah gadang tertangkap lapuk,
silam menjelang kelam

pernah 'kan kuimpikan
ia tumbuh di atap ijuk bak embun-embun sejuk
hijau di atas bukit , tundukkan mata muda pencari sejuk

itulah biji yang jatuh ke tanah tak berinduk
dulu! Sebab dialah yang hilir saat sungai mengayun-ayun sendu.
bibitpun enggan menjadi bangkai, meski luluh di rindu  pantai

pernah juga hujan rusak di tanah retak, air tak lagi hilir ke tubuh kita. kampung luluh lantak, apa daya tuhan berkehendak

pernah! dan ku kenang di sini dan nun di sana
mungkin juga di mana-mana
ia tumbuh selepas tanya ; tanya di lubang jejak!

mata muda ini mendadak sebak ;
panas terik tikam tengkorak tembus hingga ke otak
yang pasti hujan yang turun tak bersajak
sebab antah, waktu telah  menolak
bingkai tumbuh memenjara kehendak

sayang, ia tak bergerak hidup tak enak, mati tak hendak.  kenapa sayang?

(7/3/06)




Dinamika Islam di Filipina


Sejarah Islam Kawasan Asia Tenggara
Dinamika Islam di Filipina
 Oleh: Muhammad Nasir

Pendahuluan

Asia Tenggara merupakan kawasan terpenting dalam perkembangan Islam sejak abad ke-15 hingga ke-17. Sejak saat itu, paling tidak Islam diterima oleh beberapa negara besar dan umat Islamnya paling sering menjadi perbincangan dunia, yaitu, Indonesia dengan penduduk muslim terbesar, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Thailand dengan Muslim Pattani-nya hingga Filipina dengan Moro dan Abu Sayyaf-nya. Beberapa negara lainnya seperti Birma, Laos dan Kamboja meski ditemui penganut Islam, tetapi tidak terlalu signifikan aksi dan gerakan keislamannya. Negara-negara yang terakhir disebut pada umumnya berkembang dengan semangat Budha atau Hindu. Sementara Akbar S. Ahmed menganggap bahwa ”bahasa, agama dan budaya merupakan tanda-tanda penting untuk identitas kita”[i].

Asia Tenggara juga merupakan problem tersendiri bagi perkembangan Islam. Identitasnya sebagai kawasan sempat diragukan oleh berbagai kalangan. Anthony Reid misalnya bertanya, ”tetapi apakah ini (Asia Tenggara-pen) memang sebuah kawasan?...Asia Tenggara tidak mempunyai persamaan agama dan kebudayaan klasik yang besar  dan tidak pernah menjadi bagian dari sebuah negara (polity) tunggal. Menurut Reid, kawasan ini diberi nama untuk mempermudah penyebutan secara georafis yaitu dengan nama India Jauh (Further India) atau Indo-Cina.[ii]

Pendapat lainnya menyatakan secara historis kawasan ini telah menjadikan Islam sebagai dasar hubungan antar negara mereka. Hal ini bisa dilihat dari proses islamisasi yang bergerak dari titik Patani, Bugis-Makasar, Sulu-Manguindanao. Bukti lainnya sekitar abad ke-18 suasana ini telah dimanfaatkan untuk mengumandangkan perang sabil dengan landasan jihad melawan kafir dengan Selat Malaka sebagai porosnya.[iii]