15 February 2018

Asal usul Kata Minangkabau

Asal usul Kata Minangkabau

Legenda Populer:

sumber foto : pixabay
“konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (banyak ahli menyebutnya Majapahit) datang untuk melakukan penaklukan. Agar tidak terjadi pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau”
                    Edwar Djamaris (1991). Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka. hlmn. 220–221

Variasi Penggunaan Kata Minangkabau dalam Literatur
1. Minangkabau : dapat dilihat dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan adu kerbau menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Pariangan menggunakan nama Minangkabau.
                 AH. Hill (1960) Hikayat Raja-raja Pasai. London: Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. 

2. Minangkabwa : Dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit, Nagarakretagama bertanggal 1365, juga telah menyebutkan nama Minangkabwa sebagai salah satu dari negeri Melayu yang ditaklukannya.
                Brandes, J.L.A. (1902). Nāgarakrětāgama; Lofdicht van Prapanjtja op Koning Radjasanagara, Hajam Wuruk, van Madjapahit, Naar Het Eenige Daarvan Bekende Handschrift, Aangetroffen in de Puri te Tjakranagara op Lombok

3. Minanggebu : dalam Tawarikh Ming tahun 1405, terdapat nama kerajaan Mi-nang-ge-bu dari enam kerajaan yang mengirimkan utusan menghadap kepada Kaisar Yongle di Nanjing
                Geoff Wade, translator, Southeast Asia in the Ming Shi-lu: an open access resource, Singapore: Asia Research Institute and the Singapore E-Press, National University of Singapore.

4. Minang (Kerajaan Minanga): disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 dan berbahasa Sanskerta. Dalam prasasti itu dinyatakan bahwa pendiri kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang bertolak dari "Minānga”
               George Cœdès, (1930). Les Inscriptions Malaises de Çrivijaya. BEFEO.

Berdasarkan uraian di atas, asal-usul nama Minangkabau hanya dapat dilacak melalui catatan literature dan prasasti bersejarah yang memuat variasi penamaan/penyebutan Minangkabau. Oleh sebab itu pendekatan derivasi kata belum dapat memberi petunjuk yang jelas tentang asal usul kata Minangkabau.

sumber foto

Konsep Alam Minangkabau

Konsep Alam Minangkabau

Pokok Bahasan

  • Konsep Alam 
  • Konsep Luhak
  • Konsep Rantau
  • Makna Alam Takambang Jadi Guru

1. Konsep Alam

Pengertian “alam” dalam kamus umum bahasa Indonesia (W.J.S. Poerwadarminta), mengemukakan alam: 1. Dunia, misalnya: alam semesta, syah alam. 2. Geografis : daerah, nagari, misalnya : Alam Minangkabau

Sumber Foto kababanda sapuluah
Minangkabau dalam pengertian sosial budaya merupakan suatu daerah kelompok etnis yang mendiami daerah Sumatera Barat sekarang, ditambah dengan daerah kawasan pengaruh kebudayaan Minangkabau seperti: daerah utara dan timur Sumatera Barat, yaitu Riau daratan, Negeri Sembilan Malaysia; daerah selatan dan timur yaitu; daerah pedalaman Jambi, daerahpesisir pantai sampai ke Bengkulu, dan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia

Dalam pemahaman umum sekarang ini (terutama orang luar Minangkabau), kata Minangkabau sering diidentikkan dengan kata Sumatera Barat. Padahal secara subtantif keduanya mempunyai makna yang berbeda. Daerah geografis Minangkabau tidak sepenuhnya merupakan bagian daerah propinsi Sumatera Barat (Mansoer, 1970:1).

Sumatera Barat adalah salah satu propinsi menurut administratif pemerintahan RI, sedangkan Minangkabau adalah teritorial menurut kultur Minangkabau yang daerahnya jauh lebih luas dari Sumatra Barat sebagai salah satu propinsi (Hakimy, 1994:18).

02 February 2018

Inyiak Canduang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.

Syekh Sulaiman Ar-Rasuly (Inyiak Canduang) diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Syekh Sulaiman Arrasuli merupakan ulama Minangkabau yang lahir di Canduang Kabupaten Agam pada 10 Desember 1871 lalu. Dia wafat pada 1 Agustus Tahun 1970 dalam usia 99 tahun.
Syekh Sulaiman Ar Rasuly
(1871-1970)
Inyiak Canduang adalah pendiri Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang. Ia bersama ulama Minangkabau lainnya membidani lahirnya organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Sumatera Barat. Selain ahli dalam bidang agama dan pendidikan agama, Inyiak Canduang juga terlibat banyak dalam dinamika adat Minangkabau. dalam masa pergerakan kemerdekaan, ia juga terlibat banyak dalam usaha-usaha memperjuangkan kemeredekaan Indonesia. Dalam politik, Inyiak Canduang punya pengaruh besar dalam aktivitas Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PI-PERTI). Ia juga sempat mewakili PERTI di Konstituante. Ia ditujuk sebagai presidium Sidang Konstituante. Karena aktivitas perjuangannya itu, ia dianugerahi gelar Tokoh Perintis Kemerdekaan RI pada tahun 1969. Dalam hal pengusulan ini, Bupati Agam sudah menerbitkan Surat Keputusan (SK) pengusulan Inyiak Canduang menjadi Pahlawan Nasional. Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno juga mendukung penuh rencana pengusulan Inyiak Canduang sebagai Pahlawan Nasional.
Berikut link berita yang mengangkat pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional

Sementara, bagi anda yang ingin tahu profil ringkas Inyiak Canduang, coba dulu baca di link ini. Silakan klik : Profil Inyiak Canduang di wikipedia berbahasa Indonesia.

15 December 2017

Info Asesmen Surveilen Akreditasi UIN Imam Bonjol Padang



BAN PT Lakukan Asesmen Surveilen Akreditasi UIN Imam Bonjol Padang

Badan Akreditasi  Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), sudah selesai melakukan asesmen surveilen untuk akreditasi institusi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Berita acara asesmen juga sudah diserahkan kepada rejtor Kamis (14/12/2017) di Aula Rektorat Lantai 2 UIN Imam Bonjol Padang.

Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Eka Putra Wirman berharap UIN Imam Bonjol Padang mendapatkan hasil yang memuaskan. Selain itu ia bertekad pada tahun 2019 UIN Imam Bonjol Padang harus terakreditasi A. Demikian ia katakan saat membuka rangkaian proses Asesmen Surveilen Akreditasi intitusi bagi perguruan tinggi Islam yang dipimpinnya.

"Kita optimis. Sejatinya kita sudah bekerja dengan cepat -full speed- sejak dua tahun terakhir" katanya. Ia menjelaskan, sebelumnya akreditasi institusi perguruan tinggi islam tertua di Sumatera ini saat masih berstatus IAIN sudah baik, peringkat B.

24 November 2017

Sejarah Mentalitas (l’histoire mentalite)



Muhammad Nasir



Pengertian
Menurut Michele Vovelle adalah sejarah ketaksadaran kolektif, sejarah tentang mentalitas yang pra-verbal dan pra-refleksif. Secara umum sejarah mentalitas dapat diartikan sebagai sejarah yang mengkaji aspek kepercayaan dan sikap-sikap manusia pada masa lalu. Sejarah mentalitas adalah disiplin sejarah yang mengkaji kepribadian kelompok.
 
Asal Usul
Sejarah mentalitas (l’histoire mentalite) berasal dari teori Durkheim mengenai menenai fakta sosial itu. Sejarah mentalitas dikembangkaan oleh kelompok annales di Perancis. (Annales d’histoire economique et sociale majalah yang didirikan Lucien Febvre dan Marc Bloch pada 1929).

Dalam sosiologi Durkheim, mentalitas kolektif bukanlah persoalan psikologi yang membicarakan fakta individual tetapi persoalan sosiologis. Fakta sosial ialah gejala yang dimiliki secara umum oleh anggota-anggota kelompoknya. Durkheim mengatakan bahwa “fakta sosial adalah semua cara  bertindak  suatu masyaraka, setuju atau tidak individunya.”

Sejarah mentalitas munculpada 1960-an dan 1970-an sebagai reaksi terhadap determinisme. Sejarah mentalitas melihat mentalitas sebagai fakta sosial, merdeka dari determinisme apa pun. Oleh karenanya, dikatakan bahwa sejarah mentalitas telah mengangkat mentalitas dari ruang bawah tanah ke ruang bawah atap (form cellar to attic).

Rintisan Sejarah Mentalitas.
Lucien Febvre (1878-1956), memulai pemikirannya dengan konsep mengenai sensibilite dalam sejarah. Sensibilitas (sensibilite, sensibility, sensitivity) adalah emosional manusia. Febvre mengharapkan adanya jenis sejarah yang baru tentang cinta, kesedihan, ampunan, berkah, kematian, belas kasihan, kekejaman, ketakutan, kebencian, dan sebagainya. Philippe Aries (pada 1960) menerbitkan buku Centuries Of Childhood: A Social History of Family Life. Buku ini dinilai sebagai karya pertama tentang sejarah mentalitas.

Selanjutnya tema-tema sejarah mentalitas berkembang, berubah, dan diperluas. Tema baru yang muncul: mentalitas revolusioner, kontra revolusioner, orang-orang militan, kaum anarkis, perbanditan, pelacuran, petualangan, pembunuhan, kriminalitas, budaya populer, penindasan, kekerasan, dan  kematian (sikap, ”seni”, upacara).

14 November 2017

Muslim in America

Mahmoud Abdul-Rauf, NBA player.
In Muslim America: A Presence and a Challenge
[The Anti-Americanism of U.S. Converts to Islam]


by Daniel Pipes
National Review
February 21, 2000

An odd controversy briefly dominated the sports pages in March 1996. A player in the National Basketball Association, Mahmoud Abdul-Rauf, refused to follow the league's rule requiring that players stand in a "dignified posture" during the national anthem. Instead, since the beginning of the 1995-96 season, Abdul-Rauf had remained seated during the playing of the Star Spangled Banner.

A black, 27-year-old former Baptist from Mississippi who had converted to Islam in 1991, he declared that as a Muslim, he could not pay homage to the American flag - which he called a "symbol of oppression, of tyranny." He argued further that the flag directly contradicted his Islamic faith: "This country has a long history of [oppression]. I don't think you can argue the facts. You can't be for God and for oppression. It's clear in the Koran. Islam is the only way."

The NBA responded firmly, suspending Abdul-Rauf until he agreed to obey league rules. He missed one game, then capitulated. Two factors probably weighed most heavily on him: losing a cool $31,707 for each game missed, and facing wide opposition to his decision from other Muslims.