19 March 2018

Tando dan Simbol dalam Kebudayaan Minangkabau

Apa arti "tando" bagi masyarakat Minangkabau?
Tando merupakan landasan pemahaman bagi masyarakat Minangkabau. Kearifan dan keahlian membaca tanda menjadi penentu kecerdasan komunikasi masyarakat yang hidup dalam kebudayaan ini. hal ini dapat ditemukan dalam berbagai ungkapan dan penjelasan berbagai bendak/ artefak kebudayaan Minagkabau

Kemungkinan arti "Tando"
Tando atau tanda adalah terjemahan populer untuk kata ayat (آيَات) 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran: 190)

Dalam disiplin ilmu semiotik (ilmu tentang tanda), hal-hal tersebut dijadikan ‘kacamata’ untuk menilik berbagai fenomena budaya di sekitar manusia. Tanda muncul untuk menyatakan berbagai "kesepakatan" atau "penerimaan" atau "penolakan" terhadap sesuatu yang ada dalam masyarakat. Misalnya untuk mengenali identitas tiga luhak (luhak  nan tigo) masyarakat Minangkabau menggunakan warna hitam, kuning, merah. Untuk membedakan marawa luhak, susunan warna marawa luhak akan dikenali dari warna sebelah kanan luar (M Sayuti Dt. Rajo Panghulu, Harian Haluan)

15 March 2018

Saatnya Muslim Bicara!

Saatnya Muslim Bicara!

Data Buku:
Judul  Saatnya Muslim Bicara! Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya.

Penulis            : John L. Esposito dan Dalia Mogahed
Penerbit           : Mizan Bandung
Cetakan           : Cet. Kedua 2008 
Tebal               : 254 halaman
Resensiator      : Muhammad Nasir

Apakah anda -sebagai seorang muslim yang dianggap bukan siapa-siapa- pernah dimintai pendapat mengenai isu-isu terhangat tentang Islam? Lalu, apakah pendapat anda itu menjadi penting?

Gallup Global Institut sudah melakukannya, menggagas jajak pendapat tingkat dunia (World Poll). Hasilnya dituangkan dalam buku “Saatnya Muslim Bicara! Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya.” Memang bukan buku baru, tetapi isinya masih relevan dan jarang dikutip oleh juru bicara kita di televisi-televisi swasta.

Menurut Gallup, jajak pendapat itu didasarkan pada enam tahun riset dan lebih dari 50.000 wawancara terhadap responden yang mewakili 1.3 milyar Muslim di lebih dari 35 negara yang sebagian besar penduduknya Muslim atau memiliki penduduk Muslim yang signifikan. Jajak pendapat ini menjadi yang terbesar dan yang paling komprehensif di antara studi sejenis. Dalam pendahuluan buku ini disebutkan bahwa responden jajak pendapat itu adalah mayoritas yang dibungkam atau mungkin terbungkam (hal.13). Karena dalam jajak pendapat itu disertakan muslim Indonesia, barangkali saja andalah salah satu respondennya.

Ada banyak isu yang terapung-apung, tak jelas duduk perkaranya setelah peristiwa serangan 9/11 2001, di antaranya terorisme, radikalisme dan fundamentalisme yang dikaitkan dengan Islam, tatanan dunia baru dan sebagainya. Namun yang paling sering diungkap tentu saja yang terkait dengan Islam, baik tokoh Islam, orang Islam dan tema-tema Islam lainnya.

Hanya saja di tengah gelombang isu tersebut, siapakah sebenarnya yang mesti bicara atas nama Islam? Di kulit belakang buku ini tertulis pertanyaan yang provokatif, “Suara siapakah yang mewakili opini umat Muslim yang sesungguhnya? Kelompok Fundamentalis yang mengorbarkan permusuhan terhadap Dunia Barat? atau Kelompok liberal yang menyerukan "kebebasan berpikir" dengan kiblat Barat?

Terlepas dari kemestian di atas, buku ini sudah menyajikan fakta yang berharga bagi kita, bahwa dunia Islam terasa lebih lapang karena adanya pendapat alternatif.


Kita dan Dunia Polling

Polling atau jajak pendapat akhir-akhir ini menjadi popular di Indonesia, terutama terkait dengan isu-isu politik elektoral seperti pemilihan presiden, gubernur, bupati, walikota bahkan artis paling popular. Namun, belakangan, jajak pendapat justru menjadi hal yang memuakkan karena penyimpangan tujuan jajak pendapat itu sendiri. Misalnya untuk pencitraan seseorang atau untuk menipu publik dengan fakta-fakta palsu.

Indonesia sejak dihantam bola panas terorisme terasa agak terbakar dengan tuduhan yang tidak menyenangkan seperti sarang teroris, pabrik Islam radikal dan sebagainya. Media massa seperti sedang melakukan pembingkaian (framing) terkait dengan keberadaan sekelompok kecil ormas Islam radikal. Islam radikal-pun sering disebut dalam satu tarikan nafas dengan teroris. Itu disebabkan juru bicara Islam dalam kasus terorisme di Indonesia biasanya tokoh Islam yang dicurigai beraliran keras, tokoh Islam moderat yang anti dengan radikalisme, kepolisian dan teroris itu sendiri. Seolah-olah itulah suara Islam Indonesia sesungguhnya.

Mestinya polling perlu juga dijalankan untuk melihat masalah yang sering diributkan akhir-akhir ini seperti kasus Ahmadiyah dan sebagainya. Tujuannya agar suara dominan umat Islam terhadap suatu persoalan menjadi jelas. Tidak dibajak-bajak lagi atas nama “Umat Islam Indonesia”. Tetapi, umat Islam yang mana?


Kembali ke Buku ini

Buku ini enak dibaca. Hasil jajak pendapat itun ditulis oleh John L. Esposito, Pakar Dunia Islam yang otoritatif  bersama analis senior Gallup Dalia Mogahed. Buku ini dibagi kepada lima bagian yang nampaknya menjadi fokus perhatian jajak pendapat, yaitu pendapat umum yang menjelaskan Siapakah Kaum Muslim (bagian 1), pilihan jalur politik Islam, demokrasi atau teokrasi (bagian 2), Apa yang membuat seseorang menjadi Radikal (bagian 3), isu feminisme dalam “Apa yang diinginkan Kaum Perempuan (bagian 4) dan terakhir soal tata pergaulan global, “bertikai atau berdampingan? (bagian 5) 

Selain itu, pesan buku ini sangat mudah ditemukan. Berbagai fakta ditebar di hampir setiap halaman. Karen Armstrong, penulis Sejarah Tuhan memberi endorsement buku ini dengan sebuah rekomendasi "Bacaan wajib untuk para pembuat kebijakan, jurnalis, reporter, guru,mahasiswa, dan cendekiawan."

Akhirnya saya menurut saja dengan endorsement Karen Armstrong, tidak ada salahnya dibaca sebagai opini alternatif yang jarang-jarang bersua dan dikerjakan orang.

*Muhammad Nasir, Pembaca buku dan peminat sejarah.
  Aktif di Magistra Indonesia, Padang


tulisan lama

13 March 2018

Kutipan Buku Anthony Reid Tentang Minangkabau

Pedagang Minangkabau 
sebagai perintis internasionalisme modern Asia Tenggara

"Para Pedagang asal kanton, Fujian, Yunan, Hadramaut, Pantai Koromandel, Patani atau Minangkabau serta para ilmuwan pengelana dalam tradisi Muslim Buddha, Konfusius atau Kristen menjalankan fungsi di Asia Tenggara sebagai makelar barang dan gagasan yang memungkinkan setiap orang terjalin satu sama lain"

ANTHONI REID, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara,  Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004, h.54
______________

Hak Otonomi untuk pedagang Minangkabau 
di Makassar Abad 16-17

"Kelompok pedagang melayu yang diberi hak-hak istimewa perdagangan dan otonomi secara kolektif di Makassar oada pertengahan abad ke-16 dilaporkan berasal dari Johor, Patani,  Pahang, Minangkabau dan Campa (Sejarah Goa, 26-28, Reid 1993a:126-128)

ANTHONI REID, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara,  Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004, h.66

_______________

Masyarakat Batak dan Minangkabau
tak memiliki Negara

Masyarakat Minangkabau diikat jaringan kompleks kekerabatan dan hubungan pribadi.

ANTHONI REID, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara,  Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004, h.69

_______________

Daerah Otonomi Minangkabau

Setelah kejatuhan Malaka (1511), para pejabat Europa kecewa karena tidak dapat membuat  perjanjian dengan penguasa yang mengikat masyarakat Minangkabau, tak ada raja tunggal.

"...ada daerah otonom yang bisa mengikat diri sendiri seperti nagari di Minangkabau dan huta di Batak yang juga terlibat dalam hubungan timbal balik sangat canggih dalam bidang perniagaan, peperangan dan kebudayaan. Pada saat yang sama mereka mengakui Raja Pagaruyung yang statusnya tak dapat diganggu gugat. Raja tidak memiliki sumber daya ekonomi atau pranata untuk mempengaruhi prilaku orang yang dikuasai. Sebagaimana halnya Raja Sisingamangaraja dari Batak, Raja Pagaruyung berada dalam sebuah ranah yang sama sekali tidak memegang kendali terhadap otonomi kompleks masyarakat Sumatra (h.72)

Para penguasa Minangkabau mengklaim dalam surat2 dan stempel mereka sebagai pewaris kekuasan Aleksander Agung sang penakluk dunia, setara dengan raja-raja dari cina dan konstantinopel. (h. 73).

 (Drakard 1993) dalam ANTHONI REID, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara,  Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004, h.72-73

____________






15 February 2018

Asal usul Kata Minangkabau

Asal usul Kata Minangkabau

Legenda Populer:

sumber foto : pixabay
“konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (banyak ahli menyebutnya Majapahit) datang untuk melakukan penaklukan. Agar tidak terjadi pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau”
                    Edwar Djamaris (1991). Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka. hlmn. 220–221

Variasi Penggunaan Kata Minangkabau dalam Literatur
1. Minangkabau : dapat dilihat dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan adu kerbau menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Pariangan menggunakan nama Minangkabau.
                 AH. Hill (1960) Hikayat Raja-raja Pasai. London: Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. 

2. Minangkabwa : Dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit, Nagarakretagama bertanggal 1365, juga telah menyebutkan nama Minangkabwa sebagai salah satu dari negeri Melayu yang ditaklukannya.
                Brandes, J.L.A. (1902). Nāgarakrětāgama; Lofdicht van Prapanjtja op Koning Radjasanagara, Hajam Wuruk, van Madjapahit, Naar Het Eenige Daarvan Bekende Handschrift, Aangetroffen in de Puri te Tjakranagara op Lombok

3. Minanggebu : dalam Tawarikh Ming tahun 1405, terdapat nama kerajaan Mi-nang-ge-bu dari enam kerajaan yang mengirimkan utusan menghadap kepada Kaisar Yongle di Nanjing
                Geoff Wade, translator, Southeast Asia in the Ming Shi-lu: an open access resource, Singapore: Asia Research Institute and the Singapore E-Press, National University of Singapore.

4. Minang (Kerajaan Minanga): disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 dan berbahasa Sanskerta. Dalam prasasti itu dinyatakan bahwa pendiri kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang bertolak dari "Minānga”
               George Cœdès, (1930). Les Inscriptions Malaises de Çrivijaya. BEFEO.

Berdasarkan uraian di atas, asal-usul nama Minangkabau hanya dapat dilacak melalui catatan literature dan prasasti bersejarah yang memuat variasi penamaan/penyebutan Minangkabau. Oleh sebab itu pendekatan derivasi kata belum dapat memberi petunjuk yang jelas tentang asal usul kata Minangkabau.

sumber foto

Konsep Alam Minangkabau

Konsep Alam Minangkabau

Pokok Bahasan

  • Konsep Alam 
  • Konsep Luhak
  • Konsep Rantau
  • Makna Alam Takambang Jadi Guru

1. Konsep Alam

Pengertian “alam” dalam kamus umum bahasa Indonesia (W.J.S. Poerwadarminta), mengemukakan alam: 1. Dunia, misalnya: alam semesta, syah alam. 2. Geografis : daerah, nagari, misalnya : Alam Minangkabau

Sumber Foto kababanda sapuluah
Minangkabau dalam pengertian sosial budaya merupakan suatu daerah kelompok etnis yang mendiami daerah Sumatera Barat sekarang, ditambah dengan daerah kawasan pengaruh kebudayaan Minangkabau seperti: daerah utara dan timur Sumatera Barat, yaitu Riau daratan, Negeri Sembilan Malaysia; daerah selatan dan timur yaitu; daerah pedalaman Jambi, daerahpesisir pantai sampai ke Bengkulu, dan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia

Dalam pemahaman umum sekarang ini (terutama orang luar Minangkabau), kata Minangkabau sering diidentikkan dengan kata Sumatera Barat. Padahal secara subtantif keduanya mempunyai makna yang berbeda. Daerah geografis Minangkabau tidak sepenuhnya merupakan bagian daerah propinsi Sumatera Barat (Mansoer, 1970:1).

Sumatera Barat adalah salah satu propinsi menurut administratif pemerintahan RI, sedangkan Minangkabau adalah teritorial menurut kultur Minangkabau yang daerahnya jauh lebih luas dari Sumatra Barat sebagai salah satu propinsi (Hakimy, 1994:18).

02 February 2018

Inyiak Canduang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.

Syekh Sulaiman Ar-Rasuly (Inyiak Canduang) diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Syekh Sulaiman Arrasuli merupakan ulama Minangkabau yang lahir di Canduang Kabupaten Agam pada 10 Desember 1871 lalu. Dia wafat pada 1 Agustus Tahun 1970 dalam usia 99 tahun.
Syekh Sulaiman Ar Rasuly
(1871-1970)
Inyiak Canduang adalah pendiri Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang. Ia bersama ulama Minangkabau lainnya membidani lahirnya organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Sumatera Barat. Selain ahli dalam bidang agama dan pendidikan agama, Inyiak Canduang juga terlibat banyak dalam dinamika adat Minangkabau. dalam masa pergerakan kemerdekaan, ia juga terlibat banyak dalam usaha-usaha memperjuangkan kemeredekaan Indonesia. Dalam politik, Inyiak Canduang punya pengaruh besar dalam aktivitas Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PI-PERTI). Ia juga sempat mewakili PERTI di Konstituante. Ia ditujuk sebagai presidium Sidang Konstituante. Karena aktivitas perjuangannya itu, ia dianugerahi gelar Tokoh Perintis Kemerdekaan RI pada tahun 1969. Dalam hal pengusulan ini, Bupati Agam sudah menerbitkan Surat Keputusan (SK) pengusulan Inyiak Canduang menjadi Pahlawan Nasional. Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno juga mendukung penuh rencana pengusulan Inyiak Canduang sebagai Pahlawan Nasional.
Berikut link berita yang mengangkat pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional

Sementara, bagi anda yang ingin tahu profil ringkas Inyiak Canduang, coba dulu baca di link ini. Silakan klik : Profil Inyiak Canduang di wikipedia berbahasa Indonesia.