11 January 2026

Apa Guna Biografi? Biar Ilmu Sejarah Yang Menjawab

Muhammad Nasir 
Pengajar Sejarah UIN Imam Bonjol Padang


Perdebatan mengenai kegunaan kisah orang-orang besar di masa lalu kerap muncul dalam diskursus akademik dan ruang publik. Sebagian pandangan sinis memandang biografi sebagai bentuk glorifikasi masa lalu yang dianggap tidak lagi relevan dengan persoalan sosial masa kini. Pandangan ini umumnya berangkat dari asumsi bahwa biografi terlalu memusatkan perhatian pada individu tertentu dan mengabaikan struktur sosial yang lebih luas. 


Namun, dalam tradisi historiografi dan ilmu sosial, biografi justru dipahami sebagai salah satu medium penting untuk membaca relasi antara individu, masyarakat, dan konteks sejarah yang melingkupinya (Kuntowijoyo, 2003; Burke, 2005).

06 January 2026

Apa Kesibukan Para Pemimpin Politik Dunia Setelah tidak Lagi Berada di Kursi Pemerintahan?

Muhammad Nasir

Awal tahun 2026 ini saya searching Wikipedia, laman berita terpercaya, dan YouTube. Saya bertanya-tanya, ingin tahu: apa kesibukan para pemimpin politik dunia setelah tidak lagi berada di kursi pemerintahan? Dari penelusuran itu tampak satu pola menarik. Kekuasaan memang berakhir pada satu titik waktu, tetapi aktivitas dan pengaruh tidak selalu ikut selesai.


Barack Obama, Presiden Amerika Serikat periode 2009–2017, memberi contoh awal. Setelah meninggalkan Gedung Putih pada Januari 2017, ia tidak kembali ke politik praktis. Pada 2020, Obama menerbitkan buku A Promised Land, sebuah refleksi panjang tentang demokrasi, kepemimpinan, dan batas-batas kekuasaan. Sejak 2018, melalui Obama Foundation, ia aktif membangun program kepemimpinan muda dan pendidikan sipil. Dari ruang kekuasaan, ia berpindah ke ruang pembelajaran.

04 January 2026

Pendulum Waktu Gen Xennial

 Muhammad Nasir 


Saya generasi yang tumbuh di antara dua dunia. Satu kaki menapak pada masa majalah Bobo, Wiro Sableng, dan novel Freddy S yang berpindah tangan dari satu tas ke tas lain. Dunia itu pelan, terbatas, tetapi justru memberi ruang luas bagi imajinasi.

Pada masa itu, cerita menjadi jendela utama untuk memahami hidup. Kata-kata bekerja lebih dulu sebelum gambar bergerak. Imajinasi dilatih tanpa sadar, membangun kesabaran dan daya tahan batin.



Kartun menjadi sekolah rasa tanpa papan tulis. He-Man mengajarkan keberanian yang sederhana, Defenders of the Earth membuka kesadaran tentang dunia yang luas. Maya the Bee dan Little Missy menanamkan empati tanpa khotbah.

Menata Ulang Ruang dan Jalur Perjalanan

Catatan Akhir Tahun 2025

Muhammad Nasir


Sejak akhir November 2025, banjir bandang dan tanah longsor telah mengubah wajah Sumatera Barat secara nyata. Peristiwa ini sudah menghadirkan kerusakan fisik,  juga mengguncang cara masyarakat memahami ruang, jarak, dan keterhubungan antarwilayah. 

Ungkapan adat Minangkabau, sakali aia gadang, sakali tapian barubah, terasa menemukan maknanya yang paling konkret. Air yang meluap tidak hanya mengubah tepi sungai, tetapi juga memaksa perubahan cara hidup, jalur mobilitas, dan ritme keseharian masyarakat.


21 November 2025

Menggambar Hantu Di Kepala

 Muhammad Nasir


Ini adalah Emmanuel Benjamin Gharib, pendeta Kuwait dari Gereja Presbiterian Kuwait dan ketua Gereja Injili Nasional Kuwait. Iseng-iseng saya posting foto ini dengan caption “mari berdamai.” Lalu muncul komentar sadis, umumnya dari non-Muslim: “Ogah. Dasar kadrun Yaman.” Saya balas singkat, “Itu kan pendeta Ben Gharib.” Di sinilah terlihat jelas sebuah fenomena: kesalahpahaman yang berangkat dari framing budaya dan stereotip tentang pakaian.


13 November 2025

Sejarah Keseharian (Alltagsgeschichte)

Muhammad Nasir
Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang

 

Pendahuluan

Sejarah keseharian atau Alltagsgeschichte merupakan salah satu pendekatan dalam historiografi modern. Pendekatan ini awalnya berkembang di Jerman Barat pada dekade 1970–1980-an. Pendekatan ini muncul sebagai reaksi terhadap dominasi sejarah politik dan ekonomi yang dianggap terlalu menekankan peran tokoh besar, institusi, serta peristiwa monumental. Tokoh-tokoh seperti Alf LΓΌdtke dan Hans Medick menegaskan pentingnya memusatkan perhatian pada kehidupan sehari-hari masyarakat biasa, yang selama ini tersisih dari narasi utama sejarah (Ludtke, 1995; Medick, 1987)