09 October 2019

Agama dan Kepercayaan Masyarakat Minangkabau Sebelum Islam


Oleh Muhammad Nasir

Pengantar
Tulisan ini disarikan dari Disertasi Doktoral Muhammad Sanusi Latief berjudul “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau (1907-1969), IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1981)., halaman 39-42. M Sanusi Latif  pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Imam Bonjol, Padang periode 1976–1982. Tujuan penulisan ini antara lain untuk menambah referensi tentang agama dan keyakinan masyarakat Minangkabau sebelum kedatangan Islam. Selain itu, mengingat disertasi ini tidak dicetak, maka salah satu bentuk melestarikan sumber informasi tentang sejarah Minangkabau adalah menyalin sebagian kecil informasi yang dimuat dalam disertasi tersebut. Untuk membantu pemahaman dan mengembangkan informasi, penulis juga memberikan catatan yang bersumber dari literatur yang lain, dan model penyalinanpun pada beberapa bagian dilakukan secara bebas; tak secara persis seperti menulis kutipan langsung. Mudah-mudahan salinan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan referensi tentang Agama dan Kepercayaan Masyarakat Minangkabau sebelum Islam.

A. Agama dan Kepercayaan di Minangkabau sebelum Islam.

Masa Pra Agama.
Sanusi Latif menuliskan bahwa sebelum masuknya agama-agama ke Minangkabau, masyarakat Minangkabau selain menaati adat, juga menganut keyakinan pra-agama,[i] baik animisme dan dinamisme, maupun kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus yang dapat membahayakan manusia, sehingga kepadanya harus diberikan sesajian serta pembacaan mantera-mantera [M. Sanusi Latief, hal. 39]. Masa Pra Agama ini tidak diulas lebih lanjut oleh M Sanusi Latief, terutama dalam rentang waktu kapan masa ini berlangsung.

Masa Hindu Budha
Sumber Foto: Wikipedia
Masa Hindu Brahma (abad ke-5 M), agama Budha Hinayana (abad ke-7) dan agama Budha Mahayana (abad ke-7 sampai abad ke-10), baik yang dibawa oleh para pedagang dari Hindustan (India) maupun mereka yang datang dari kerajaan Majapahit.[ii]  

Akan tetapi, Agama Hindu dan Budha di Minangkabau tidak sekuat adat, dan tidak pula sekuat pengaruh Hindu dan Budha di Jawa ketika Islam datang. Pengaruhnya tidaklah mendalam dan tidak meninggalkan bekas-bekas yang lama. Kedua agama tersebut belum sempat memasyarakat. Belum banyak didirikan tempat-tempat pengajaran dan penyiaran agama tersebut di daerah ini [M. Sanusi Latief, hal. 40].[iii]

Sejarah Hanya mencatat bahwa sebuah stupa dari biara agama Budha yang berdiri di Muara Takus, abad ke-8 dalam daerah Kerajaan Minangkabau Timur. Muara Takus atau Telaga Udang terletak di hulu Kampar.[iv]  Selain Itu, beberapa prasasti mengenai Adityawarman dan agama Budha, di anatarnya terdapat di Lima Kaum, yaitu Prasasti Kuburajo I (1347) dan Kuburajo II (1339/1351). Salah satu yang diyakini sebagai jejak agama Budha adalah di antaranya yang bergambar matahari atau teratai (lambang agama Buddha) dan sapaan dalam agama budha “Oṃ māṃla”

B. Sebab-sebab lemahnya pengaruh agama Hindu dan Budha di Minangkabau [M. Sanusi Latief, hal.40-41], yaitu:  

Pertama: Karena kedua agama tersebut yang datang ke Minagkabau dari Kerajaan Majapahit, di bawa oleh penyerbu. Dengan demikian menimbulkan citra yang kurang simpatik bagi masyarakat di daerah ini.

Kedua, walaupun Adityawarman akhirnya berhasil menjadi raja di Minangkabau, kekuasaannya tidak dapat menjangkau kehidupan masyarakat di nagari-nagari, terutama di daerah Luhak nan Tigo. Dengan demikian, kalaupun ia ingin menyebarkan agama Budha, namun peluang itu amat terbatas.

Ketiga, misinya dalam bidang politik dan militer jauh lebih menonjol sehingga penyebaran agama kurang menjadi perhatiannya. Kedatangannya ke Minangkabau tidak disertai dengan ahli-ahli agama Budha yang cukup untuk menyebarkan agama tersebut di daerah ini. Tidak seperti raja-raja Islam Aceh yang selalu membawa ahli-ahli agama dalam perjalanannya ke daerah-daerah yang dikuasainya.

Keempat, Pengaruh adat dalam masyarakat Minangkabau jauh lebih kuat dan benar-benar berurat berakar sehingga tidak mudah dimasuki oleh paham-paham lainnya, a[alagi yang tidak sejalan dengannya.

Kelima, susunan masyarakat menurut kasta-kasta dalam agama Hindu tidak berkenan di hati masyarakat Minangkabau karena sangat bertentangan dengan kehidupan demokratis yang telah mendarah daging bagi mereka. Keinginan Adityawarmnan agar susunan masyarakat berkasta-kasta diberlakukan di Minangkabau, segera mendapat tantangan.

Agama Hindu dan Budha walaupun pengaruhnya amat kecil di Minangkabau, telah bercampur aduk  dengan kepercayaan pra agama dan adat.[v] Dalam situasi yang demikianlah kemudian agama Islam sampai ke daerah ini. Agama Islam menemukan masyarakat di sini telah mempunyai adat dan kepercayaan-kepercayaan pra-agama, ditambah dengan unsur-unsur agama Hindu dan Budha yang belum kuat tertanam. [M. Sanusi Latief, hal.40-41]  







   
End Notes


[i] Sanusi Latif menggunakan isltilah pra agama. James  W Fowler menyebutnya dengan kepercayaan eksistensial. Kepercayaan eksistensial itu sendiri menurutnya merupakan suatu kegiatan relasional, artinya ‘berada-dalam-relasi-dengan-sesuatu. Lebih lanjut lihat  Sari Pemikiran James W. Fowler dalam “Teori Perkembangan Kepercayaan: Karya-karya Penting James W. Fowler”, Editor. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1995Kepercayaan
[ii][ii] Dalam catatan kakinya, M Sanusi Latief menulis, “Adityawarman yang datang ke Minangkabau (1340) dari Kerajaan Majapahit, dikatakan menganut agama Hindu-Budha Hinayana. (Lihat J.L. Moens, Budhisme di Jawa dan Sumatera dalam Masa Kejayaannya yang Terakhir, Jakarta, Bharata, 1974, hal. 44)
[iii] M Sanusi Latif merujuk pada sumber yang ia tulis di catatan kaki, yaitu dari Harry J Benda, “Kontinuitas dan Perubahan dalam Islam di Indonesia dalam buku Islam di Indonesia, editor, Taufik Abdullah, Jakarta, Tintamas, 1974 hal. 34;36.
[iv] Lihat M Rasyid Manggis, Minangkabau, Sejarah Ringkas dan Adatnya, Padang, Sri Dharma, 1970, hal.172
[v] Catatan kaki M Sanusi Latief nomor 49, “Kepercayaan tentang reinkarnasi, keharusan membakar kemenyan sebelum berdo’a, serta bermacam-macang kenduri, selamatan di rumah duka dan berkaul ke kuburan dan tempat-tempat yang dipandang keramat atau sakral, sering dikemukakan sebagai contoh tentang sisa-sisa  pengaruh Hjindu dan atau kepercayaan animisme dan dinamisme yang telah ada sebelum kedatangan agama Hindu dan Budha.

15 September 2019

Ekspedisi Pamalayu: Rintisan Tulisan


Ekspedisi Pamalayu: Rintisan Tulisan
Muhammad Nasir



Arti Pamalayu
Arca Amoghapasa (Wikipedia)
Ekspedisi Pamalayu adalah sebuah diplomasi melalui operasi kewibawaan militer yang dilakukan Kerajaan Singhasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275–1286 terhadap Kerajaan Melayu di Dharmasraya di Pulau Sumatra.[1][T1] 

Nagarakretagama[2][T2]  mengisahkan bahwa tujuan Ekspedisi Pamalayu sebenarnya untuk menundukkan Swarnnabhumi secara baik-baik. Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Swarnnabhumi[T3]  ternyata melakukan perlawanan. Meskipun demikian, pasukan Singhasari tetap berhasil memperoleh kemenangan.[3][T4] 

Adapun Pamalayu merupakan sebuah ekspedisi pada abad ke-13, atau 22 Agustus 1286. Ekspedisi itu dilakukan oleh Kerajaan Singasari untuk menjalin persahabatan dengan Malayu-Dharmasraya di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Ekspedisi itu sebagai bentuk bala bantuan untuk mencegah invasi Kekaisaran Mongol yang dipimpin Kubilai Khan.[4]

Berdasarkan sumber-sumber sejarah, terdapat kesamaan informasi bahwa Ekspedisi Pamalayu merupakan ekspedisi yang dijalankan pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, Raja Kerajaan Singasari yang terakhir yang memerintah antara tahun 1268 –1292 M.
Kata kunci: Singasari, Melayu, Dharmasraya

14 September 2019

Muaro Padang di Mato Rang Pamapeh

Muaro Padang di Mato Rang Pamapeh
Muhammad Nasir (kari Bagindo Sati


Pemancing Tradisional di Sungai Batang Arau, Padang
Manuruik carito pamapeh gaek nan di ateh umua 60-an, saisuak kalo di kawasan Pasie Nan Tigo hinggo ka Sunua, adolah sarugo ikan bakau nan maha harago no. Ado lauak Nawi (mangrove jack), kakap putiah, kakap merah, Jinaha (ketek banamo jinihin), Balanak (gadang banamo Jumpo a.k.a. Jompo). Tapi antahlah, ambo urang darek nan baru mancandu mamapeh di aie garam.

Dulu... jenis ikan nan disabuik di ateh tu mudah didapek. Kini allahurabi susah no. Karano itu, kok ado pamapeh nan mandapek ikan2 itu bisa naik level ka tingkek suhu.

Kini...apo nan tajadi? Pamapeh (angler) traditional yg menggunakan teknik piyan-piyan-kapoyan alias hand fishing hanyo bisa bernostalgia. "Dulu yuang haa...duluu...aa.. a nan kadisabuik. Ikan apo nio nyo?" Mode tu kalimaik nan acok ambo danga.

Rezim Totalitarisme


Muhammad Nasir

Rezim totalitarisme adalah rezim kecil, berkuasa, despotis dan kejam. Rezim ini dibangun di atas teror dan penciptaan terhadap rasa takut. Selain itu, rezim ini mengarahkan dan memonopoli mimpi rakyat atas nama kemajuan.

Oleh sebab itu, tak mesti ada mimpi lain dari rakyat atas nama agama, kebudayaan lokal dan ideologi. Mimpi dan pengumpulan orang2 harus ada dalam organisasi2 profesional.

Musuh objektif rezim totalitarisme adalah cendekiawan, atau orang-orang yang memiliki kemampuan berfikir, atau kelompok-kelompok penganut ideologi yg solid. Mereka yg jadi musuh ini sering dicurigai karena dapat menggerakkan massa dgn caranya masing2.

Selain itu, "realitas" adalah lawan dari rezim totalitarisme. Oleh sebab itu diperlukan monopoli informasi, pengendalian bacaan mana yg baik dan mana yang tidak menurut rezim, serta serangkaian produk pembohongan.

Beberapa contoh rezim totaliter antara lain, Nazi Jerman dan Khmer Kamboja.

Pasukan khusus Hitler (SS) menyusuri Eropa Timur dan secara sistemik menangkapi kaum cendekiawan dan membunuh mereka.

Demikian pula rezim khmer, pada tahun 1975 menangkapi dokter, orang2 yg diidentifikasi lulus dari perguruan tinggi, guru dan para bhiksu.
..........
Indonesia juga sudah pernah mengalami hidup di zaman totalitarisme. Sudah 20 tahun keluar dari kegelapan. Namun, sisa2 cara buruk yg dilalukan rezim Orba masih tersisa dan dipraktikkan tanpa terasa.

Prinsiipiis obsta!
Lawanlah permulaannya-demikian kata pepatah romawi kuno.

Prof Mestika Zed dan Historiografi Minangkabau

Oleh Muhammad Nasir


Saya harus buru-buru menulis ini sebagai ucapan terimakasih atas ilmu yang diberikan guru saya, Prof. Dr. Mestika Zed, MA dalam mata kuliah Historiografi sekitar tahun 2007 yang lalu. Ia pada hari pertama bulan Muharram 1441 Hijriah (1/9/2019) telah berpulang ke rahmatullah. Berita kepulangannya tampil bergantian di beranda facebook saya, antara ucapan selamat tahun baru hijriah, berita rusuh di Papua dan aneka foto-foto kuliner.

Harian Khazanah, 3 September 2019
Berita itu mengagetkan saya. Akhir-akhir ini tak ada yang saya tunggu dari beliau kecuali karya beliau tentang sejarah Minangkabau. Amat sangat saya tunggu. Sebuah karya yang saya yakini sebagai sumbangan Historiografi terbaru tentang Minangkabau. Karya yang sedang ia tulis, bersama dengan sejarawan Unand “spesialis Pantai Barat” Prof Gusti Asnan dan jurnalis senior yang mengemari penulisan sejarah dan biografi tokoh, yaitu Hasril Caniago.

Karya itu menurut beliau merupakan sebuah pengkajian dan penulisan kembali sejarah Minangkabau secara total dan komprehensif dengan periodesasi yang lengkap dari perspektif orang Minangkabau sebagai tokoh dan sumber sejarahnya. Demikian saya kutip dari ucapan beliau kala mengawal Kongres Sejarah Minangkabau di Bukittingi, 16-18 Desember 2018.


01 September 2019

Prof Mestika Zed (1955-2019) : Di mana saja Asal di Surga


Prof Mestika Zed (1955-2019)
Di mana saja Asal di Surga
Oleh Muhammad Nasir


Suatu siang di sebuah seminar (30 Agustus 2014). Seseorang pria yang amat saya kenal menggamit saya yang baru masuk ke ruangan sebuah seminar. “Sini!” katanya seraya menggeser sebuah kursi kosong di sampingnya. Di barisan paling belakang ruangan. Nervous dan agak grogi saya duduk di sampingnya. Di samping Prof. Dr. Mestika Zed, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Padang. Guru saya juga.

“Bagaimana Tesis anda? Jadi membahas terorisme? Tanya Prof Mestika Zed singkat dan hangat. “Alhamdulillah Prof. Sudah selesai. Ya Allah, Prof. Masih ingat itu,” jawabku sedikit kaget dengan pertanyaan yang lebih mirip sapaan hangat itu. “Ya, ingatlah. Tapi saya hanya  agak-agak lupa nama anda,” jawabnya. Demikian tegur sapa singkat saya dengan beliau di awal pertemuan ilmiah siang itu. Saya terkesan.

Usai tegur sapa hangat itu, beliau berbisik, “tema seminarnya lucu dan menggemaskan.” O, ya...kenapa begitu prof? Kemudian kami ngobrol-ngobrol di sela-sela pembicaraan narasumber yang sedang berkuhampas di depan. Tema seminar itu tentang Islam dan Radikalisme. Beliau menyatakan bahwa radikalisme sejatinya sebuah respon atas situasi yang berlangsung lama. Dalam jangka pendek merupakan reaksi atas suatu peristiwa. “Jadi, ia (radikalis) hadir karena ada yang lain” Demikian ia berpendapat.

Tanpa bermaksud mendalami, saya  mengajukan pertanyaan singkat, takut-takut sekadar memberi respon. Saya takut mengajukan pertanyaan yang dianggap tak bermutu. “Apa kira-kira maksud “yang lain” itu Prof?” tanyaku. Ia menjawab, “Politik dan Kekuasaan. Coba periksa catatan (sejarah) lama. Ideologi (radikal) itu muncul sebagai respon atas tindakan penguasa (kekuasaan) dan konstalasi politik.” Tak lama ia memegang lenganku dan berkata, “sekarang mari kita dengar apa kata narasumber di depan itu!”

Bincang singkat itu, saya tulis di block note hadiah panitia seminar.