29 December 2016

Duri-duri Toleransi

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
"Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan (Kaidah
Fikhiyah)
~~~~~~~~~~

Toleransi (تسامح) adalah syarat mutlak untuk menegakkan kebhinekaan Indonesia. Tanpa toleransi, Indonesia sebagai bangsa baru yang majemuk dalam banyak hal diyakini bubar sejak awal.

Praktik toleransi di Indonesia sudah bagus. Namun entah apa sebabnya praktik toleransi ini seolah belum terjadi. Contoh kasus yang terus berulang; tentang kontroversi ucapan selamat natal kepada non muslim, serta kontoversi penggunaan atribut natal oleh muslim. Hampir setiap tahun umat Islam disibukkan dengan kontroversi ini. Inilah duri-duri yang menusuk toleransi.

Dugaan sementara, penyebabnya adalah kegagalan dalam mengenali perbedaan (bukan gagal menerima perbedaan) akibat kurangnya ilmu dan wawasan, kepentingan konyol, keganjenan/kegenitan berpikir, serta upaya-upaya jahat merusak kebhinekaan. Hal ini mungkin saja berasal dari umat islam sendiri, dari umat nasrani atau bahkan dari pihak yang punya kepentingan buruk merusak kebhinekaan.


Gagal memahami perbedaan

Perbedaan adalah kemestian. Menerima perbedaan adalah kedewasaan. Namun mengenali perbedaan butuh ilmu dan pengetahuan. Dalam kontroversi hal ihwal natal ini jelas dan nyata perbedaan pendapat tentang hukum mengucapkan selamat natal dari orang/lembaga muslim kepada kaum nasrani, merayakan natal bersama, menggunakan atribut natal. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Inilah fakta di kalangan Islam.


Sementara bolehlah disebut bahwa ada juga di kalangan umat nasrani yang gagal memahami perbedaan pendapat yang terjadi di internal umat Islam. Bahkan yang lebih naif, ada juga umat nasrani yang menilai pihak yang melarang/keberatan dengan selamat natal, natal bersama dan menggunakan atribut natal sebagai kelompok intoleran dan picik dalam beragama dan berbangsa.  Mestinya, sikap umat islam yang menolak/melarang ini harus dihormati sebagai wujud nyata praktik toleransi.

Akhirnya bisa dilihat betapa debat konyol di media sosial antara sesama warga bangsa yang berbeda pendapat dan berbeda agama menjadi kerancuan berpikir (logical fallacies) yang melebar ke isu-isu yang tidak perlu. Di sinilah perlunya ilmu pengetahuan (di antaranya ilmu agama.

Saran yang relevan untuk kondisi ini adalah, agar semua agama kembali mendalami ajaran agamanya dengan baik serta mengenali agama saudara sebangsanya yang berbeda agar terhindar dari kesalahan semisal off side di sepakbola.

Sebagai a concluding remarks, bahwa memahami itu adalah mengerti suatu maksud, dan mengerti suatu maksud mempunyai atribute pengetahuan, dan pengetahuan dibangun dari pengalaman. Orang yang memahami perbedaan pastilah mengerti arti kata "harap maklum"

Kepentingan konyol

Kepentingan konyol sejauh ini muncul dari dunia usaha/bisnis dan hiburan (entertainment), terutama soal penggunaan atribut natal bagi karyawan muslim. Hampir tiap tahun selalu bermasalah. Alih-alih memanfaat momentum dan mengambil tema hari besar agama, dunia bisnis dan entertainment justru secara konyol melewati batas wilayah berbahaya bagi kebhinekaan. Dapat dipastikan, kekonyolan ini juga disebabkan kegagalan memahami perbedaan akibat kurangnya ilmu dan wawasan.

Keganjenan/kegenitan berpikir
Sekadar berpikir, bersikap dan bertindak sesuai keyakinan dan ilmu adalah legal dan dijamin undang-undang. Namun ada pula yang berpikir dan bertindak ganjen, genit, banyak gaya dan cari perhatian inilah yang mengkhawatirkan. Istilah Bang Haji Rhoma Irama; "terlalu!"  Bisa jadi ini dari politisi, tokoh masyarakat atau entah siapalah. Ciri-cirinya; bangga berlebihan dengan tindakannya sendiri, membela diri dan pendapatnya sencara ngotot atas nama toleransi,  merendahkan pendapat orang lain. Tujuan tindakan ini tidak lebih sekadar menggoda dan menohok secara satire bahkan pejoratif terhadap pihak yang tidak sependapat. Ada kalanya sekadar menjilat carimuka atasan, kolega atau sekadar cari sensasi ibarat pepatah Arab "Bul 'alaa zamzam fatu'raf!"
 Akibatnya muncullah ketegangan dan ejekan yang berbalas-balasan, bahkan tindakan intoleran dari orang-orang yang kurang sabar.

Upaya-upaya jahat merusak kebhinekaan
Mungkin  ini mirip teori konspirasi. Meski sulit dibuktikan namun dapat dirasakan. Dalam sejarah selalu ada pihak-pihak yang menangguk di air keruh. Memperkeruh air sebagai tindakan prakondisi, air keruh sebagai kondisi ideal menangguk ikan. Yang jelas ini upaya dari pihak ketiga yang ingin kebhinekaan rusak. Itu saja.
~~~~~~~~~~

Kembali ke kaidah fikih yang ditulis di awal, bahwa soal kontroversi hal ihwal natal yang sudah dan masih terus terjadi sebaiknya menjadi pengetahuan yang sebatas dimaklumi. Debat kontoversial ini lebih banyak kerusakannya dibanding maslahatnya. Karena itu, menghindari kerusakan (preventif) lebih didahulukan dari mengambil maslahat. Inilah upaya bersama merawat kebhinekaan. Bagi umat Islam, menurut saya, ayat : لكم دينكم و لي دين harusnya menjadi dalil dasar untuk mengokohkan kebhinekaan. Walláhu a'lam bi al shawáb.

(Muhammad Nasir/Kari Bagindo Sati/26-12-2016)

No comments: